Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Tidak ingin bertemu Celine.


__ADS_3

Hembusan napas terdengar berat, saat mengutarakan tujuannya menemui perancang busana itu.


"Anda orang terakhir yang bersama Ariana, mantan istri dari keponakanku. Dan aku ingin mengetahui, dimana dia sekrang."


Tatapannya seketika intens, Rani yang belum tau sama sekali tentang siapa Celine, langsung memperlihatkan wajah ketusnya saat wanita itu menanyakan dimana Ariana. Sebab diapun tahu, wanita paruhbaya itu sama sekali tidak menyukai Ariana.


"Untuk apa Bibi menyanyakan keberadaan Ariana. Bukankah Bibi harusnya senang, karena Ariana sudah pergi dari kehidupan Zain selamanya." Nada yang terdengar kesal, saat kalimat itu terlontar dari bibirnya.


Raut wajah Celine seketika berubah mendung, saat mendengar apa yang dikatakan Rani barusan, dan dia sangat menyesal untuk itu. Hinnga tetesan bening itu menetes begitu saja, tanpa wanita itu sadari.


"Itulah kebodohanku. dan aku sangat menyesal. Sangat menyesal, karena sudah menyakiti anak kandungku sendiri, padahal selama ini aku sedang mencari keberadaannya.


Rani begitu kaget, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Celine padanya, hingga membuatnya mempertegas sebuah kalimat, yang tadi diucapkan Celine padanya.


"Putri kandung anda?!"


"Iya. Ariana adalah anak kandungku." Menjawab, dengan suara paraunya.


Tawa kecil membingkai seketika diwajah Rani, saat mendengar apa yang baru dikatakan Celine padanya. Mengingat bagaimana bencinya Celine pada Ariana, dan juga selama ini wanita paruhbaya itu selalu berusaha menjauhkan Ariana dari keponakannya, hingga membuat Rani menganggap itu hanya drama yang dibuat Celine agar dapat menyakiti Ariana lagi.


"Drama apa lagi yang anda buat, Nyonya Celine? apakah anda pikir aku akan tertipu, dengan drama tangismu ini. Apakah selama ini kau belum puas, melihat penderitaan Ariana selama menjadi istri keponakanmu!"


"Aku sama sekali tidak berbohong, Nona Rani?! Ariana benar-benar adalah anak kandungku. Aku juga baru mengetahuinya, dari detektif yang aku sewa untuk mencari keberadaan putriku. Dan aku tidak menyangkah, ternyata itu adalah Ariana mantan istri dari keponakanku Zain. Jadi aku mohon padamu Nona Rani..., katakan dimana putriku?" Tatapan penuh harap, dan linangan airmata yaang semakin deras mengalir.


Senyuman sinis membingkai diwajah Rani, saat mendengar apa yang dikatakan wanita paruhbaya itu.

__ADS_1


"Ariana sudah cukup menderita, Bibi Celine?! Selama ini dia tidak pernah bahagia. Hidup bersama keluarga angkatnya, yang selalu memberinya siksaan, baik itu fisik, maupun mental. Dan hanya Tuan David, yang benar-benar menyayanginya selama ini.


Mempunyai suami yang tidak percaya padanya, dan mirisnya menceraikan Ariana disaat dia sedang mengandung dara dagingnya. Dan anda tau kenapa Ariana pergi meninggalkan Jakarta, sebab dia tidak kuat menghadapi kenyataan saat laki-laki yang dia cintai, bersanding dengan wanita lain. Dan lebih buruknya lagi, Zain sendirilah yang memintanya meninggalkan kota ini. Jadi aku mohon, biarkan Ariana hidup bahagia. Sudah cukup dia merasakan penderitaan selama ini. Lagi pula ini permintaan Ariana sendiri, yang tidak ingin siapapun mengetahui dimana dia berada sekarang. Jadi.. maafkan aku."


Celine semakin menumpakan tangisnya, saat mendengar apa yang dikatakan Rani padanya. Dengan tatapan memohon, dan linangan airmata dia memohon lagi pada perancang busana itu.


"Aku sangat menyesal. Dan aku akan melakukan apa saja, agar putriku dapat memaafkan aku. Karena aku sudah banyak membuat hidupnya menderita. Aku begitu merindukannya, aku ingin memeluk putriku, karena aku sangat mencintainya. Dan aku meninggalkannya saat usianya baru 1 bulan. Tapi aku terpaksa meninggalkan dia, dan ayahnya sebab saat itu aku diancam oleh ayah angkatku. Kalau aku tidak meninggalkan mereka, maka Kakeknya Zain akan menghancurkan hidup suamiku. Jadi aku mohon... katakan dimana putriku.. dimana Arianaku, Nona Rani..., aku ingin bertemu dengannya?"


