
Senyum penuh kemenangan membingkai diwajah tampan itu, saat melihat tangisan mantan istrinya. Dan dia begitu bahagia, dengan keadaan Ariana yang tidak berdaya saat ini.
"Dan aku sama sekali tidak perduli, itu karena kesalahannya sendiri, yang sudah membiarkanmu tinggal dirumahnya." Jawabnya, santai.
Ariana hanya bisa menangis, saat mendengar apa yang dikatakan mantan suaminya itu. Dia tidak menyangkah, Zain akan melakukan apa saja, agar membuat hidupnya menderita.
"Aku akan melakukan apa saja, yang kau mau. Tapi sebagai gantinya, aku mohon kau tetap membiarkan Nona Rani, agar dapat menyelenggerakan pergelaran busana itu."
Tatapannya seketika intens menatap Araa, dan dia terlihat begitu bahagia, saat mendapat tawaran dari mantan istrinya.
"Benarkah?" Tanyanya, memastikan.
'Iya, apapun itu."
"Layani aku malam ini, karena aku sangat menginginkan tubuhmu. Dan aku ingin kau meninggalkan Jakarta, untuk selamanya. Maka aku akan mengabulkan, permintaanmu tadi,"
Ariana begitu kaget, saat mendengar keingainan pengusaha tampan itu. Yang sangat sulit, untuk dia penuhi.
"Apaa?? apa aku tidak salah dengar, Zain? kau menginginkan aku melayanimu, dan menginginkan aku meninggalkan kota ini selamanya?" Tanyanya, memastikan.
"Yaa." Jawabnya singkat, dengan nada tegas.
Linangan airmata semakin deras mengalir, dia tidak menyangkah Zain akan begitu tegah melakukan hal ini padanya.
"Tapi aku harus kemana Zain? aku tidak memiliki siapapun? aku mohon..?" Dengan tatapan memohon, dan linangan airmata.
Senyuman sinis, dan menatap Araa dengan tatapan tidak suka. Zain nampak tidak perduli dengan tangisan wanita itu. Pria itu nampak sudah dibutakan oleh kebencian, dan rasa sakit hati yang teramat sangat, hingga membuatnya sudah tidak memperdulikan tangisan Ariana.
"Sudah kubilang padamu, sebelumnya. Bukankah keinginanku adalah, melihatmu menderita. Jadi kau harus memenuhi keinginanku, kalau tidak aku akan menghancurkan hidup orang-orang yang kau sayang,"
Mendengar apa yang dikatakan Zain, membuat Ariana tidak berdaya. Tidak mungkin dia membiarkan hidup orang-orang yang dia cintai, hancur hanya karena dirinya. Dan dia tidak mempunyai pilihan lain, selain menerima keinginan Zain. Mengusap airmata, berusaha untuk kuat menerima kenyataan hidup.
"Baiklah aku mau. Aku mau menerima persyaratan darimu, termasuk memberikan tubuhku." Ucapnya dengan langsung beranjak dari duduknya, dan berlalu dari ruangan, tanpa berpamitan dengan pengusaha tampan itu.
Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi. dan seketika tawa kecil membingkai diwajah tampan itu, mengingat ketidak berdayaan Ariana tadi, dan itu membuatnya bahagia.
"Aku puas. Bahkan sangat puas, melihat keadaanmu saat ini Ariana?! sebab itu setimpal dengan penghianatan, yang kau lakukan padaku."
Langkah kaki itu begitu gontai, hingga sapaan dari Adampun dia abaikan.
Saat sudah berada didalam lift, Ariana segera menumpakan tangisannya. Rasa sesak dalam dadanya yang dia tahan dalam ruang kerja mantan suaminya, dia luapkan lewat cucuran airmata yang terus mengalir, membasahi kedua pipinya.
"Aku sangat mencintaimu Zain, sangat mencintaimu. Kenapa kau sama sekali tidak percaya, kalau aku sama sekali tidak pernah menghianatimu,"
****
Matahari telah membenamkan wajahnya, setelah kegelapan menutup sempurna pada muka bumi ini. Dia sudah terlihat sangat cantik, dengan dres yang dapat menyembunyikan perut buncitnya itu.
"Aku terlihat seperti wanita murahan." Gumam Ariana tersenyum miris, saat memoleskan lipstik berwarna marun pada bibirnya.
Menghembuskan napas, dan berlalu dari kamar itu setelah tangannya meraih tas yang berada diatas meja.
