Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Telepone dari Ariana


__ADS_3

Kedua kaki itu melangkah ditengah kesunyian, yang menyelimuti apartemen miliknya. Tatapanya beralih kearah kamar Ariana, saat kedua kakinya akan berpijak pada anak tangga menuju lantai dua. Seketika kerinduan menyelimuti dirinya, saat teringat akan sosok Ariana, wanita yang sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri.


Membuka daun pintu yang kebetulan tidak terkunci, dan kedua kakinya melangkah menghampiri sebuah bingkai foto Ariana, yang diletakkan disamping ranjang kingsizenya.


Duduk disisi ranjang, dengan jemari menggapai bingkai foto itu, dan menatapnya dengan tatapan penuh arti, yang menyimpan banyak kerinduan didalamnya.


Tersenyum kecil, dengan jemari membelai lembut wajah Ariana didalam foto itu yang nampak ceria.


"Kau adalah wanita yang kuat Araa?! kalau aku berada diposisimu, pasti aku tidak sekuatmu dirimu menjalani hidup seperti kau jalani ini saat ini. Araa! seandainya saja kau tau, wanita yang selama ini sudah sangat jahat padamu, dan juga sangat membencimu adalah Ibu kandungmu, kau pasti akan sangat terluka. Akupun masih tidak percaya, kalau wanita sebaik dirimu terlahir dari wanita jahat seperti Bibi Celine. Apakah ini yang diinamakan takdir? dan aku sangat sedih jika membayangkan kalau megetahui kenyataan ini." Gumamnya, dengan raut wajah yang menyimpan sejuta kesedihan di dalamnya.


Meletakkan kembali bingkai foto pada tempatnya, dan melangkah pelan menghampiri jendela kamar Ariana. Perlahan tangannya menyingkap tirai yang menggelantung, agar dapat membiarkan sedikit cahaya masuk kedalamnya. Tatapannya lurus kedepan, menatap keindahan kota Jakarta dari gedung bertingkat, hingga suara telepone membuyarkan lamunan Rani.


Meraih ponsel dari saku celananya, dan senyum seketika merekah diwajahnya, saat melihat nama Ariana disana. Menjawab telepone VC itu, setelah menggeser icon hijau pada layar ponsel.


Saat wajah keduanya beradu pada layar ponsel, Rani seketika tersenyum, saat melihat wajah Ariana yang sedikit bertambah chubby.


"Kau bertamabah, gemuk Ariana?"


Mimik cemberut membingkai diwajah calon ibu muda itu, saat mendengar apa yang dikatakan Rani padanya.


"Apakah aku bertambah jelek?"


"Tidak. Sesungguhnya kau bertambah cantik. Bahkan sangat cantik.: Dengan tawa kecilnya, saat melihat raut wajah kesal Ariana.


Araa.." Panggil Rani, yang tiba-tiba berubah serius.


"Ada apa, Nona Rani?"


"Seandainya Tuhan mentakdirkan dirimu, kembali kedalam pelukan mantan suamimu. Maksudku, jika takdir membawamu kembali kedalam pelukan Zain, bagaimana." Tanya Rani yang mencoba untuk menelusuri tentang hati seorang Ariana, karena diapun sudah mengetahui, tentang batalnya pertunangan Zain, dan Clara.

__ADS_1


Tiba-tiba saja tawa kecil membingkai diwajah Ariana, dan hanya dia saja yang tahu arti dari tawa itu. Terlihat sebuah tawa yang memaksa, dengan guratan kesedihan yang bercampur menjadi satu.


"Aku sudah memilikinya dalam hidupku," Dengan tatapan beralih, pada perutnya yang sudah membuncit.


Dan aku tidak membutuhkannya lagi. Buat apa aku kembali bersamanya, kalau tidak ada rasa saling percaya diantara kami. Lagi pula aku sudah sangat bahagia dengan kehidupan baruku disini, dan aku sudah putuskan untuk menetap diAmerika."


Tatapan Rani seketika intens menatap wajah Ariana, pada layar ponsel itu.


"Kau serius?? apakah kau akan menetap diAmerika Araa?" Bertanya, memastikan apa yang dikatakan Ariana tadi.


"Aku sudah memutuskan untuk menetap diAmerika, karena banyak luka yang aku dapat saat berada Jakarta Nona Rani?"


Hembusan napas terdengar berat dari mulut Rani, dan dia mencoba untuk lebih dalam menelusuri tentang perasaan Ariana pada Zain saat ini.


