
Tawa menggema lolos begitu saja dari mulut Rani, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Stefanie barusan.
"Kamu sedang diet Stefienie! apa Bibi tidak salah dengar?" dengan terus saja melebarkan mulutnya, karena merasa lucu dengan apa yang diucapkan putri dari sahabat baiknya Zain.
Stefanie mendengus kesal, kala Rani tak kunjung berhenti menertawakan dirinya. Hingga membuatnya seketika mengeluarkan kata-kata terdengar sedikit membuat hati panas, dan itu sanggup membuat tawa Rani seketika terhenti.
"Memang aku Bibi! yang tidak pernah memperhatikan penampilan. Pantas saja, sampai sekarang Bibi belum bisa memberikan aku Paman, karena Bibi sama sekali tidak pernah memperhatikan penampilan Bibi!" dengan wajah juteknya, dan berlalu begitu saja meninggalkan Rani yang mati kutu akan ucapannya.
"Dasar bocah tengil! tidak mulut Papanya, dan dia sama saja. Sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan orang, saat berbicara." dengan raut wajah kesalnya, dan kembali melanjutkan langkah kaknya mengikuti langkah kaki Stefanie.
Rani menatap dengan heran pada Stefanie, yang ketika sudah berada didepan ruang rawat Ibunya, gadis kecil itu tidak langsung membuka pintu ruangan.
"Kenapa kau diam saja Stefanie? apakah kau tidak ingin masuk?"
"Aku harus marah pada Mommy, dan Daddy! karena sejak kelahiran lima adikbayi, mereka tidak pernah memusingkan aku lagi. Bahkan ulang tahunkupun, mereka tidak memberi selamat."
"Jadi apakah kau sedang mempersiapkan dirimu, untuk marah pada mereka?"
"Tentu saja. Aku harus marah pada mereka!" dengan nada penuh penekanan, dan seketika melebarkan daun pintu ruangan dengan kasar, hingga membuat mereka yang berada didalam ruangan itu begitu kaget akan suara pintu yang begitu keras.
****
Ariana terus menampilkan senyumannya, kala memandang wajah mungil bayi perempuannya yang sedang tertidur lelap, didalam gendongan usai menyusu padanya.
Bayi perempuan itu seketika menangis keras, dan juga dua bayi laki- laki lainnya yang tengah tertudur dalam ranjang bayi, akibat suara pintu terbuka dengan begitu keras.
"Stefanie! apa yang kau lakukan? apakah kau tidak bisa membuka pintu dengan pelan?!" Zain terlihat begitu geram, dan segera menghampiri pada ranjang untuk mendiamkan kedua putranya, agar tidak membangunkan bayi perempuannya, dan juga bayi laki-lakinya yang lain.
"Cup..cup...cup.. diam Sayang," Ariana berusaha membujuk bayinya, yang sedang menangis keras dalam gendongannya.
"Aku sedang marah! jadi Mommy, dan Daddy harus diam." dengan nada yang terdengar tegas.
"Apa yang membuatmu marah, Stefanie?" Celine menyimpulkan senyuman diwajahnya, dengan apa yang dikatakan cucu perempuannya.
"Mommy, dan Daddy tidak sayang padaku lagi, Oma! bahkan mereka tidak memberi aku ucapan selamat ulang tahun, karena sudah ada lima adikbayi." dengan mimik cemberutnya, saat menjawab apa yang ditanyakan Oma Celine.
Ariana menyimpulkan senyuman diwajah, mendengar apa yang dikatakan anak perempuannya itu.
"Siapa bilang Mommy, dan Daddy tidak sayang padamu lagi, Stefanie! kemarilah," dengan menepuk pinggiran ranjang, saat Ariana memberi ruang buat putrinya.
Wajah cemberut, dengan mengayun langkah pelan pada Ibunya yang duduk diatas bed hospital.
__ADS_1
"Siapa bilang Daddy, dan Momny sudah melupakanmu. Bahkan kami masih menunggumu, agar dapat memberi nama pada kelima adikmu."
"Benarkah itu Mommy?!" bolamata Stefanie seketika menatap Ariana dengan intens, kala mendengar apa yang dikatakan Ayahnya.
"Benar sekali. Mommy, dan Daddy sengaja belum menamai kelima adikmu, karena kami masih menunggumu. Dan kita akan mengadakan pesta ulang tahunmu yang keenam, setelah kelima adikmu sudah berusia satu bulan."
Senyum bahagia seketika membingkai penuh diwajah mungil Stefanie, mendengar apa yang baru saja dikatakan ibunya.
"Wah, adik sayang kau sangat cantik! tapi sepertinya Kakakmu ini, akan jauh lebih cantik darimu." ucap Stefanie dengan percaya dirinya.
"Baiklah Daddy, Mommy! akan menelpone seseorang, untuk memintanya membantuku mencarikan nama, buat kedua adikbayi perempuanku. Dan adikbayiku yang laki-laki, biar Mommy dan Daddy saja yang memberinya nama."
"Kau akan menghubungi siapa, Stefanie?' tanya Zain penasaran.
"Yang jelas bukan Bibi Rani, Daddy! karena Bibi Rani sedang berada disini."
