Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Kemarahan.


__ADS_3

Raut wajahnya terlihat begitu penasaran, dengan apa yang baru saja dia dengar. Mambuka aplikasi WA, dan melihat kiriman atas nama Tuan Piter. Saat membukanya, betapa terkejutnya wanita berambut madu itu, hingga bolamata itu nyaris menyeruak dari tempatnya.


Dimana adegan dia, dan Piter saat melakukan hubungan suami istri dihotel bintang 5 terekam dengan nyata,. tanpa ada satupun yang terlewati.


Mengusap kasar wajahnya, dengan sedikit peluh yang sudah membasahi dahinya, akibat rasa kaget yang teramat sangat. Raut wajahnya terlihat pucat pasih, dan dia begitu syok.


"Dia begitu licik, sebenarnya aku harus berpikir dua kali, sebelum berurusan dengan pria itu. Dan bagaimana bisa aku tidak tau, saat dia merekamnya."


Terdengar nada pesan, pada ponselnya. Membuka, dan membacanya, dan sekali lagi Piter mengirimkan pesan padanya, yang membuatnya semakin tik berdaya.


Pesan.


Jika kau tidak datang malam ini, aku akan mengirimkan video ini pada Zain. Dan apakah kau yakin dia masih mau menerimamu, setelah tau kau wanita seperti apa.


Setelah membaca pesan itu, membuat raut wajah Clara terlihat lebih pucat, hingga membuat kedua kakinya tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Membayangkan jika Zain sampai mengetahui dirinya seperti apa, membuat dia begitu frustasi apalagi dia melakukan hal ini, semata-mata hanya untuk kembali memiliki pria itu.


"Tidak. Ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau kehilangan Zain. Aku sudah berjalan sejauh ini, dan aku tidak mau mundur. Mau tidak mau, aku harus bertemu pria brengsek itu!"


Masih larut dalam keresahan yang menyelimuti, beranjak dari duduknya, dan ketika membalikkan badannya, betapa terkejutnnya Clara, saat mendapati Celine sudah berada dibelakangnya, dengan posisi yang sedikit jauh.


Tatapan wanita parubaya itu, menatapnya dengan penasaran, yang tersirat banyak tanda tanya didalamnya.


"Bi..Bibi, sedang apa kau disini?" Bertanya dengan sedikit kegugupan yang melanda, tapi sebisa mungkin dia bersikap tenang.


"Kau sedang tidak menyembunyikan sesuatu, dari Bibikan Clara? karena daritadi yang Bibi memperhatikan, kau nampak gelisah,"


Mendapat pertanyaan dari Celine, membuat Clara gugup, dan terselip rasa panik didalamnya.


Menghembuskan napas sejenak, dan membuat dirinya setenang mungkin, agar Celine tidak mencurigai dirinya.


Dengan senyum merekah diwajahnya, Clara menghampiri Celine, dan bergelayut manja padanya seperti yang biasa dia lakukan.


"Manamungkin ada hal yang aku sembunyikan darimu, Bibi? bukankah sebentar lagi, kau akan jadi mertuaku? jadi manamungkin, ada hal yang aku rasahasiakan."


"Kau yakin?" Dengan tatapan masih menatap Clara, dengan rasa curiga yang masih menyelimuti.

__ADS_1


"Tentu, karena aku tidak mau mengecewakanmu." Jawabnya berusaha untuk tersenyum, dibalik rasa gugup yang melanda diri.


Mendapat jawaban yang meyakinkan, membuat Celine percaya dengan wanita berambut sebahu itu. Senyuman seketika merekah diwajah tuanya, dan mengajak Clara untuk kembali kedalam rumah.


"kalau begitu ayo kita masuk kedalam, Bibi sudah masak yang enak buatmu. Karena sebentar lagi kau akan menjadi menantuku, jadi malam ini Bibi mau kau tidur dirumah ini."


'Maaf, tapi malam ini sepertinya aku tidak bisa menginap dirumah ini Bibi?"


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Celine yang sedikt kaget, dengan penolakan dari Clara.


Senyuman kecil membingkai diwajahnya, berusaha meyakinkan Celine dengan kebohongan yang akan dia katakan.


"Malam ini, teman baikku berulang tahun. Dan dia mengundangku, untuk datang kepesta ulang tahunnya. Jadi maafkan aku Bibi, untuk malam ini aku tidak bisa tidur dirumah ini. Mungkin, lain kali."


"Benarkah?"


"Aku serius, Bibi? buat apa, aku berbohong," Dengan mimik cemberut, bolamata sayu menatap Celine.


"Baiklah, masih ada lain hari. Tapi ajaklah Zain, minta dia menemanimu. Tidak baik kau seorang wanita pergi sendirian, apalagi kejahatan akhir-akhir ini marak terjadi."


