
Malam telah menyelimuti kota Jakarta, setelah senja menenggelamkan dirinya seiring dentingan waktu yang terus melangkah menuju malam.
Tubuh rampingnya telah berbalut gaun berwarna marun, yang melekat sempurna pada tubuh inda Ariana. Rambut hitam panjangnya sengajah dibiarkan tergerai, yang menambah kecantikan seorang perancang busana terkenal itu.
Dengan anggunnya kedua kaki jenjangnya, melangkah melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai bawah. Senyuman mengembang diwajah cantik Ariana, saat mendapati anaknya nampak begitu akrab dengan Rani.
Rani tak sengaja melemparkan pandangannya kerah lain, dan mendapati Ariana yang sudah terlihat cantik, dan tersenyum menatap mereka dari jauh. Beranjak dari duduknya, melangkah menghampiri wanita berambut hitam itu.
"Kau sangat cantik Ariana? sangat bebeda dengan Ariana yang kukenal dulu. Satu kata buatmu, kau sangat SEMPURNA."
Ariana membingkai senyuman kecil diwajahnya, mendengar kalimat pujian Rani padanya.
"Kau terlalu pintar memuji Kak Rani? tapi.. terima kasih."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dan apakah kau akan berangkat sekarang untuk makan malam itu?"
"Iya Kak Rani, aku akan berangkat sekarang. Aku titip Stefanie. Ini hanya jamuan makan malam, jadi tidak akan lama." Sekilas menatap putrinya, yang tengah asyik bermain boneka barbyenya.
"Lama juga gak apa-apa Ariana? anakmu sangat menggemaskan, dan aku sangat terhibur saat bersamanya." Rani menjawab dengan senyuman diwajahnya.
Membingkai senyuman kecil diwajahnya, melangkahkan kaki menghampiri gadis kecilnya.
"Stefanie..." Panggilnya pelan tapi tidak diindahkan.
Stefanie..." Panggil Ariana sekali lagi, saat putrinya yang nampak tidak menyadari kedatangannya.
Gadis kecil itu menengadakan kepalanya, dan dia sedikit kaget mendapati Ibunya sudah terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna marun.
"Mommy.. apakah kau akan pergi..?"
Ariana tersenyum kecil, dan mensejajarkan tingginya dengan gadis kecilnya itu.
"Iya Sayang, Mama akan pergi sebentar. Berjanjilah kau tidak akan nakal, selama pergi."
Mengerutcutkan bibirnya, dengan raut wajah tertekuk kesal mendengar kalau Ibunya akan pergi.
"Bukankah Mommy sudah berjanji padaku, kalau saat kita tiba diIndonesia nanti, Mommy dan aku akan pergi menemui Opa David? tapi sekarang Mommy akan pergi?!"
Senyuman tertawa kecil, melihat wajah cemberut putrinya. Menatap gadis kecilnya dengan tatapan penuh cinta, seraya jemarinya membenahi helaian rambut Stefanie yang menutupi sebagian alisnya.
"Setelah kerjaan Mommy selesai, Mommy janji akan membawamu, bertemu Opa David."
Sepasang mata itu seketika berbinar, mendengar apa yang dikatakan Mommynya.
"Benarkah Mommy? kau sedang tidak berbohongkan padakukan?"
"Iya anakku, buat apa Mommy berbohong."
Seketika Stefanie nampak menimang, saat pikiran teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Mommy.."
"Ada apa Sayang..."
"Apakah aku juga mempunyai Oma, seperti temanku ketty? sebab Ketty bukan hanya mempunyai Opa saja, tapi juga Oma. Apakah aku juga mempunyai Oma, sama seperti Ketty, Mommy?" Kedua bolamatanya menatap Ariana dengan dalam, menantikan jawaban yang sangat dia harapkan.
