Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Ingin tampil cantik.


__ADS_3

Raut wajah Clara terlihat begitu kesal, melihat kedekatan Ariana, dan juga sahabat dari mantan kekasihnya, Rani.


"Bahkan sekarang Ranipun ikut mendukung, hubungan anak pungut itu, dan Zain. Liat saja nanti, bagaimanapun caranya aku akan tetap memisahkan mereka berdua."


****


Lalu lintas pagi itu, terlhat begitu ramai. Dengan hiruk pikuk aktifitas penggunanya dipagi ini.


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang dari dua puluh menit, ditengah kemacetan lalulintas pagi hari, kini tibahlah mereka disebuah boutique dengan bangunan dua lantai, yang terlihat begitu megah dengan belogo RN, pada depan bangunan tersebut.


"Untuk apa kita kesini, Nona Rani? bukankah ini, bouitiquemu?" Bertanya, dengan tatapan penasaran menatap Rani.


"Kau harus tampil cantik, malam ini. Aku sudah menyiapkan gaun, dan penata rias yang akan merubah penampilanmu malam ini."


Mendengar apa yang disampaikan oleh Rani, bukannya senang, tapi justru wanita berkacamata itu, berniat untuk kabur. Dan saat akan pergi, dengan cepat Rani mencekal tangan Ariana


"Mau kemana, kau?!"


"Aku tidak mau, aku mau pulang!" Dengan berusaha melepaskan tangannya, dari genggaman tangan Rani.


"Kenapa kau begitu bodoh, Culun?? aku ingin membuatmu cantik, tapi kenapa kau tidak mau?!"


"Tentu saja, aku tidak mau. Aku sudah mempunyai gaun, dan aku akan berdandan sendiri saja." Dengan tetap berusaha melepaskan tangannya, dari genggaman tangan Rani.


"Kenapa kau begitu, bodoh!! kau tau CLara pasti akan berdandan yang cantik malam ini, untuk menarik perhatian Zain. Apakah kau mau, suamimu diambil mantan kekasihnya?!"


Ariana seketika diam, dan tampak merenung saat mendengar apa yang dikatakan Rani padanya. Menatap Rani sesaat, seraya mengangukkan kepalanya.


"Baiklah, aku mau."


Senyuman membingkai diwajah Rani, saat mendapatkan jawaban ia dari Araa.


"Baiklah, ayo kita masuk." Dengan menarik tangan Ariana, masuk kedalam boutique miliknya.


Setelah sudah berada didalam boutique, Rani meminta karyawannya untuk membawa gaun hasil rancangannya, yang sudah disiapkannya untuk Ariana.


"Cobalah gaun ini satu persatu, agar aku bisa melihat mana yang cocok untukmu."


Ariana nampak terperangah dengan gaun yang dibawah oleh karyawan dari Rani, yang semua nampak begitu indah. Wanita berkacamata itu, mulai mencoba satu persatu gaun itu, agar Rani bisa menilai, mana yang pas untuknya.


Araa terlihat begitu kesal, sedari tadi dia mencoba gaun rancangan dari Rani, perancang itu selalu menjawab" tidak cocok untukmu"

__ADS_1


"Ayolah Nona Rani, aku sudah lelah. Dari semua gaunmu yang aku coba, kau selalu bilang tidak cocok. Kau pikir, aku tidak lelah apa?!"


"Kau tunggu disini, aku masih punya satu gaun lagi." Dengan bangun dari duduknya, dan berlalu menuju lantai dua bouitique itu.


Beberapa menit kemudian, datanglah Rani dengan membawa sebuah gaun berwarna pink, yang menjuntai kebelakang.


"Gaun ini, sangat indah. Apakah ini, gaun pengantin?" Tanya Ariana yang begitu terkesima, dengan gaun yang dibawah Rani untuknya.


Memukul pelan kepala Ariana, karena menurutnya wanita itu sangatlah bodoh.


"Kenapa kau memukul kepalaku, Nona Rani?? apakah kau pikir ini, tidak sakit?" Dengan mimik cemberut, menatap Rani.


"Ini bukan gaun pengantin, bodoh!! ini gaun yang akan kau pakai, malam ini."


"Apakah kau serius, aku akan memakai gaun indah ini?" Bertanya untuk memastikan, apa yang dia dengar tidaklah salah.


"Iya. Malam ini, kau akan memakai gaun ini Culun?"


"Aku sudah bilang padamu, namaku Araa. Bukan, Culun!" Dengan raut wajah yang terlihat kesal, menatap Rani.


