
Kendaraan roda empat, melaju ditengah keramaian lalulintas kota Jakarta disiang hari. Tubuhnya tegap itu tiba-tiba saja terasa lelah, setelah mengetahui kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau Ariana ternyata anak dari Bibinya sendiri.
Pundaknya tersandar disandaran kursi penumpang, dengan pandangan menatap keiindahan kota, ditengah teriknya cahaya matahari yang begitu menyengat.
"Bibi Celine pasti sangat terpukul, karena kenyataan Ariana adalah anak kandungnya. Selama bertahun-tahun dia selalu mencari keberadaan putrinya tanpa mengenal lelah, dan disaat dia sudah mengetahui siapa anak kandungnya, justru putrinya semakin menjauh, dan itu terjadi akibat perbuatannya sendiri." Membathin, dalam diri seorang Zain Pratama.
Tatapan Adam menatap Tuanmudanya dari kaca spion mobil, dan mendapati sang Tuanmuda tengah larut dalam dunianya sendiri.
"Tuan.." Panggil Adam tiba-tiba.
"Ada apa."
"Apa yang akan anda lakukan sekarang,"
Hembusan napas panjang, saat mendapat pertanyaan itu dari Adam.
"Rani pasti tetap pada pendiriannya, untuk tidak mengatakan dimana Ariana. Jadi memakai cara licik sekalipun, menurutku sama saja. Sebab dia adalah wanita yang sangat keras kepala."
"Jadi apa yang akan anda lakukan sekarang Tuan? apakah anda akan berhenti mencari Nona Ariana?" Tatapan penasaran, lewat kaca spion mobil.
"Tentu saja tidak. Dan manamungkin aku berhenti mencarinya, sementara dia sedang mengandung darah dagingku. Dan sudah saatnya kita mengurus sibrengsek itu, sebab sudah terlalu lama aku membiarkan dia senang diluar sana."
"Siapa yang anda maksud, dengan sibrengsek itu Tuan?!" Tatapan intens, sebab tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Tuanmudanya.
"Kenapa kau begitu bodoh Adam?! siapa lagi kalau bukan sibrengsek Piter. Sebab sudah saatnya aku memberinya pelajaran. Dan apakah dia masih berada diJakarta?"
"Sampai saat ini, Tuan Piter masih berada diJakarta Tuan? dan beberapa hari lalu anak buah kita melihatnya, sedang bersenang-senang ditempat hiburan malam dengan beberapa orang wanita."
Senyuman sinis membingaki diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Adam barusan.
"Setelah apa yang dia lakukan pada rumahtanggaku, dia masih punya nyali juga berada dikota ini. Selama ini orang diluar sana, selalu memandarng PIter sebagai pembisnis tanpa celah sedikitpun. Sebab dia selalu membungkam mulut siapapun dengan uang, jika itu mengenai nama baiknya, saat ada yang mengetahui skandalnya. Dan aku akan membongakar itu semua, agar semua orang tahu siapa dia. Dan aku yakin, reputasinya akan hancur. Dan kau Adam?"
__ADS_1
"Ada apa Tuan?" Dengan tatapan mata menatap dari kaca spion mobil, saat memutar haluan arah.
"Kau pasti sudah tahu, apa maksudkukan?" Dengan seringai jahat, diwajah tampan itu.
"Tentu Tuan, serahkan semuanya padaku." Dengan penuh keyakinan, saat kalimat itu terlontar dari bibirnya.
****
Senja telah menyambut kota jakarta, setelah perlahan sang surya, mulai menenggelamkan dirinya dibalik gelap yang mulai menyelimuti.
Langkah itu terasa berat, saat melewati setiap barisan anak tangga. Saat berpijak dilantai dua, kaki itu seketika terhenti dan arah pandangnya berpaling pada kamar Bibinya Celine. Perlahan kedua kaki itu melangkah menghampiri kamar, dan membuka sedikit daun pintu, yang membuatnya dapat melihat keadaan didalam kamar dari sedikt celah.
Tatapannya nanar, dengan kesedihan yang membingkai, saat mendapati Bibinya tengah menangis dalam kesendiriannya. Berbagai perasaan membelenggu dirinya seketika. Iba, rindu, dan juga benci, saat memorynya terputar kembali kalau Bibinya, telah terlibat dalam rencana penjebakan istrinya.
