
Zain menampilkan senyumannya, menatap Ariana yang terlihat begitu cantik, dan elegant malam ini.
Dia terus saja menampilkan senyuman diwajah tampannya, tapi tidak dengan Ariana, yang terus saja memasang wajah datarnya.
"Kau sangat cantik malam ini. Tapi cobalah untuk tersenyum, pasti aurah kecantikanmu itu akan lebih terpancar."
"Tidak. Aku tidak mau." Nada yang terdengar tegas, saat nada kasar itu dia lontarkan.
Tersenyum getir, mendengar jawaban yang keluar dari bibir mantan istrinya.
"Kau seperti Stefanie yang tengah merajuk Araa..?"
"Katakan padaku, untuk apa kau meminta aku untuk datang kehotel ini."
Hembusan napas dalam, dengan tatapan sejuta makna didalamnya.
"Ayo kita kebalkon. Aku sudah menyiapkan, makan malam romantis buat kita berdua."
"Makan malam romantis?"
"Iya."
"Aku sama sekali tidak tertarik Zain.." Dengan menyeringai diwajah cantiknya.
"Ayolah Araa... aku bahkan sampai menahan lapar, agar bisa makan malam bersamamu. Dan apakah perlu aku gendong..?" Dia tersenyum penuh harap.
Mendengar apa yang dikatakan Zain, membuat hati Ariana sedikit tersentuh, dan diapun mengabulkan keinginan pria itu.
"Baiklah, aku mau."
Ariana melenggangkan kedua kakinya menuju balkon kamar, Ariana seketika menghempaskan tangan Zain, saat lelaki itu akan menggapai jemarinya.
"Jangan menyentuhku..!!" Dengan wajah juteknya.
Hanya tersenyum, dan melangkah mengikuti Ariana dari belakang.
"Kita lihat saja, setelah ini kau tidak akan pernah bisa lari dariku." Zain membathin dengan senyuman penuh arti.
"Sangat indah..." Ariana bergumam pelan saat tiba dibalkon kamar, dia mendapati pemandangan yang begitu indah lewat balkon kamar itu.
"Kau menyukainya?" Zain berbisik pelan, saat tatapan Ariana mengedari kesegalah penjuru arah dengan tatapan kagum.
"A..ku tidak menyukainya. Bagiku biasa saja." Ariana berucap dengan kebohongannya.
Menampilkan senyum kecilnya, melangkah menuju tempat dimana sudah tersedia menu masakan yang sudah terhidang diatas meja, dan juga sebotol anggur.
"Duduklah..." Zain menark sebuah kursi, agar Ariana melabuhkan tubuhnya.
Tangan kekar itu menggapai botol minuman anggur, dan menuangkan kedalam dua gelas kaca ramping itu.
"Minuman ini beralkohol rendah, jadi kau tidak perlu takut meminumnya." Zain berucap dengan melemparkan senyuman.
"Cepat selesaikan semuanya, karena aku ingin cepat pulang." Nada yang terdengar kesal, saat kalimat itu terlontar.
"Baiklah."
"Setelah semua ini aku minta kembalikan liontin itu, dan juga putriku. Aku ingin kau mengantarnya besok." Nada penuh penekanan, saat kalimat itu terlontar.
"Tentu. Dan aku juga akan mempertemukan kau dengan pria pemilik liontin itu." Jawabnya tersenyum.
Karena tidak ingin menghabiskan waktu berlama-lama bersama mantan suaminya, Ariana segera meneguk anggur merah itu hingga tandas, tanpa meninggalkan setetespun.
"Kau mau lagi..?"
"Tuangkan lagi. Agar aku bisa cepat pergi dari tempat yang membosankan ini."
Zain membingkai senyuman kecilnya, menatap Ariana dengan tatapan penuh arti. Jemarinya menggapai botol anggur, dan menuangkan kedalam gelas milik Ariana. Dan lagi-lagi, Ariana meminumnya tanpa meninggalkan setetespun.
