
Zain bersama kekasihnya terus saja berbincang, tapi pengusaha tampan itu lebih banyak jadi pendengar setia, saat Cintya menceritakan liburannya selama seminggu diBali. Berusaha untuk tersenyum, saat gadis itu menceritakan cerita lucu, karena sesungguhnya pikirannya tengah berkelana kemana-mana, dan dia tengah memaksakan diri untuk menjadi pendengar yang baik.
Kedua bolamata gadis itu tak sengaja menatap jam dinding yang menempel pada dinding ruang kerja, dan mendapati waktu telah menunjukkan pukul jam satu siang.
"Maaf Sayang, sepertinya aku harus segera pergi." Dengan beranjak dari duduknya.
"Baiklah. Dan hati-hati dijalan, dan juga sampaikan salamku pada Papamu." Zain berpesan, saat Cintya akan bergegas meninggalkan ruang kerjanya.
"Tentu Sayang, kalau begitu aku pergi dulu." Dengan melangkahkan kaki keluar dari ruangan itu, setelah melabukan kecupan singkat pada bibir sang pengusaha.
Adam berpapasan dengan Cintya, saat dirinya akan mengantarkan laporan tahunan pada Tuanmudanya, untuk diperiksa.
"Hallo Adam..?" Dengan senyuman kecil membingkai diwajah cantik Cintya, saat dirinya menyapa sekretaris itu.
"Apakah anda sudah akan pulang Nona Cintya?"
"Iya Adam, sebab aku masih ada urusan yang harus aku bereskan."
"Baiklah Nona, kalau begitu hati-hati dijalan."
"Terima kasih Adam? dan sampai jumpa." Dengan melanjutkan langkahnya setelah obrolan singkat mereka.
Senyuman kecil terus membingkai diwajah Adam, menatap Tuanmudanya yang tengah duduk salasalah satu sofa set dengan tatapan tak biasa.
"Sepertinya hubungan anda, dan Nona Cintya semakin serius saja. Bahkan anda sudah menitipkan salam, pada calon mertua anda Tuan?" Canda Adam yang menggoda Tuanmudanya.
Zain tersenyum palsu, dengan apa yang dikatakan sekretarisnya.
"Ntahlah, sebab aku tidak tau bagaimana hatiiku. Aku hanya berusaha melupakan masalalu, agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Karena bagaimanapun, hidup ini harus tetap berlanjut." kehampaan terlihat jelas dari raut wajahnya, saat kalimat itu terucap dari bibirnya.
"Apakah anda sudah jatuhcinta pada Nona Cintya Tuan?"
Tersenyum getir, karena sesungguhnya dia belum mengetahui perasaannya pada cintya.
"Sepertinya perasaan ini hanya untuk Ariana. Sulit bagiku untuk jatuhcinta lagi pada wanita lain. Saat bersama Cintya semuanya terasa hambar. Tidak seperti ketika aku bersama Ariana, sangat indah. Aku sangat mencintainya walaupun sudah ada Cintya dalam hidupku. Tapi sepertinya Ariana sudah benar-benar ingin melupakan aku Adam? bahkan Rose, yang merupakan sahabat baikya sendiri, tidak mengetahui dimana dia berada. Mungkin karena dia sudah sangat terluka dengan apa yang aku lakukan, jadi dia betul-betul ingin menghilang dari hidupku."
Senyuman kecil membingkai diwajah Adam, dan dia tahu Tuan mudanya memaksakan hatinya untuk menerima Cintya.
"Kalau tidak cinta, kenapa mesti dipaksakan Tuan? itu hanya akan menyiksa banthin anda sendiri. Mungkin anda bisa mencintai wanita lain, selain Nona Ariana. Tidak mesti harus Nona Cintya, jika itu membuat anda tersiksa."
"Aku hanya berusaha bangkit, dan berusaha melupakan masalaluku. Karena bagaimanapun hidup ini harus tetap berlanjut Adam..?"
