
"Sudalah, jangan bicara lagi. Ayoo, kita tidur?! ini sudah sangat malam."
"Baiklah..?" Jawab Ariana, seraya melangkah kearah ranjang.
Zain menyandarkan kepalanya, dengan tangannya yang dia jadikan sandaran, dengan tatapan terus menatap langit-langit kamar. Masih sangat membekas ciuman tadi, dan tak bisa dipungkiri dia begitu menikmatinya. Melihat suaminya yang yak kunjung memejamkan mata, Araa sengaja mendekat, dan tidur dalam pelukan pria itu. Hingga membuat Zain sedikit terkejut, sebab Ariana tak pernah bersikap semanja itu.
"Kau tidak tidur, Sayang?" Bertanya, dengan tatapan intens menatap wajah suaminya.
"Tidurlah dahulu, aku belum mengantuk."
"Baiklah, Sayang?" Jawabnya dengan memaksakan dirinya, untuk dapat tidur. Dan walaupun matanya terpejam, tapi hatinya teramat sakit, dan Ariana tahu, suaminya tenga memikirkan Clara, saudara angkatnya.
"(Jika kau masih mencintainya, kau bisa kembali padanya, dan melepaskanku, sebab aku tiak mau jadi penghalang untuk kalian.)" Bathinnya, dengan kegundahan yang teramat sangat.
****
Matahari telah menampakan wajahnya, setelah kegelapan menghilang secara sempurna, dari muka bumi.
Melangkahkan kaki menuju lantai bawa, bersama Araa, istrinya.
Dan saat tiba diruang makan, mereka mendapati keberadaan Clara, dan Celine, yang sudah terlebih dulu menikmati sarapan pagi mereka.
"Pagi, anakku?"
"Pagi, Bibi..?"
"Pagi, Zain..?" Sapa Clara, dengan senyuman manisnya.
Zain menatap sekilas mantan kekasihnya, dan segera melemparkan pandangannya kearah lain, hingga membuat Clara tersenyum, saat mendapati kecanggungan diantara mereka, dan dia yakin Zain masih teringat akan ciuman panas mereka semalam.
Ariana tersenyum kecil, dan dia sangat menyadari kehadiranya diantara Zain, dan juga Clara.
"(Mereka masih sangat saling mencintai, bahkan semalam aku melihat mereka berciuman, dengan begitu gairahnya.)" Bathin Ariana.
"Clara, olesi rotinya, dan berikan pada Zain."
"Baik, Bibi..?" Jawabnya tersenyum, dengan mengambil roti yang berada diatas meja.
"Pakai yang selai cokelat saja?! tidak usah pakai yang rasa strawberri?! karena keponakanku, tidak menyukainya."
Clara hanya tersenyum, seraya mengangguk ia, dan tangannya mulai mengolesi roti tersebut, dengan selai cokelat.
"Tentu Bibi?! tanpa kau beritahupun, aku sudah tau. Kami menjalin hubungan sangat lama, tentu aku sangat mengenal bagaimana dia. Apa yang dia sukai, dan apa yang tidak dia sukai." Jawabnya, tersenyum.
Ariana semakin menundukkan kepala, dan merasa begitu terasing diantara mereka. "Kau tidak makan..?!" Tanya Zain tiba-tiba, yang mengejutkan wanita itu, dari lamunannya.
"A..aku sudah kenyang." Jawabnya, dengan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kenyang..? bahkan kau belum makan, sama sekali."
Roti yang diberikan Clara, seketika Zain memberikan pada istrinya. "Makanlah, ini."
"Tapi..?" Dengan ingin, menolak.
__ADS_1
"Makanlah..?!" Pintanya tegas, hingga membuat nyali Ariana seketika menciut.
Raut wajah Clara seketika merah padam, saat melihat apa yang dilakukan Zain, pada adik angkatnya. Hingga membuat kebenciannya pada Ariana, semakin menjadi.
"Zain bukankah itu, pemberian Clara?! kenapa kau berikan pada dia..?!" Tanya Celine, dengan nada sedikit tinggi.
"Aku sudah kenyang, Bibi?! dan cepatlah makan, aku akan menunggumu diluar." Ucap Zain dengan beranjak dari duduknya, dan berlalu begitu saja, tanpa memperdulikan Clara, dan Celine, yang tenga menatapnya, dengan tatapan kesal.
Tatapan mereka berpindah pada Ariana, hingga membuat wanita itu beranjak dari duduknya, saat melihat tatapan Celine, dan Clara yang seperti ingin menerkamnya hidup-hidup.
"Ma..maaf, aku harus segera berangkat, karena takut kesiangan." Pamitnya, dengan berlalu begitu saja.
****
Ariana tak menyangka akan satu mobil dengan suaminya, saat berangkat bekerja. Dia sudah menolak, dan memilih untuk pergi menggunakna busway, tapi suaminya mengancam akan menyuruh dia berhenti bekerja, kalau saja Ariana tidak menuruti perintahnya.
keheningan terus melanda sepanjang perjalanan, rasa gugup menyelimuti dirinya saat ini, hingga tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir Ariana, saat perjalanan menuju restorant, tempat kerjanya.
Zain terlihat kesal, saat merasa diabaikan oleh Ariana.
"Kenapa kau diam saja?! apakah ada yang melarangmu, untuk berbicara, Culun?!" Dengan nada kesal, menatap wanita berkacamata itu.
Raut wajah Ariana, seketika berubah kesal, saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Dan ntah mendapatkan keberanian darimana, dia menjawab pembicaraan Zain, dengan sedikit kasar.
"Aku sudah bilang!! panggil aku, Araa?! jangan Culun!!"