Zain tersenyum jahat, melihat Ariana meminum anggur itu hingga tandas. Karena minuman itu, telah dia campurkan dengan obat perangsang.
"Ada apa denganku. Kenapa aku merasa ada yang aneh tubuhku..?" Ariana bergumam pelan, dengan geilsah yang mulai melanda diti.
"Kau baik-baik saja Araa?" Berpura-pura bertanya, memastikan reaksi obatnya.
"Apa yang kau masukkan pada minuman ini Zain?? kenapa aku merasakan tubuhku begitu panas.."
__ADS_1
"Maafkan aku. Ini salahsatu caraku untuk bisa kembali memilikimu."
"Kau jahat... kau egois Zain... kenapa kau melakukan hal itu... kenapa...?" Ariana berucap dengan sedikit teriakan, dan deraian airmata yang mengalir.
"Maafkan aku Araa... aku terpaksa melakukan hal ini.." Tatapan sendu, pada Ariana yang tengah menangis.
Dengan tubuh yang mulai melemah, Ariana berusaha bangun dari duduknya. Dan melangkah dengan gontai.
"Jangan pergi Araa.." Langkah kaki itu seketika terhenti, saat Zain berucap tiba-tiba.
"Kenapa..?"
"Obat itu dosisnya sangat tinggi. Kau bisa mengajak lelaki siapa saja yang kau temui, agar bercinta denganmu."
Dan tentu saja peringatan itu sama sekali tidak dihiraukan Ariana. Dia tetap mengayunkan kedua kakinya, beruaha keluar dari kamar hotel.
"Berhentilah Araa... aku melakukan hal ini karena aku sangat mencintaimu..?"
Tiba-tiba saja pintu kamar hotel terbuka, dan menampilkan sosok pria muda, yang merupakan salahsatu pegawai hotel, yang tengah mendorong sebuah stroler, berisi ayam panggang, dan juga beberapa menu lainnya untuk makam malam mereka.
Dan benar saja apa yang dikatakan Zain. TIba-tiba saja gairah dalam dirinya seketika menyeruak, saat melihat lelaki muda itu. Dan sangat ingin bagi diri Ariana, untuk mengajak pegawai hotel itu bercinta.
Zain terus saja memantau pada Ariana, yang tengah menatap pegawai hotel itu dengan tatapan laparnya.
"Kami sudah menyiapkan semuanya. Dan semoga saja, makan malamnya lancar." Lelaki muda berucap, dan melangkah keluar dari kamar hotel.
"Zain...." Ariana memanggil dengan suara terdengar seperti desahan, akibat gairah.
"Kemarilah..."
Kedua kaki itu melangkah pelan, menghampiri pada pengusaha kaya itu. Tatapan yang begitu dalam, akibat gairah yang sudah berada dipuncak.
"Sentuh aku Zain... aku tidak bisa menahannya lagi.." Ariana berucap dengan tatapan memohon, pada mantan suaminya.
Lebih mendekat pada Ariana, dan merengkuh penuh pinggangnya, hingga tidak ada jarak yang memisahkan.
"Aku mencintamu Araa.. sangat mencintaimu." Zain berucap dengan pelan, saat melabukan ciuam panjang pada bibir mantan istinya.
Akibat obat perangsang itu, membuat Ariana tidak dapat berpikir jernih. Diapun muali membalas ciuman dari Zain, dan tangannya sibuk membuka setiap helaian yang membalut pada tubuh pengusaha kaya itu. Dan kini tubuh keduanya, sudah tak berbalut apapun. Gairah yang sudah merasuki diri keduanya, membuat Zain dan Ariana segera ingin melakukannya.
Kecupan-kecupan singkat mulai Zain berikan, saat Ariana berada dibawa kukuhannya. Dan hal itu semakin membangkitkan gairah Ariana, sebagai wanita dewasa.
"Baiklah.. aku akan melakukannya sekarang." Dengan langsung menghujamkan miliknya, yang membuat Arana mengerang kenikmatan, saat tubuh mereka menyatu.