"Terserah pada anda Tuan, kalau itu adalah salahsatu cara anda agar bisa melupakan masalalu dengan Nona Ariana, dan saya akan selalu mendukung apapun keputusan anda."
Senyuman kecil membingkai diwajahnya, dengan apa yang dikatakan sekretarisnya.
__ADS_1
"Terima kasih, karena selalu ada buatku."
****
Kedua bolamata itu mengedar kesegalah arah, menatap kamar yang sudah beberapa tahun ini kosong.
Jemarinya meraih sebuah bingkai foto, yang masih setia pada tempatnya. Dia tersenyum bangga, seraya mengusap pelan disana.
"Kau sangat hebat Ariana, dan aku sangat bangga padamu. Aku tidak menyangkah kau akan datang, sebagai salahsatu tamu penting dinegaramu sendiri."
Suara deringan telepone tiba-tiba saja terdengar, meraih dari saku celananya, dan melihat nama Ariana disana. Senyum seketika merekah diwajah Rani, seraya menggeserkan icon hijau pada layar ponselnya.
Terlihat wajah mungil yang lebih mendominasi, daripada wajah Ibunya yang berada dibelakangnya.
"Bibi..." Suara yang terdengar memekikan telinga, hingga membuat Rani tersenyum lebar.
"Kau membuat gendang telinga Bibi, nyaris mau pecah." Dengan raut wajah yang berpura-pura kesal.
"Maafkan aku Bibi..?" Dengan wajah sendu, saat mengirah Rani tengah marah padanya.
Rani tertawa kecil, melihat wajah sendu Stefanie yang membuat gadis kecil itu terlihat begitu menggemaskan.
"Manamungkin, Bibi sanggup memarahi keponakan Bibi yang cantik ini."
Seketika wajah sumringah membingkai penuh pada wajah mungil itu, mendengar apa yang dikatakan Rani padanya.
"Benarkah..?!" Dengan berpura-pura terkejut, dengan apa yang disampaikan gadis kecil itu.
"Hemmm..." Dengan menganguk cepat.
"Kau dan Bibimu, bahkan sudah melupakan Mommy. Apakah bisa Mommy bicara dengan Bibimu Sayang..?" Dengan nada memelas, menatap anaknya dengan tatapan memohon.
"ini ponselmu Mommy? dan aku akan pergi kekamarku mengambil boneka." Dengan memberikan benda pipi itu, dan berlalu dari kamar Ibunya.
Senyuman kecil membingkai diwajah Ariana, menatap anaknya yang telah berlalu dari kamarnya.
Kedua bolamatanya kembali tertuju pada layar ponsel, dimana panggilan VCnya bersama Rani tengah berlanjut.
"Kau serius akan datang keIndonesia Ariana? bukankah kau sudah berjanji pada dirimu sendiri, tidak akan menginjakkan kakimu dinegara ini lagi." Rani seketika mengajukan pertanyaan, yang sedari tadi dia tahan.
"Tidak mungkin aku terus lari dari masalaluku, sebab itu sudah menjadi bagian dari hidupku. Lagi pula ini sudah enam tahun, aku meninggalkan Indonesia. Dan aku yakin cepat atau lambat Stefanie pasti akan tau siapa ayahnya, dan jadi tidak ada gunanya aku menutupinya. Dan tujuanku keIndonesia kali ini, sekalian ingin bertemu ayahku."
"Apakah kau sudah tau, kalau dia dan Ibu angkatmu sudah tidak tinggal satu atap lagi Araa? karena berita terakhir yang aku dengar, kalau Tuan David pernah mengugat cerai Nyonya Diana, tapi ditolaknya. Dan ketika ayah angkatmu tetap bersekukuh untuk bercerai, Nyonya Diana mengancam akan bunuh diri jika Tuan David akan menceraikannya. Tapi yang jelas status pernikahan mereka, yang aku dengar sudah menggantung. Sebab ayah angkatmu itu, tidak pernah datang lagi kerumahnya yang berada diJakarta. Tapi dia tetap bertanggung jawab,atas hidup Kakakmu Clara itu berita yang aku dengar."
