Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Bertemu, Rani.


__ADS_3

Langsung membekap mulutnya, saat hampir saja dia mengatakan kalau ternyata dia, sudah bersuami. Dan dalam dirinya, merutuki kebodohannya.


"Mendiskusikan dengan siapa, Ariana?!" Tanya Bella, dengan menatap penasaran sahabatnya.


Tertawa kecil, seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"Maksudku, bisakah besok saja baru aku bekerja?" Jawabnya, dengan yang berusaha meyakinkan Daren, dan Bella.


"Baiklah, kalau kau mau besok juga tidak masalah." Dengan senyuman manisnya, menatap gadis berkacamata itu.


"Baiklah, kalau semuanya sudah deal. Besok Ariana, sudah bisa bekerja ditempatmu."


"Tentu, besok sahabatmu sudah bisa bekerja direstorant ini." Jawab Ryan, dengan terus menatap Araa, yang membuat Bella hanya tersenyum, dan berpura-pura batuk.


"JIka kau terlalu lama menatapnya, nanti lama-lama kau bisa jatuh cinta padanya, Ryan?"


Ariana hanya tersenyum kikuk, saat Bella menggodanya dengan Ryan, dan dalam dirinya dia merutuki sahabatnya itu.


"(Apakah kamu tidak tau Bella? kalau aku, adalah istri dari seorang pria kasar. Tapi kenapa kamu, ingin menggodaku dengan sepupumu ini? bagaimana kalau jika pria gila itu mengetahuinya, aku bisa dibunuhnya, sebab dia itu seperti monsther.)"


Bella terus menatap Ariana, yang tampak melamun. Hingga membuatnya, untuk bertanya.


"Apakah ada yang kamu pikirkan, Araa?!" Dengan menatap lekat, wajah sahabatnya.

__ADS_1


Menggeleng cepat, seraya kedua matanya menatap jam dinding yang menempel ditembok, dan memutuskan untuk segera pulang.


"Bella, apakahn kau masih disini? karena aku harus segera pulang."


"Tidak bisakah, kita bersantai dulu Ariana? bukankah sekarang kamu sudah tinggal sendiri?" Dengan tatapan penuh harap, menatap Araa.


"Tidak, karena aku masih ada urusan penting Bella? jadi lain kali saja.


Tuan Ryan aku permisi dulu. Dan terima kasih, sudah menerimaku bekerja disini." Pamitnya, dengan bangun dari duduknya, dan berlalu dari ruangan itu.


Bella terus menatap sahabatnya, dan dalam dirinya timbul rasa curiga pada Araa, dengan tingkah anehnya.


"(Sepertinya ada yang dia sembunyikan dariku, tapi apa?)"


Ariana terus melangkahkan kaki ditengah keramaian jalan, disiang hari. Dan dari kejauhan dia melihat pasangan seorang anak perempuan, dan ayahnya yang tengah menghabiskan waktu bersantai. Dan tiba-tiba saja kerinduan melanda dirinya, yang merindukan David, ayah angkatnya.


"Aku rindu padamu, Papa? terima kasih karena sudah menyayangiku seperti kau menyayangi Clara. Dan terima kasih, karena sudah mencintaiku tanpa memandangku sebagai anak angkatmu, Papa?! dan maafkan aku, karena sudah membohongimu. Tapi sesungguhnya, aku begitu merindukanmu, sangat merindukanmu. Dan semoga saja, suatu saat nanti aku bisa bertemu dengan pria, yang tulus mencintaiku, seperti kau mencintaiku." Gumamnya yang larut dalam lamunan beberapa detik, dan kembali melanjutkan langkahnya.


Terus melangkahkan kaki, ditengah panas teriknya kota Jakarta. Senyuman terus terukir diwajah polos itu, guna melupakan beban dihati, walaupun hanya sejenak.


Terus melangkah, dan melangkah hingga tidak menyadari ada seseorang yang sedang berada didepannya.


Ariana menabrak gadis itu, yang membuat tasnya terjatuh, dan isinya berserakan dilantai.

__ADS_1


"Kalau jalan liat-liat, kenapa? memang kamu gak punya mata?" Dengan nada kesal, seraya memasukkan barang kedalam tas, dibantu oleh Ariana.


Rani mendongakkan kepalanya, menatap gadis didepannya yang tengah menunduk, seraya tangannya memasukkan barang kedalam tasnya. Dan sedikit terkejut, karena ternyata yang menabraknya, adalah istri dari sahabatnya, yang dia panggil culun.


"Culun?! Kau?!"


Mendongakkan kepala, menatap intens gadis didepannya, saat ada yang memanggilnya culun.


"Nona Rani, Kau?! sedang apa kau disini?"


"Tentu saja, aku sedang berjalan-jalan. Dan kau..?" Dengan menjeda kalimatnya sejenak, dan menatap Ariana dari atas hingga bawah, yang membuat gadis itu tampak risih.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? apakah ada yang salah dengan penampilanku?" Dengan membenahi kacamata, yang bertengger diatas hidung mancungnya.


"Tentu banyak yang salah," Dengan tawa, kecilnya.


Kau pun tau, sahabatku itu sangat sempurna.


Dan pastin kau mengenal Clara kan, mantan kekasihnya itu?"


"Tentu saja aku mengenalnya, diakan Kakakku?"


"Kakak..?" Dengan tawa yang terdengar lebih keras, saat mendengar jawaban Araa, yang menurutnya hanya sebuah kebohongan.

__ADS_1


__ADS_2