Desahan-desahan kenikmatan saling bersautan, keluar dari bibir keduanya, saat acara bercinta mereka tengah berlangsung. Ntah berapa kali mereka melakukan hal itu, saat baru terhenti ketika matahari mulai memancarkan sinarnya.
****
Sinar matahari pagi telah tersenyum menyapa bumi, saat gelap memudar dengan munculnya sang surya.
Kedua kaki itu terayun keluar dari kamar mandi, setelah selesai dengan kegitatan mandi paginya. Dia depan cermin, Zain membingkai senyuman kecil, seraya tangannya mengusap-ngusap kasar rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.
Tatapan itu beralih pada leher yang dipenuhi banyak tanda merah. Dan mengingat bagaimana ganasnya Ariana diatas ranjang semalam, membuat Zain tersenyum kecl. Tiba-tiba saja terdengar suara tangisan, dan diapun segera melangkah keluar dengan hanya menggunakan celana kain.
"Kau sudah bangun...?" Mengayukan kedua kakinya, menghampiri Ariana yang tengah menangis.
"Aku sangat membencimu...!! kau jahat...! kau menejebakku Zain... kau menjebakku..." Dengan teriakan, dan tumpahan airmata yang terus saja mengalir.
"Maafkan aku... maaf..." Ucapnya, dengan raut wajah bersalahnya.
"Maaf... maaf... gampang sekali kau minta maaf, dengan apa yang sudah kau lakukan. Bagaimana kalau aku hamil Zain.. bukankah kau tidak memakai pengaman, saat kita melakukan hal itu.." Airmata terus saja bercucuran, saat kemarahannya Ariana luapkan.
Hembusan napas dalam, dengan jemarinya menggapai sebuah remot.
"Coba kau nonton pada layar televisi itu."
Dengan masih menangis, Ariana memalingkan wajahnya pada layar televisi. Dimana disana menayangkan sebuah acara ulang tahun seoarang wanita paruhbaya, yang wajahnya begitu mirip dengan Zain. Dan diacara itu nampak seorang pria paruhabaya, memberikan kalung berhiaskan liontin, yang dimana sama seperti yang Ariana simpan.
Ariana melemparkan tatapannya pada Zain, dengan tatapan penuh tanda tanya disana.
"Apakah wanita itu adalah Ibumu Zain..?"
"Iya. Dan kau lihat liontin yang dihadiakan ayahku pada Ibuku, sama dengan serpihan liontin yang kau simpan selama ini. Dan ayahku adalah satu-satunya orang Indonesia yang membeli liontin itu."
Mendengar apa yang dikatakan Zain, membuat Ariana semakin diliputi rasa curiga, kalau Zailah pria yang sudah menyelamatkanya. Walaupun dia belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dia kira.
__ADS_1
"Apakah dia pria itu..?"
Zain membingkai senyuman kecil, melihat wajah Ariana yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Kau tonton lagi video ini, maka semuanya akan terjawab." Dan Ariana kembali memalingkan wajahnya, menatap pada layar datar itu.
"Kau mengenal pria itu..?" Zain bertanya saat penayangan selanjutnya, yang menayangkan saat lelaki itu tengah diruang ganti.
"Tentu saja aku mengenalnya. Bukankah itu sibrengsek Zain Pratama??" Nada yang terdengar kesal, saat kalimat itu terlontar.
"Kau tonton dengan teliti, agar kau tau apa maksudku memintamu untuk menonton rekaman yang ini."
Ariana menatap dengan intens, saat adegan-adegan yang Zain lakukan didalam layar datar itu. Bayangannya mulai mengingat sesuatu, melihat gaya berpakian laki-laki yang menolongnya, sama dengan yang Zain pakai.
"Aku memutuskan untuk berpakian kasual, saat akan pergi menemui rekan bisnisku diklup malam. Dan aku selalu memakai kalung, yang diberikan mendiang Ibuku, Dan aku sengaja memakai topi, agar siapapun tidak mengenal wajahku saat masuk kedalam klup itu."