"Maafkan aku, Araa? kalau begitu, cepat coba gaunnya." Dengan memberikan gaun itu pada Ariana, seraya mendorong tubuh wanita itu kedalam ruang ganti.


"Baiklah, baiklah. Aku akan mencobanya, agar kau puas!" Jawabnya kesal, saat Rani memaksanya untuk masuk keruang ganti.


"Aku terlihat sangat cantik, dengan memakai gaun ini. Aku belum pernah memakai, gaun seindah ini. Pasti ini sangat, mahal." Gumamnya, dan segera berlalu keluar dari ruang ganti itu.


"Nona Rani, bagaimana menurutmu? apakah aku cocok, memakai gaun ini??" Bertanya, dengan sedikit berteriak.


Mendengar namanya dipanggil, Rani seketika membalikkan badannya. Senyuman membingkai diwajah disainer cantik itu, saat melihat Ariana yang terlihat begitu cantik, walaupun masih dengan memakai kacamata tebal, dan rambut yang masih dikuncir.


"Culun..., kau sangat cantik. Aku yakin Zain pasti akan semakin jatuhhati padamu, begitu dia melihatmu malam ini."


"Dan semoga saja, kau benar!"


"Ayo kita pergi kelantai dua, untuk bersiap-siap. Aku juga sudah menyiapkan soflent, agar malam ini kau tidak memakai kacamata minusmu ini." Dengan menarik tangan Ariana, berlalu menuju lantai dua.


****


Waktu terus melangkah, hingga mataharipun tak lagi menunjukkan wajahnya. Rembulanpun telah menampilkan senyumannya, ditemani bintang-bintang kecil yang bertaburan dilangit.


Dikediaman mewah berlantai tiga itu, tampak para tamu terus berdatangan, dirumah pengusaha sukses Zain pratama.

__ADS_1


Turun dari mobil, seraya menggandeng manja Ibunya, itulah yang terlihat dari penampakan pasangan Ibu, dan anak, Diana, dan juga Clara. Melangkah dengan percaya dirinya, saat memasuki area pesta yang kebanyakan dihadiri kalangan atas.


Diana mengedarkan pandanganya kesegalah arah saat berada diarea pesta, dan sepertinya wanita paruhbaya ittu tengah mencari seseorang disana.


"DImana Zain, Clara? daritadi Mama tidak melihatnya."


"Ntahlah Maa, daritadi juga aku tidak melihatnya."


Saat melemparkan pandangannya kearah lain, tak sengaja tatapan mata Diana menangkap sosok Zain, yang tengah berbincang-bincang dengan para tamu undangan.


"Itu Zain disana. Ayo kita, hampiri dia."


"Tapi Maa, aku takut dia akan mengabaikan keberadaanku."


"Kau bersama Mama. Jadi tenanglah." Dengan menarik tangan putrinya, menghampiri pengusaha tampan itu.


Raut wajah Zain sedari tadi terlihat begitu gelisah, saat berbicara dengan para tamu, tatapan matanya terus mengedar kesegalah arah, dan nampak sedang mencari seseorang.


"DImana siCulun itu! apakah dia pergi menemui Bosnya, yang tidak tau malu itu?!" Bathinnya, dengan kegelisahan yang teramat sangat.


"Anda baik-baik saja, Tuan Zain? sepertinya anda kurang sehat." Tanya salahsatu, rekan bisnisnya.


"TIdak Tuan Piter, aku baik-baik saja."


Adam menghampiri Bosnya, dan berbisik pelan ditelinga pria itu.


"Saya sudah mencari Nona kemana saja Tuan, tapi tidak ada yang tau keberadaannya."


Menghembuskan napas yang terasa sesak didadanya, berusaha menahan rasa kesal dalam dirinya.


"Siculun itu, mulai cari masalah denganku. kemana perginya dia! kata para pelayan tidak melihatnya, dari tadi pagi."


"Saya juga tidak tau Tuan, tapi coba kita tunggu sebentar lagi."


"Selamat malam, menantuku?" Sapa Diana, dengan senyuman diwajahnya.


"Malam, Ibu mertua."Jawab Zain, datar.


"Zain, dimana Ariana. Dari tadi, Mama tidak melihatnya."


"Dia sedang berada, didalam." Jawab Zain, berbohong.

__ADS_1


"Apakah kau yakin? karena tadi aku melihatnya, keluar bersama seorang pria." Celah Clara, yang berusaha memanasi Zain.


"Apakah kau serius, anakku??" Tanya Diana, dengan berpura-pura terkejut.


__ADS_2