Wajah cantik Ariana seketika pucat pasih, saat Stefanie putrinya mengajukan pertanyaan yang sulit dia jawab. Ariana memang memiliki Ibu angkat, yaitu Diana. Dan saja jika Diana, Ibu angkatnya mau menerima kehadiran Ariana, tentu saja putri kecilnya memiliki Oma. Tapi bukankah, Diana sama sekali tidak pernah menerimanya. Bahkan wanita paruhbaya itu begitu membencinya. Tatapannya beralih menatap Rani, dengan senyum kehampaan disana. Rani seketika mengambil langkah kecil, menghampiri Stefanie yang terus menatap Ibunya yang belum juga menjawab apa yang dia tanya.
Meraih jemari mungil Stefanie, yang mengalihkan tatapan seketika gadis kecil itu.
"Stefanie, ayo kita kekamar. Bibi Rani akan menunjukkan sesuatu padamu."
Bolamatanya seketika berbinar, dengan raut wajahnya yang nampak antusias saat Rani menawarkan sesuatu padanya.
"Menunjukkan apa Bibi..?"
"Rahasia dong...? nanti dikamar baru kau mengetahuinya." Dengan menarik pelan tangan Stefanie, agar beranjak dari duduknya.
"Baiklah Bibi?' Jawabnya dengan anggukan kecil.
Saat melewati Ariana, Rani menghentikan langkah kakinya menatap wajah Ariana yang nampak sendu, dan Rani tau pertanyaan putrinya itu secara tak sengaja mengorek luka lamanya.
"Jangan terlalu dpikirkan dengan apa yang tadi Stefanie katakan. Pergilah, dan semoga kerjasamanya sukses." Dengann senyuman kecil, seraya jemarinya menjangkau pundak Ariana untuk memberi dukungan.
"Terima kasih Kak Rani.." Dengan mencoba untuk tersenyum, ditengah galau yang melanda.
****
Mobil mewah berwarna hitam dengan lajunya yang pelan, memasuki area restorant.
Terlihat sosok pria yang masih terlihat gagah, diusianya yang sudah tidak mudah lagi. Dan dia adalah adalah Loard Davidson, duda beranak satu pria berkebangsaan Inggris, ayah dari Cintya Davidson, yang tak lain kekasih dari Zain Pratama.
Pasangan ayah dan anak itu turun dari mobil mewahnya, setelah sang sopir membuka pintu.
"Hari ini kau terlihat sangat tampan Papa? bahkan kau menyemir rambutmu, dan juga mencukur kumismu. Saat kita akan mengadakan makan malam ini. Apakah semua ini karena Ariana?"
"Memang salah? bukankah Papa seorang duda?"
Mengerucutkan bibirnya, dengan nada memelas apa yang ucapkan Papanya.
"Terserah kau Papa? tapi apakah dia akan menerima cintamu. Bukankah Nona Mahesa itu seorang perancang busana terkenal?"
"Tidak ada salahnya Papa berharap. Memang jodoh siapa yang tahu?"
Cintya menyimpulkan senyum kecil diwajahnya, dan semakin mempererat gandengan tangannya pada Loard, saat keduanya beriringan memasuki restorant.
"Sudahlah Papa...? ayo kita masuk kedalam. Dan apakah Nona Ariana sudah dalam perjalan kemari? sebab aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya."
"Tadi Papa sudah menghubungi asistennya Juli. Dan dia menyapaikan, kalau mereka sudah dalam perjalanan dalam perjalanan menuju kemari. Dan bagaimana dengan Zain? apakah dia juga sudah dalam perjalanan kemari?"
__ADS_1
"Sudah Papa? dan mungkin sedikit lagi dia, dan Adam sudah sampai direstorant ini."
****
Setelah sempat terjebak macet akibat keramain lalulintas didalam hati kota Jakarta, akhirnya mobil yang membawa pengusaha tampan Zain Pratama, tiba juga direstorant, dimana dia akan melewati makan malamnya bersama Cintya, dan ayahnya Loard Davidson malam ini.
Pengusaha tampan itu membenahi dasinya yang tidak tertata rapi pada tempatnya, dan kemudian jemarinya bermain diatas rambutnya yang terlihat sedikt berantakan.
