Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menyampaikan.


__ADS_3

Tatapannya begitu sangar, itulah yang terlihat jelas diwajah tampan itu. Meneguk air hingga tandas, dan menaruhnya dengan kasar diatas meja, hingga membuat nyali Ariana semakin menciut.


Suasana tampak begitu tegang, dan rasa takut kian menyelimutinya saat ini, bagaimana mengingat kasarnya Zain. Tatapannya beralih menatap Ariana yang hanya diam membisu, seraya menyunggingkan senyuman sinis disudut bibirnya.


Adam terlihat begitu khawatir, dan tentu saja sekarang dia tengah mengkhawatirkan gadis berkacamata itu.


"(Nona tidak melakukan kesalahan saja, Tuan sudah menamparnya, apalagi sekarang? dan aku tidak tau apa yang akan dilakukannya, pada Nona Ariana.)"


"Bisakah Bibi, dan Adam meninggalkan aku, dan istriku? sebab ada hal penting, yang harus kubicarakan dengannya)" Serunya, datar.


"Hal penting apa, Zain? hingga membuat Bibi, dan Adam harus keluar dari kamar ini."


"Keluarlah, Bibi?" Titahnya, lagi.


"Baiklah, kalau sekarang kau hanya ingin berbicara berdua dengan istrimu saja. Apakah sekarang, Bibi sudah tidak penting bagimu, Zain?" Dengan raut wajah, yang terlihat sendu.


Hanya mengehembuskan napas, saat mendengar apa yang dikatakan Celine padanya.


"Pergilah Bibi? sebentar aku akan menemuimu, dikamar Bibi?"


"Baiklah," Dengan nada malas, seraya melangkahkan kaki keluar dari kamar itu. Dan saat melewati Ariana, wanita paruhbaya itu menghentikan langkahnya, dan mengatakan sesuatu dengan setengah berbisik. "Kau lihat saja, secepatnya aku akan membuatmu keluar dari rumah ini." Dengan seringai diwajahnya, dan kembali melanjutkan langkahnya.


Ariana hanya menghembuskan napas, saat mendengar apa yang dikatakan Celine, padanya.


"(Dia begitu membenciku, padahal aku sama sekali tidak pernah mengusiknya. Dan kau pikir, aku juga menyukaimu, nenek sihir?!)"


Tatapan Zain teralih menatap sekretarisnya, yang masih berdiam ditempat. Hingga membuat dia, menatap heran lelaki itu.


"Buat apa kau berdiam, disini?"


"Tapi Tuan, saya?" Jawabnya ragu, karena sesungguhnya dia enggan meninggalkan kamar.

__ADS_1


"Keluarlah..?!" Titahnya, dengan nada datar.


"Baik Tuan?" Dengan suara, yang terdengar berat. Dan saat melewati Araa, dia menghentikan langkahnya, dan menatap wanita itu.


"Sekretaris Adam, aku takut?" Dengan tatapan memohon, menatap pria itu.


"Tenang Nona, saya akan berjaga didepan. Saya juga tidak berdaya, untuk menolak perintah Tuan." Jawabnya, dengan kembali melanjutkan langkahnya.


Pintu kamar tertutup, dan hanya meninggalkan kebisuan semata. Dan rasa takut semakin menyelimuti Ariana, saat suaminya sudah beranjak dari duduknya.


"Tuan, maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk pulang hingga malam,"


"Maaf? gampang sekali kau minta maaf?!"


"Maafkan saya Tuan? maaf." Jawabnya, pelan.


Willi melangkah semakin mendekat kearah istrinya, dan saat sudah mendekat, dia langsung mengangkat dagu Ariana sedikit kasar, hingga membuat Araa, seketika menatapnya.


"kau menangis, agar membuatku luluh?! tidak semudah itu, culun?" Dengan masih memegang rahang gadis itu, seraya membelai wajah istrinya dengan jari, hingga membuat Ariana semakin diliputi rasa takut.


