Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kesedihan Zain


__ADS_3

Seolah melupakan kehadiran lima buah hatinya yang baru saja lahir, Zain terlihat begitu terpukul saat dirinya berusaha membangukan sang istri, yang tak kunjung membukakan kedua matanya.


"Araa! bangun Araa! bangun,..'" dengan cucuran airamata yang sudah membasahi pipinya, kala dirinya berusaha membangunkan sang istri yang tak sadarkan diri.


Para tim Dokter bahu membahu untuk menangani Ariana, yang koma saat menjalani operasi. Dengan memasang alat medis, pada tubuh wanita itu. Para tim Dokter terus melakukan berbagai upaya, agar Ariana dapat kembali sadar. Tapi hasilnya nihil, dan salahsatu Dokter memastikan dengan memegang denyut nadi wanita itu, untuk memastikan keadaan Ariana. Dan ternyata tidak ada detakan nadi itu, sudah tidak ada lagi.


"Maaf Tuan! Nyonya Ariana sudah tidak ada," dengan wajah sendu, saat berbicara pada pengusaha kaya itu.


"Tidak! Arianaku tidak boleh pergi," meraih kra baju dokter pria itu, dan menatapnya dengan tajam.


"Cepat bangunkan istriku! cepat sembukan dia..! istriku tIdak boleh mati! istriku tdak boleh mati..." dengan tatapan membunuh, seraya airmata yang terus mengalir.


"Maaf Tuan, kami sudah berusaha semampu kami. Tapi ini sudah kehendak Tuhan," Dokter pria itu masih berusaha memberi pengertian pada Zain, yang masih saja belum mau menerima akan kenyataan kalau Ariana sudah meninggal.


"Tidak....." dengan mengacaukan ruang operasi itu, hingga ruangan itu terlihat kacau akibat amukan Zain.


Pintu operasi terbuka lebar, dan mereka yang menunggu diuar semua dilanda kebingungan dengan apa yang dilakukan Zain.


"Ada apa ini? apa yang terjadi? kenapa menantu saya marah-marah seperti itu?1" David bertanya dengan wajah bingungnya, saat melihat Zain yang begitu murka pada tenaga medis.


"Nyonya Ariana meninggal, dan Tuan Zain sama sekali tidak bisa menerima itu!"


"Apa?? anakku meninggal?" Celine yang begitu kaget, mendengar apa yang baru saja dikatakan Dokter pria itu.


"Maafkan kami Nyonya!"


Wajahnya pucat pasih. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing, akibat syok dengan apa yang baru saja dikatakan Dokter. Hingga membuat Celine akhirnya pingsan.


"Nyonya Celine! Nyonya Celine...." teriak Rani yang begitu panik, saat berhasil menangkap tubuh wanita paruhbaya itu, saat akan terjatuh kelantai.


"Araa, bangun Araa! bangun, jangan tinggalkan aku Sayang... jangan tinggalkan aku," ungkapan itu terdengar begitu menyayat hati, kala dia mengeluarkan keinginannya dengan airmata.


"Maaf Tuan! jenasah Nyonya Ariana, akan segera dibawah keruangan jenasah." seru salahsatu perawat wanita.


Akibat masih belum menerima kalau istrinya sudah dinyatakan meninggal, dengan kasarnya Zain mendorong perawat muda itu, hingga membuat gadis itu terjatuh kelantai.


"Dasar kau wanita brengsek! istrku tidak masih hidup! Arianaku tidak mati!" amuknya dengan teriakan.

__ADS_1


"Zain ayo kita keluar! relakan Ariana Nak!" pinta David pada menantunya, yang terlihat begitu terpukul dengan kematian istrinya.


"Tidak Papa! tidak! Arianaku masih hidup, Araaku masih ada Papa.... masih ada," seru Zain dengan airmata yang terus mengalir.


Airmata lelaki paruhbaya itu semakin mengalir dengan deras, kala melihat keadaan menantunya yang begitu terpukul dengan kematian putrinya.


Membawa Zain dalam pelukannya, guna memberi kekuatan pada pria itu.


"Kuatka dirimu Zain! kamu harus kuat. Ingat masih ada Stefanie, dan adik-adiknya yang membutuhkan dirimu,"


Apa yang dikatakan Ayah mertuanya, membuat Zain dapat sedikit luluh, walaupun masih belum bisa mempercayainya dengan kenyataan kalau Ariana sudah meninggal. Hingga yang dia lakukan hanya bisa menangis, dan menangis untuk meluapkan kesedihannya.


"Aku sangat mencintai anakmu Paa! aku tidak bisa hidup tanpanya," keluhnya dengan airmata yang terus saja mengalir.


