
Pemandangan yang manis terlihat pada pasangan Ibu, dan anak itu. Hingga Zain yang tengah melajukan kendaraan, hanya menyimpulkan senyum diwajah saat melihat pemandangan langkah antara anak perempuannya, dan Ariana.
"Mommy aku sangat sayang padamu," Bolamata itu membulat lebih lebar, saat memeluk manja pada Ibunya.
"Bukankah kau bilang kalau kau lebih sayang pada Daddy, daripada Mommy," Dengan menampilkan wajah pura-pura kesalnya.
"Itu dulu Mommy! tapi sekarang aku lebih sayang padamu dari pada Daddy,"
"Jadi kau tidak sayang pada Daddy lagi Stefanie,"
"Untuk sementara biarkan aku sayang pada Mommy Dulu Daddy, karena dalam perut Mommy ada adikku."
"Baiklah untuk sementara Daddy yang akan mengalah." Dengan menyimpulkan senyuman diwajah, saat tatapan itu beradu dengan Ariana.
"Zain.." Panggil Ariana tiba-tiba.
"Ada apa Araa?"
"Bisakah kita berhenti ditaman didepan itu? karena aku ingin jalan-jalan disana,"
"Tentu bisa Araa, kenapa tidak."
Saat sampai didepan area taman, Zain seketika menepikan mobilnya. Ketiga pasang kaki itu segera turun dari dalam mobil, dengan rona bahagia diwajahnya saat melangkah masuk kedalam taman.
"Aku sangat bahagia Araa." Zain berbisik pelan ditelinga calon istrinya, denga berpegangan tangan menyusuri taman.
"Aku juga Zain, sangat-sangat bahagia." Ariana melukis senyum kecil pula.
"Daddy! Mommy! aku ingin balon itu, aku ingin balon itu," Stefanie merengek pada kedua orangtuanya, dengan tangan menunjuk pada seorang pedagang yang menjual balon gas.
"Zain bisakah kau mengantarnya? aku sangat lelah,"
"Tentu Sayang, kenapa tidak. Kau tunggulah kami dikursi panjang itu." Dengan jemari meraih tangan mungil putrinya.
Ayo Stefanie! kita beli balonnya,"
Saat tangannya ditarik sang Ayah, Stefanie tidak langsung melenggangkan kedua kakinya. Tatapan matanya menoleh pada sang Ibu, yang sudah melabukan tubuhnya pada sebuah kursi panjang.
"Mommy..."
"Ada apa Stefanie?"
"Apakah kita perlu membeli lima balon untuk adikbayi?"
Zain, dan Ariana seketika tertawa kecil, mendengar apa yang dikatakan putri mereka.
"Aku serius Daddy! Mommy!" Dengan menampikan wajah juteknya.
Mensejajarkan tinggi dengan sang putri, dengan melukis senyuman diwajah tampannya.
"Adik-adikbayimu lahirnya masih sangat lama Stefanie, jadi nanti saja baru kita beli buat mereka."
__ADS_1
"Baiklah Daddy, kalau begitu belinya buat aku saja."
"Kalau begitu ayo kita beli balonnya!" Dengan menggapai ulang tangan mungil putrinya menuju pedagang itu.
Menikmati waktu yang kian menuju senja, dengan tatapan mata menatap pada danau buatan itu, dimana putri mereka Stefanie tengah memberi makan pada ikan didanau buatan itu.
"Hati-hati Stefanie, jangan sampai terlalu kepinggirian..." Zain memperingati putrinya, dengan teriakan.
"Tentu Daddy..." Dengan tangan terus melempar jauh makanan ikan tersebut, kedalam danau itu.
Daddy.... Mommy... ada Katak...." Stefanie berteriak tiba-tiba, dengan melompat jauh dImana dia berpijak yang membuat Ariana, dan Zain seketika tertawa lepas dengan tingka lucu putri mereka.
"Usir Kataknya Stefanie..." Teriak Zain, yang berusaha menahan tawanya.
"Baik Daddy..."
Hus.. hus... Katak pergi! pergi Katak jelek..!" Dengan wajah kesalnya, saat mengumpat hewan amfibi itu.
"Anak kita sangat lucu Araa?" Zain melepaskan senyuman bahagianya, melihat ekspresi lucu putrinya.
"Dia sangat lucu, dan juga keras kepala sama sepertimu." Dengan wajah sedikit kesal, saat mengingat bagaimana keras kepalanya purtri mereka itu.
"Dan kau sangat mencintai pria keras kepala ini kan?"
"Yaa! itulah faktanya kalau aku sangat mencintai Zain Pratama, seorang lelaki sombong, dan juga angkuh." Dengan wajah kesalnya, dan itu membuat Zain seketika tertawa lebar.
"Daddy....Kataknya tidak mau pergi..." Teriak Stefanie, saat hewan berperut besar itu tak kunjung beranjak dari duduknya.
"Ini Daddy, ini Katak jeleknya."
