Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Pergi kerumah sakit


__ADS_3

Zain menampilkan wajah pura-pura terkejutnya, saat mendengar apa yang dikatakan Ariana. Padahal sesungguhnya di dalam hatinya, lelaki kaya itu sangat ingin tertawa sekeras-kerasnya akan kepolosan Ariana.


"Iya Zain.. aku melihatnya disana. Wajahnya sangat menakutkan. Aku takut Zain.. aku takut.." Ariana terus saja merajuk, dengan kedua tangan masih melingkar sempurna pada tubuh calon suaminya.


Melepaskan pelukan itu, dan menatap Ariana dengan dalam.


"Apakah dia begitu menyeramkan Araa?"


"Namanya hantu pasti menyeramkan Zain.. mana ada hantu yang gak seram." Dengan nada yang terdengar kesal saat berucap, pada calon suaminya.


"Aku yakin." Dia menjeda kaliamatnya sejenak, yang membuat Ariana begitu penasaran.


"Yakin apa Zain??" Bolamata itu lebih membulat akibat rasa penasarannya.


"Aku yakin , pasti itu arwah rekan kerjaku." Wajah tampan itu begitu penuh keyakinan.


"A...apa.. apa kau yakin dengan apa yang kau katakan tadi Zain??" Pucat pasih semakin saja membingkai diwajah cantik Ariana, saat mendengar apa yang dikatakan calon suaminya itu.


"Tentu saja aku sangat yakin. Bukankah aku sudah bilang padamu, kalau rekan bisnisku itu selalu saja menggangguku.."


Menelan salivanya akibat rasa takut yang semakin saja membelenggu, ketika mendengar apa yang dikatakan Zain barusan


"Benarkah Zain? tapi kenapa dia harus mendatangiku, bukankah kami tidak saling kenal?"


"Mungkin karena kau calon istriku. Jadi dia mendatangimu."


Menghembuskan napas dalam, dengan tatapan lelahnya yang dia lemparkan pada pengusaha kaya itu.


Kedua kaki Zain mengayun pada jendela kamar, dan mengucinya rapat.


"Sekarang tidurlah. Aku yakin dia tidak akan datang lagi." Dan kedua kaki itu mengayun dengan pelan menuju pintu, berharap Ariana memanggilnya.


"Satu.. dua... tiga." Langkah ketiga Ariana belum memanggilnya, hingga membuat dia mendecak kesal dalam hati.


Empat, lima.." Zain berhitung dalam hati, dan tiba-tiba saja langkah kaki itu berhenti mengayun, saat Ariana menyeruhkan namanya.


"Zain.." Panggilnya tiba-tiba, yang membuat langkah kaki itu seketika terhenti.


Menyeringai diwajah tampannya, dan berbalik dengan wajah pura-puranya.


"Ada apa Sayangku..?" Dia berucap semanis mungkin pada calon istrinya itu.


"Apakah kau bisa menemaniku?" Ariana memberi tatapan penuh harap pada calon suaminya.


"Menemanimu tidur?" Bertanya balik dengan wajah pura-pura kagetnya.


"Tentu saja Zain.. bagaimana kalau hantunya datang lagi."


"Maaf aku tidak bisa." Dia berucap dengan tegas.


"Kenapa tidak bisa Zain?"


"Aku takut dosa Ariana.. kitakan belum menikah... jadi tidak baik tidur bersama sebelum menikah."

__ADS_1


Menautkan sidut bibirnya, dengan tatapan mencemooh pada calon suamnya.


"Bukankah kita sudah tidur bersama sebelum menikah? bahkan kau sampai menjebakku agar kita dapat melalukan hal itu."


Berpura-pura tertawa, berusaha menutupi rasa malunya saat mendengar apa yang dikatakann Ariana.


"Baiklah, kalau begitu kita tidur dikamar atas saja. Bagaimana?"


"Baiklah.." Jawab Ariana pasrah saat langkah kaki itu mengayun mengikuti langkah kaki calon suaminya.


****


Keduanya sudah berbaring diatas ranjang, dengan Ariana yang tidur dengan posisi membelakangi pada calon suaminya.


Hembusan napas berat, mewakiki suasana hati yang tengah buruk dengan posisi tidur calon istrinya itu.


"Araa.." Panggil Zain pelan.


"Kenapa calon suamiku??"


"Bagaimana kalau kita bercinta. Aku tidak dapat tidur Araa.. jadi jauh lebih baik kalau kita bercinta saja."


"Apakah kau tidak takut dosa Zain? bukankah kita belum menikah?"


"Sekali-sekali berbuat dosa tidak apa-apa Araa?"


"Maaf aku tidak bisa. Dan awas saja jika kau berani memaksaku melakukan ini. Aku akan menendangmu keluar dari kamar ini. Kau mengerti..!!" Nada yang terdengar tegas saat berucap.