"Aku sudah tau semuanya Kak Rani, dan alasan apa dia sampai menggugat cerai Ibu angkatku, karena semata-mata hanya membelaku." Wajah sendu, saat kalimat itu terucap dari bibirnya.
__ADS_1
Helaan napas berat, seraya tersenyum getir. Dan teringat akan satu kenyataan yang Ariana belum mengetahui hingga saat ini, yaitu Celine adalah Ibu kandungnya.
"Bagaimana perasaanmu Araa? jika kau mengetahui wanita yang selama ini sudah begitu jahat padamu, adalah Ibu kandungmu sendiri." Rani membathin, membayangkan kalau Ariana sampai mengetahui Celine adalah Ibu kandungnya.
"Kenapa kau melamun kak Rani. Apakah ada yang kau pikirkan?"
Senyuman palsu membingkai diwajahnya, dengan apa yang ditanyakan Rani padanya.
"Tidak, tidak ada yang aku pikirkan." Sangkalnya.
Terus apakah kau sudah siap bertatap muka dengannya? karena kedatanganmu kali ini, sebagai salahsatu tamu penting. Dan aku yakin dia pasti akan mengetahuinya."
Hanya tertawa kecil, dengan apa yang ditanyakan Rani padanya.
"Mau tidak mau. Sebab cepat atau lambat kami pasti akan bertemu juga."
"Aku akan selalu mendukung apapun itu, keputusan mu Araa?'
****
Dua hari kemudian.
Senyuman terus mengembang diwajah sang perancang kenamaan itu, saat kedua kakinya kembali berpijak dinegara asalnya Indonesia, setelah enam tahun lalu dia pergi meninggalkannya. Ada rasa haru dalam diri Ibu satu anak itu, ketika tiba dibandara internasional semua orang terus mengeluk-elukan namanya, dan hal itu sulit diungkapkan dengan kata-kata. Karena kembalinya dia kali ini, bukan sebagai seorang Ariana gadis biasa yang polos, dan lug yang begitu melekat dalam dirinya. Tapi sebagai seorang perancang kenamaan, yang sangat dikenal.
"Nona Ariana...."
"Nona Ariana...." Suara panggilan dari sisi kiri, dan kanan yang terus terdengar, dan Ariana hanya membingkai senyuman diwajah, seraya melambaikan tangan diudara saat mereka memanggil-manggil namanya.
Bidikan kamera tak henti-hentinya memotret dirinya. Meminta tanda tangan, ataupun sekedar mengajak foto bersama, saat dirinya berlalu keluar dari bandara.
"Nona Ariana.. bolehkan kami meminta waktu anda sebentar?" Tanya salah satu wartawan.
"Boleh, tapi hanya sebentar. Sebab aku tidak punya banyak waktu."
"Bagaimana perasaan anda? saat menginjakkan kaki anda kembali ketanah air. Setalah hampir enam tahun, anda meninggalkan negara asal anda Indonesia."
"Sangat bahagia. Itulah perasaanku saat ini."
"Nona, bolehkah kami mengajukan satu pertanyaan lagi?"
"Tentu saja boleh."
"Dari gosip yang beredar, kalau pengusaha Zain Pratama adalah ayah biologis dari putri anda. Apakah itu benar Nona?"
Senyuman yang sedari tadi merekah diwajah cantik Ariana, seketika memudar saat salahsatu dari para wartawan mengajukan pertanyaan yang menyinggung seputar kehidupan pribadinya.
__ADS_1
"Maaf aku tidak bisa menjawab, pertanyaan seputar kehidupan pribadiku. Dan maaf aku harus segera pergi." Jawabnya dengan melanjutkan langkahnya.