Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Rasa takut, Ariana.


__ADS_3

Kemarahan semakin terlihat jelas diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Bibinya, dan semakin memacu kemarahan lelaki tampan itu.


"Maaf Bibi, aku haris segera kekamar." Pamit zain, dengan berlalu begitu saja.


Celine tertawa bahagia, saat melihat kemarahan pada wajah keponakannya. Dan ia yakin, Zain pasti akan menyakiti istrinya.


"(Aku akan membuat perempuan itu, keluar dari rumah ini secepatnya.)" Bathinnya, dengan seringai dibibirnya.


"Nyonya Celine?! apa yang anda katakan. Kenapa anda semakin membuat Tuan Zain, bertambah marah?!" Tanya Ani, pada wanita paruhbaya itu.


"Kenapa sekarang, kau jadi membela gadis kampung itu?! bukankah kau lihat, dia itu tidak pantas berdampingan dengan keponakanku? karena menurutku, dia lebih pantas menjadi pelayan dirumah ini." Jawabnya, kesal.


'Tapi Nyonya, bagaimanapun Nona Ariana adalah istri dari Tuanmuda Zain, dan menantu dari anda. Dan itu adalah fakta yang harus anda terima."


Menyunggingkan senyuman sinis diwajahnya, mengandung arti tidak suka. "Ingat Ani?! sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mengakui anak itu sebagai menantuku, dan cepat siapkan makan malam untuk Zain, karena ku sendiri yang akan mengantarnya."


"Baiklah, Nyonya?" Dengan menghembuskan napas dalam, dan berlalu pergi.


"Aku akan membuat gadis kampung itu, pergi dari rumah ini." Dengan seringai jahat, diwajahnya.


Zain menatap keindahan malam dari balkon kamarnya, dengan tatapan jauh kedepan.


"Menurutmu, kemana dia Adam? kenapa sampai jam begini, dia belum pulang juga. Bukankah seharusnya dia sudah berada dirumah, sebelum aku pulang bekerja?!"Bertanya, dengan menyisipkan kedua tangannya pada kedua saku celananya, dengan tatapan kedepan.


"Mungkin saja, Nona sedang pergi kerumah orangtuanya. Jadi menurut saya, kita jangan berburuk sangkah dulu." Jawab Adam, yang berusaha menghilangkan pikiran buruk, tetang Ariana.


"Bahkan kau membela gadis culun itu, memang siapa dia?! dia itu hanya istri, yang tertulis diatas kertas. Dan jika aku sudah bosan dengannya, aku akan membuangnya ketempat semestinya."Jawabnya, dengan menyunggingkan senyuman sinis, disudut bibirnya


"Maafkan saya sebelumnya, Tuan? tapi jika anda ingin mandi, saya akan menyiapkan airmandi untuk anda. Setidaknya, saya mengganti tugas Nona Ariana, sebelum dia datang."


"Tidak perlu! Dengan mengangkat, tangannya.


Biarkan saja, dia yang tetap melakukannya, karena memang adalah tugasnya."


"Baik Tuan? dan sekali lagi, maafkan saya."


Terdengar suara ketukan pintu, dari luar kamar. Dan dengan cepat Adam menghampiri, dan membukanya.

__ADS_1


"Nyonya Celine, anda?!"


Tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, dan berlalu kedalam kamar bersama seorang pelayan, yang membawa makan malam untuk Zain.


"Bibi..?!" Ucap Zain, dengan menghampiri wanita paruhbaya itu.


Kenapa mesti repot-repot membawakan makanan untukku, bukankah ada pelayan, dirumah ini?"


Tersenyum, saat mendengar apa yang dikatakan, oleh keponakannya.


"Letakan, makanan-makanan itu disini Yuli?" Titahnya, pada seorang pelayan.


"Baik, Nyonya?" Jawab Yuli, dengan meletakkan makanan-makanan tersebut, diatas meja.


"kau itu adalah, keponakanku satu-satunya. Sejak Papa, dan Mamamu meninggal, akulah yang sudah merawatmu. Jadi bukankah ini sudah menjadi kewajibanku, anakku?" Dengan senyuman, menatap lelaki tampan itu.


