
Detik terus melangkah, tidak terasa kegelapan telah kembali menyelimuti bumi, setelah senja menyembunyikan diri dibalik gunung yang menjulang.
Semua penghuni keluarga Pratama sudah kembali kekamar, guna melepas lelah setelah seharian bergulat dengan kegiatannya masing-masing.
Seperti yang terlihat pada gadis kecil buahati Zain dan Ariana. Stefanie berbaring diatas ranjang, dengan ditemani Omanya Celine.
Bocah kecil itu saat ini lebih menempel pada Omanya, dibandingkan Daddy maupun Mommynya Ariana. Mulutnya terbuka lebar, saat rasa kantuk mulai mendera diwaktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Aku sudah ngantuk Oma.." Ucapnya dengan mulut membulat lebar, meluapkan rasa kantuknya.
"Tidurlah.. kalau memang kau sudah ngantuk." Celine mengukir senyum diwajah, seraya jemarinya mengelus pucuk kepala Stefanie.
Kedua mata itu mulai meredup, akan membenamkan dalam mimpi indahnya. Tapi seketika kembali membulat lebar, saat pintu kamar terbuka dan menampikan Mommynya Ariana yang melangkah masuk.
Seketika bangun dari tidurnya, dengan tatapan mata menatap intens pada Ibunya.
"Mommy... apa yang kau lakukan disini?"
Menautkan kedua alisnya, dengan tatapan herannya.
"Tentu saja Mommy akan tidur Sayang..memang mau apa lagi,"
"Tidak Mommy..! ini bukan kamarmu. Kau tidurlah bersama Daddy." Stefanie berkata dengan tegas.
"Mommy akan tidur disini Stefanie.. Mommy belum bisa tidur dengan Daddymu." Ariana berucap, dan saat akan melabukan tubuhnya pada benda empuk itu, tapi Stefanie sengaja memposisikan tidurnya dengan terlentang, agar dia lebih mengusai banyak tempat.
"Stefanie.. jangan tidur seperti itu Sayang? tidurlah yang benar, agar Mommymu juga dapat tidur." Celine menegur pada cucu perempuannya itu.
"Tidak Oma.. ini kamar kau dan aku. Dan ini bukan kamar Mommy. Lagi pula aku tidak suka tidur berdesakan Oma.. aku sangat tidak nyaman." Stefanie mengajukan protesnya dengan raut wajah tertekuk kesal.
"Tapi Stefanie.. Mommy hanya menumpang sebentar dikamar ini. Jika Mommy sudah menikah dengan Daddy, baru Mommy akan tidur dikamar Daddymu."
"Kalau begitu Mommy tidur saja diatas tempat tidur ini, biar aku tidur saja dilantai. Dan biarkan saja aku sakit, bukankah Mommy tidak sayang sama aku lagi..!" Stefanie meraih sebuah bantal kepala, dan saat dia akan menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang, Ariana bersuara tiba-tiba dan memilih untuk mengalah.
"Tidak perlu. Baiklah. Mommy tidak akan tidur dikamar ini. Kau tidurlah bersama Omamu." Ucapnya, dan kembali melangkah keluar dari dalam kamar itu.
Kedua mata itu terus tertuju pada Ibunya, yang sudah melangkah keluar dari kamar. Dan dia sedikit kaget, saat melihat Ariana Mommynya turun kelantai bawa, dan bukan menuju kamar ayahnya yang berada dilantai tiga. Melanggkah cepat menuju pintu, dan memanggil Ibunya.
"Mommy... kau akan tidur dimana...?"
Langkah kaki Ariana seketika terhenti, saat mendengar suara putrinya.
"Mommy akan tidur dikamar bawa saja. Bukankah kau tidak ingin tidur bersama Mommy,"
"Kenapa kau tidak tidur bersama dengan Daddy, Mommy?"
"Bukankah Mommy sudah bilang, kalau Mommy dan Daddymu belum menikah. Jadi Mommy harus tidur sendiri Stefanie.." Ariana berucap, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu.
__ADS_1
Raut wajah kecewa seketika menyelimuti wajah mungil Stefanie, saat melihat kekehnya Ibunya yang tidak ingin tidur bersama ayahnya.
"Kalau begini aku tidak akan mempunyai adik bayi." Dia berucap dengan mengayunkan langkah kakinya menghampiri Omanya Celine.
"Oma... aku mau menemui Daddy,"
"Kau tidak tidur? bukankah tadi sudah mengantuk Stefanie.."
"Aku sudah tidak mengantuk lagi Oma, dan sekarang aku mau menemui Daddy dulu." Stefanie berucap dengan melangkah keluar dari kamar itu.
Kedua kaki itu mengayun dengan cepat, menuju ruang kerja Daddynya saat sudah berada dilantai bawa. Ketika sudah berada didepan ruang kerja ayahnya, Stefanie segera melayangkan ketukan pada badan pintu dengan sedikit keras, hingga membuat Zain, dan sekretarisnya Adam sedikit terganggu dengan suara ketukan itu.
"Siapa disitu..?" Adam bersuara dari dalam ruangan.
"Paman Adam buka pintunya, aku ingin berbicara dengan Daddyku.." Jawabnya dengan teriakan.
