Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Penasaran 2


__ADS_3

"Hei culun?! ini kacamatamu!" Dengan memberikan kacamata tersebut, pada gadis itu.


Dengan pandangan yang sedikilt kabur, Araa meraih kacamata dari tangan Zain, dan memakainya.


"Tuan, anda sudah bangun daritadi?"


"Tentu saja, bodoh?! bahkan aku sudah selesai mandi, dan akan segera berangkat kerja."


"Maafkan saya Tuan? baiklah kalau begitu, saya akan mengambil sepatu milik anda." Dengan melangkah keruang ganti, mengambil sepetu milik zain.


Membuka lemari, dan menjumpai banyak sepatu dengan berbagai merk, dan pilihannya jatuh pada sepasang sepatu berwarna hitam.


Tatapan matanya begitu intens, menatap sepatu-sepatu yang terlihat begitu mewah. Setelah beberapa menit didalam, Ariana kembali menyambangi lelaki tampan itu.


"kenapa kau lama sekali culun?! apakah kau sengaja mau buat, aku terlambat kekantor?!" Nada yang terdengar kesal, saat Ariana baru saja keluar dari ruangan ganti.


"Ma..maafkan saya Tuan? saya masih memilih sepatu, yang saya sesuaikan dengan jas yang anda kenakan," Dengan dengan duduk berjongkok, dan mulai memasang kaos kaki, dan sepatu pada kaki suaminya.


Zain terus memandang wajah Ariana, yang tengah memasang sepatu pada kakinya. Dan dia teringat kembali akan kejadian semalam, menangis dalam mimpinya, dan menyebut nama Ibu.


"Hei.. culun?!"


Seketikan mendongakkan kepala, menatap wajah tampan itu.


"Ada apa, Tuan?!"


"kau baik-baik, saja?" Bertanya, dengan menatap intens wajah istrinya.


"Saya baik-baik saja, Tuan?"


"Kau, yakin?"


"Iya Tuan."


Tuan?" Panggil Araa, kemudian.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Meemmm.." Dengan menjeda kalimatnya sejenak, dan terlihat ragu.


"Semalam apakah Tuan, yang menggendongku keatas ranjang?" Tanya, pelan.


Raut wajahnya seketika berubah pucat, karena apa yang ditanyakan Ariana sangatlah benar, hingga membuatnya berpura-pura marah.


"Apa tadi kau bilang?! aku yang menggendongmu keatas ranjang?!" Dengan nada, yang terdengar kesal.


"I..Iya, Tuan?" Jawabnya, gugup.


Tertawa begitu keras, hingga membuat Ariana hanya menunduk, karena takut.


"kaupun tau culun, pernikahan kita ini terjadi karena apa. Mana mungkin aku sudi, menggendongmu. Akupun sendiri terkejut, bahkan sangat terkejut, saat bangun kau sudah ada disampingku, bahkan sampai memelukku. Dan itu membuatku marah." Jawabnya dengan raut wajah yang terlihat kesal, agar kebohongannya bisa tertutup sempurna.


"Maafkan saya Tuan? saya janji itu tidak akan pernah terjadi lagi." Jawabnya, dengan menunduk takut.


"Tentu saja, itu tidak boleh terjadi lagi. Karena aku tidak sudi, tidur satu ranjang denganmu." Serunya, tegas.


"Maafkan saya Tuan, saya janji itu tidak pernah akan terjadi lagi." Jawabnya, menunduk.


Dan tiba-tiba saja, Ariana teringat kembali akan uangnya yang tidak ada seperserpun.


"Ada apa?!"


"BIsakah, aku meminjam uangmu?"


"Pinjam, uang?" Dengan mengernyitkan dahinya.


"Iya Tuan, saya sama sekali tidak punya uang. Jadii bolehkah saya meminjam uang untuk membayar ongkos taksi, agar saya tidak terlambat pulang nanti."


Tatapan matanya seketika begitu intens, menatap Ariana.