Saat akan menuju pintu, Ariana berpapasan dengan Rani yang sedang menonton televisi.
"Kau mau kemana, Araa?" Tanya Rani, saat melihat Ariana sudah terlihat begitu cantik, dengan balutan dress yang pas ditubuhnya.
Berusaha menghilngkan rasa gugup, agar tidak dapat menimbulkan kecurigaan Rani padanya.
"Hari ini Bella berulang tahun, dan dia mengundangku makan malam dirumahnya."
"Benarkah?" Tanya Rani yang mencoba mencari kejujuran pada raut wajah Ariana, yang terlihat gugup.
"Iya. Jadi aku minta, kau mengijinkanku Nona Rani, untuk pergi kerumahnya."
__ADS_1
"Baikalah, kalau begitu hati-hatilah dijalan. Dan apakah kau yakin, akan pergi sendirian Araa?"
"Iya, aku sangat yakin."
****
HOTEL.
Hotel yang terlihat mega, dengan interior yang sangat elegant, itulah gambaran hotel dimana Ariana, akan menemui mantan suaminya, untuk melewati malam panjang mereka.
Kedua bolamata itu terus menatap angkah dalam lift, yang akan membawanya kelantai 3, kamar 205.
"TING." Pintu lift terbuka lebar, helaan napas terdengar berat, sebelum kedua kaki itu membawa dirinya kekamar 205, dimana Zain telah menunggunya.
Berdiam sebentar didepan pintu, dan dengan satu tarikan napas, tangannya menggapai gagang pintu, dan membukanya.
Pintu kamar terbuka lebar, dan mendapati suasana remang-remang dalam kamar hotel. Mendengar suara pintu terbuka, Zain seketika membalikan badannya. Tatapannya begitu intens menatap Ariana yang terlihat begitu cantik, saat sudah berada didepannya. Ariana terlihat sangat memukau, hingga mampu membius mantan suaminya, untuk tidak beralih tatapan.
"Dia begitu cantik. Dan kecantikannya itulah, membuatku begitu terluka." Bathinnya, dengan terus menatap Araa.
Mereka larut dalam pikiran masing-masing, dan dalam diri Ariana cepat ingin menyelesaikan ini semua, dan dia sudah memantapkan hati, untuk melanjutkan sekolahnya keAmerika.
Tidak ingin lebih berlama-lama bersama pria itu, sebab dia tahu Zain sudah bukan miliknya lagi, apalagi dia akan segera bertunangan dengan saudara angkatnya.
"Apakah kita langsung memulai saja, Tuan Zain?" Dengan senyuman, dan nada yang begitu menggoda, berusaha untuk terlihat tegar.
Kedua kaki itu melangkah pelan, menghampiri pengusaha tampan itu. Kini keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat, saling menatap dengan begitu dalam, seolah permasalah antara mereka, sama sekali tidak terjadi. Ariana tersenyum menatap intens pria didepannya, yang begitu dia cintai. Kedua tangan itu terangkat, dan mengalung sempurna dileher Zain. Perlahan bibirnya semakin mendekat, dan mendaratkan ciuman panajang pada mantan suaminya.
Tak menolak. Getaran cinta yang masih ada dalam diri Zain untuk Ariana, membuat ciuman itu bersambut. Mereka saling memagut dengan gairahnya, hingga tak ada jarak saat tangan Zain merengkuh penuh pinggang mantan istrinya.
Terus berciuman dengan gairahnya, dan tangan itu perlahan Menurunkan kancing dress Ariana, hingga membuat tubuh Ariana, tinggal berbalut dalaman saja.
Gairah tak sanggup dibendung lagi olehnya, saat melihat wanita yang dicintainya hanya berbalut pakaian dalam untuk menutupi area sensitifnya. Segera menggendong Ariana, dan membawanya keranjang tanpa melepaskan ciuman itu.
Malam gairah dilewati Ariana, dan juga Zain. Kerinduan, dan perasaan cinta dalam diri mereka masing-masing, mereka curahkan lewat aktifitas panas itu, tanpa berucap dan bisa merasakan dalam hati.
Airmata kembali menetes, saat melihat wajah yang begitu damai saat tidur. Hingga cahaya yang menembus kaca jendelapun, tak membuat lelaki tampan itu terjaga sama sekali dari tidurnya.