****
"Apa?? jadi Ariana mengandung bayi kembar lima Zain?" Wajah yang sudah sedikit berkeriput itu, semakin menampilkan kerutan diwajahnya saat mendengar apa yang dikatakan menantunya.
"Iya Oma, aku akan memiliki lima adik bayi. Kau tau Oma, Mommy hampir menyerupai kucing Meongku. Kalau Kucing Meongku enam bayi, kalau Mommy hanya lima." Wajah mungilnya terlihat sangat antusias, saat membagikan kabar bahagia itu.
"Bukankah kau sudah janji pada Mommy, kalau kau tidak akan menyamakan Mommy dengan Kucing Meongmu itu Stefanie!" Nada itu terdengar kesal saat berucap.
"Maafkan aku Mommy, aku hanya bilang menyerupai. Bukan sama." Dengan senyum tanpa dosanya, yang membuat Ariana semakin meradang akan sikap putrinya.
" Sudahlah Araa, mau sampai kapan kau berdebat dengan putriku,"
"Putrimu sangat menyebalkan! Zain!"
"Zain, Araa.." Panggil Celine tiba-tiba, pada anak, dan juga menantunya.
"Iya Maa.." Zain.
"Iya Maa.." Ariana.
"Tadi Mama sudah menghubungi pihak tempat ibadah, dan Mama mengundang Imamnya untuk menikahkan kalian dirumah kita."
__ADS_1
"Dan kapan kami akan meresmikan hubungan kami Maa?" Ariana bertanya dengan raut wajah penasarannnya, saat mendengar apa yang disampaikan Ibunya.
"Seperti yang Zain mau Araa, dua hari lagi."
"Bagai Araa, apakah kau siap?" Tatapan itu dia lemparkan pada calon istrinya.
"Tentu Zain, tentu saja aku sangat siap," Penuh keyakinan saat menjawab apa yang ditanyakan calon suaminya.
"Mommy, Daddy, jangan lupa gaunku. Dan aku ingin aku yang paling cantik dihari pernikahan kalian nanti."
"Tentu Sayang, Daddy akan mencari gaun yang paling indah untukmu agar kau jauh lebih cantik dari Mommymu." Dengan senyuman pada Stefanie.
"Terima kasih Daddy, kalau begitu kita harus membeli gaunku sekarang juga." Dengan nada yang terdengar menuntut, yang membuat Zain hanya bisa menghembuskan napas lelahnya.
DUA HARI KEMUDIAN
Stefanie sudah terlihat cantik dengan gaun putihnya, yang menjuntai bak seorang princes. Gadis kecil itu terlihat begitu cantik, dihari pernikahan kedua orangtuanya.
Duduk dipangkuan Omanya, dengan tatapan terlempar kedepan menyaksikan kedua orangtuanya yang tengah mengikat janji suci pernikahan.
"Oma, kalau sudah dewasa nanti aku ingin juga menikah." Dengan nada yang berapi-api.
Seketika tawa kecil membingkai diwajah tua Celine, mendengar apa yang dikatakan cucunya.
"Tentu saja. Tapi jika kau sudah selesai kuliah, dan juga sudah bekerja."
"Dan apakah itu masih lama Oma?" Menengadakan kepala, menatap pada Omanya dengan wajah seriusnya.
"Tentu saja masih sangat lama, karena kau baru akan berusia enam tahun."
"Baiklah," Jawabnya pasrah dengan melemparkan tatapan mata itu, pada kedua orangtuanya.
Setelah sah dinyatakan suami istri, Zain diijinkan untuk mencium Ariana yang kini telah resmi kembali menjadi istrinya.
"Aku sangat mencintaimu istriku," Zain menyimpulkan senyuman diwajah, dengan tatapan yang begitu dalam pada Ariana.
Ariana tersenyum, saat tatapan mata itu saling beradu yang tersirat cinta yang begitu dalam disana.
"Aku juga sangat mencintaimu Zain, sangat mencintamu Suamiku," Tatapan keduanya saling menatap dengan dalam, dan tanpa sadari bibir itu sudah semakin mendekat. Dan saat akan bibir keduanya akan beradu, mereka dikejutkan dengan kehadiran Stefanie.
"Mommy... Daddy... apakah kalian melupakan aku?!" Dengan menampilkan wajah juteknya, pada Ariana dan juga Zain.
Ariana, dan Zain seketika melemparkan tatapannya kebawah, dan senyuman seketika mengukir diwajah keduanya saat melihat keberadaan Stefanie yang tengah menatap pada keduanya dengan tatapan kesalnya.
"Kau disini Stefanie?" Ariana bertanya dengan wajah herannya.
"Tentu saja Mommy! karena aku adalah anak kalian." Dengan nada penuh penekanan.
Zain, dan Ariana saling melemparkan pandangan, dan melukis senyum palsunya saat putri mereka mengganggu suasana romantis keduanya.
"Kau memang putri kami Stefanie?!" Jawab Zain pasrah, saat stefanie sudah merentangkan kedua tangannnya agar digendong sang ayah.
__ADS_1
Maaf yaa, kalau masih ada tipo besok baru revisi.