"Maafkan aku. Apa yang kau rasakan sekarang, sama seperti apa yang kurasakan saat ini, yaitu PENYESALAN. Kita berdua sudah menyakiti, dan melukai orang yang sangat berarti dalam hidup kita Bibi? dan baru menyesal disaat fakta dan kebenaran itu terungkap. Dia pergi jauh, karena sudah sangat terluka. Kau sangat mencintai, dan juga menyayanginya. Begitupun juga denganku. Yang sudah sangat menyayangi, dan juga begitu mencintainya putrimu. Apalagi saat ini, dia sedang mengandung darah dagingku, dan itu membuatku semakin terpuruk akibat krisis kepercayaanku padanya." Dengan kesedihan yang terpampang nyata dari raut wajah tampan itu, saat kalimat itu terucap yang mewakili hatinya yang tengah rapu.
Daun pintu perlahan mulai kembali tertutup rapat, dan Zain kembali melanjutkan langkah kakinya kelantai tiga.
"Disaat seperti ini, baru aku sadar kalau aku terlalu mencintaimu Ariana? kau sangat berarti bagiku, hingga sulit bagiku untuk mengubur semua kenangan kita. Padahal kau sudah pergi ntah kemana, dan mungkin saja kau berniat melupakan semuanya. Hingga kau tidak mau siapapun mengetahui dimana kau saat ini, akibat luka yang terlalu dalam yang kau dapat. Maafkan aku Araa?! maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu, dan tidak percaya akan kesetianmu."
****
Alunan musik DJ begitu menggema disebuah tempat hiburan malam, yang terletak ditengah kawasan kota jakarta.
Senyum bahagia terus membingkai diwajah pengusaha itu, seraya meneguk segelas wine, yang berada dalam genggamannya.
Tatapan yang sudah diliputi gairah yang membara, saat kedua bolamata itu menyaksikan gadis-gadis cantik berpakaian seksi, yang tengah meliuk-liukkan badannya diarena dansa. Dan itu begitu menggoda imannya, sebagai seorang pria dewasa.
Tatapannya terfokus pada gadis-gadis diarena dansa, hingga tiba-tiba saja suara seksi menyapa yang mengalihkan tatapannya seketika.
"Malam Tuan Piter. Bolehkah aku menemanimu?" Nada manja, dengan tatapan yang begitu menggoda.
__ADS_1
Senyuman terlihat diwajahnya, saat sang wanita cantik menghampiri, dan menawarkan diri untuk menemaninya yang tengah duduk seorang diri.
"Tentu saja Sayang, kenapa tidak. Dan ayo duduk disebelahku." Dengan memberikan sedikit sisi kosong, pada sampingnya.
Menduduki sisi samping Piter, dan mulai bergelayut manja pada pria itu.
Wanita yang diketahui bernama Desi itu ,melemparkan pandangannnya kearah samping, seraya menggangukkan kepala pada seorang diujung sana, yang tak lain adalah Adam.
Desi mulai menjalankan aksinya, dengan memain-mainkan kancing baju pria itu, seraya mengelus dada bidangnya.
"Anda sangat tampan Tuan? dan aku sangat bersyukur karena akulah wanita yang menemanimu malam ini." Dengan jemari mulai mengukir indah disana, disaat kancing terbuka dan menampilkan dada bidang itu.
Seringai jahat, menatap wanita cantik itu dengan tatapan yang sudah dipenuhi gairah, akibat sentuhan yang dia berikan.
"Kau sangat pintar merayu Nona? apakah kau tidak takut, jika aku menerkammu?"
Mendekatkan wajahnya pada telinga Piter, dan berbisik pelan disana.
"Kau boleh menerkamku Tuan? tapi tentu saja bukan disini. Tapi dikamarku. Bagaimana," Hembusan napas yang terdengar berat, yang bisa terasa olehnya.
Tawa kecil seketika membingkai diwajah Piter, saat mendengar tawaran dari wanita cantik itu. Meneguk sisa wine hingga tandas, dan tanpa berbasa-basi dia langsung beranjak dari duduknya.
"Ayo kita kekamar sekarang, dan aku akan membayar berapapun yang kau mau, jika kau bisa memuaskanku malam ini."
"Benarkah itu Tuan?" Mendongakkan kepala, menatap Piter yang telah beranjak dari duduknya.
"Tentu saja, buat apa aku bebohong.' Jawabnya meyakinkan.
Desi segera beranjak dati duduknya, dan menggandeng manja piter.
"Baiklah Tuan, kalau begitu ayo kita kekamar." Dengan melangkahkan kaki bersama Piter, melewati lautan manusia dalam tempat hiburan itu.
__ADS_1
Tatapan Desi sekilas menatap Adam, untuk memberi sinyal pada pria itu, kalau mangsa telah masuk dalam perangkap.