Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Meminta meninggalkan Zain.


__ADS_3

Ariana nampak kesulitan bernapas, dan dengan segera dia menarik diri, dari ciuman panas yang suaminya berikan.


"Apakah kau sedang menolakku, Ariana?" Tanya Zain, dengan tatapan kesalnya.


"Tidak Sayang, aku sedang tidak menolakmu. Dan bisakah kita melakukan ditempat tidur saja, karena tidak mungkinkan, kita melakukan disini," Dengan napas, yang masih terengah-engah.


Tawa keras keluar dari bibir pengusaha tampan itu, saat mendengar apa yang dikatakan istrinya.


"Jadi kau mengirah, aku akan mengajakmu bercinta? padahal, aku hanya menciummu Ariana, kenapa kau berpikir terlalu jauh?"


Raut wajah Ariana bersemu merah, karena dia sudah mensalahkan arti dari ciuman yang diberikan Zain padanya.


"Katakan padaku, apa yang kau sembunyikan!"


Wajah Ariana terlihat semakin pucat, saat mendapat pertanyaan yang sama dari Zain. Sebab selama ini, dia berusaha untuk menutupi kisah masalalunya, dari lelaki itu.


Tatapan matanya menatap kotak kecil, yang dia lemparkan dibawah kolong lemari, dan dia takut jika Zain melihatnya ,melihat benda itu.


"Aku tidak mau, dia mengetahui tentang kisah masaluku. Apalagi tentang liontin itu. Karena selama ini, aku sedang berusaha mencari pria pemilik liontin itu. Dan aku tidak mau, dia berpikir macam-macam." Bathinnya, ditengah keresahannya saat ini.


"Kau salah, Sayang? aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu." Dengan senyuman kecil diwajahnya, berusaha meyakinkan pria itu.


"Apakah kau, yakin?" Dengan tatapan, penuh selidik.


"Iya, Sayang."


Zain menatap istrinya, dengan tatapan penuh penu tanda tanya. Dan diapun mengetahui akan hal itu, kalau suaminya tengah menatapnya dengan tatapan penuh kecurigaan. Ariana mulai berperang dengan pikirannya, apa yang harus dia lakukan agar, dapat mengalihkan perhatian suaminya.


Saat larut dalam lamunannya sesaat untuk mencari ide, tiba-tiba saja dia menemukan solusi, dan menurutnya hanya itu saja. Yaitu dengan menggoda suaminya, dan mengajaknya bercinta.


Membuang jauh-jauh rasa malu, dan dengan satu tarikan napas, Ariana memberanikan diri semakin menempel pada Zain.


"Sa.. yang." Dengan nada, yang begitu menggoda.


"Ada apa?"


kini mereka berdua, berada dalam jarak yang begitu dekat, hingga tidak ada celah sedikitpun, yang memisahkan mereka.

__ADS_1


Saling menatap dengan dalam, dan larut dalam lamunan masing-masing, saat tatapan itu bertemu.


Zain menatap dengan dalam, wajah cantik didepannya. Dan pria itu, mulai bertanya pada dirinya akan perasaannya selama ini pada Ariana, yang masih dia belum temukan jawabannya hingga saat ini.


"Mungkinkah aku sudah jatuhcinta padanya, tanpa kusadari."


"Aku tidak menyangkah, akan menikah dengan pria setampan dia. Mungkinkah, tanpa kusadari aku sudah jatuhcinta padanya."Bathin Ariana, bertanya pada diri sendiri.


"Ada apa, katakan!" Tanya Zain, yang memecahkan keheningan yang terjadi diantara mereka.


"A..aku." Jawab Ariana dengan kegugupan, sebab masih malu dengan apa yang akan diakatakan.


"Aku apa!" Tanya Zain, dengan nada yang terdengar tegas.


"Aku..." Jawab Ariana, dengan keraguan yang masih mendera.


" Apakah kau mau, mengajakku bercinta?" Dengan mencoba untuk menebak, apa yang akan disampaikan istrinya.


Raut wajahnya semakin bersemu merah, sebab dikatakan suaminya sangatlah benar.


