Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Bertemu


__ADS_3

Mentari telah menampilkan senyumnya, menyinari pagi yang begitu cerah. Secerah wajah tampan Zain, dengan jemari begitu lincah saat membalut dasi pada lingkaran kra bajunya.


Senyum terus merekah diwajah tampannya, akibat rasa bahagia dengan kembalinya Ariana.


"Dia semakin cantik. Dan aku sangat penasaran, dengan rupa anakku. Ariana mengatakan kalau wajahnya sangat mirip denganku. Pasti dia sangat cantik, bukankah Papanya sangat tampan. Hasil karya dari seorang Zain, pasti tidak ada yang buruk." Dia berucap dengan bangganya.


Kedua kakinya melangkah turun kelantai bawah, setelah penampilannya sudah terlihat sempurna. Melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawah rumahnya. Saat melewati barisan anak tangga, dan akan berpijak pada lantai dua, Zain seketika menghela napas berat, saat mendapati Bibinya Celine sudah yang berdiri didepan pintu kamar, dan tengah menatap padanya dari kejauhan.


Selama ini hubungannya dengan Bibinya sangat renggang, saat dirinya mengetahui kalau Bibinyalah, otak dalam penjebakan itu. Dan sudah bertahun-tahun lamanya, Zain mengacuhkan keberadaan Bibinya Celine, walaupun mereka tinggal satu atap. Dan memutuskan untuk melanjutkan langkah kaki itu, seolah-olah tidak melihat keberadaan wanita paruhbaya itu.


"Zain...." Nada panggilan yang begitu pelan, melihat Zain yang terus melangkah tanpa memperdulikan dirinya.


"Zain Bibi mohon.. berhentilah. Bibi ingin bicara denganmu." Dengan yang terdengar pelan, dan raut wajah sudah berubah mendung.


Sangat enggan, tapi dia tidak berdaya. Dan memutuskan untuk, menghampiri wanita paruhbaya itu.


Rasa iba timbul dalam dirinya, mendapati bagaimana kondisi Bibinya saat ini. Tubuh yang dulu indah walaupun usianya sudah tidak mudah lagi, kini semakin mengecil sering menderita sakit selama ini. Dan Zain tahu, Bibinya begitu terpukul saat dia tahu, kalau Ariana adalah anak kandungnya.


"Ada apa. Katakan?"


"Zain... apakah kau sudah tau, kalau Ariana sedang berada diIndonesia?" Terlihat tatapan sendu, dengan berkabut pada kedua mata itu karena genangan airmata.


"Iya Bibi, Ariana sedang berada diJakarta saat ini."


Airmata lolos begitu saja membasahi pipi tirus itu, saat akan mengutarakan keinginannya. Meraih tangan keponakannya, dan menatapnya dengan tatapan memohon.


"Bibi mohon... bantu Bibi untuk bertemu dengannya. Hanya kau saja, harapan Bibi saat ini. Bibi mohon Zain... Bibi mohon pertemukan Bibi dengan Ariana, anakku.." Dengan isak tangis, yang sudah mulai terdengar.


Raut wajah iba terlihat pada wajah tampan Zain, dengan keadaan bibinya saat ini. Dan dia tahu Bibinya pasti sangat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.


"Aku pasti akan membantumu. Tapi semuanya butuh proses, karena dia begitu membenciku. Jadi aku minta Bibi bersabarlah. Tapi aku janji, akan membuat keluarga kita utuh lagi seperti dulu lagi. Tentu juga dengan putriku."


Mengusap airmata, dengan senyum sumringah diwajahnya.


"Kau serius Zain..? kau akan membantu Bibi untuk bertemu dengan Ariana?? "


"Aku serius. Aku akan mempertemukan Bibi, dan Ariana kembali. Tapi Bibi harus bersabar, karena semuanya tidak mudah."


Rona bahagia, juga airmata bertaut jadi satu pada wajah wanita paruhbaya itu. Dan Celine terlihat begitu bahagia, sebab ada secerca harapan baginya, untuk dapat bertemu dengan Ariana putrinya.


"Terima kasih Zain... terima kasih."


"Kalau begitu aku permisi dulu. Ingat Bibi harus makan, dan jangan lupa minum obatnya."

__ADS_1


Celine mengangguk cepat, dengan senyum bahagia diwajahnya.


"Tentu Zain... tentu saja. Bibi pasti akan makan, dan minum obatnya. Dan hati-hatilah dijalan."


"Tentu..." Jawabnya, dengan kedua kaki melangkah turun kelantai bawah.


Saat melewati barisan anak tangga, dirinya dikejutkan dengan telepone dari sang kekasih Cintya.


Melihat nama yang tertera pada layar ponsel itu adalah cintya, Zain memutuskan untuk mengabaikan telepone dari kekasihnya itu.


Dan berikutnya terdengar dentingan pesan, setelah nada telepone itu berakhir.


Aku ingin bicara denganmu." Membaca pesan itu, dan diapun mengabaikanya begitu saja.


