Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kagetnya Zain.


__ADS_3

"Maaf Tuan. tapi Nona Rani belum datang. Mungkin sedikit lagi, dia pasti sudah datang. Dan kalau Tuan-Tuan berniat menunggunya, silahkan tunggu didalam."


Tatapan Adam beralih menatap Tuanmudanya, meminta persetujuan pria itu.


"Bagaimana Tuan? apakah kita menunggu saja?"


"kita menunggu dia saja. Dan aku rasa, sedikit lagi dia pasti sudah datang."


Adam kembali menghampiri karyawan wanita itu, mengatakan kalau mereka akan menunggu kedatangan Rani.


"Kami akan menunggunya saja, Nona?"


"Kalau begitu mari saya antar, keruangan Nona Rani." Pinta gadis muda itu dengan melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan, diikuti oleh Zain, dan juga sekretarisnya dari belakang.


Sebuah mobil terparkir didepan gedung berlantai dua. Dan terlihat seorang wanita dewasa, yang tak lain adalah Rani sang pemilik boutique yang melangkah cepat masuk kedalam boutique miliknya.


Saat berada didalam, salahsatu karyawannya seketika menghampiri, setelah mendapati keberadaan Bos mereka.


"Selamat pagi Nona Rani?"


"Pagi."


"Maaf Nona, ada tamu untuk anda. Mereka sedang menunggu didalam."


Tatapan intens, dan penasaran membingkai diwajah Rani, saat mendengar apa yang disampaikan karyawannya itu.


"Tamu siapa?"


"Tuan Zain Pratama, dan sekretarisnya Nona?"


Raut wajahnya seketika yang terlihat kesal, dan helaan napas terdengar berat saat mendengar kalau yang datang menemuinnya, adalah sahabatnya Zain Pratama.


"Baiklah, aku akan menememui mereka sekarang." Jawabnya dengan melangkahkan kaki menuju ruangan, dimana Zain dan Adam tengah menunggunya.


Pintu ruangan terbuka, dan perlahan kedua kaki itu melangkah masuk kedalam ruangan, dimana dijadikan Rani untuk tempat berbincang dengan para tamu, yang datang menemuinya.


Zain, dan Adam yang sedari tadi berbincang-bincang seketika menghentikan perbincangan mereka, saat melihat keberadaan Rani dalam ruangan.


Senyuman manis mengembang diwajah Rani, saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan Zain. Walaupun membenci pria itu saat mengingat bagaimana sikapnya pada Ariana, tapi Rani berusaha menyembunyikannya.

__ADS_1


"Selamat pagi Zain, maaf buat kalian menunggu." Sapanya, dengan menduduki sebuah sofa tunggal.


"Pagi juga Rani. Maaf kalau kedatangan kami, sudah mengganggu waktumu."


"Tidak, tidak sama sekali. Bukankan sudah sangat lama kita tidak bertemu, bahkan aku tidak menghadiri acara pertunanganmu dengan Clara. Dan kapan kalian akan menikah, agar aku dapat merancang gaun pengantinnya mulai dari sekarang. Tapi itu jika kau mempercayakan aku untuk merancang gaun pengantin, untuk calon istrimu." Dengan berpura-pura tidak tau, kalau pertunangan sahabatnya dan Clara batal.


Seringai diwajahnya, saat mendengar apa yang dikatakan Rani padanya. Dan dia tahu teman baiknya itu, tengah menyindir dirinya. Sebab berita tentang batalnya pertunangannya dan Clara sudah merebak luas, jadi bagaimana mungkin kalau Rani tidak mengetahui sama sekali.


"Aku memang akan menikah, tapi hanya dengan satu wanita yaitu Ariana seorang. Dan aku yakin, kalau kau pasti sudah mengetahui kalau aku, dan Clara tidak jadi bertunangan."


Senyuman palsu terukir diwajah cantik Rani, saat mendengar apa yang dikatakan Zain padanya.


"Benarkah?! maaf aku tidak tau. Karena akhir-akhir ini, aku jarang sekali menonton televisi, jadi wajar saja kalau aku tidak mengetahui berita tentangmu. Dan ada keperluan apa, kau datang menemuiku Zain?"


"Tuan ingin mengetahui, dimana keberadaan Nona Ariana sekarang Nona Rani?" Celah Adam, menjawab pertanyaan yang diajukan perancang busana itu.


Tatapan Rani seketika menatap dengan intens Zain, yang tengah duduk santai disofa tunggal.


"Jadi itu yang membuatmu, datang menemuiku Zain?"


"Yaa." Jawabnya, tegas.


Menegakkan posisi duduknya, dengan tatapan tajam dia menatap Rani.


"Kenapa tidak bisa Rani?! apakah kau lupa, kalau Ariana sedang mengandung darah dagingku."


Senyuman sinis membingkai diwajah Rani, saat mendengar apa yang dikatakan Zain. Sebab masih teringat dengan jelas dalam ingatannya, bagaimana Zain menyangkal dara dagingnya sendiri.


