Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Tidak menyangkah


__ADS_3

Terdengar suara ketukan pintu dari Luar, ruang kerjanya. Zain yang sudah tau itu siapa, segera meminta Adam membukan pintu untuk ayah angkat, dari mantan istrinya Ariana.


"Adam buka pintunya."


"Baik Tuan.." Dengan melangkah pelan, menghampiri pintu ruang keja itu.


"Silahkan masuk Tuan David, Tua Zain sudah menunggu anda." Pinta Adam pada laki-laki paruhbaya itu, saat pintu ruang kerja terbuka lebar.


"Terima kasih." Senyuman terbingkai diwajah tua David, seraya melangkahkan kaki kedalam ruang kerja mantan menantunya.


Zain seketika beranjak dari duduknya, begitu David sudah berada didalam ruangannya.


Segera menyapa, saat dirinya sudah bertatap muka dengan pria paruhbaya itu.


Beranjak dari duduknya, dan meminta David untuk duduk disofa set, yang tersedia diruang kerjanya.


"Silahkan duduk Tuan David? ehh.. maksudku Papa..?" Tetap bersikap ramah pada David, karena bagaimanapun dia adalah ayah dari wanita yang dia cintai.


"Terima kasih Nak?" Dengan senyuman kecil diwajahnya, seraya menduduki salahsatu sofa tunggal.


Zain menyandarkan pundaknya, dengan tatapan intes dia menatap wajah yang sudah berkeriput itu dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa, Papa datang mencariku. Pasti ada sesuatu yang penting, hingga Papa datang keperusahaan untuk bertemu denganku."


Hembusan napas terasa berat, saat dirinya akan menyampaikan tujuan apa dia menyambangi perusahaan mantan menantunya itu. Dan David tidak menyangkah, kalau Zain masih menaruh rasa hormat padanya walaupun dia hanya berstatus mantan mertuanya.


"Papa minta maaf, dengan apa yang sudah dilakukan Clara pada rumahtanggamu, dan Ariana. Papa merasa sangat malu, dengan apa yang sudah dia lakukan dengan rumahtangga kalian, hingga membuat kalian berdua bercerai."


Dia menghela napas berat, mendengar apa yang dikatakan mantan ayah mertuanya itu.


"Aku sudah tidak mau memikirkan hal itu lagi. Lagi pula semuanya sudah terjadi. Yang saat ini hanya yang bisa aku lakukan, adalah terus mencari Ariana, dan membawanya kembali padaku. Apalagi saat ini dia sedang mengandung darah dagingku,"


Rasa bersalah semakin menyelimuti diri pria berusia senja itu, dengan apa yang dikatakan Zain barusan.


"Sekali lagi maafkan Clara, Zain? dia dibutahkan cintanya padamu, hingga tidak berpikir baik, atau buruk saat melakukan hal itu pada rumah tanggamu, dan Ariana."


Senyuman palsu membingkai penuh diwajah tampan Zain, dengan apa yang dikatakan David.


"Setidaknya dendamku padanya sudah terbalaskan. Seandainya saja aku tidak memandangmu sebagai Papanya Ariana, pasti aku akan lebih menghancurkan keluargamu. Sebab akibat perbuatanmu, aku menceraikan Ariana yang sama sekali tidak pernah menghianatiku." Nada penuh penekanan, terselip amarah yang teramat sangat.

__ADS_1


Dia seketika mendongakkan kepala, menatap dengan intens wajah Zain yang tengah tersenyum sinis padanya.


"Ja...jadi kau, orang yang sudah..." Dengan menjeda kalimatnya, hingga membuat Zain tertawa kecil saat sudah memahami, apa yang dimaksud oleh ayah angkat dari mantan istrinya.


"Ya. Aku adalah orang, yang sudah menyebarkan video panas Clara, dan rekan bisnisku Piter. Aku sangat mengenal bagaimana Piter, dia adalah pria yang hobby merekam aktifias bercintanya saat melakukan hal itu. Jadi aku sangat yakin, kalau dia pasti tidak akan melewatkan begitu saja tanpa merekam, saat melakukan hal itu dengan Clara."


Guratan kekecewaan terbingkai penuh diwajah tua David, saat mengetahui kalau mantan menantunya itulah orang yang sudah menyebarkan video panas putrinya Clara.


"Kenapa kau melakukan itu, Nak Zain? Papa tau Clara sudah sangat bersalah padamu. Bahkan sangat salah. Tapi kenapa kau harus sampai melakukan hal itu. Kau tau gara-gara video itu tersebar, keluarga Papa sangat malu. Dan Papa harus menjadi buah bibir, diperusahaan tempat Papa bekerja."


"Jadi Papa menganggapku sangat jahat?"


Dia menengadakan kepala, menatap intens Zain.


"Tidak. Papa tidak bilang seperti itu, Papa hanya kecewa kenapa kau harus melakukan hal itu pada keluarga kami."


Tawa kecil terukir diwajah tampan Zain, mendengar apa yang dikatakan David barusan.


Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan senyuman kecil dia menatap pria tua itu.


"Aku sangat berterima kasih padamu, karena kau sudah memberikan salahsatu putrimu padaku, walaupun pada akhirnya aku melukai hatinya. Tapi aku janji padamu, akan membawanya kembali dalam hidupku. Ariana sungguh beruntung memiliki ayah sebaikmu, walaupun kau bukan ayah kandungnya, tapi kau menyayanginya seperti anak kandungmu sendiri. Dan aku sangat menyangyangkan pria sebaik dirimu, hidup diantara dua wanita jahat seperti istrimu Diana, dan juga putrimu Clara."


"Maksudmu apa Nak Zain, Papa tidak mengerti,"


Sekilas dia tertawa kecil, mendengar apa yang ditanyakan David padanya.


"Papa memang sudah tau kehajatan apa yang dilakukan Clara, tapi untuk istrimu, aku rasa Papa belum mengetahuinya sama sekali."


"ISTRI, KEJAHATAN?? apa maksudmu Nak Zain? Papa sama sekali tidak mengerti??"


Dia kembali tersenyum, dan dia meyakini kalau mantan ayah mertuanya itu, belum mengetahui kalau istrinya Diana pernah menjual Ariana ketempat huburan malam.


"Asal kau tau Papa, istrimu yang begitu kau sayangi, pernah menjual Ariana ketempat hiburan malam."


Dia begitu terkejut, dengan apa yang dikatakan Zain barusan. Tatapanya seketika intens menatap Presdir tampan itu, dengan tatapan yang tidak biasa.


"Papa tau kau sangat membenci Clara? bukankah berarti kau ikut memfitnah Ibunya. Memang istriku sangat membenci Ariana? tapi tidak mungkin dia sampai melakukan hal itu pada Ariana putriku."


Senyuman kecil terlukis diwajah tampan Zain, dengan apa yang dikatakan pria paruhbaya itu.

__ADS_1


"Aku tidak memaksakanmu, untuk percaya padaku. Dan akupun baru tau, kalau gadis yang aku selamatkan malam itu, adalah wanita yang aku cintai, dan dia adalah Ariana anakmu."


Raut wajah David berubah pucat, tangan kekarnya mengusap wajah tuanya. Rasa lelah, dan juga kecewa semakin menyelimuti diri dengan kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau tertanya Diana istrinya, pernah menjual Ariana ditempat hiburan malam.


Tatapannya nampak berkabut, akibat airmata yang sudah tergenang akibat rasa kecewa yang teramat sangat pada Diana istrinya.


"Terima kasih sudah mengatakan ini Nak Zain? dan kalau begitu, Papa perimisi dulu," Pamitnya, dengan berlalu begitu saja.


"Hati-hati dijalan..." Zain berpesan, saat kedua kaki David melangkah keluar dari ruang kerjanya.


Dia menghela napas berat, seraya menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi. Ada rasa iba dalam dirinya, mengingat bagaimana sayangnya Ariana, pada ayah angkatnya itu.


"Maafkan aku Araa, aku tau dengan apa yang kukatakan ini, pasti sangat melukai hati ayahmu." Membathin, dengan terselip rasa penyesalan didalamnya.


*****


Langkah kakinya terlihat tergesa-gesa, saat kedua kakinya membawa tubuh itu kedalam rumahnya yang berlantai dua.


Amarah terlihat jelas diwajah David, akan dirinya yang baru saja mengetahui, dengan akan apa yang pernah dilakukan Diana pada Ariana putri angkatnya.


"Diana... Diana..." Kalimat sayang yang biasa terucap tidak terdengar lagi, saat emosi sudah membendung hingga hanya teriakan yang terdengar begitu menggema.


Kedua kaki wanita parubaya itu seketika menghampiri, saat mendengar suara sauminya.


"Ada apa Papa? kenapa teriak-teriak??" Tatapan penasaran pada kedua bolamata itu.


"Katakan padaku."


"Katakan. Katakan apa?" Kedua alisnya bertaut, terselip rasa penasaran didalamnya akan apa yang dikatakan suaminya.


"Katakan. Apakah kau pernah menjual Ariana ketempat hiburan malam?!"


Senyuman palsu membingkai diwajah wanita berusia senja itu, mendengar apa yang ditanyakan suaminya.


"Jadi Papa sudah tau. Memang aku pernah menjual Ariana, karena menurutku dia hanya membuat beban dikeluarga kita saja. Tapi sayangnya, malam itu ada seorang pria yang datang menolongnya, hingga dia lolos saat pria tua itu akan menodainya."


Napasnya naik turun, mendengar apa yang dikatakan Diana. Dia tidak menyangkah, istrinya tega melakukan hal itu pada Ariana. Kepalan tangan terlihat semakinmembungkus, hingga membuatnya melayangkan tamparan pada Diana tanpa dia sadari.


"PLAAKKK"

__ADS_1


__ADS_2