"Apakah kau masih mencintai Zain, Araa?"


"Dia adalah satu-satunya pria yang aku cintai. Mungkin karena dia adalah cinta pertamaku, dan juga ayah dari anakku. Tapi aku sudah putuskan untuk berusaha membunuh perasaan itu, dan memulai kehidupan yang baru diAmerika, bersama anakku nantinya."


"Semuanya berjalan lancar Nona Rani, dan terima kasih karena ini semua berkatmu,"


"Aku melakukan dengan tulus Araa? cukup kau balas dengan tetap menjaga kesehatanmu, karena bagaimanapun kau sedang mengandung keponakanku. Fokuslah pada kuliahmu, kalau ada apa-apa hubungi aku."


"Tentu Nona Rani, aku pasti akan selalu menjaga keponakanmu. Dan sekali lagi terima kasih, untuk semua yang kau berikan." Senyuman kecil, terlihat diwajah cantiknya.


"Sama-sama. Dan kalau begitu aku akhiri panggilan teleponenya, karena ada pekerjaan yang harus aku kerjakan. Bye Ariana..?"


"Bye.. Nona Rani..." Dengan mengakhii, panggilan VC itu.


****

__ADS_1


Dua hari berlalu.


Malam telah menyambut kota Jakarta. Angin malam menerbangkan pepohonan yang berada disektar rumahnya, hingga membuat ranting-ranting yang dikerubuni dedaunan yang lebat terhempas kesana-kemari. Dinginnya udara malam hari, begitu menusuk dimalam itu. Tatapan itu terlempar jauh kedepan, menatap keindahan alam belakang rumahnya yang begitu hijau.


Tatapannya beralih menatap dua lembaran foto, dalam genggamannya. Dimana foto hasil USG Ariana, dan juga foto mantan istrinya.


"Dimana kau berada Araa? dimana aku harus mencari dirimu, sementara dunia begitu luas. Tinggal beberapa bulan lagi kau akan melahirkan, dan aku ingin menemanimu disaat kau berjuang melahirkan putri kita Araa?" Guratan kesedihan, yang terpampang nyata pada wajah tampan itu.


Terdengar suara pintu terbuka, dengan langkah kaki yang berjalan menghampirinya.


"Tuan.."Panggil Adam pelan.


"Ada apa Adam?" Dengan berbalik arah, berhadapan dengan sang sekretris yang sudah berada dibelakangnya.


Tatapan Adam menatap dengan intens wajah Sang Tuanmuda, yang terlihat sendu, hingga membuat pria itu hanya bisa menghela napas dalam, akibat rasa iba pada pengusaha tampan itu.


"Bagaimana keadaan anda Tuan?"


Tersenyum getir, saat mendapat pertanyan itu dari Adam.


"Tanpa aku menjawabnya, kau pasti sudah tau bagaimana keadaanku,"


"Bersabarlah Tuan, saya sangat yakin cepat atau lambat anda pasti akan bertemu kembali dengan Nona Ariana. Dan tadi saya sudah bertemu dengan Nona Bella."


Raut wajah yang terlihat sendu, seketika nampak antusias saat mendengar apa yang dikatakan Adam barusan.


"Katakan. Apakah Bella mengetahui, dimana Ariana berada saat ini?"


"Maafkan saya Tuan. Tapi sepertinya Nona Ariana sama sekali tidak mau siapapun mengetahui, dimana dia berada. Hingga sahabat baiknyapun, sama sekali tidak mengetahuinya. Nona Bella sudah berusaha menghubungi Nona Ariana baik itu lewat telepone seluler, maupun sosial media miliknya, tapi sama sekali tidak bisa. Dan hanya satu orang yang mengetahuinya keberadaan Nona, yaitu Nona Rani. Hanya Nona Rani saja, Tuan?"

__ADS_1


Raut wajah kecewa membingkai diwajah sang pengusaha, saat mendengar apa yang dikatakan sekretarisnya. Dan walaupun dia tidak yakin untuk bertanya pada Rani, saat mengingat bagaiamana karakter Rani yang keras kepala. Tapi demi untuk mengetahui keberadaan wanita yang dia cintai, Zain akan mencoba untuk bertemu dengan perancang busana itu.


"Kita harus menemui Rani. Walaupun sangat tidak mungkin, dia memberitahukan pada kita dimana Ariana saat ini."


__ADS_2