"Jadi kau sudah mengetahui kebenarannya, kalau bayi yang Ariana kandung adalah anakmu. Dan sekarang kau menyesal, karena sudah mencampakan Ariana, dan juga anak kalian!"


"Aku tau aku salah. Dan aku sudah sangat berdosa padanya, dan juga calon anakku. Dan kedatanganku kesini, ingin mengetahui dimana Ariana berada saat ini. Karena aku sangat yakin, kalau kau mengetahuinya."


"Tapi dengan berat hati aku mengatakan padamu, kalau aku tidak bisa mengatakan dimana Ariana berada, Zain? jadi maaf."


Rasa kesal menyelimuti diri Zain, saat mendengar jawaban Rani yang tidak mau mengatakan. dimana keberadaan Ariana saat ini.


"Kenapa tidak bisa Rani?! apakah kau lupa, kalau Ariana sedang mengandung dara dagingku?!"


"Kenapa tidak bisa? karena ini permintaan dari Ariana sendiri, yang tidak ingin siapapun mengetahui dimana dia berada. Jadi maaf."

__ADS_1


Napas yang terdengar berat, berusaha meredam emosi dalam diri yang hampir membuncah.


"Tapi tidak bisahkah kau memberitahukan padaku, sekalipun ini keinginannya?" Tatapan penuh harap, yang terlihat jelas dari kedua bolamata milik Zain.


"Sekali lagi maafkan aku Zain, aku tidak bisa mengatakan dimana Ariana saat ini. Karena ini murni, keinginannya sendiri yang tidak mau siapapun tau dimana dia saat ini."


"Ariana itu sedang hamil Rani?! dia sedang mengandung anakku..?!" Dengan sedikit teriakan.


"Percuma kau memaksaku, tetap saja jawabannya tetap sama, TIDAK BISA. Jadi maaf."


"Baiklah kalau kau tetap tidak mau mengatakan, dimana Ariana saat ini. Tapi ingat! kalau ada apa-apa dengan Ariana, dan calon anakku?! kau yang akan bertanggung jawab." Tatapan tajam, dengan nada yang terdengar tegas.


Senyuman palsu, dengan tatapan mencemooh saat mendengar ancaman yang dilontarkan sahabatnya itu.


"Kau dan Bibimu adalah orang yang sudah sangat menyesal, karena sudah melakukan kesalahan pada Ariana. Apalagi Bibimu terlihat lebih menyedihkan, karena tidak menyangkah kalau Ariana adalah putri kandungnya sendiri."


Raut wajah terkejut terlihat jelas, dari raut wajah kedua pria itu, saat mendengat apa yang dikatakan Rani barusan.


"Putri kandung. Apa maksudmu Rani?" Terlihat raut wajah, yang begitu penasaran dari paras tampan itu.


Tawa kecil membingkai diwajah Rani, saat mendapat pertanyaan yang dilontarkan Zain. Dan dia yakin, kalau pengusaha tampan itu pasti belum mengetahui kebenaran, kalau Ariana adalah anak kandung dari Bibinya Celine.


"Jadi kau sama sekali belum mengetahui, kalau ArIana adalah anak kandung dari Bibimu Celine. Anak yang dia cari selama bertahun-tahun ini Zain?"


Adam, dan Zain saling menatap saat mendengar kenyataan yang dikatakan Rani. Kalau Ariana adalah putri kandung, yang dicari Bibi Celine selama ini.


"Anda sedang tidak berbohong, pada kamikan Nona Rani?" Tanya Adam, memastikan.


"Buat apa aku berbohong, toh tidak ada gunannya juga buat diriku. Dan kalau memang kalian masih tidak percaya, bisa tanyakan langsung saja pada orangnya, bukankah kalian tinggal satu atap,"


Zain menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dan terlihat dia begitu syok saat mengetahui kalau wanita yang begitu dicintainya, ternyata adalah anak kandung Bibinya sendiri. Dan sekarang dia tahu kenapa Bibinya sampai jatuh sakit, dan terus menangis. Pasti wanita paruhbaya itu, sangat menyesal dengan perbuatannya pada Ariana.


"Katakan. Apakah kau tetap tidak mau, mengatakan keberadaan Ariana saat ini?"


"Maaf aku tetap tidak bisa. Karena ini permintaannya sendiri."


Beranjaknya dari duduknya, dan memutuskan untuk pulang. Sebab dia yakin, Rani pasti tetap tidak akan mengatakan dimana keberadaan mantan istrinya itu.


"Ayo Adam, kita pulang sekarang. Aku rasa tidak ada gunanya kita berlama-lama disini, karena aku yakin kita tetap tidak akan bisa mendapatkan informasi, dimana Ariana saat ini. Tapi jika takdir mempertemukan kembali aku dengannya, aku akan tetap membawa Ariana bersamaku, sekalipun dia sudah bersama pria lain. Karena selamanya, Ariana hanya milikku." Dengan nada penuh penekanan, dan berlalu begitu saja tanpa pamit pada sahabatnya Rani.

__ADS_1


__ADS_2