Terjerat Cinta Si Culun

Terjerat Cinta Si Culun
Menampar Clara


__ADS_3

Buliran being terus mengalir dari kedua sudut mata Diana, saat melihat video pemberitaan anak perempuannya, dan seoarang pengusaha tentang video panas mereka yang disiarkan oleh salahsatu channel televisi.


"Clara...Clara... apa yang sudah kau lakukan. Kau sudah membuat malu keluarga kita. Bagaimana kalau Papa sampai tahu semua ini Clara? bagaimana..?" Gumamnya, disela isak tangis.


Raut wajah memerah seketika membingkai penuh diwajah tua itu, dan beranjak dari duduknya menyambangi kamar Clara, setelah menyambar ponselnya yang berada diatas meja.


Langkah kaki itu terlihat tergesa-gesa, saat kedua kakinya membawa dirinya melewati setiap barisan anak tangga, menuju lantai dua. Ketika sudah berada didepan kamar putrinya, Diana segera mendorong pintu kamar dengan sangat kasar, akibat emosi yang sudah berada diubun-ubun.


Clara menatap heran Ibunya, yang tengah melangkahkan kaki menghampiri dirinya dengan raut wajah yang tidak beersahabat. Raut wajah Clara terlihat pensaran, dengan sikap tak biasa Mamanya saat menyambanginya.


"Ada apa Mama? apakah ada sesuatu yang terjadi?"


Tidak menjwab apa yang ditanyakan putrinya. Diana segera mengayunkan tangannya keudara, dan menampar pipi anak perempuannya saat sudah berada didepan Clara.


"PLAAKK" Hingga membuat wajah cantik Clara, seketika berpaling kesamping.


Airmata seketika membasahi kedua pipi mulus wanita berambut pirang itu, saat mendapat tamparan tiba-tiba dari wanita yang sudah melahirkannya.


"Kenapa kau menamparku Mama...?! kenapa...? apakah aku sudah melakukan kesalahan..?" Dengan lingan iirmata, seraya menyentuh pipinya yang terasa nyeri.


Tidak menjawab apa yang ditanyakan putrinya. Akibat emosi yang sudah mengusai diri, sekali lagi Diana melayangkan tamparan pada pipi Clara yang satunya.


"PLAAKK"


"Mamaa..." Dengan airmata yang semakin deras mengalir, saat Diana memberinya sebuah tamparan lagi pada dirinya.


Kenapa kau menamparku Maa? apa salahku...?" Bertanya lagi, dengan deraian airmata yang semakin deras mengalir.


Melemparkan ponselnya pada Clara, yang ditangkap anak perempuannya dengan gelagapan.


"Lihat itu Clara...? lihat...?! apa yang sudah kamu lakukan, bersama Piter..? kau membuat keluarga kita malu. Apakah hanya untuk mendapatkan Zain, kau sampai melakukan hal itu Clara...? bagaimana kalau sampai Papa tau...? bagaimana...? dan pasti sekarang orang diluar sana, sedang heboh menonton video panasmu itu.." Dengan teriakan, dan linangan airmata yang deras mengalis, akibat rasa kecewa yang teramat sangat pada anak satu-satunya itu.


Menatap layar ponsel Ibunya, seketika kedua bolamata itu membelalak lebar, saat mendapati video panasnya, dan Piter yang sudah tersebar didunia maya. Terduduk lemas dilantai, dengan raut wajah yang terlihat begitu syok. Bagaimana bisa dia tidak menyadari sama sekali, kalau Piter ternyata diam-diam selalu merekam aktifitas bercinta mereka selama ini.

__ADS_1


"Maafkan aku Maa? maafkan aku.." Dengan buliran bening, yang terus saja mengalir.


Diana menghampiri anak perempuannya, dan menjambak rambut putrinya, meluapkan semua emosi dalam diri yang begitu membuncah.


"Dasar kau anak tidak berguna Clara..?! kau membuat keluarga kita malu. Bagaimana Mama menghadapi omongan orang diluar sana, apa yang harus Mama katakan pada mereka Clara..?! selama ini, Mama selalu membangga-banggakan dirimu. Tapi apa yang kau lakukan, dibelakang kami.." Dengan terus menjambak rambut Clara, yang membuat kepala wanita itu terayun-ayun kekiri, dan kekanan.


Mendengar suara keributan pada lantai dua kamar anak majikannya, membuat Alma sang pelayan keluarga Mahesa, segera menghampiri. Kedua bolamatanya terbelalak lebar, mendapati apa yang dilakukan majikannya perempuannya, pada putri tunggalnya Clara.


Segera menghampiri, dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Diana yang sangat kuat pada rambut Clara.