Melihat Zain yang sudah terlihat tenang, membuat para tenaga medis segera menghampiri pada Ariana, dengan akan bersiap membawa wanita itu keruangan jenazah. Dan saat salahsatu perawat wanita akan mencabut selang infus yang terpasang pada tangan Ariana, tak sengaja dia mendapati satu jari wanita itu bergerak sekejap.


"Dokter! Dokter! Nyonya Ariana masih hidup, baru saja saya melihat dia menggerakkan jarinya,"


Tatapan David, dan juga Zain seketika teralih pada Ariana saat mendengar apa yang dikatakan perawat wanita itu.


Segera menghampiri pada istrinya, dan memeluknya dengan airmata bahagia.


"Aku tau, kau tidak akan pergi meninggalkanku Araa! aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu. Bertahanlah demi keenam anakkita, dan aku Araa!" dengan melabukan kecupan singkat pada bibir istrinya, saat para tenaga medis mendorong Ariana dengan sebuah banker.


****


Wajah tampan itu masih saja diselimuti kesedihan, kala berada didepan ruang ICU. Duduk disebuah kursi panjang, dengan raut wajah penuh kesedihan.


"Maafkan aku Araa! maafkan aku. Karena keegoisan diriku yang ingin memiliki anak lagi, membuatmu hampir saja kehilangan nyawa, hingga sekarang kau terbaring tidak sadarkan diri,"


"Zain," panggil Celine, saat melabukan tubuhnya pada sisi Zain yang masih kosong.


"Maa..." Dengan melukis senyum palsu diwajah, mewakili hatinya yang tengah mendung.


"Percayalah pada Mama, Ariana pasti akan melewati dari masa kritisnya,"


"Semoga Maa! karena aku begitu mencintai anakmu. Aku sangat mencintai Ariana, Maa!"

__ADS_1


"Terima kasih Zain! terima kasih, karena sudah begitu mencitai anakku," Celinepun terseyum getir, dengan mata yang sudah berkaca-kaca akibat tak sanggup membendung kesedihannya.


Gelap mulai menyelimuti bumi, kala senja mulai terbenam diufuk timur. Bulan, dan bintang saling berlombah menampilkan pesonanya dimalan yang indah itu. Indahnya malam dengan taburan ribuan bintang dilangit, sangat bertolak belakang dengan wajah tampan Zain yang tengah diliputi mendung. Kedua kakinya mengayun pelan, menuju sebuah ruangan yang terdapat diujung lorong.


Dari dinding kaca transparant , lelaki tampan itu melemparkan tatapan jauhnya, menatap pada kelima bayi yang berbalut selimut berwarna pink untuk bayi perempuannya, dan biru untuk ketiga jagoannya.


"Semoga saja Mommy kalian cepat sadar," gumamnya pelan, saat jemari itu bergerak pada dinding kaca.


Tatapan matanya seketika teralih pada saku celana, saat terdengar nada panjang pada ponsel miliknya. Menelusupkan jemarinya kedalam saku, dan mendapati nama Ani sang kepala pelayan.


Dan dengan segera Zain menggeserkan icon hijau, pada layar datar itu.


"Hallo," sapanya pelan.


Terdengar suara yang begitu memekikkan ditelinga, yang ternyata adalah suara Stefanie putrinya.


"Daddy! apa yang kau masih lakukan dirumahsakit? bahkan ini sudah malam, tapi kau belum datang menjemputku!' dengan nada yang terdengar kesal.


Airmata kembali menetes dikedua pipi Zain, saat mendengar suara putri tertuanya dengan melabuhkan tubuhnya pada sebuah kursi panjang.


"Daddy! apakah kau menangis? apakah Mommy marah padamu?"


"I..iya Sfetanie! Daddy menangis, karena Mommy marah pada Daddy," tersenyum getir dengan airmata yang terus berjatuhan.


"Daddy! aku ingin menjenguk adikbayi, dan juga Mommy,"


"Nanti baru Daddy menjemputmu,"


"Baiklah Daddy! dan apakah kau akan tidur dirumah sakit menemani Mommy?"


"Iya Sayang! malam ini Daddy, dan Omamu akan menemani Mommymu dirumah sakit. Jadi malam ini kau mintalah pada Oma Ani, agar menemanimu."


'Baik Daddy! dan apakah kau memiliki foto kelima adikbayiku? karena aku ingin melihat wajah mereka Daddy!"


"Baiklah anakku! Daddy akan mengirimkan buatmu," dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.


"Araa, cepatlah kau bangun Sayang! anak-anak sangat membutuhkanmu," gumam Zain pelan.

__ADS_1


__ADS_2