Tawa keras seketika keluar dari bibir pengusaha itu, saat mendengar perkataan Araa, yang begitu berani padanya.
Raut wajah Ariana seketika berubah pucat, saat baru menyadari, kesalahannya.
"Maafkan aku Sayang, maafkan aku. Aku hanya kesal, karena kau sudah memanggilku dengan sebutan, Culun? bukankah kita sudah sepakat, kalau kau akan memanggilku dengan sebutan Araa?"
"Ya..yaa, kalau aku ingat, aku akan memanggilmu dengan sebutan, Araa?! kalau aku lupa, aku memanggilmu, dengan sebutan culun." Jawabnya, asal.
Hanya menghembuskan napas, dan tetap tersenyum, dibalik rasa kesalnya."Terserah kau saja, mau memanggilku dengan sebutan apa, Culun, atau apapun itu." Jawabnya, pasrah.
"Kalau begitu kau berdoalah, pada Tuhan agar aku selalu ingat, harus memanggilmu, dengan sebutan Araa."Jawabnya, tanpa dosa.
Tidak berbicara lagi, saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya. Dan dia lebih memilih diam. Dan hanya bisa mengumpat Zain dalam hati. "(Kenapa Papa bisa menerima lamaran, dari pria aneh sepertia dia?! bagi Papa mungkin dia sangat baik, tapi bagiku justru sebaliknya.)"
Keheningan kembali melanda didalam mobil, dan tidak ada yang berbicara diantara mereka, setelah perdebatan tadi. HIngga tibalah kendaraan roda empat itu, direstorant tempat Ariana bekerja.
"Sampai ketemu lagi, Sayang?" Pamit Araa, saat sudah berada diluar mobil.
Tidak menjawab ucapan istrinya, hingga membuat Ariana mendecak kesal, dan berlalu begitu saja, saat suaminya sama sekali tidak memperdulikannya.
Melangkah kaki dengan mimik cemberut, hingga tidak menyadari kehadiran Bosnya.
"Araa..?" Panggilnya.
"Rian..?" Gumamnya, seraya menghentikan langkahnya, saat melihat kedatangan Rian, yang tengah menghampirinya.
Kendaraan yang tadi hendak melaju, kembali terhenti saat Zain melihat Rian, yang tampak begitu dekat dengan istrinya.
__ADS_1
"Siapa pria itu, Adam?" Bertanya dengan raut wajah penasaran, seraya tatapan matanya, terus menatap dengan intens, dan terselip rasa tidak suka disana.
"Dia itu Rian, Tuan?! anak tunggal dari Tuan Cristian, presdir dari Cristiano Group, dan Bos dari tempat Nona bekerja."
Tidak menjawab, dan tatapannya terus menatap Araa, yang sedang berinteraksi dengan bosnya, dan terselip rasa cemburu disana. "Apakah dia mempunyai, kekasih?" Bertanya lagi, karena sesungguhnya dia sangat penasaran dengan pria itu.
"Tidak, Tuan?!"
Menghembuskan napas dalam, yang terasa begitu sesak didadanya, dan hanya dia saja yang tau, apa yang tenga dirasakannya saat ini.
" Jalankan mobilnya, Adam?!"
"Baik, Tuan?!" Jawabnya, dengan kembali melajukan kendaraan.
****
KEDIAMAN MAHESA.
Raut wajah David, terlihat begitu gelisah, sebab dari semalam dia tidak mendapati keberdaan putrinya Clara, dirumah, saat kembali dari luar kota.
"Maa..?!" Panggilnya, tiba-tiba
"Ada apa, Paa?!" Bertanya dengan sekilas menatap suaminya, sebelum kembali terfokus, pada layar televisi.
"Dimana, Clara?!" kenapa sampai jam begini, dia belum pulang juga."
Raut wajah Diana seketika berubah pucat, saat suaminya menanyakan hal yang sama lagi. "Aku kan sudah bilang padamu, Paa? kalau anak kita menginap dirumah sahabatnya, Alice."
Hanya mengunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat mendengar jawaban istrinya.
"Kita sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun, dan aku sangat mengenalmu. Jangan berbohong padaku, katakan dimana Clara?!" Dengan nada mulai meninggi, dari sebelumnya.
"Aku..?" Belum selesai Diana, menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara Clara yang mengejutkan mereka.
"Hallo, Paa?! Hallo Maa?" Sapanya dengan mencium pipi kedua orangtuanya, dan menduduki sofa tunggal.
Papa?! kapan Papa, datang? kenapa tidak mengabariku?" Bertanya, seraya memasukkan cemilan dalam mulutnya.
Menghembuskan napas yang terasa sesak didadanya, saat melihat tingka putrinya.
"Katakan, darimana saja kau?!"
"Paa..?" Panggil Diana pelan, berusaha meredam emosi suaminya.
"Tentu saja aku dari rumah Alice, Paa?! memang darimana lagi." Jawabnya, asal.
Menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat mendengar jawaban putrinya. "Papa hanya mau memperingatkan, dia suami adikmu! bukankah dulu, kau yang mencampakannya?! jadi kau harus ingat itu." Ucapnya, tegas.
"Jadi Papa tau, kalau semalam aku bermalam, dirumah Zain."
"Tentu saja Papa tau, tanpa kau beritahupun, dan Papa hanya memperingatkan saja." Jawabnya, datar.
Menghembuskan napas kasar, saat mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya."Ingat, Paa?! putrimu itu adalah aku, bukan Ariana, dan dia itu hanyalah anak pungut." Ucapnya dengan nada mulai meninggi, dan terselip kesedihan disana.
__ADS_1