Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Lima tahun kemudian


__ADS_3

Suara tamparan terdengar begitu menggema, saat tangan kekar David berlabuh pada pipi Diana, istrinya. Hingga membuat tubuh wanita paruhbaya itu, seketika terhempas kelantai akibat tamparan yang sangat keras.


Tatapan heran, seolah tidak percaya sebab suaminya tidak pernah melakukan bersikap kasar padanya sebelumnya, walaupun sangat marah padanya.


"Hanya karena anak itu, kau tegah menamparku David?!" Tatapan mata yang sudah berkaca-kaca, seraya menyentuh pipinya yang terasa nyeri.


Senyuman sinis membingkai diwajah pria paruhbaya itu, saat kalimat yang terlontar dari bibir Diana.


"Kau bahkan sama sekali tidak menyesali, apa yang sudah kau lakukan pada Ariana. Walapun kau tidak bisa menerimanya, setidaknya kau tidak boleh sampai melakukan hal itu. Dimana hati nuranimu Diana...!! dimana hati nuranimu, saat kau melakuka hal itu, pada Ariana. Dan sangat menyesal."


"A..apa maksudmu David? jangan katakan..."


"Ya. Aku ingin bercerai. Aku lelah dengan semua ini, karena kau sudah sangat keterlaluan dengan memperlakukan Ariana sampai sejauh itu." Dengan nada penuh penekanan, saat kata bercerai terlontar dari bibirnya.


Raut wajahnya berubah pucat, mendengar keinginan dari David suaminya yang ingin berpisah.


"Tidak, aku tidak mau." Dengan kedua kaki melangkah pelan mengampiri David, seraya menggenggam jemari suaminya dengan tatapan penuh harap, agar kembali luluh.


"Aku mohon Paa, ingat ada Clara diantara kita.., apakah kau sudah melupakan itu??"


Tersenyum getir, Seraya menghempaskan genggaman tangan itu dengan kasar.


"Aku sudah lelah, dan cape dengan semua ini. Sikapmu dan Clara sudah sangat keterlaluan. Kalian berdua membuatku malu pada diriku sendiri, karena kalian adalah bagian dari hidupku. Tapi apa yang kalian lakukan?! sangat membuatku kecewa. Apa Ariana pernah berbuat salah pada kau, dan Clara?! atau Ariana pernah mengusik kehidupan kalian. Tidakkan?? tapi kenapa...?! tapi kenapa kau dan Clara begitu membencinya. Anak itu sudah cukup menderita, tapi kau dan putrimu membuat hidupnya semakin menderita, hanya karena kebencian kalian padanya." Tatapan mata berkaca-keca, saat kalimat itu terlontar dari bibirnya sebab diapun terluka.


Buliran bening semakin saja deras mengalir dari kedua mata Diana. Sebab tidak menyangkah, akan sebegitu marahnya David pada dirinya, saat mengetahui kalau dia pernah menjual Ariana ketempat hiburan malam.


"Aku mohon Paa.. maafkan Mama... maaafkan Mama... Paa..?" Tatapan mengibah, saat kalimat itu terucap pada suaminya.


"Maaf.. gampang sekali kau minta maaf. Apa kau berpikir dua kali, saat kau menjual Ariana ketempat itu?! apakah kau tidak berpikir bagaimana nasip anak itu, sementara dia tidak memiliki siapapun!'


Tangis itu semakin deras mengalir, hingga getaran pada kedua pundaknya, begitu terasa sebab tidak menyangkah suaminya, akan melayangkan gugatan cerai padanya.


"Alma..."Panggil David, pada pelayan rumahnya.


Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, saat mendengar namanya dipanggil oleh majikan prianya. Dan dia begitu terkejut, saat mendapati majikan perempuannya tengah menangis sesegukan.


"A..ada apa Tuan?" Dengan wajah bingungnya, saat dia berada diantara pasangan suami istri itu.


"Kau urus semuanya Alma?? mulai sekarang, aku tidak akan tinggal dirumah ini lagi. Aku akan segera kembali keluar kota hari ini juga, untuk kembali bekerja. Tapi yang jelas aku tidak akan melupakan tanggung jawabku pada Clara, karena bagaimana dia aalah anakku."


