Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Mencari putriku.


__ADS_3

Diana menghempaskan dengan kasar tangan Rian, dan senyuman mencemooh, menatap Ariana.


"Apakah kau sudah menjual tubuhmu pada Bosmu, Ariana? hingga dia begitu, membelamu."


Raut wajah Rian terlihat semakin memerah, saat mendengar apa yang dikatakan Diana.


"Ariana tidak serendah yang anda katakan, Nyonya!! dan aku minta, anda keluar sekarang juga. Sebelum aku memanggil, keamanan."


"Tidak usah memanggil keamanan Tuan, karena aku memang akan segera pergi dari tempat ini." Dengan tatapan sinisnya, dan berlalu dari restorant itu.


Raut wajah Ariana terlihat lesu, dan langsung menduduki sebuah kursi, dengan airmata yang sudah membasahi pipi.


"Tenanglah Ariana. Aku mohon, tenanglah." Bujuk Rian.


"Maafkan saya Tuan, maafkan saya. Karena sudah membuat suasana, tidak nyaman direstorant ini" Dengan airamata, yang terus mengalir.


****


Celine menapaki kakinya melewati setiap barisan kuburan yang berjejer rapi, disebuah tempat pemakaman umum, yang terletak ditengah kota Jakarta. Terus melangkah, dan kakinya berhenti disebuah nisan, yang bertuliskan nama Dimas Sanjaya.


Tanganya menyentuh nisan itu, dengan bolamata sudah berkaca-kaca.


Rasa bersalah kembali menyelimuti wanita paruhbaya itu, saat mengingat kembali kejadian bertahun-tahun yang lalu, saat dengan terpaksa dia meninggalkan suami, dan anak perempuannya, yang saat itu baru berusia satu bulan.


"Maafkan aku Dimas, maafkan aku. Aku terpaksa meninggalkan kau, dan anakkita. Saat itu, aku tidak berdaya Dimas. Aku tidak dapat menolak keinginan Papaku, karena bagaimanapun aku berhutang budi pada mereka.


Tapi pada siapa, kau memberikan putri kita Dimas? pada siapa...? Sudah bertahun-tahun aku mencarinya, tapi sampai sekarang, aku belum menemukannya juga." Dengan airmata, yang terus mengalir.


Celine terus menangis, dengan menyentuh nisan suaminya. Wanita paruhbaya itu terus menangis, dan mengeluarkan uneg-unegnya yang begitu mengganjal selama ini.


****


Dentingan jam terus melangkah, hingga siangpun telah terganti dengan gelapnya malam.


Tatapan matanya menatap jauh kedepan, dengan tatapan kosongnya. Mengingat kejadian siang tadi, membuat Ariana kembali larut dalam suasana sedi. Hingga kedatangan Zainpun, tidak disadari olehnya.


"Apa yang kau lamunkan, Ariana? bahkan kau tidak menyadari, kedatanganku." Dengan berjalan menghampiri istrinya, yang tengah berdiri dipinggiran balkon.


Terjaga dari lamumannya, dan sedikit kaget saat mendapati kedatangan suaminya.

__ADS_1


"Sayang, kau sudah pulang?"


Menyurutkan kedua alisnya, dengan tatapan intens dia menatap Ariana, dengan senyuman kecil diwajahnya.


"Seperti yang kau lihat, aku sudah berada didepanmu. Dan apa yang kau pikirkan? bahkan kau tidak menyadari, kedatanganku!"


"Maafkan aku Sayang, aku sedang tidak enak badan." Jawab Ariana dengan berusaha tersenyum, ditengah kegundahan hatinya saat ini.


Tatapan matanya menatap dengan dalam wajah istrinya, dan dalam diri Zain timbul keyakinan, kalau Ariana sedang tidak baik-baik saja. Dan itu terlihat, dari raut wajahnya yang sendu.


"Benarkah?! tapi sepertinya, kau sedang tidak baik-baik saja."


Wajah Ariana seketika berubah pucat, saat mendengar perkataan suaminya.


"Aku memang sedang tidak enak badan, Sayang?" Dengan melangkah mundur, saat Zain semakin mendekat kearahnya.


"Tapi kenapa wajahmu, jadi gugup begitu?" Dengan menyentuh dahi Ariana, agar dapat merasakan suhu tubuh istrinya.


Badanmu tidak panas, dan aku yakin kau sedaang baik-baik saja.