"Apakah media meliput, ciuman aku dan Ariana semalam? jadi Cintya sudah mengetahuinya. Kalau memang ia, itu jauh lebih bagus. Toh hubungan ini cepat atau lambat akan berakhir." Dia bergumam, dan kembali memasukkan HPnya kedalam saku celana.


Kedua kakinya melangkah menuruni tangga, dan mendapati Adam telah menunggu, dengan sudah berpakaian rapi.


"Selamat pagi Tuan..."


"Pagi Adam... apakah kau sudah tau, dihotel mana Ariana tinggal bersama putriku?"


"Sudah tau Tuan? Nona Ariana ternyata tidak tinggal dihotel. Dia ternyata tinggal bersama Nona Rani diapartemen. Hanya Juli asistennyalah, yang tinggal dihotel."


"Jadi dia tinggal bersama Rani?"


"Iya Tuan.. dan pagi ini Nona Ariana akan melakukan wawancara dengan salahsatu stasiun televisi."


"Baiklah. Tapi pastikan kita tidak akan kehilangan jejak mereka. Sebab aku tidak mau kehilangan lagi."


"Baik Tuan..."


****


Duduk disebuah sofa tunggal, dengan gayanya yang begitu anggun. Dan Ariana terlihat begitu cantik hari ini, saat melakukan wawancara dengan salahsatu stasiun televisi dipagi ini. Dalam balutan dressnya, yang terlihat semakin mempesonakan dirinya.


"Jadi apa rencana anda kedepan nanti Nona? apakah anda akan menetap kembali diIndinesia, atau kembali keAmerika."


Ariana menyimpulkan senyuman diwajahnya, saat pembawa acara wanita itu bertanya.


"Setelah urusan diJakartaku selesai, aku akan kembali keAmerika. Sebab aku sudah memutuskan untuk menetap disana."


"Sepertinya anda sudah sangat menyatuh, dengan negara itu Nona?"

__ADS_1


"Iya. Aku sudah betah disana. Lagi pula aku juga berkarir disana."


"Beredar gosip diluar sana, kalau anda adalah mantan istri dari pengusaha sukses Zain Pratama. Dan adik angkat, dari Nona Clara yang ternyata adalah mantan kekasih dari Tuan Zain. Apakah itu benar?"


Hembusan napas terdengar berat, saat akan menjawab hal yang bersifat pribadi.


"Iya itu benar."


"Dan apakah perpisahan Nona, dan Tuan Zain karena kehadiran orang ketiga, maksud saya karena kehadiran Nona Clara?"


Pertanyaan yang semakin mendalam, menggali tentang kehidupan pribadinya. Hingga membuat Ariana hanya bisa menghela napas berat. Suka atau tidak suka, tentu saja dia harus menjawab pertanyaan itu. Dan memilih untuk menutup rapat, kehidupan masalalunya dengan Zain.


"Tidak. Sama sekali tidak. Kami berpisah, murni karena tidak ada kecocokan lagi."


"Maaf Nona, karena sudah ingin terlalu jauh mencari tau tentang kehidupan pribadi anda. Dan kami ingin menampilkan seseorang, dan dia adalah orang dimasalalu anda."


"Masalalu....?" Tatatapan intens, dengan kedua mata semakin menyipit pada pembawa acara itu.


"Iya Nona...dan ini merupakan kejutan buat anda. Tuan Rian Admaja, silahkan masuk..." Panggil pembawa acara itu, pada pengusaha tampan itu.


Dari pintu belakang terlihat seorang pria berjas hitam, dengan senyum terus mengembang diwajahnya. Dia melangkah dengan gagahnya, dengan jemari menggenggam sebuah buket bunga Lili.


Ariana begitu kaget, dan juga bahagia mendapati Rian Admaja yang merupakan mantan Bosnya.


"Tuan Rian..." Dengan tatapan mata berkaca-kaca, karena terlalu bahagia.


Rian menyimpulkan senyum pada wajah tampannya, dengan bolamata yang begitu intens pada wajah yang begitu cantik.


"Hallo Ariana.. lama tidak bertemu." Memberikan buket bunga Lili pada Ariana, yang dterimanya dengan wajah bahagia.


"Wow bunga Lili? anda membawakan bunga Lili untuk Nona Ariana, Tuan Rian?"


"Tentu. Karena dia sangat menyukai bunga itu." Dengan tatapan penuh arti pada Ariana yang tengah tersenyum.


"Terima kasih Tuan Rian..."


"Bagaimana anda, bisa mengenal Nona Ariana Tuan?"


"Aku dikenalkan oleh sepupuku. Kebetulan Bella sepupuku, adalah sahabat baik dari Nona Ariana."


"Apakah anda pernah menyangkah, kalau Nona Ariana akan menjadi wanita sukses seperti sekarang ini?"


Rian tertawa kecil, mengingat bagaiaman lugu, polos, dan juga culun Ariana saat bekerja direstorantnya itu.

__ADS_1


"Aku tidak menyangkah, Ariana akan menjadi wanita hebat seperti sekarang. Dan kau Ariana, aku begitu bangga padamu. Sangat bangga."


__ADS_2