Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menyadarkan Zain.


__ADS_3

"Tidak masalah sekretaris tampan, aku sangat mengerti." Jawab Bella dengan senyuman semanis mungkin, tapi justru ditanggapi pria itu dengan sikap acuh, hingga membuat Bella terlihat sedikit kesal, sebab selama ini belum pernah ada pria yang mengabaikannya.


"Apa aku terlihat kurang cantik, atau kurang seksi. Hingga membuat sekretaris ini, bersikap acuh padaku, dan dia sama sekali tidak melirikku dari tadi. Dan aku merasa tertantang, dengan sikapnya. Liat saja, aku akan membuatmu jatuhcinta padaku, Adam!" Bathin Bella, penuh keyakinan.


****


Zain melangkahkan kaki kesebuah taman, yang terletak dibelakang rumah sakit itu . Raut wajah lelaki tampan itu, tampak begitu memerah. Hingga sebuah kaleng kosong yang berada didepannya, ditendangnya dengan sangat kuat, untuk meluapkan semua amarah dalam dirinya.


"Dasar brengsek!! dia pikir siapa dia?! berani sekali dia, memberikan bunga pada istriku, dan itu dilakukan didepanku." Dengan senyuman sinis, dan kepalan tangan yang terlihat jelas yang menyalurkan semua emosinya.


"Kalau cinta, kenapa tidak bilang saja."Seru Jack tiba-tiba, dengan melangkahkan kaki menghampiri Zain.


Membalikkan tubuhnya, seraya mendengus kesal saat mendapati keberadaan sahabat baiknya itu.


"Untuk apa, kau kesini! apa kau tidak punya pasien, jadi kau datang menemuiku."


Jack membingkai tawa kecil diwajahnya, saat medengar apa yang ditanyakan Zain padanya.


"Tentu saja pasienku sangat banyak, Zain? tapi aku datang kesini, khusus untuk menyadarkanmu."


Tatapan yang sedari tadi lurus kedepan, seketika berpaling menatap Jack dengan intens. Dan dia sangat penasaran, karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud, oleh sahabatnya itu.


"Apa yang sudah kulakukan, jadi aku harus menyadarinya,"


Mengehembuskan napas kasar, sebelum menjawab apa yang ditanyakan Zain padanya.


"Aku hanya mau mengatakan, kalau tanpa kau sadari, kau telah jatuhcinta pada istrimu, Zain?"


Seketika tawa keras, keluar dari mulut pengusaha tampan itu, saat mendengar apa yang disampaikan Jack padanya.


"Ha..ha...ha..ha... Tidak Mungkin, itu sangatlah mustahil. Mana mungkin aku jatuhcinta, padanya,"


Jack hanya tertawa kecil, saat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Zain. Sebab sahabatnya itu, masih saja tidak menyadari tentang perasaannya.


"Kalau memang kau tidak mencintainya, biarkan dia bersama Rian. Dan kau, bisa kembali pada Clara."


Kedua alisnya menyurut seketika, dan Zain terlihat begitu kesal, saat mendengar apa yang dikatakan Jack padanya.


"Apa kau sudah gila, Jack?! meminta aku menceraikan istriku, dan membiarkan dia bersama sibrengsek, itu!"

__ADS_1


"Aku hanya kasian pada Ariana, Zain? aku hanya takut, dia akan berharap banyak dengan pernikahan kalian ini. Sementara kau, tidak mencintainya, dan menganggap pernikahan ini hanya sebuah permainan."


Menghembuskan napas kasar, berusaha menahan rasa kesalnya, pada sahabat Dokternya itu.


"Kau memang, sahabat baikku. Tapi kau tidak punya hak, untuk mencampuri urusan pribadiku, Jack? dan terima kasih atas nasehatmu, dan maaf aku harus segera pergi." Jawab Zain, dengan berlalu begitu saja.


Jack menggeleng pelan kepalanya, menatap perginya Zain, dengan senyuman kecil diwajahnya.


"Kau sudah jatuhcinta padanya, Zain? tapi karena egomu yang begitu tinggi, membuat kau tidak menyadari perasaanmu sendiri."


****


Zain melangkahkan kaki kembali keruangan dimana Ariana dirawat, sepanjang jalan lelaki tampan itu berusaha menghilangkan apa yang ada dalam pikirannya, saat mengingat kembali akan perkataan sahabatnya itu, kalau dia sudah jatuhcinta pada Ariana.


"Tidak, tidak mungkin aku sudah jatuhcinta pada Ariana." Gumamnya, yang berusaha meyakinkan diri sendiri.


