Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menemui Rani.


__ADS_3

Celine semakin menumpakan tangisnya, saat mendengar apa yang dikatakan Diana. Dan memang dirinya mengakui, selama ini dia sudah sangat jahat pada Ariana, dan dari raut wajah yang ditunjukan Celine, terlihat wanita paruhbaya itu sangat menyesali perbuataannya.


"Aku sangat menyesal, aku sangat menyesal karena selama ini aku sudah sangat menyakitinya. Dan aku tidak menyangkah ternyata dia adalah anak yang aku cari selama ini."


"Apa yang kau bicarakan Diana?!" Tegur David pada pada istrinya, saat wanita itu semakin memojokkan Celine, hingga membuat tangisan Bibi dari Zain itu, semakin tumpah.


Tatapan David beralih menatap Celine, yang masih terus menumpakan airmatanya. Dan dia nampak begitu iba, pada wanita itu.


"Ariana adalah anak yang baik, aku sangat mengenalnya. Dan aku sangat yakin, dia pasti akan memaafkanmu. Dan kau sangat beruntung, memiliki putrinya sepertinya Nyonya Celine, sebab dia memiliki hati bak seorang malaikat,"


Mengusap airmata, dengan senyuman kecil yang mewakili luka hatinya saat ini, dan mendengar apa yang baru saja dikatakan David padanya, membuat luka itu semakin melebar.


"Aku sudah sangat bersalah pada anakku. Aku tidak tau, mau mencari dia dimana lagi. Karena yang aku tau, Ariana sudah tidak berada diJakarta lagi, sejak beberapa waktu lalu. Dan apakah Ariana pernah menghubungi anda, Tuan David?"


"Sayangnya sampai sekarang, dia belum menghubungiku sama sekali. Padahal saya sangat berharap, agar dia dapat menghubungku. Karena jujur saya begitu merindukannya Nyonya Celine. Dan kalau anda ingin mengetahui dimana Ariana berada, coba Nyonya tanyakan saja langsung pada Nona Rani. Karena setelah pergi dari rumah Zain, Ariana tinggal bersamanya."


"Aku mengucapkan terima kasih, karena selama ini anda sudah sangat menyayangi putriku. Dan sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu, Tuan David? dan kalau begitu, aku permisi dulu. Aku akan pergi menemui Nona Rani, untuk menanyakan dimana putriku saat ini. Dan semoga saja, dia mau memberitahukan padaku dimana Ariana saat ini." Pamit Celine, dengan beranjak dari duduknya.


"Hati-hati Nyonya Celine, dan kalau kau mendapat kabar tentang Ariana, beritahu aku."


"Tentu Tuan David.." Jawabnya, dengan melangkah keluar dari dalam rumah.


Senyuman sinis membingkai diwajah Diana, dan dia meyakini sekarang tidak akan ada celah bagi putrinya lagi, untuk dapat kembali dalam pelukan Zain. Dan tentu saja Celine akan lebih mendukung putrinya Ariana, daripada wanita lain. Dan setelah mobil yang dikendarai Celine sudah berlalu keluar dari area rumahnya, Diana memutuskan untuk menyambangi anak perempuanya, menyampaikan fakta yang baru saja dia tahu.


****


Diana membuka lebar daun pintu kamar anaknya, yang kebetulan tidak terkunci. Hembusan napas kasar terdengar jelas. Dan tidak bisa dipungkiri, dia masih menahan kesal pada putrinya Clara, sebab akibat kebodohannya sendiri, hubungan pertungannya dengan Zain gagal.


Melangkah menghampiri Clara yang tengah duduk diatas ranjang, dengan tatapan mata menerawang. Dan kedua bolamata itu nampak memerah, dan sepertinya Clara baru saja habis menangis.


Duduk disisi ranjang samping putrinya, menatap Clara yang sama sekali tidak memperdulikan kedatangannya.

__ADS_1


"Berhentilah bersedih. Bukankah semua ini terjadi, karena kebodohanmu sendiri?! kau meninggalkannya, dan lebih memilih Jason sipria bodoh itu. Dan kenapa kau begitu bodoh, sampai tidak menyadari keberadaan Jason disana, yang sudah merekam pembicaraan antara kau, dan Tuan Piter yang membuat pertunganmu dan Zain gagal."


Clara kembali menumpakan tangisnya, saat mendengar apa yang dikatakan Ibunya. Mengusap airmatanya yang kembali menetes, dan bersuara saat merasa hatinya sudah jauh lebih tenang.


"Aku tau aku salah, dan juga bodoh. Tapi aku sangat mencintai dia Maa? aku sangat mencintainya.." Tetesan bening yang terus mengalir, saat dirinya mengucapkan beban yang dia rasakan.