"I.iya Sayang. Aku ingin melakukan itu, denganmu." Dengan menundukkan kepala, karena merasa sangat malu.


"Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu. Karena sepertinya, kau sudah sangat menginginkan hal itu." Dengan langsung menggendong Ariana, menuju ranjang mereka.


****


Detik berganti waktu, waktu berganti jam, hingga tidak terasa seminggupun telah berlalu, disaat hari terus berganti.


Dan selama seminggu inipun dilalui Ariana dengan bahagia, karena hubungannya, dan Zain yang semakin harmonis walaupun belum ada ungkapan cinta, diantara keduanya.


Raut wajahnya terlihat sumringah, saat melayani para pengunjung restorant. Ketika tengah meletakkan pesanan pada meja nomor 4, Ariana dikejutkan dengan ucapan dari sahabatnya, yang mengatakan kalau Ibu angkatnya Diana, ingin bertemu dengannya.


"Ariana..." Panggilnya, pelan.


"Ada apa, Rose?"


"Ada seseorang ingin bertemu denganmu. Dia mengatakan, kalau dia adalah Mamamu."

__ADS_1


Segera meletakkan minuman hangat pesanan pengunjung restorant, dan berlalu kedapur barsama sahabatnya.


"Apakah kau , serius?" Tanya Ariana, karena masih belum percaya dengan apa yang disampaikan Rose.


"Iya. Buat apa, aku berbohong." Jawabnya, meyakinkan Ariana.


"Kau antar pesanan ini meja nomor 11, aku akan pergi menemuinya." Ucap Ariana dengan berlalu begitu saja, setelah memberi nampan pada sahabatnya.


Raut wajahnya terlihat begitu penasaran, dan dalam dirinya timbul tanda tanya, ada apa Ibu angkatnya Diana, datang menemuinya direstorant. Bukankah dia begitu membenci, dirinya.


"Untuk apa, Mama datang mencariku." Bathinnya, dengan melangkahkan kaki kemeja nomor 1, yang diduduki Diana.


"Selamat pagi, Maa?" Sapanya, dengan menduduki sebuah kursi kosong, tepat berhadapan dengan Diana.


Membingkai senyuman sinis diwajahnya, menatap Araa dengan tatapan tidak suka.


"Kau sangat sombong, Ariana!! bahkan sekarang, kau sudah melupakan darimana kau berasal."


Memaksakan diri untuk tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan Diana, padanya.


"Sampai kapanpun, aku tidak pernah melupakan darimana aku asalku. Dan aku mengucapkan terima kasih, karena Mama sudah merawatku dengan baik. Walaupun Mama menerimaku, dengan keterpaksaan."


"Tentu saja karena aku sama sekali tidak pernah menyetujui, saat suamiku mengadopsimu. Sebab aku sangat tidak sudi, memungut anak yang tidak jelas asal-usulnya. Dan bisa saja kau ini, anak dari hasil hubungan gelap." Dengan senyuman mencemooh, menatap Ariana.


Berusaha tersenyum, ditengah airmata yang hampir tumpah, saat mendengar perkataan Diana, yang begitu menyakitkan.


"Katakan ada apa, Mama datang mencariku. Karena sekarang, masih jam kerja."


"Aku ingin kau meninggalkan, Zain. Karena dia hanya pantas, berdampingan dengan putrku." Serunya, dengan nada penuh penegasan.


Tawa kecil membingkai diwajah Ariana, saat mendengar apa yang diinginkan Ibu angkatnya.


"Bagaimana kalau aku, tidak mau. Dan kenapa Mama tidak meminta saja langsung pada suamiku, agar menceraikan aku."


Raut wajah Diana seketika memerah, saat mendengar ucapan Ariana, yang begitu berani padanya.


"Kau sekarang, sudah sangat tidak sopan padaku Ariana?!!" Dengan ingin melayangkan sebuah tamparan pada pipi anak angkatnya, seketika tangannya dicekal oleh seseorang.

__ADS_1


"Jika Nyonya datang, hanya untuk membuat keributan disini. Aku minta, anda keluar sekarang juga!" Seru Rian, dengan nada tegas.


__ADS_2