Hati Rani sedikt tercubit, saat mendengar apa yang dikatakan Celine barusan. Tapi mengingat bagaimana jahatnya wanita itu, dan titah Ariana yang tidak ingin siapapun mengetahui dimana dia berada, membuat Rani tetap merahasiakan keberadaan Ariana saat ini.


"Maaf aku tidak bisa, mengatakan dimana Ariana sekarang. Karena ini permintaannya sendiri. Jadi sekali lagi, maafkan aku." Dengan nada, yang terdengar tegas.


"Tapi Nona Rani...aku mohon..." Tatapan mata berkaca-kaca, dengan linangan airmata.


"Maafkan aku Bibi? tapi ini permintaan putrimu sendiri... jadi aku mohon, jangan paksa aku."


Saat berada didalam mobil, Celine segere menumpakan tangisnya. Penyesalan teramat dalam, yang terlihat dari raut wajahnya. Airmata semakin deras keluar, bagaimana dia tidak bisa menyadari Ariana adalah anak perempuan yang dia cari selama ini, dan dia sendirilah yang sudah membuat anaknya semakin menjauh darinya.


"Tuhan.... dimana aku harus mencari putriku...dimana aku harus mencarinya Tuhan.., aku sangat menyesal... aku sangat menyesal karena sudah menyakiti anak perempuanku sendiri. Ariana.... maafkan Mama Nak...maafkan Mama...."


****


Langkah kaki itu terasa berat, saat kedua kakinya membawa kedalam rumah mewah itu.


Saat tiba didalam rumah, Celine mendapati keberadaan Adam, yang baru saja keluar dari ruang kerja keponakannya.

__ADS_1


"Adam.." Panggilnya tiba-tiba, dengan melangkah menghampiri pria itu.


Dimana Zain? aku ingin bertemu dengannya."


"Tuanmuda, sedang berada diruang kerjanya Nyonya?"


Tanpa berbicara lagi, dia langsung melangkah menuju ruang kerja keponakannya.


"Anda mau kemana Nyonya?" Tanya Adam, tiba-tiba.


"Tentu saja, aku mau menemui keponakanku." Jawabnya santai dengan melangkahkan kaki, dan ingin membuka pintu ruangan tapi seketika Adam mencekal tangannya.


"Maaf Nyonya! anda dilarang masuk kedalam ruangan ini."


"Memang apa hakmu, untuk melarangku menemui keponakanku sendiri Adam?!" Dengan tatapan kesal, saat berbicara dengan sekretaris Adam.


"Aku tau, Tuan adalah keponakan anda. Tapi ini keinginan Tuan sendiri, yang tidak mau bertemu dengan anda Nyonya?"


Raut wajahnya seketika berubah pucat, dan menyimpan kesedihan didalamnya saat mendengar dari Adam, kalau Zain tidak ingin bertemu dengannya. Baru saja dia mengetahui kenyataan kalau Ariana adalah putrinya, sekaramg dia harus menghadapi kebencian Zain padanya, bahkan keponakannya itu sama sekali tidak ingin bertemu dengannya.


"Baiklah, kalau begitu aku kekamar dulu.' Pamitnya, dengan melangkah menuju arah tangga.


Pintu kamar terbuka. Tatapannya nanar, dan mata sudah berkaca-kaca, saat mengingat semua yang terjadi hari ini. Bertengkar dengan Zain pagi tadi, dan mengetahui kenyataan kalau Ariana adalah anak kandungnya, membuat hidupnya begitu hancur, sebab dia tidak memiliki siapapun didunia ini, selain Ariana yang adalah anak kandungnya, dan Zain keponakan yang begitu dia sayangi. Terduduk lemas dilantai, dan menangis tersedu-sedu menumpakan semua kesedihan membendung diri.


"Bahkan keponakanku sendiri membenciku. Saat ini dia tidak mau bertemu denganku sama sekali. Aku tidak menyangkah, akan berakhir seperti ini. Aku yang menjauhkan sendiri putriku dari diriku, dan juga dari kebahagiannya.

__ADS_1


Aku tidak menyangkah akan membuat kedua orang yang berarti dalam hidupku,, akan membenciku seperti ini. Tuhan...aku mohon maafkan aku.. maafkan aku Tuhan... aku mohon persatukan kembali Zain, dan Ariana.. sebab mereka adalah bagian dari hidupku..."


__ADS_2