Clara meraih jemari Ibunya, dan menatapnya Diana dengan linangan airmata yang masih mengalir, dan tatapan penuh harap disana.


"Maa, aku mohon padamu.., bujuk Zain agar mau melanjutkan kembali pertunangan ini.."


Hembusan napasnya terdengar berat, saat mendengarkan keinginan putrinya, yang menurutnya sangat mustahil. Melepaskan genggaman tangan itu, sebelum mengutarakan pada putrinya, tentang kenyataan yang baru saja dia tahu kalau Celine yang adalah Ibu kandung dari Ariana.


"Mama yakin, tidak ada tempat untukmu lagi Clara, setelah dia mengetahui semua kebenarannya. Apalagi dengan kenyataan yang baru saja Mama tau, hingga membuat Mama masih belum bisa mempercayainya,"


Keninganya berkerut, tatapannya seketika intens dan tersirat rasa penasaran pada Ibunya, dengan apa yang baru saja dikatakan.


"Kenyataan apa yang kau maksud Maa?"


Clara nampak intens saat mendengar apa yang dikatakan Ibunya. Dan wanita itu, menganggap Diana sedang berbohong, agar dia tidak memperjuangkan Zain kembali.


"Mama sedang berbohong, padakukan?" Tanyanya tersenyum, dibalik kesedihan yang masih melanda diri.


Diana nampak kesal, saat mendengar apa yang dikatakan anak perempuannya. Hingga membuatnya memukul pundak Clara, saat anak perempuannya menuduhnya berbohong.


"Apa yang kau lakukan Maa? kenapa kau memukulku. Ini sakit??" Keluhnya, seraya memijat pelan pundaknya yang terasa nyeri.


"Aku ini Mamamu, Clara?! tidak ada gunanya bagiku, untuk berbohong padamu. Dan berhentilah mencintai Zain, dan berharap dapat kembali bersamanya, karena itu sangat mustahil. Karena bukankah semua ini terjadi karena kebohanmu, yang sudah lebih memilih Jason daripada Zain?! Padahal Mama sangat berharap, kau menikah dengannya."


Saat mendapatkan jawaban Ibunya, yang terlihat begitu meyakinkan, Clara semakin menumpakan kesedihannya. Kalau Ariana benar-benar anak peremuan dari Celine, berarti tidak ada kesempatan baginya, atau wanita lain untuk dapat memiliki seorang Zain Pratama.


****

__ADS_1


Rani nampak begitu sibuk, dengan memajang berbagai jenis busana hasil rancangannya. Baik itu gaun pengantin, busana santai, ataupun gamis yang ia balutkan pada menekin-manekin yang berjejer didalam bouitiquenya.


Hingga suara dari salahsatu karyawannya, menghentikan kegiatan perancang busana itu.


"Maaf Nona Rani, ada yang ingin bertemu dengan anda."


"Bertemu denganku?" Tatapan penasaran, saat kedua bolamata itu menatap pada seorang gadis, yang merupakan karyawannya.


"Iya Nona.."


"Siapa?"


"Saya tidak tau pasti siapa dia Nona, yang jelas dia bukan pelanggan kita, karena saya baru saja melihatnya."


"Baiklah kalau begitu kamu lanjutkan memasang gamis ini. Aku akan menemui orangnya." Dengan memberikan gamis itu, pada gadis muda itu.


Langkah kaki Rani menghampiri ruangan yang sengaja dia siapkan untuk menjamu para pelanggan, yang mungkin ingin berbicara secara khusus dengannya. Saat sudah berada didalam, dia sedikit kaget ketika mendapati keberadaan Bibi dari sahabatnya, Celine. Dan seketika timbul rasa penasaran dalam dirinya, untuk apa wanita paruhbaya itu datang menemuinya.


Celine langusung beranjak dari duduknya, saat mendapati keberadaan Rani. Dan dengan senyuman diwajahnya, dia menyapa perancang busana itu.


"Selamat siang Nona Rani, maaf mengganggu waktu anda."


"Siang juga Bibi Celine. Anda sama sekali tidak mengganggu waktu saya. Dan silahkan duduk." Jawabnya, seraya menduduki salahsatu sofa tunggal.


Bolehkan saya tau, tujuan anda datang mencari saya Bibi?" Bertanya dengan bolamata menatap intens Celine, wanita yang masih terlihat cantik diusia senjanya.


Celine, Ibunda dari Ariana. Wanita yang masih terlihat cantik, diusia senjanya.



__ADS_1


__ADS_2