Alma begitu terkejut dengan apa yang dikatakan majikan prianya. Hingga membuat tatapan wanita paruhbaya itu, semakin penasaran, saat dirinya berada diantara mereka.


"TIdak.. tidak David... aku mohon jangan seperti ini. Aku tidak sanggup menghadapi semua ini sendirian, apalagi Clara putri kita sedang menghadapi masalah yang begitu besar." Dengan airmata yang semakin deras mengalir, saat untaian kata itu terlontar dari bibirnya.


Tidak memperdulikan apa yang dikatakan Diana. Berpamitan pada pelayan rumahnya, setelah menitipkan pesan dan berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan Diana yang masih terus menangis.


"Aku pergi dulu Alma?! aku titip Clara!"


Kedua kaki Diana berlari kecil mengejar suaminya, seraya mencekal jemari pria tua itu untuk mencegahnya pergi.

__ADS_1


"Aku mohon... jangan pergi. Aku mohon maafkan aku... maafkan aku.. David.." Airmata terus mengalir, dengan rasa penyesalan yang teramat sangat yang terlihat diwajah Diana.


Menarik disudut bibirnya, mendengar apa yang diinginkan Diana.


"Minta maaflah pada Ariana, jangan padaku." Dengan menghempaskan tangan istrinya, dan berlalu begitu saja.


Airmata semakin saja deras mengalir, dan tak henti-hentinya dia meneriaki nama suaminya, saat mobil itu keluar dari pekarangan rumah mereka.


"David... David...." Suara panggillan yang terdengar begitu menggema, dan pilu.


Airmata terus saja mengalir diwajah cantik Clara, yang semakin terlihat tirus. Dia tidak menyangkah, rumahtangga orang tuanya akan seperti ini.


"Papa... jangan pergi Papa.., maafkan Clara...maafkan aku Papa...." Terduduk lemas dibarisan anak tangga, sebab sedari tadi dia sudah menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya, saat dirinya tak sengaja mendengar keributan dilantai bawa.


****


NEW YOARK, AMERIKA SERIKAT.


Detik terus melangkah, menuju bulan. Dengan perutnya yang sudah membuncit, kedua kaki itu melangkah kesebuah perusahaan. Dimana merek ternama dunia terciptakan dari perusahaan ini, dengan nama GUCCCI.


Ariana mengusap airmatanya, baru saja dia bertemu dengan pimpinan dari perusahaan itu, dan mereka memintanya untuk berkerja sama, sebab sangat tertarik dengan rancangan-rancangan dari wanita asal Indonesia itu.


Dia mendongakkan kepala, menatap langit biru yang membentang luas diatas sana. Senyuman terus terukir diwajah calon Ibu itu, dengan airmata yang sudah membasahi pipi karena perasaan yang dia rasakan saat ini yaitu bahagia.


"Terima kasih Tuhan.. karena kau sudah membawa aku sampai ketitik ini. Aku akan mengabarkan berita baik ini, pada Nona Rani. Dan aku yakin, dia pasti akan sangat senang."


****


Ariana Mahesa, Adalah seorang perancang busana asal Indonesia yang sangat terkenal dinegara Paman Sam. Selalu menjadi langganan para selebritis dunia, maupun toko-toko dunia, ataupun kalangan atas yang selalu memakai hasil rancangan-rancangan yang dia ciptakan.


Rumah berlantai tiga, dengan halaman yang begitu luas, lengkap dengan beberapa fasilitas, itulah gambaran dari kehidupan perancang kenamaan Ariana Mahesa.


Tubuh polos itu berjalan keluar dari dalam bathup, saat hampir satu jam dirinya berendam didalam bathup. Meraih sebuah jubah mandi, dan membalutkan tubuhnya, dengan melepaskan jepitan rambut, yang membuat rambut hitam itu tergerai indah. Saat keluar dari kamar mandi, dia mendapati asisten pribadinya Juli, dan juga sang pelayan rumah Charlote sudah berada didalam kamar.