"Terus semalam kau pulang, siapa yang mengantarmu?"


Tersenyum kecil, seraya membenahi kacamatanya yang sedikit turun., dari hidungnya."Saya berjalan kaki dari daerah XXX, sampai kerumah ini. Jadi itulah sebabnya, saya sampai kerumah ini, sudah sangat malam."


Zain hanya terdiam, dan menatap wajah Ariana dengan begitu dalam."(Bukankah jarak dari tempat itu, kerumah ini sangat lah jauh?)" Bathinnya, dengan terus menatap gadis didepannya.

__ADS_1


"Kenapa kau semalam tidak mengatakan padaku, bodoh?! kalau kau pulang terlambat, karena berjalan kaki."


Senyuman kecil diwajahnya, saat menjawab pertanyaan pria itu. "Maafkan saya, Tuan?"


TIba-tiba saja, Zain teringat semalam tentang mimpi gadis itu, dan dia memutuskan untuk pura-pura bertanya, agar mengetahui bagaimana hubungan istrinya, dengan Ibu angkatnya itu.


"Apakah kau, tidak mengunjungi Mamamu? karena sejak kita menikah, kamu belum pernah mengunjungi rumah orangtuamu.


"Ke..kenapa tiba-tiba saja, anda menanyakan Mama saya Tuan?!" Bertanya balik, dengan raut wajah sedikit gugup.


"Memangnya kenapa, apakah tidak boleh?1 menurutku, Mama angkatmu itu sangatlah baik, setidaknya itulah yang aku lihat,saat aku masih menjalin hubungan dengan Clara dulu."


Memaksakan diri untuk tersenyum, dan dalam dirinya masih ada rasa kecewa, mengingat bagaimana Ibu angkatnya Diana, pernah menjualnya pada tempat hiburan, dan dia nyaris kehilangan kehormatannya, kalau tidak saja ada seorang pria yang datang menolongnya. Dan dia menutup rapat-rapat kejadian itu dari david, ayahnya.


"Saya tidak berniat kesana Tuan, saya akan kesana saat Papa pulang nanti."


"Terserah kau, dan aku tidak perduli. Dan ini buatmu." Dengan mengambil sebuah kredit card pada dompetnya, dan memberikan pada Araa.


"Kenapa anda memberikan saya benda ini Tuan? saya membutuhkan uang saja."


"Kalau begitu kembalikan, karena saya tidak mempunyai uang kes!" Jawabnya, kesal.


"Tidak Tuan, maafkan saya."


"Ambillah kau boleh memakainya sesuka hatimu, dan anggap saja, itu sebagai bonus karena ku sudah mengurusku dengan baik."


Ariana hanya tersenyum, dan tanpa sadar ada buliran bening yang membasahi pipinya.


"Kenapa kau menangis? apakah kau tidak menyukainya?" Bertanya, dengan tatapan penasaran menatap Ariana.


"Saya sangat senang Tuan, saya mau berterima kasih, karena anda sudah membiarkan saya bekerja, dan memberikan saya benda ini."


Hanya terdiam saat mendengarkan apa yang dikatakan oleh gadis itu, dan dalam dirinya timbul rasa penasaran, bagaimana kehidupan istrinya saat masih berada dikediaman Mahesa.


Memang yang Zain ketahui saat masih menjalin hubungan dengan Clara, mantan kekasihnya itu, tidak pernah menganggap Ariana, sebagai saudaranya, tapi kalau Diana, wanita itu begitu baik pada Ariana, setidaknya itu yang dia lihat.


"Tapi ingat kau sudah harus ada, disaat aku pulang bekerja. Dan jangan pernah berpikir untuk pergi, karena aku bisa melakukan apa saja padamu, kau paham?" Tatapan yang begitu tajam, dan nada penuh penekanan.

__ADS_1


"Tentu Tuan," Jawabnya, dengan anggukan.


__ADS_2