"Bibi.." Dengan senyuman manja, diwajahnya.


Bukankah tadi kau memintaku, untuk membiarkan dia menenangkan diridulu? jadi manamungkin, aku mengganggunya,"


****


Detik demi detik terus melangkah, meredupkan matahari yang sedari tadi memancarkan sinarnya secara sempurna, yang mulai terganti, dengan senja yang sebentar lagi akan menyambut malam.


Matanya perlahan mulai terbuka, walapun secara sempuna penglihatan itu belum terpampang nyata, akibat rasa kantuk yang masih mendera.


Perlahan dia bangun, dengan menyandarkan pundaknya pada sandaran ranjang, untuk menopang tubuhnya dari rasa malas yang masih mendera.


Merasakan tubuhnya begitu remuk, akibat pergulatan dengan wanita penghiibur itu semalam, sedetik dia melonggarkan otot-ototnya, dengan merentangkan kedua tangannya. Tatapannya beralih kesisi samping, yang terlihat kosong saat ini. Hembusan napasnya begitu kasar, teringat kembali akan mantan istrinya, yang telah menghianati pernikahan mereka, membuat raut wajah lelaki berkulit eksotis itu seketika memerah.


"Aku tidak menyangkah, akan begitu mencintai wanita murahan, seperti kau Ariana!!"

__ADS_1


Larut dalam kemarahan sesaat, kemudian menurunkan kedua kakinya, ditengah langkah yang masih terasa berat. Pria itu melangkahkan kakinya, menuju ruang ganti yang bersebelahan dengan kamar mandi.


Tatapan matanya sekilas terlempar, pada sebuah lemari kecil yang berada disudut ruangan, dan itu mengingatkan dia pada Ariana.


Tangannya meraih gagang sebuah lemari besar, dan membukanya. Kedua alisnya sedikit menyurut, saat tidak melihat pakaian-pakaian mantan istrinya sudah tidak berada disana.


"Dimana pakaian-pakaiannya? dan kapan dia mengambilnya?" Bertanya pada diri sendiri, dengan rasa penasaran yang melanda.


Suara pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Sophia sang kepala pelayan, yang membawa setumpuk pakaian kedalam ruang ganti.


"Bibi Sophia, dimana pakaian wanita itu?!" Dengan intonasi, yang sedikit meninggi.


"Wanita? wanita siapa, yang anda maksud Tuan?" Tanya Sophia, yang tidak paham apa yang dimaksud Tuanmudanya itu.


Hembusan napas jelas terdengar, berusaha meredam emosi yang masih mengusai diri.


"Siapa lagi, kalau bukan wanita murahan itu!"


Sophia menyulum senyum diwajah Tuanya, saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Zain, dengan menyebut Ariana, sebagai wanita murahan.


"Tuan, anda akan menyesal karena sudah menceraikan wanita sebaik Nona Ariana. Tuan memang jauh lebih mengenal Nona dari pada Bibi, tapi Bibi punya keyakinan kalau Nona Ariana tidak pernah melakukan hal serendah itu. Dan dia sama sekali, bukan wanita murahan."


Senyuman sinis membingkai diwajahnya, saat medengar apa yang dikatakan Sophia.


"Bahkan sekarang kau ikut, membelanya BIbi? bagiku, dia itu tidak lebih dari sampah!". Dengan nada penuh penekanan, yang mempetegas penilaiannya tentang Ariana saat ini.


"Dan Tuan akan sangat menyesal, jika tau seberapa setia, dan cintanya Nona, pada anda,"


"Tadi Bibi mengatakan Dia mencintaiku?" Senyuman sinis membingkai disudut bibirnya, karena merasa lucu, saat mendengar apa yang baru dikatakan pelayan rumahnya itu.


Kalau dia mencintaiku, tidak mungkin dia tega menghianatiku, dengan tidur dengan laki- laki lain. Dan sampaikanpun, aku tidak akan pernah membiarkan dia hidup tenang." Ucapnya dengan kemarahan yang terlukis penuh dwajah tampannya, dan berlalu dari ruangan itu.


Melihat kemarahan Tuanmudaanya, membuat Sophia hanya bisa mengelus dada, karena terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan pria itu.


"Sebegitu bencinya dia pada Nona Ariana, dia sedang dibutakan oleh kemarahannya, sampai tidak bisa melihat fakta yang sebenarnya. Dan itu membuatnya akan sangat menyesal suatu hari nanti, karena saat ini Nona sedang mengandung dara dagingnya."

__ADS_1


Ada sedikit gangguan, jadi sudah malam baru upp. Jadi MAAF.


__ADS_2