Raut wajah terkejut seketika menyelimuti wajah tampan Zain, saat mendengar apa yang dikatakan calon istinya.


"Tentu saja. Karena aku bukan Ariana yang dulu lagi. Yang polos, dan mudah dibodohi."


"Tapi kau harus tetap menghormatiku Ariana? karena bagaimanapun aku adalah kepala keluarga."


"Tentu saja aku akan menghormatimu Sayang.. tapi jika kau berani bermain lagi dibelakangku aku akan memotong punyamu. Kau jangan coba-coba kau memberi milikmu itu pada wanita lain."


" Kau sangat menakutkan Araa.. sangat menakutkan." Dia menggeleng-geleng pelan kepalanya.


"Ya.. karena aku bukan Ariana seperti saat datang pertama kerumahmu itu."


"Yaa..yaa.. aku mengerti. Dan sekarang kau sangat hebat, dan menakutkan."


Dan hening kembali melanda kamar itu, saat dia mengurungkan niatnya dengan sikap Ariana tadi.


"Zain..." Panggil Ariana tiba-tiba yang memecahkan kesunyian dalam kamar, saat tubuh itu sudah saling bertatap.


"Ada apa."Jawabnya datar akibat kesal.


"Apakah benar kalau Clara menderita gangguan jiwa?" menengadakan kepala menatap pada Zain, yang sedang menatap langit-langit kamar.


Tatapan mata itu seketika berpaling, menatap Ariana dengan dalam.


"Jadi kau sudah tau? dan apakah Papa yang memberitahumu?" Zain menatap penuh selidik pada manik hitam itu.

__ADS_1


Ariana menggeserkan tubuhnya, dan berbaring dalam pelukan lelaki tampan itu.


"Tidak. Aku mengetahuinya dari Rani. Dan baru saja tau."


"Dia pantas mendapatkan itu Araa.. setara dengan apa yang dia lakukan pada rumahtangga kita."


Melingkarkan tangannya pada tubuh tegap itu, saat kepalanya bersandar pada dada bidang Zain.


"Tapi bagaimanapun dia adalah Kakaku.."


"Kau ternyata tidak banyak berubah Araa..masih saja baik."


"Aku ingin pergi menjenguknya Zain," Berucap dengan pelan, saat mengutarakan keinginannya.


"Tidak. Kau tidak boleh pergi menemuinya."


"Bagaiamanpun dia adalah Kakakku Zain??"


"Tapi dia sudah menyakitimu Araa? bahkan dia pernah berusaha membunuhmu."


Memicingkan matanya, akibat kaget saat mendengar apa yang Zain katakan barusan.


"Jadi kau sudah tau?"


"Ya aku sudah tau. Dan kenapa kau merahasiakan dariku Araa?"


"Maaf.. maafkan aku." Ucapnya pelan.


Tapi ijinkan aku untuk menjenguknya.." Ariana berucap dengan tatapan penuh harap.


"Pergilah. Adam akan menemanimu. Tapi tidak dengan Stefanie, putriku tetap berada bersamaku." Nada itu terdengar tegas saat berucap.


"Terima kasih Zain.. aku sangat mencintaimu." Senyum sumringah seketika terlihat diwajah cantik itu.


Jemari itu membenahi helaian rambut, yang berjatuhan menutupi sebagian wajah cantik Ariana.


"Aku juga sangat mencintaimu Araa.. maaafkan aku karena baru mengakui perasaan ku sekarang. Aku hanya malu karena saat itu aku menikahimu karena demdamku pada Clara. Tapi sebenarnya aku sudah mencintaimu sejak dulu, saat kau hanya seorang wanita biasa, dan juga culun."


Semakin mengeratkan pelukan itu, saat mendengar apa yang dikatakan Zain.


"Kita akan selalu bersama-sama Zain.. hanya maut yang dapat memisahkan.."


"Tentu Sayang.."


****


Cahaya yang hilang akibat kegelapan, perlahan mulai menampilkan kembali senyumnya menyapa bumi dengan menyambut hari yang baru.


Kedua pasang kaki itu turun dari mobil, setalah pintu itu terbuka oleh Adam.


Kacamata hitam segera dibingkaikan kembali pada matanya, saat cahaya begitu menghalau kedua mata.


"Apakah Nona yakin akan pergi menemuinya?" Adam bertanya saat melihat eksperesi ragu perancang busana itu.

__ADS_1


Menghembuskan napas sejenak, dan kemudian dia mantap untuk melanjutkan langkah kaki itu.


" Ayo kita masuk Adam.." Ajak Ariana dengan mengayunkan langkah kedalam rumahsakit itu.


__ADS_2