Apa yang harus aku lakukan dengan wajah burukmu, ini. Haruskah, aku menggoresnya dengan silet, agar wajahnya bertambah buruk lagi, culun?!"


Airmata semakin deras membasahi pipi gadis itu, saat mendengar apa yang dikatakan suaminya.


"Jangan Tuan, aku mohon jangan. Anda boleh mengunciku digudang, atau hukuman apapun yang kau berikan. Tapi aku mohon, tolong jangan gores wajahku, dengan silet?" Dengan airmata, yang terus membasahi pipi, karena rasa takut yang teramat sangat.


Melepaskan wajah Ariana, dengan kasar, yang membuat gadis itu meringis kesakitan. "Tentu saja aku tidak akan menggoreskan wajahmu dengan silet, nanti kau bisa bertambah jelek. Dan nanti tidak ada pria, yang menyukaimu lagi," Jawabnya, dengan terus tertawa.


Ariana hanya mengigit bibirnya, saat mendengar perkataan zain yang begitu menghina dirinya. Tapi dalam dirinya sedikit ada rasa legah, saat lelaki itu melepaskannya.


"(Terserah dia mau mengataiku apa, asalkan itu bisa membuatnya melupakan hukuman yang akan dia berikan padaku, bagiku tidak masalah, karena ini bukan hal baru bagiku.)" Bathinnya, dengan senyuman kecil diwajahhnya.

__ADS_1


"Mulai besok kau harus membersikan kamar ini, aku tidak mau pelayan yang membersikannya, aku inginkan kau!"


"Baik Tuan, saya pasti akan membersikan kamar anda."


Zain hanya menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ariana. Menghampiri kursi, dan mendudukinya. Seraya membaca, sebuah majalah yang terletak diatas meja. Ariana yang sudah mengerti seketika bersimpuh, dan membuka sepatu yang melekat, pada kaki pria itu.


"Tuan?" Panggilnya pelan, dengan terus membuka sepatunya.


"Ada apa?" Dengan tatapan, tetap menatap kearah majalah, tanpa menatap Araa.


"Saya sudah mendapatkan pekerjaan, dan besok saya sudah mulai bisa bekerja."


"Kau mau bekerja, aku tidak perduli. Yang jelas disaat aku pulang, aku ingin kau sudah berada dirumah. Dan jangan mengatakan pada siapapun, kalau kau adalah istriku. Camkan kata-kataku, baik-baik." Titanya, tegas.


Raut wajah Ariana pucat pasih, saat mendengar ultimatum suaminya.


"(Apakah aku terlalu jelek? hingga dia tidak mau, orang mengetahui aku adalah istrinya. Tapi buat apa orang mengetahui kalau aku adalah istrinya, toh aku istri yang tidak dianggap.)" Bathinnya, dengan memikirkan apa yang dikatakan Zain.


"Kenapa kau melamun? apa kau keberatan?!" Dengan menatap Ariana, yang tengah duduk bersimpuh didepannya.


"Ti..tidak Tuan, saya sama sekali tidak keberatan. Saya janji, akan pulang sebelum, anda pulang."


"Kau, yakin?!" Tanyanya, memastikan.


"Tentu Tuan, bos saya orangnya sangat baik. Dan saya akan membicarakan, ini dengannya."


"Siapa Bosmu?" Tanya Zain, penasaran.


"Bos saya masih sangat muda, dan juga dia adalah seorang pengusaha. Usaha restorant, hanya untuk kesengannya semata. Dan dia juga, sangat tampan, namanya Rian, Rian Admaja, apakah Tuan nengenalnya?" Tanya Ariana, yang begitu bersemangat.


Terus menatap istrinya, saat mendengar apa yang dikatakannya."(Rian Admaja, tentu saja aku sangat mengenalnya. Bukankah dia anak, dari pengusaha sukses Cristian Admaja.)"

__ADS_1


"Jadi dia, Bosmu?"


__ADS_2