Hari ini aku sangalah lelah, karena pekerjaan dikantorku sangat banyak.


Bahkan mandi sendiripun, aku tidak sanggup Ariana? Jadi saat ini, aku membutukanmu."


"Tentu saja aku membutuhkanmu, untuk memandihkanku. Kenapa kau begitu bodoh, Ariana?!"


"Tapi Sayang, aku juga sangat lelah. Hari ini direstorant tempatku bekerja, pelanggan sangat banyak."


"Jadi kau, tidak mau?!" Dengan nada mulai meninggi, dan menatap Ariana dengan tatapan kesal.


Menghembuskan napas, dan berusaha tersenyum, dibalik rasa kesalnya pada Zain.


"Baiklah Sayang, aku mau. Tapi janji aku hanya membantumu mandi, dan kita tidak melakukan hal itu." Seru Ariana, memperingati suaminya.


"Baklah.." Jawab Zain, dengan senyum devilnya.


Kini Ariana, dan Zain telah berada dikamar mandi.


Zain membuka helaian benang, yang membalut tubuh seksinya, hingga dia terlihat polos saat ini.

__ADS_1


Pria itu sengaja berlama-lama untuk tidak segera masuk kedalam bathube, agar dapat menunjukan tubuh polosnya, dan tentu saja agar dapat memancing gairah istrinya.


Ariana segera memalingkan wajahnya kearah lain, dan sengaja menghampiri letak perlengkapan mandi, yang berjejer rapi didalam kamar mandi itu.


"Kau ingin memakai aromatherapi yang mana Sayang, dan apakah kau ingin mengganti merek shampo yang biasa kau pakai, dengan merek yang lain? kalau ia, aku akan meminta Bibi Sophia, agar mengantarnya kesini. Karena kemarin yang aku lihat, dia membeli shampo dengan berbagai merek."


Dengan ingin berlalu dari dalam kamar mandi, tapi seketika Zain mencekal tanganya.


"Kau sedang tidak mencobah, untuk kaburkan Ariana??"


Tawa kecil membingkai diwajahnya, saat mendapat pertanyaan itu dari suaminya.


"Ha...ha...ha...ha.., tentu tidak Sayang? buat apa, aku kabur."


"Kau lihat dilemari kaca itu, Bibi Sophia sudah menyiapkan shampo dengan berbagai merek. Jadi baut apa, kau pergi menemuinya lagi."


Raut wajah Ariana terlihat memucat, dan juga gugup, saat mendengar apa yang dikatakan suaminya.


"Maafkan aku, Sayang? maafkan aku. Mungkin mataku semakin bertambah minus, jadi aku tidak dapat melihatnya dengan baik. Jadi sepertinya, aku harus segera mengganti kacamatanya."


Zain menyunggingkan senyuman disudut bibirnya, dan dia tahu, dirinya tengah dikelabuhi oleh istrinya.


"Dia benar-benar licik. Dia mengirah, aku akan tertipu dengan omong kosongnya." Bathin Zain, dengan senyuman sinisnya.


"Tadi sebenarnya, aku hanya ingin mandi sendiri saja. Tapi sepertinya sekarang, aku sudah berubah pikiran. Dan aku ingin, kita mandi bersama."


Begitu kaget, saat mendengar keinginan suaminya.


"Apaa..!! mandi bersama? tapi aku, sudah mandi Sayang??"


"Tapi sepertinya, kau berbohong. Karena yang kulihat, tampangmu menunjukkan orang yang belum mandi. Dan berhubung suasana hatiku sedang bagus, bagaimana kalau aku yang memandikanmu. Agar jauh, lebih bersih."


"Tidak Sayang, aku akan mandi sendiri saja.Tapi aku akan mandi, dengan tetap menggunakan pakaianku."


Zain terlihat begitu kesal, saat mendapat jawaban Ariana.


"Coba saja, kau mandi dengan menggunakan pakaian. Aku tidak segan-segan, melemparmu dari lantai tiga rumah ini. Dan pasti kau tidak mau, mati sia-siakan?"


Raut wajahnya memelas, seraya menghembuskan napas kasar.

__ADS_1


"Baiklah Sayang, tapi janji kita hanya mandi." Dengan tatapan penuh harap, menatap suaminya.


"Tentu saja, kita hanya mandi. Memang apa yang kau pikirkan, tentangku Ariana??"


__ADS_2