"Nyonya, apa yang anda lakukan? lepaskan Nyonya..?! lepaskan...?"


Clara hanya bisa menangis, dengan apa yang dilakukukan Ibunya. Wanita berambut pirang itu, tidak dapat membela diri sebab merasa dirinya sudah sangat salah.


"Kau sangat membuat Mama kecewa Clara? Mama sangat malu, dengan apa yang sudah kau lakukan." Ucapnya dengan kemarahan yang teramat sangat, dan mengayunkan kedua kakinya keluar dari kamar putrinya setelah meluapkan semua emosi dalam diri.


Alma membenahi rambut Clara yang berhamburan, akibat jambakan dari ibunya, Diana. Melihat keadaan Clara saat ini, membuat rasa iba timbul seketika dalam diri Alma sang pelayan, walaupun Clara selalu bersikap semena-mena pada semua pelayan rumahnya.


"Aku sangat malu Bibi.. aku sangat malu. Bagaimana aku harus menghadapi kehidupan diluar sana? bagaimana aku haru bertatap muka dengan orang luar, sementara video panasku sudah tersebar." Dengan airmata yang terus membasahi pipi.


" Waw Clara? ternyata kau sangat hebat diatas ranjang. Bolehkan aku mencobanya denganmu?" Adi.


"Ternyata kau lebih murahan dari diriku, Clara?! Kau sangat hebat, memainkan milk Pria." Dian dan memberi emoji tertawa.


"Aku akan membayarmu dua kali lipat." Riko.


Melemparkan benda pipih itu dengan kasar, dan kembali menumpakan airmata kesedihan.


****


Semua media masih memberitakan video panas, yang baru saja tersebar hari ini. Akibat kecanggihan teknologi, membuat video panas itu cepat merebak luas.


Semua karyawan XXX, dibuat gempar hari ini. Dengan beredarnya video panas, yang melibatkan anak dari salahtu petinggi perusahaan tempat mereka mengais rejeki, yaitu David Mahesa.

__ADS_1


"Apakah kalian sudah menonton video panas, anak dari Tuan David?" Ucap salahsatu karyawan pria, saat dia dan rekan-rekan kerjanya tengah berbincang-bincang.


"Kami sudah menontonya, dan anak perempuannya itu sangat hebat dalam memainkan milik lelaki. Dan apakah Tuan David sudah tidak sanggup mendidik anak perempuannya, hingga putrinya sampai melakukan hal yang memalukan itu." Timpal, salasatu karyawan wanita.


"Iya betul. Dan asal kalian tahu, Piter itu merupakan rekan bisnis dari mantan tunangan putri Tuan David. Dan menurut berita yang aku dengar, kalau hal itu terjadi saat putri Tuan David masih menjalin hubungan dengan Zain Pratama pengusaha sukses itu."


"Benarkah..?" Celah karyawan yang lain, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Iya. Itu berita yang aku dengar."


Kedua kakinya membawa pria paruhbaya itu, kerungannya yang terletak disudut ruanganm, setelah selesai membahas mengenai penjulan produk, pada bagian pemasaran. Langkah kakinya melewati berbagai ruangan, dan sedikit merasa aneh saat tatapan para karyawan kantor menatapnya sebelah mata, dan saling berbisik. Hingga membuat pria bertubuh tambun itu, bertanya pada dirinya sendiri, apakah ada yang salah dengan dirinya.


Membuka pintu ruangan, dan menjatuhkan diri pada kursi kerjanya dengan raut wajah bingungnya.


"Ada apa dengan mereka. Apakah ada yang salah dengan diriku. Saat membahas mengenai masalah produk pemasaran tadi, karyawan-karyawan disana juga, saling berbisik dan sesekali menatap kearahkku."


Saat tengah larut dalam apa yang dia pikirkan, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu. Menegakkan kembali posisi duduknya, dan bersuara.


"Masuk..."


Pintu ruangan terbuka, dan menampilkan sosok Robert yang merupakan orang kepercayaan dari PRESDIR tempatnya berkerja.


"Ada apa Robert?" Menautkan kedua alisnya, menatap penasaran pria bertubuh tegap itu.


"Maaf Pak David? anda dipanggil oleh Pak juan."


Keningnya berkerut, dengan alis yang bertaut yang semakin menambah keriputan pada wajah senja itu.


"Dipanggil oleh Pak Juan..?"


"Iya. Sebab ada hal yang penting, yang ingin beliau bicarakan dengan anda sekarang."


Rasa penasaran semakin menyelimuti diri David, mendengar apa yang dikatakan Robert.

__ADS_1


"Baiklah. Ayo kita keruangannya sekarang." Dengan beranjak dari duduknya, melangkah beriringan bersama Robert dari ruang kerjanya.


__ADS_2