Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kecewa.


__ADS_3

KEDIAMAN WILLIAM THOMSHON.


Malam ini dilaluinya dengan gairah bersama dengan istrinya, terus memacu hingga membuat Ariana tertidur, akibat percintaan mereka, yang membuat wanita itu begitu kelelahan, setelah melayani suaminya diatas ranjang.


Terus memandang wajah istrinya yang sudah tertidur pulas, dengan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"selalu saja seperti ini, padahal dia hanya tinggal menikmatinya saja." Gumamnya dengan terus memandang wajah Araa, dan berlalu pergi, usai menyelimuti tubuh wanita itu dengan sebuah selimut tebal.


Menapaki kakinya ditengah keheningan malam, ditengah suasana rumah yang sudah sepi.


Kakinya melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawa rumahnya.


"Zain..?" Suara panggilan seseorang, yang menghentikan langkahnya, saat akan menuju ruang kerja.


Berbalik, dan mendapati Clara disana, yang tengah berjalan kerahnya.


Langsung memeluk erat tubuh laki-laki tampan itu, dan menangis tersedu-sedu, saat sudah berada didekatnya.


"Clara, apa yang kau lakukan?!" Tanya Zain saat wanita itu terus memeluknya, dan menumpakan semua tangisannya.


"Zain aku masih mencintaimu, aku masih mencintaimu, aku mohon maafkan aku, dan kenapa kau tega melakukan ini padaku?" Tanyanya, dengan terus menangis.


Menghembuskan napas kasar, dan perlahan tangannya membalas pelukan wanita itu. "katakan padaku, ada apa. Dan apa yang membuatmu, menangis?"


Mendongakkan kepala menatap intens laki-laki tampan itu, seraya melepaskan pelukannya.


"Katakan padaku, apakah kau mencintai Araa?!" Bertanya, dengan tatapan yang begitu dalam.


"Kenapa kau bertanya hal itu, padaku Clara?"


"Karena aku masih sangat mencintaimu, dan aku ingin kita kembali bersama."

__ADS_1


Dia begitu terkejut, dengan apa yang dikatakan oleh mantan kekasihnya, dan tak bisa dipungkiri kehadiran Clara dikediamannya begitu mengusik pikirannya, tapi sebisa mungkin pria itu tetap bersikap biasa saja, agar mampu menutupinya.


"Zain? kenapa kau diam saja?! katakan sesuatu padaku?!" Dengan masih, meneteskan airmatanya.


"Aku, aku bingung Clara?!" Jawabnya, menggantung.


Hanya tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan mantan kekasihnya. Dan dalam dirinya timbul keyakinan, kalau Zain masih mencintainya.


"Itu karena kau masih mencintaiku, dan aku ingin kita menjalin hubungan kembali seperti dulu." Jawabnya, dengan langsung membenamkan bibirnya, kebibir pria itu.


Bolamatanya mengerjap seketika, dan tentu saja begitu terkejut dengan apa yang dilakukan Clara secara tiba-tiba padanya. Dan tak bisa dipungkiri diapun menikmati ciuman itu. Membiarkan Clara melakukan sendiri, hingga akhirnya hanyut, dan membalas ciuman panjang itu.


Ariana tak sanggup lagi membendung airmatanya, saat melihat pemandangan yang begitu menyakitkan. Dan diapun hanya bisa menangis, dan menangis, saat mendapati kenyataan kalau suaminya, dan saudara angkatnya masih saling mencintai.


"Ternyata sekuat apapun, aku berusaha untuk membuatmu melupakan Kakakku, tapi tetap saja hanya dialah yang ada didalam hatimu, suamiku? Papa, apa yang harus aku lakukan?" Ucapnya menangis, dan kembali melangkahkan kaki, kedalam kamar.


Tersenyum, seraya menatap Zain dengan tatapan penuh cinta.


Menghembuskan napas, dan melangkahkan kakinya menuju arah tangga, tapi langkah itu terhenti, saat Clara mengatakan sesuatu.


"Kalau kau mau, kita bisa menjalin hubungan dibelakangnya, tanpa sepengatahuan Ariana, dan aku akan siap menunggu sampai kapan kau menceraikannya."


Tidak menjawab apa yang dikatakan Clara, dan kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai tiga kamarnya.


Clara hanya tersenyum, dan dia tampak begitu bahagia. Dan dalam dirinya timbul keyakinan, kalau Zain masih mencintainya.


"Cepat atau lambat, kau pasti akan kembali padaku, Zain? dan dari ciuman tadi, sudah bisa membuktikan, kalau kau masih mencintaiku, sampai saat ini."


Melangkahkan kaki kedalam kamar, dengan langkah sedikit gontai. Airmata kembali membasahi pipinya, saat bayangan ciuman panas suaminya, dan CLara kembali terbayang.


"kenapa aku harus menangis, akupun sudah tau, kalau dari dulu dia hanya mencintai kakakku. Bahkan saat kami mau menikahpun, aku masih memergoki mereka berciuman. Tapi kenapa saat yang dulu, dengan sekarang terasa berbeda? dulu aku tak merasakan sakit sedikitpun, saat memergoki mereka berciuman, tapi kenapa sekarang aku harus menangis? kenapa? ada apa denganku?" Bertanya pada diri sendiri, dengan deraian airmata.

__ADS_1


Menumpakan semua kesedihan yang melanda, dan belum memahami perasaan yang sebenarnya.


Membuka pintu kamar, dengan terus melangkah kaki saat sudah berada didalam kamar. Mengedarkan pandangannya kesegalah arah, ditengah remangnya suasana, mencari keberadaan Ariana. Terasa ada yang begitu mengganjal dalam dirinya saat ini, dan apa yang baru saja terjadi, begitu mengsusik hatinya saat ini.


"Dimana, dia?" Bertanya pada diri sendiri, dengan terus melangkahkan kaki, mencari keberadaan Araa.


Berlalu keluar dari kamar mandi, saat merasa suasana hatinya sudah jauh lebih tenang, dan sedikit terkejut, saat mendapati keberadaan suaminya, didalam kamar.


"Sayang, kau?" Ucapnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum, saat menatap wajah tampan itu.


Menatap dengan intens wajah istrinya, berusaha mencari tau apa yang tengah terjadi, lewat tatapan matanya.


"Kau baik-baik, saja?"


Serasa ada yang tercekat ditenggorokan Ariana, saat mendapati pertanyaan itu. Tapi sebisa mungkin dia tetap tersenyum, agar bisa menutup kesedihannya.


"A..aku, baik-baik saja Sayang?" Jawabnya, sedikit gugup.


Kau darimana, Sayang? aku mencarimu?" Bertanya dengan tatapan intes, sekedar berbasa-basi.


Terdiam sesaat mencoba untuk menelusuri, raut wajah istrinya.


"Kenapa? apakah tadi kau turun kebawa, mencariku?!"


"Tidak Sayang, aku baru saja bangun." Jawabnya berusaha meyakinkan, laki-laki tampan itu.


Menghembuskan napas lega, saat mendengar jawaban Ariana.


"Aku baru saja, dari ruang kerja. Ada proyek besar, yang harus kubicarakan dengan Adam."


Rasa kecewa seketika menyelimuti, saat suaminya tidak berkata jujur. Dan sekarang makin timbul keyakinan dalam diri Ariana, kalau Zain masih mencintaii saudaranya.

__ADS_1


"Maafkan aku Sayang, aku tidak tau, kalau kau masih ada kerjaan."


__ADS_2