Mengenakkan kembali pakaiannnya yang tergeletak dilantai, dan kedua kaki itu membawanya kesebuah semua meja kecil, yang berada disudut ruangan. Mengambil sebuah lembaran kertas putih, dengan mengoreskan tinta hitam diatasnya.
PESAN.
Aku sama sekali tidak pernah menghianatimu Zain, sama sekali tidak pernah menghianatimu. Dan aku ucapkan selamat padamu, karena sebentar lagi kau akan bertungan dengan saudaraku. Aku akan pergi dari kota ini, sesuai keinginanmu. Dan semoga saja kau bahagia, dengan rumahtangga barumu nanti. Satu minggu lagi, Dokter Jack akan mengantarkan sesuatu padamu. Aku pamit Zain, jaga dirimu baik-baik." Dengan memberikan sebuah kecupan, pada kertas putih itu.
Dia kembali menghampiri Zain, yang masih terlelap dengan tidurnya. Menarik selimut berbulu domba, dan menutup kembali tubuh yang masih polos itu, dengan tatapan penuh cinta.
"Aku sangat mencintaimu Sayang, sangat mencintaimu. Terima kasih untuk semuanya, yang kau berikan padaku selama ini. Dan aku akan menjaga buahati kita dengan baik, dan semoga kau bahagia dengan Kakakku." Ucapnya dengan mengecup lembut bibir Zain, dan berlalu pergi dari kamar hotel itu.
****
Satu minggu telah berlalu. Dan Ariana sudah pergi Amerika, setelah dirinya melewati malam yang panjang, bersama pria yang dia cintai. Tidak ada yang tahu dimana Ariana saat ini, dan hanya Rani seoranglah yang tahu. Karena sesuai keinginan Ariana, yang tidak ingin siapapapun mengetahui dimana dia berada.
Hari ini adalah hari pertunangan seorang pengusaha kaya Zain Pratama, dan kekasihnya Clara Mahesa.
Pertunangan Zain, dan Clara yang akan diadakan disalahsatu hotel bintang 5, menjadi trending topic diberbagai media. Ntah itu media online, surat kabar, maupun televisi.
Jason melangkahkan kaki menuju ruang nonton, dengan tangan menggenggam segelas minuman hangat, untuk sekedar menghangatkan tubuhnya, dari dinginnya udara pagi hari kota Jakarta.
Duduk bersandar pada kursi sofa, dan tangannya menggapai remot yag berada ditas meja, dan mengarahkan tepat kelayar televisi.
Mata lelaki itu membulat sempurna, saat menonton pada salahsatu acara gosip pagi, yang menayangkan pengusaha bernama Zain Pratama, dan kekasihnya Clara, akan bertunangan malam ini disalahsatu hotel bintang 5.
"Mereka akan bertungan dihotel Melati, malam ini?? tidak. Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimanapun caranya, aku harus membongkar kebusukan Clara malam ini juga, sekalipun mereka mencegah, atau memukulku, pertunangan ini tidak boleh terjadi sama sekali." Gumamnya, dengan nada berapi-api.
__ADS_1
****
Malam telah menyambut kota Jakarta. Tamu-tamu terus berdatangan, baik dari kalangan selebritis, maupun pengusaha kaya, ataupun para pejabat. Gemerlap lampu, dan juga berbagai macam bunga-bunga, semakin menambah kesan mewah acara itu pertungan itu.
Kedua wanita beda usia itu terlihat begitu bahagia, apalagi Clara yang tak hentinya memancarkan senyuman diwajahnya, sebab sebentar lagi dirinya akan berstatus resmi, sebagai tunangan dari seorang Zain Pratama.
"Kau sangat cantik anakku?" Puji Diana, dengan berbisiik pelan pada telinga putrinya.
"Terima kasih Maa? ini semua juga berkat dirimu. Dan tinggal selangkah lagi, aku akan resmi menjadi istri dari seorang Zain Pratama." Ucapnya, dengan senyum bahagianya.
"Tentu putriku, karena memang hanya kau yang pantas mendampinginya,"
Pasangan kekasih itu naik keatas pelaminan, saat tibanya acara untuk pemangan cincin. Keduanya berjalan keatas pelaminan, dengan Clara menggandeng mesrah tangan Zain, yang diiringi lagu cinta, dan juga tepuk tangan dari para tamu udangan. Keduanya saling menatap, dengan rona bahagia diwajah masing-masing.
Saat semua orang tengah larut dalam suasana romantis, yang diciptakan pasangan kekasih itu, tiba-tiba saja semuanya terpecah, dengan suara keributan yang terdengar didalam hotel.