"Apakah aku sudah terlihat tampan?" Zain bertanya pada Adam, yang duduk dikursi kemudi.
Adam menyimpulkan senyum kecil diwajahnya, melihat kelakuan Tuanmudanya yang bak seorang ABG.
"Sangat tampan Tuan? dan aku yakin Nona cintya akan terpesona dengan penampilan anda malam ini. Dan apakah makan malam kali ini, guna membahas hubungan anda dengan Nona Cintya, untuk kejenjang yang lebih serius? sebab Tuan Loard juga ada."
Jemari yang sedari tadi menari-menari pada rambutnya, seketika terhenti mendengar apa yang dikatakan Adam padanya.
"Kau selalu saja menggodaku Adam?! apakah kau sudah bosan bekerja denganku?! dan asal kau tau, ini hanya makan malam biasa. Dan ayahnya mengajakku untuk ikut dalam makan malam ini, semata-mata hanya untuk meminta pendapatku, mengenai kerjasamanya yang akan diadakan dengan seorang perancang kenamaan. Dan sampai saat ini, aku belum berpikir untuk menikah lagi. Sebab aku tidak mau gagal, yang kedua kali."
"Maafkan saya Tuan, dan jangan diambil hati sebab tadi ucapan saya itu, hanya candaan." Jawab Adam dengan senyum kecilnya.
"Cihh..!! selalu saja kalimat itu yang kau katakan padaku. Dan ayo kita turun. Tidak mungkinkan, kita makan malam didalam mobil ini?!" Nada sedikt kesal dari bibir pengusaha tampan itu.
"Baik Tuan..."
Kedua pria itu melangkahkan kaki beriringan, kedalam restorant. Saat berada didalam Adam langsung menghampiri, salahsatu pelayannya.
"Malam Nona, diruangan mana Tuan Loard memesan tempatnya."
"Marih saya antar Tuan-Tuan, Tuan Loard dan putrinya sudah menunggu." Dengan melangkahkan kaki, diikuti oleh Zain dan juga Adam.
Pintu ruangan terbuka lebar, dan didalamnya sudah ada Cintya, dan juga ayahnya Loard Davidson, yang tengah berbincang disana.
Gadis muda itu segera beranjak dari duduknya, saat melihat keberadaan kekasihnya yang tengah melangkah kedalam ruangan.
"Kau sudah datang Sayang..? aku mengirah kau tdak akan jadi datang." Dengan gaya manjanya, saat tangannya sudah melingkar sempurna pada lengan kokoh itu.
"Bukankah aku sudah bilang padamu, bagaimanapun situasinya aku pasti datang." Dengan senyuman kecil, saat menjawab ucapan kekasihnya.
Tatapan Zain beralih Loard, yang tengah tersenyum menatap kemesraannya, dan juga putrinya Cintya.
"Maaf Tuan Loard, saya agak terlambat."
"Tidak masalah Zain? lagi pula kami juga baru saja datang. Dan Nona Mahesa juga, baru dalam perjalanan kerestorant ini."
Zain dan sekretarisnya segera mengambil tempat duduk, dan keempat orang dewasa itu mulai terlibat perbincangan kecil.
Sesekali Zain nampak tertawa kecil, ditengah perbincangan serius mereka yang membahas masalah bisnis. Saat mereka tengah larut dalam obrolan serius, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar, dan menampilkan sosok cantik, yang sudah membuat mereka menunggu sedikit lama. Mereka berempat seketika beranjak dari duduknya, saat yang ditunggu sudah berada didepan mata.
Rona bahagia terlihat jelas diwajah Loard, dan juga Cintya. Tapi tidak dengan Zain, dan juga Adam yang sangat terkejut, bahkan sangat-sangat terkejut, saat melihat kehadiran wanita yang selama ini mereka cari.
__ADS_1
"Ariana..." Dia bergumam dengan tatapan tanpa berkedip.