Ariana berbaring diatas bed hospital, dengan tatapan mata menatap layar televisi, yang sedang menayangkan sebuah drama Korea. Tapi dari raut wajah yang dia tunjukan, kalau wanita itu terlihat gelisah, dan tidak fokus saat menonton drama tersebut.


Sebab yang ada dipikiran Ariana adalah, kemana suaminya pergi, apalagi pria itu pergi dengan keadaan marah. Tatapan matanya teralih menatap Adam, yang sedang asyik memainkan ponselnya.


"Adam..?" Panggilnya, tiba-tiba.


"Ada apa, Nona?"


"Ntahlah, Nona? tapi saya yakin, Tuan pasti berada diarea rumah sakit ini."


"Adam..?" Dan Ariana terlihat ragu, saat akan melanjutkan kalimatnya.


"Ada apa, Nona?" Tatapan penasaran, menatap istri Tuanmudanya, saat melihat Ariana tak melanjutkan kalimatnya.


"Meemmm..!" Dan kembali, terlihat ragu.


"Ada apa Nona? katakanlah, jangan buat aku penasaran?"


"Apa menurutmu, suamiku masih mencintai kakakku, Clara?"


Adam tersenyum kecil, karena dia tidak menyangkah Ariana akan menanyakan hal itu padanya.


"Apakah Nona sudah jatuhcinta, pada Tuanmuda?"

__ADS_1


Raut wajah Ariana seketika merona, saat Adam menanyakan tentang perasaannya pada Zain.


"Kenapa justru, kau yang bertanya padaku? bahkan kau belum menjawab pertanyaanku, Adam?" Dengan mimik cemberut, menatap Adam yang tengah tersenyum padanya.


"Aku tidak tau, apa yang Tuan rasakan pada Nona Clara saat ini. Ntah dia menganggap Nona Clara sebagai Kakak iparnya, atau sebagai wanita yang masih dia cintai. Karena bagaimanapun, kita tidak bisa mengukur dalam hatinya seseorang. Tapi menurut kesimpulanku, sepertinya Tuan Zain sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi pada Nona Clara."


"Apakah kau yakin, Adam?"


"Yaa. Saya sangat yakin."


Menghembuskan napas pelan, dan dia kembali menanyakan sesuatu pada Adam.


"Dan apakah menurutmu, balas dendam sudah tidak ada dalam pernikahan, kami lagi? karena kaupun tau, karena apa dia menikahiku."


"Sepertinya, tidak ada balas dendam lagi dalam pernikahan kalian, Nona?"


"Tapi Kakakku Clara, begitu mencintainya Adam?"


"Dan apakah Nona akan menyerahkan Tuan Zain, pada Nona Clara?"


"Tidak. Aku tidak akan, menyerahkan suamiku pada Kakakku. Dia begitu baik padaku, dan aku seperti menemukan tempat berlindung saat bersamanya. Kau tau, selama ini hanya Papaku saja, yang tulus menyayangiku. Kak Clara begitu membenciku, begitu juga dengan Mama. Bahkan Mama pernah menjualku.." Dengan tidak melanjutkan lagi kata-katanya, saat mengingat kembali akan peristiwa yang membuat dia trauma seumur hidupnya.


"Apa yang akan katakan padaku, Nona?! katakanlah, kalau itu bisa mengurangi beban anda."


"Dan saat itu, ada seorang pria yang datang menolongku. Tapi saat itu, aku tidak melihat wajahnya, karena ruangan sedikit gelap. Hanya yang aku ingat, dia memiliki postur tubuh yang tinggi, dan sepertinya dia sangat tampan. Setelah menolongku, dia langsung pergi begitu saja. Dan jika suatu saat aku bertemu dengannya, aku sangat ingin berterima kasih padanya, dan mengenalkan dia pada suamiku."


"Siapapun pria itu, aku yakin dia memiliki hati yang baik Nona?"


"Adam..?"


"Ada apa, Nona?"


"Kau sangat baik. Awalnya, aku mengirah sikapmu sama seperti suamiku yang dingin, dan sedikit angkuh."


"Itu karena tuntutan pekerjaan Nona, yang mengharuskan aku bersikap seperti itu."


"Tentu, karena kau harus selalu melindungi suamiku. Dan aku rasa, sahabatku?.." Dengan menjeda kalimatnya sejenak, yang membuat Adam penasaran.


"Sahabat? kenapa dengan sahabat anda Nona?"

__ADS_1


"Aku rasa sahabatku, menyukaimu Adam? mungkin saja bisa dikatakan, kalau dia jatuhcinta pada pandangan pertama saat melihatmu." Dengan senyuman kecil diwajahnya, menatap Adam yang tampak kaget dengan apa yang dia katakan.


__ADS_2