"Jason..!" Gumam Clara pelan, saat mendapati mantan kekasihnya berada disana.
"Untuk apa, sibrengsek itu kemari?! apakah dia sengaja, mencari masalah denganku?!" Gumam Zain, dengan raut wajah kesalnya, saat melihat keberadaan Jason.
"Lepaskan tanganku...! lepaskan..?! sekalipun kalian memukulku, aku tidak akan pergi, karena ada hal penting yang harus aku sampaikan pada Tuan Zain." Teriak Jason, saat anak buah Adam menghalangi dirinya, yang akan menghampiri Zain.
Adam seketika tertarik saat mendengar, apa yang dikatakan Jason, hingga dia memberi titah pada anak buahnya, untuk melepaskan pria itu.
"Lepaskan dia..!"
Adam menghampri Jason, yang masih berdiam ditempatnya.
"Katakan padaku, apa maumu. Dan setelah ini, kau harus pergi. Kalau tidak, aku akan membunuhmu malam ini juga, karena kau sudah membuat keributan disini." Dengan nada, penuh penekanan.
"Aku akan pergi. Tapi aku minta, kau tonton rekaman pada ponselku ini. Agar kau tau, kenapa selama ini aku sangat ingin bicara dengan Tuanmu." Dengan memberikan ponsel itu, pada Adam.
Adam meraih benda pipih itu dari tangan Jason, dan menonton nya. Kedua bolamata itu seketika membulat sempurna, karena sangat terkejut, saat melihat rekaman antara Clara, dan juga Piter disebuah restorant, yang saat itu tengah berbincang untuk menjebak mantan istri Tuanmudanya.
Zain terlihat penasaran, dan dalam dirinya bertanya video apa yang ditonton sekretarisnya itu. Hingga dirinya memutuskan, untuk menghampiri Adam.
"Sayang, kau mau kemana?" Tanya Clara, saat Zain menuruni tangga pelaminan.
"Aku hanya penasaran, apa yang sibrengsek itu bawah." Jawabnya, dengan melanjutkan langkah kakinya.
"Adam, berikan padaku apa yang kau lihat itu," Dengan mengulurkan tangan, pada Adam.
"Anda harus melihatnya, agar anda tau kebenaran yang sesungguhnya Tuan?"
Semakin penasaran, saat mendengar apa yang dikatakan Adam padanya. Dan saat kedua bolamata itu sudah berhadapan dengan Ponsel milik Jason, betapa sangat terkejutnya Zain saat ini, dan jangan ditanya bagaiamana raut wajahnya. Memerah akibat kemarahan yang sudah teramat sangat, karena selama ini ternyata dia sudah dibodohi oleh Clara. Kepalan tangan terlihat membungkus, hingga menampakan urat-urat ditangannya.
Membalikkan tubuhnya, dan dia kembali menghampiri Clara yaqang tengah menatapnya dengan bingung.
"Sayang, kau kenapa?" Tanyanya, lembut.
"Dasar kau wanita murahan, Clara??!!" Teriaknya dengan melayangkan tamparan yang sangat keras, pada pipi wanita itu.
"PLAAKKK" Sebuah tamparan, hingga membuat Clara seketika tersungkur kelantai.
"kenapa kau menamparku, Zain..? kenapa..?" Tanyanya dengan teriakan, dengan airmata yang sudah membasahi pipi.
Tidak menjawab apa yang ditanyakan Clara padanya, Zain segera meraih pistol dalam saku celananya, dan menodongkan tepat pada wajah Clara. Hingga membuat tamu-tamu undangan yang berada didalam hotel itu begitu terkejut, dan sangat ketakutan.
"Perempuan murahan sepertimu, pantas untuk mati."
"Tidak Zain, aku mohon jangan? katakakan padaku, ada apa sebenarnya?"Dengan airmata, terus mengalir.
TIdak menjawab, dan dia perlahan mulai menarik pelatuknya, hingga membuat orang semua disana semakin takut, dengan kemarahan Zain Pratama. Dan saat dia akan melepaskan tembakan itu, Adam langsung mencekal tangan Tuanmudanya, dan mengarahkan pistol itu kearah langit-langit hotel.
__ADS_1
"DOORR" Suara tembakan yang begitu menggema, hingga membuat tamu-tamu undangan berhamburan keluar hotel.
Aku tulis panjang yaa, 2 ribu kata.