Pintu seketika terbuka lebar, dan kedua kaki mungil itu seketika mengambil langkah lebar menghampiri sang Daddy, tanpa memperdulikan Adam yang menatapnya dengan tatapan aneh.
'Daddy.. ada berita penting." Bibir mungil itu berbicara dengan nada berapi-api.
Zain menyimpulkan senyum diwajah tampannya, melihat ekspersi lucu putrinya kecilnya itu.
"Berita apa yang kau bawa untuk Daddy, Stefanie.."
Dia mengayunkan kedua kakinya menuju kursi kerja ayahnya. Menjinjitkan kedua kaki itu, agar dapat menjangkau telinga ayahnya.
"Benarkah..?" Zain begitu kaget, saat mendengar apa yang dibisikkan putrinya.
"Dan dimana sekarang Mommymu tidur?"
"Dia tidur dikamar bawa Daddy.."
Zain menghembuskan napas kasar, berusaha menyenbunyikan rasa kecewa pada Ariana, yang tetap kekeh tidak mau satu ranjang dengannya, sebelum menikah. Menimang dengan mulai berpikir keras, untuk mencari cara agar Ariana dapat tidur dengannya.
"Daddy punya ide." Tiba-tiba saja Zain berucap, dengan raut wajah penuh kemenangan.
"Apa itu Daddy?" Mata gadis kecil itu membulat lebar, akibat rasa penasarannya.
Sedikit mencondongkan tubuhnya, dan membisikkan sesuatu pada telinga putrinya.
"Bagaimana menurutmu ide Daddy,"
"Itu ide bagus Daddy.. aku yakin Mommy pasti tidak akan mau tidur dikamar itu lagi."
"Kalau begitu ayo kita jalankan misinya Nona Stefanie.." Tangan kekar itu segera meraih jemari putrinya.
"Tentu Daddy.. demi lima dik bayi." Ucap Stefanie dengan nada berapi-api.
__ADS_1
Pasangan ayah dan anak itu seketika melangkah keluar dari dalam ruang kerja dengan bergandengan tangan, tanpa memperdulikan keberadaan Adam yang menatap keduanya dengan heran.
" Apakah ayah, dan anak itu sama sekali tidak melihatku?"
.
Saat suasana rumah sudah mulai sepi, Zain dan putrinya mulai menjalankan rencana mereka tadi.
"Apakah kau siap..?"
"Tentu saja aku siap Daddy.." Nada itu terdengar begitu semangat.
Zain mulai mengolesi bedak bayi milik putrinya dengan begitu tebal pada wajah hingga Stefanie, hingga membuat wajah gadis kecil itu terlihat seperti hantu.
"Sempurna. Dan sekarang naik kepundak Daddy." Zain berjongkok, agar Stefanie dapat naik keatas pundaknya.
Sudah..?" Tanyanya kemudian.
"Sudah Daddy.."
"Pintar putri Daddy." Dan tangannya menjangkau kain putih panjang dan menutup dari atas hingga bawa, dan hanya menampkan wajah putrinya yang diolesi bedak tadi.
Zain mengayunkan kakinya menghampiri jendela kamar yang ditempati Ariana, dan mendapati jendela kamar itu masih terbuka lebar. Berdiri didepannya, dan meminta putrinya menattap pada Ibunya. Dan saat disana, mereka mendapati Ariana sedang sibuk menerima telepone.
"Daddy... sepertinya Mommy sedang menerima telepone. Apakah itu dari pacarnya?" Stefanie berucap pelan pada ayahnya.
"Tidak. Mommy, hanya milik Daddy.." Nada itu terdengar tegas, akibat rasa cemburu akan apa yang dikatakan putrinya.
"Besok aku pasti akan kesana." Ariana berucap pada penelpone diseberang sana. Dan tanpa sengaja wajah itu berpaling pada arah jendela, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok putih yang begitu menakutkan. Ketika arah pandang Ariana tertuju pada mereka, berdua, Zain segera memutar rekaman suara hantu pada ponselnya.
"Hi....hi.....hi......hi.....hi.....hi....." Dan suara itu terdengar bgitu menakutkan.
"Hantu......" Teriakan Ariana terdengar begitu menggema, akibat syok saat melihat sosok putih itu.
Stefanie, dan Daddynya segera meninggkan tempat itu ketika rencana untuk menakuti Mommy Ariana berhasil.
"Cepat kembali kemar, dan ingat jangan ceritakan ini pada siapa-siapa." Zain berucap dengan jemari mengusap wajah putrinya, yang dipenuhi bedak tebal.
"Tentu Daddy... demi lima adik bayi." Jawabnya dengan segera berlari menuju lantai dua.
Setelah kepergian putrinya dan memastikan semuanya aman, Zain segera mengayunkan langkah menuju kamar yang ditempati Ariana, dengan wajah pura-puranya.
"Ada apa Ariana?? kenapa kau berteriak?"
Kedua kaki itu segera berlari menghampiri pada Zain, dan memeluknya dengan erat akibat rasa takut yang teramat sangat.
"Zain.. aku takut Zain... aku takut... tadi aku melihat hantu dijendela sana...." Ariana berucap dengan menujukkan jarinya pada arah jendela, tanpa berbalik menatapnya.
__ADS_1
"Benarkah...?" Dan berpura-pura terkejut.