"Terima kasih Bibi? kau memang yang terbaik, bahkan aku sudah sedewasa inipun, kau masih mengurusku." Jawabnya, tersenyum.


"Tentu, karena aku menyayangimu sudah seperti anak kandungku sendiri,"


Adam hanya tersenyum , dan dia tahu Celine, Bibi dari Tuanmudanya itu, tengah berusaha mempengaruhi Tuanmudanya.


"Istrimu, belum pulang juga Zain?!" Tanya Celine, tiba-tiba.


"Belum," Dengan menghembuskan napas, yang terasa begitu sesak.


"Apakah dia sudah melupakan, kalau dia sudah bersuami?"


"Ntahlah..?" Jawabnya, dengan suara yang terdengar berat.


*******


Ariana menapaki kakinya, dengan sedikit berlari melewati keramaian kota Jakarta, dimalam hari. Dan langkahnya, terlihat begitu terburu-buru.


"Ya Tuhan, lindungilah aku. Hukuman yang akan aku dapat, dari pria itu. Dan kenapa aku sama sekali tidak menyadari, kalau uangku sudah habis. Dan semoga saja, dia mau mendengarkan penjelasanku. Dan kalaupun, dia mau menghukumku, semoga saja dia tidak sampai membunuhku." Gumamnya dengan melangkah dengan sedikit berlari, dibalik rasa takut yang menyelimuti.


Ariana berjalan ditengah waktu yang semakin menjemput malam, dan dalam hatinya berharap semoga Zain Pratama, belum berada dirumah.

__ADS_1


Saat sudah berada didepan rumah mewah itu, dia menghembuskan napas sejenak, seraya menenangkan diri, sebelum membuka pintu gerbang.


"Moga-mogahan saja, dia belum pulang?"Gumam Ariana, yang begitu berharap.


"Nona anda, sudah pulang?"Sapa Ani, dengan langsung menyambangi Araa, saat melihat kedatangan gadis itu.


"Bibi, apa yang Bibi lakukan disini? bukankah ini sudah malam?"


"Nona, masuklah? Tuanmuda sudah berada dirumah. Dan dia sudah pulang, daritadi. Dan sepertinya, dia sangat marah saat mengetahui Nona, sedang tidak berada dirumah."


"Apa?! dia sudah berada dirumah?!" Tanya Ariana, dengan raut wajah yang sudah berubah pucat.


"Iya Nona, Tuan sudah pulang sejak sore tadi. Dan sekarang, dia sedang berada dilkamar."


Ariana mengusap kasar wajahnya, dan tidak bisa dibayangkan, bagaimana raut wajahnya saat ini.


"Aku akan segera, kekamar Bibi?!" Dengan berlalu begitu saja, meninggalkan Ani.


Ariana melangkahkan kaki, dengan sedikit berlari. Dan saat melewati tangga, dia berpapasan dengan Yuli.


"Yuli, apakah Tuan sedang berada dikamar?" Bertanya, dengan napas yang terengah-engah.


"Iya Nona, dia sedang makan malam, ditemani Nyonya Celine, dan juga sekretaris Adam"


"Apaa?! bahkan dia sudah makan malam?" Dengan ekpresi, begitu terkejut.


"Iya Nona, tapi sebaiknya anda kekamar. Karena tadi saya datang, Tuan menanyakan anda,"


"Baiklah.." Jawabnya, pasrah.


"(Oh Tuhan, lindungilah aku. Aku tidak tau, hukuman apa yang akan aku dapatkan, dari pria kejam itu malam ini.)" Bathinya, dengan kembali melanjutkan langkahnya.


Menghembuskan napas, seraya meraih gagang pintu, dan membukanya.


"Malam..?" Sapanya, dengan hanya menundukkan kepala, saat sudah berada dikamar.


"Kau baru, pulang?!" Tanya Celine, dengan senyuman sinis, diwajahnya.

__ADS_1


"Iya Nyonya, maaf, maksud saya Bibi?"


__ADS_2