Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Dipanggil sang Presdir.


__ADS_3

David seorang pria parubaya baya berdarah jawa, dan menjabat sebagai seorang Direktur, diperusahaan yang bergerak dibidang ekspor, dan import, yang terlertak diluar kota Jakarta. Keriputan semakin membingkai diwajah seorang David, akibat rasa cemas yang membelenggu diri. Kedua tangannya saling meremas, menyalurkan gelisah yang melanda diri dengan kedua bolamata, terus tertuju pada angka didalam lift, yang membawa mereka kelantai delapan belas.


Pintu lift terbuka, kini kedua pria bedah usia itu, sudah berpijak pada lantai delapan belas, dimana ruangan sang pimpinan berada.


Langkah kaki itu beriringan bersama Robert, tapi saat kedua kaki itu membawanya keruangan PRESDIR, tatapan para staf tak sekalipun berpaling dari arahnya saat kedua kaki itu melangkah.


"Apakah aku sudah melakukan kesalahan fatal, hingga daritadi semua karyawan terus menatapku," Membathin, akibat rasa penasaran yang membelenggu diri.


Robert mengetuk pintu, saat dia, dan David sudah berada didepan kamar. Seketika tangan kekar Robert menjangkau gagang pintu, saat mendengar suara titah dari dalam.


Kedua kaki itu melangkah masuk bersama Robert, dengan kegelisahan semakin melanda diri. JIka saja dirinya, sudah melakukan kesalahan yang mungkin sudah merugikan perusahaan.


"Selamat siang Pak. Robert menyampaikan, kalau ada hal penting yang ingin anda bicarakan dengan saya."


Juan sang PRESDIR, segera beranjak dari duduknya dengan senyuman khas yang tetap membingkai diwajah tuanya, saat berhadapan dengan salahsatu karyawan terbaiknya.


"Duduklah dulu.."


David menduduki sebuah kursi tunggal, yang tepat berhadapan dengan meja kerja itu sang PRESDIR.


Hembusan napas terasa berat, karena sesungguhnya PRESDIR itu enggan menyampaikan hal ini.


Tatapannya beralih pada orang kepercayaannya itu, dan Robert yang sudah memahami apa yang dimaksud oleh Tuannya, segera menjangkau surat kabar yang berada diatas meja, dan meletakan diatas meja kerja tepat berhadapan dengan posisi duduk David.


Raut wajah bingung seketika membingkai penuh diwajah David, saat Robert meletakkan surat kabar itu. Tatapannya sekilas bergantian menatap Robert, dan juga David karena penasaran. Perlahan jemari itu terangkat, meraih surat kabar yang berada didepannya.


Kedua bolamata itu membulat lebar, saat tatapan matanya tertuju pada sebuah artikel yang menulis tentang putrinya.


Kedua bolamata David mulai menelusuri setiap kalimat, untuk mengetahui hal apa yang tengah terjadi dengan anak perempuanya yang sama sekali dia tidak tahu, yang tertulis didalamnya.


Lelah seketika melanda tubuh pria paruhbaya itu, buram kedua penglihatannya, akibat cairan bening yang sudah memenuhi matanya dengan apa yang baru saja dia tahu.

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan David, inilah tujuan saya memanggil anda. Karena pemberitaan tentang putri anda ini, sudah merebak luas dan melibatkan nama perusahaan ini didalamnya. Apalagi putri anda melakukan hal itu, dengan seorang pengusaha.Dan semua orang juga tahu, kalau dia adalah mantan kekasih dari pengusaha terkenal Zain Pratama."


David menundukan kepala, karena begitu malu dengan perbuatan putrinya. Mengusap cairan bening, yang sudah lolos begitu saja tanpa dia sadari. Dan sekarang dia tahu apa yang membuat tatapan semua karyawan terus menatapnya hari ini.


"Maafkan saya Pak? maafkan saya. Maafkan saya, karena sudah ikut menyeret nama perusahaan ini."


Terukir senyuman diwajah sang PRESDIR, dan terselip rasa iba pada apa, yang menimpah keluarga dari salahsatu karyawannya terbaiknya.


"Anda sudah bekerja dengan saya berpuluh tahun lamanya. Dimulai menjabat sebagai staf biasa, hingga menjabat sebagai seorang Direktur. Dan saya sangat mengenal bagaimana anda, Tuan David? dan saya yakin anda pasti sudah berusaha menjadi seoarang ayah yang baik, dan juga seorang kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab. Saya memanggil anda kesini, saya hanya ingin anda membereskan masalah ini, sebelum anda kembali melanjutkan aktifitas dikantor."


David seketika menengadakan kepala, menatap dengan intens pria seusianya itu. Berusaha untuk mencerna, apa yang dimaksud atasannya.


"Apakah anda memecat saya Tuan?"


Senyuman kecil terukir diwajah Juan, mendegar apa yang dikatakan David tadi.


"Saya tidak memecat anda Tuan David, saya hanya minta anda mengurus masalah ini. Dan saya yakin, pasti ada orang yang sudah menyebarkan rekaman-rekaman itu."