Seketika Ariana melemparkan tatapannya pada Zain, dengan tatapan penasaran.
"Zain.. apakah kau pria itu..?"
"Yaa, akulah orang yang sudah menyelamatkanmu malam itu Araa? akulah pria yang kau cari selama ini.
Saat sudah berada ditempat parkir, aku baru menyadari kalau dompetku tertinggal diruangan VIP itu. Dan memutuskan untuk kembali kedalam, untuk mengambilnya. Saat akan turun kelantai bawah, aku mendengar suara teriakan seorang wanita meminta tolong, dan aku memutuskan untuk menghampiri.
"Jadi kaulah yang sudah menolongku malam itu?"
"Ya.. aku lah pria itu. Pria pemilik liontin yang selama ini kau cari.."
"Zain.. aku bingung.."
Kedua kaki itu seketika bersimpuh didepan Ariana, menatapnya dengan dalam. Zain meraih kalung yang berisi serpihan liontin miliknya, dan juga membuka kotak perhiasan milik Ariana, dan merekatkan kembali menjadi utuh.
"Kalung ini sangat berharga buatku. Karena ini adalah milik dari Ibuku. Saat masih hidup, dia sudah memberikan padaku kalung ini. Dan berpesan, agar aku memberikan pada wanita yang aku cintai."
"Zain..." Ariana berucap dengan tatapan nanarnya.
"Aku tau aku salah. Kesalahan yang aku buat, sudah sangat fatal. Tapi aku mohon padamu Araa... berikan aku satu kesempatan lagi, untuk memperbaiki semuanya. Berikan aku satu kesempatan untuk menjadi suami, dan ayah yang baik buat anak-anak kita nanti. Menikahlah denganku Araa... aku mohon.. menikahlah denganku..." Tatapan penuh harap, saat kalimat itu Zain ucapkan.
"Kau serius dengan apa yang kau katakan ini Zain...?"
"Aku serius, bahkan sangat serius." Zain berucap dengan penuh keyakinan.
"Tapi berjanjilah padaku, kalau kau tidak akan pernah menyakiti, dan juga menghianatiku lagi,"
"Aku janji Araa... aku janji tidak akan pernah aku lakukan hal bodoh itu lagi. Jadi bagaimana..?"
"Bagaiamana apa Zain...?" Ariana menatap dengan bingung.
"Apakah kau mau menikah denganku? karena sekarang aku tengah melamarmu, karena cinta."
Ariana mengusap airmata, dan mengaguk pelan disana.
"Aku mau. Aku mau menikah denganmu Zain?"
Raut wajah sumringah seketika menyelimuti wajah tampan itu, mendengar apa yang Ariana katakan.
"Kau serius Araa..?" Tanyanya seolah tak percaya.
"Ya aku sangat serius." Jawabnya tersenyum.
Zain nampak begitu bahagia. Dia menatap sesaat kalung itu, dan melingkarkan sempurna pada leher wanita itu.
"Apakah sekarang ini adalah milkku Zain...?" Ariana bertanya, dengan jemari menyentuh liontin yang sudah menjadi utuh lagi.
"Ya. Karena kau adalah wanita yang aku cintai." Jawabnya tersenyum.
"Aku mencintaimu Zain..." Ucap Ariana tiba-tiba, yang membuat Zain nampak begitu bahagia.
"Aku juga mencintaimu Araa.. bahkan sangat mencintaimu. Dan terima kasih karena sudah memberi aku satu kesempatan lagi."
Tatapan kedua pasang mata itu menatap dengan dalam, yang dimana hanya ada cinta didalamnya.
"Kemarilah..." Zain melebarkan kedua tangan kekarnya, guna menyambut tubuh Ariana.
Ariana tersenyum, dan segera membenamkan dirinya dalam pelukan pengusaha tampan itu.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu Araa.. sangat merindukanmu." Saat pelukan itu begitu erat dia lakukan.
"Aku juga sangat merndukanmu Zain..." Dengan membalas pelukan itu.