"Kau akan menghubungi siapa, Stefanie?' tanya Ariana dengan wajah penasarannya.
'Temanku Mommy! dan dia sangat tampan."
Ariana, dan Zain saling melemparkan pandangannya, kemudian tersenyum akan ucapan anak perempuannya itu.
"Hallo Paman Rian," Stefanie menyapa pada pengusaha kaya itu.
"Jangan katakan kalau kau akan meminta pada Sibrengsek itu, untuk memberi nama pada kedua adikmu, Stefanie!" dengan wajah penuh amarah.
Tapi itulah Stefanie Pratama. Gadis kecil itu, pasti akan tetap dengan sikap keras kepalanya. Dan ucapan Daddynya itu, baginya hanya hembusan angin yang tidak terlihat.
"Hallo gadis kecil! ada apa kau menghubungi Paman?" terdengar suara Rian diseberang sana, saat telepone Stefanie sudah terjawab.
"Paman! bisakah kau memberi nama dua anak perempuan padaku? sebab aku akan memberi nama pada kedua adik peremuanku. Karena itu adalah tanggung jawabku."
"Bagaiamana kalau Safaira, dan safaniya. Agar nama mereka diawali huruf S, sama denganmu,"
"Terima kasih Paman! dan nama yang kau beri untuk kedua adikku sangatlah bagus." dengan rona bahagia diwajanya, dan segera mematikan sambungan telepone itu.
"Tidak! Daddy tidak setuju." tiba-tiba saja Zain berucap, dengan nada yang terdengar tegas.
"Tidak! bukankah tadi tadi kita sudah sepakat?!"
"Tapi bukankah berarti kau harus meminta Paman Rianmu itu, untuk memberi nama pada adik-adikmu, Stefanie! karena Daddy sama sekali tidak setuju." Zain tetap dengan pendiriannya.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau tau! nama kedua adikbayi perempuanku harus Safaira, dan Safaniya." dengan nada membentak pada Ayahnya.
"Zain.. bisakah kau mengalah pada putrimu?" tatapan penuh harap dari Ariana pada suaminya.
"Tapi Araa! bukan berarti harus meminta pada sibrengsek itu!" dengan wajah kesalnya.
"Kau bisa meminta pada Bibi Rani, agar dia membantumu mencarikan nama." bujuk Zain kemudian pada putrinya.
"Biarkan saja Zain! karena Mama rasa, Stefanie akan tetap kekeh dengan nama apa yang sudah dipilihkan Rian tadi,"
Menghembuskan napas kesal, berusaha meredam emosi dalam diri.
"Baiklah!" jawabnya kesal.
"Zain, terus untuk nama anak laki-laki kita apa?" tanya Ariana tiba-tiba.
"Aksa, Aiden, dan juga Aaron. Karena aku sudah mempersiapkan nama untuk ketiga jagoanku dari jauh-jauh hari."
"Dan aku adalah pimpinan dari ketiga jagoanmu itu, Daddy! kau tau, aku akan mengikuti latihan bella diri. Dan Bibi Rani yang akan mendaftar. Iyakan Bibi!' dengan melemparkan tatapannya pada Rani.
"Ha..ha...ha.. Stefanie! Bibikan hanya bercanda, tapi kenapa kau pikir itu serius," dengan wajah pucat pasihnya, saat mendapati tatapan tajam Zain.
****
Lima bulan kemudian.
Ariana membaringkan kelima bayi mungilnya, pada ranjang kingsisenya. Pasangan suami istri itu kini sudah kembali menempati kamar mereka yang berada diantai tiga, setelah dua bulan kemudian kepulangan Aroana dari rumah sakit.
Stefanie terus menampilkan senyum bahagianya, melihat kelima adikbayinya yang sudah terlihat cantik, dan tampan usai dimandikan sang Ibu. Bayi-bayi mungil itu terlihat begitu menggememaskan, diusia mereka yang sudah menginjak lima bulan.
Tidak seperti Stefanie yang memiliki rupa begitu mirip dengan sang Ayah, kelima adikbayinya sangat berbeda.
Ketiga adikbayi laki-lakinya memiliki perpaduan yang sempurna Mommy, dan Daddynya dan dua adik bayi perempuannya memilki wajah yang sama. Dan sangat begitu mirip dengan Ariana.
"Mommy! bagaimana kalau kita membawa adik-adik bayi ke lantai bawah saja? aku ingin mengajak adik-adikku bermain ditaman."
"Baiklah. Mommy akan meminta bantuan pada beberapa pelayan, dan juga Omamu agar membantu Mommy membawa adik-adikmu turun,"
"Biarkan aku saja Mommy! kau tetaplanh menjaga kelima adikku," dengan langsung beranjak dari duduknya, seraya melangkah keluar dari ruangan itu.
Mengukir senyum kecilnya, dengan tatapan mata yang terus tertuju pada Stefanie yang sudah menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Dia akan berubah manis, jika menyangkut kelima adiknya. Tapi akan sangat keras kepala, jika jika sudah beradu mulut dengan Daddynya." gumam Ariana dengan mengukir senyum diwajah.