"Selamat malam Nona, malam ini anda akan menghadiri acara disalahsatu stasiun televisi terkait rancangan anda, yang dipakai paneran dari Dubai." Sapa Juli, padanya.


Senyuman kecil membingkai diwajah cantik Ariana, dengan apa yang disampaikan Juli padanya.


"Tentu saja aku tau." Tatapannya beralih pada Charlote, yang sedang berada disampingnya.


"Charlote.."


Kedua kaki pelayan itu, melangkah menghampiri Ariana.


"Ada apa Nona?"


"Ambilkan gaunku berwarna hitam. Dan kau Juli, minta Jack siapkan mobilnya, sebab aku tidak mau kita terlambat."


"Baik Nona," Jawab Juli, dan Charlote bersamaan dan berlalu dari situ.

__ADS_1


Kini Ariana sudah terlihat cantik dengan gaun menjuntai, berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Usai memakai gaun itu, kini Charlote membantunya kembali saat dirinya sudah berada duduk didepan meja rias.


"Nona, bolehkah aku menyakan sesuatu pada anda?" Tanya pelayan rumah itu, saat melingkarkan sebuah kalung permata indah pada leher jenjang Ariana.


Tatapan intens pada kedua matanya, dia menatap wajah pelayannya pada kaca meja rias, saat lipstik berwarna marun dia labuhkan pada bibirnya.


"Tanyakan, apa yang ingin kau ketahui Charlote?"


"Apakah Nona tidak berniat, untuk menikah? bukankah banyak pria yang begitu tergila-gila pada anda?"


Hembusan napas terdengar berat, saat pertanyaan itu terucap dari bibir pelayan rumahnya .Tatapannya menerawang, dengan senyum palsu yang membingkai diwajah cantiknya.


"Aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang ini, Charlote? jadi aku tidak membutuhkan siapun. Apalagi sudah hadir, Stefani dalam hidupku. Aku yakin, aku bisa menjadi ayah, dan sekaligus Ibu yang baik baginya."


Seulas senyuman kecil, terukir diwajah Charlote mendengar apa yang dikatakan Nonamudanya.


"Maafkan saya Nona, karena sudah terlalu jauh mencampuri urusan pribadi anda. Dan anting mana, yang ingin anda pakai Nona?' Dengan menunjukkan model-model anting, yang terdapat pada kota perhiasan milik Ariana.


"Pakaikan saja, yang permatanya berwarna hitam agar sesuai dengan gaun yang aku pakai."


"Baik Nona.." Jawab Charlote, dengan meraih anting berlian itu, dan memasangnya pada telinga Ariana.


Seulas senyuman terlihat diwajahnya, yang merasa puas dengan penampilanya malam ini. Satu kata yang terucap dalam hatinya.


"SEMPURNA."


"Anda sangat cantik Nona, pantas saja banyak pria yang tertarik pada anda,"


Menampilkan senyum kecil, dengan meraih sebuah tas tangan yang berada diatas meja rias, dan melangkah keluar dari kamarnya.


Dengan langkahnya yang anggun, Ariana melewati setiap barisan anak tangga menuju lantai bawa.


Senyuman kecil terukir disana wajah Ariana, yang mengandung sejuta makna didalamnya. Menatap putrinya Stefani, yang sudah menginjak usia lima tahun. Dan darasnya, sangat menyerupai ayahnya Zain.


"Bagaimana mungkin aku gampang melupakannya, sementara ada bayangannya dalam diri putriku. Dia begiti mirip dengan Papanya." gumamnya tersenyum getir.


Membuyarkan lamunannnya yang teringat akan kenangan masalalunya, dan dengan wajah yang terukir senyum kedua kakinya melangkah menghampiri buahatinya.


"Stefani.." Dengan tatapan penuh cinta, pada Stefania yang tengah bermain boneka.


"Mommy..." Dengan beranjak dari duduknya, dan memeluk manja Ariana.


Kau akan kemana Mommy..?" Tatapan manja, saat menengadakan kepalanya menatap wajah cantik Ibunya.


Stefania.


Anggap saja mirip Zain.


__ADS_1



__ADS_2