"Sekali lagi maafkan saya Pak Juan, tan terima kasih karena anda sudah sangat mengerti dengan keadaan saya saat ini. Dan mungkin sekarang juga, saya akan segera pulang keJakarta, untuk mengurus masalah ini." Dengan beranjak dari duduknya.


Tubuh tambun itu ikut bangkit dari duduknya, saat David akan meninggalkan ruangannya.


"Hat-hati dijalan."


"Terima kasih Pak.. dan kalau begitu saya permisi dulu." Dengan sedikit membungkukkan badannya, saat akan berlalu pergi.


*****


Tatapan matanya menerawang terlempar jauh kedepan, menatap keindahan alam yang disajikan belakang rumahnya. Mentari telah tersenyum cerah, menyinari bumi. Tapi cerahnya sang surya, tak secerah raut wajah yang selalu membingkai kesedihan akhir-akhir ini.


Tetesan bening kembali mengalir, ketika ingatannyaa teringat kembali akan putrinya. Penyesalan terus berkelanjutan, dan semakin bertambah besar, mengingat bagaimana jahatnya dia pada putri kandungnya sendiri.

__ADS_1


Mengusap airmatanya, yang sudah lolos begitu saja.


"Ariana... dimana Mama harus mencarimu. Maafkan Mama Nak.., maafkan Mama. Mama sungguh menyesal Ariana... Mama sangat mengesal..." Airmata yang terus mengalir, saat kaliamat penyesalan itu terlontar dari bibirnya.


Pintu kamar terbuka lebar. Kedua kakinya membawa Ani melenggang masuk, memasuki kamar Celine. Sejak mengetahui kalau Ariana adalah putrinya, Celine selalu menghabiskan waktu didalam kamar, dan enggan keluar. Hingga membuat mau tidak mau membuat para pelayan harus membawa makanannya kekamar, saat dipanggil untuk makan wanita parubaya itu selalu menolaknya.


Ani meletakkan nampan yang berisi makan siang milik Celine, pada sebuah meja kecil, samping ranjang. Dan lagi-lagi dia harus melihat pemandangan yang sama lagi, yaitu melihat Celine menangis karena putrinya.


"Nyonya.. Panggilnya pelan, dengan kedua kaki membawanya menghampiri wanita itu.


Segera mengusap airmatanya, saat mendengar suara Ani. Senyuman palsu membingkai diwajah senja itu, saat bertatapan dengan Ani.


"Mau sampai kapan, anda terus bersedih Nyonya? ingat, anda juga harus memikirkan kesehatan anda juga."


Deraian airamata kembali membasahi kedua pipinya, mendengar apa yang dikatakan Ani.


"Bagaimana aku tidak bersedih, bagaimana aku tidak terus menangis, setelah tau dia adalah putriku. Dimana aku harus mencari putriku Ani... dimana...? aku begitu merindukannya. Dan apakah dia akan memaafkanku, setelah apa yang kulakukan padanya selama ini. Bahkan.." Bahu itu semakin bergetar, saat mengingat apa yang sudah dia lakukan pada putrinya itu, hingga rumahtangganya berakhir dengan kata cerai.


Bahkan aku Ibunya kandung sendirinyalah, yang sudah menghancurkan kebahagiannya."


Perlahan tangan Ani, meraih jemari milik Celine. Ditatapnya wanita itu dengan dalam, dan yang teselip rasa iba didalamnya.


Dan melihat bagaimana Celine saat ini, dia bisa menyimpulkan wanita itu teramat menyesal dengan apa yang dia lakukan.


Kantong mata yang terlihat, dan keriputan semakin menambah diwajah senja itu, akibat pipinya yang sudah semakin menyusut. Penampilan keseharian yang selalu cantik, dan elegant sirna seketika saat dia mengetahui kenyataan itu.


"Aku tau apa yang anda rasakan Nyonya? hal ini memang tidak mudah. Mengingat kalau Ariana, adalah anak kandung anda. Tapi bagaimanapun, anda harus memikirkan juga kesehatan anda Nyonya? dan percayalah pada saya, takdir pasti akan mempertemukan Nyonya, dan Nona Ariana kembali. Dan tentu saja, cucu anda juga." Senyuman kecil, berusaha menghibur diri Celine.


Mendengar kata cucu, ada secerca kebahagian dalam diri Celine. Saat mengingat kalau Ariana sedang mengandung anak pertamanya saat ini. Tapi seketika kesedihan membingkai kembali diwajah tuanya, mengingat apakah Ariana dapat memaafkannya, atau tidak setelah apa yang dia lakujan selama ini.


"Tapi aku tidak yakin, dia dapat memaafkan aku Ani? kau sendiri pasti sudah tau, kalau akulah yang sudah merencanakan penjebakan pada putriku sendiri." Buliran bening kembali membasahi pipi, saat kalimat itu terucap.

__ADS_1


"Nona Ariana adalah wanita yang baik. Saya yakin, bahkan sangat yakin, kalau dia pasti memaafkan anda."


__ADS_2