
"Dia berlari di sini"
"Cepat temukan Dia"
Seorang pedagang terlihat begitu kesal ketika dia mencari seseorang yang kabur dari tempatnya.
Pedagang itu memiliki perut yang buncit yang terlihat begitu rakus akan uang dan apapun itu.. pada intinya orang ini terlihat tidak begitu baik. Terlihat dari anak buahnya yang begitu sangar sedang melakukan pencarian.
Tidak jauh dari tempat tersebut terdapat seorang anak kecil sedang bersembunyi di dalam bak sampah. Riak bau sampah masuk ke dalam penciuman anak tersebut. Menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangannya tidak dapat menahan bau tersebut.
Langkah kaki terdengar mendekati tempat persembunyian anak tersebut. Menahan suara nafasnya sedemikian rupa untuk tidak ketahuan.
Langkah kaki tersebut berhenti tepat di bak sampah.
Suara tersebut terdiam begitu lama dan tidak melakukan pergerakan.
Anak tersebut semakin takut akan ketahuan. Jika ketahuan dia pasti tahu apa yang akan terjadi padanya.
Orang itu perlahan membuka bak sampah dan apa yang dia lihat hanyalah sampah dan tidak ada yang lain.
Dia ingin mengulurkan tangannya untuk melihat jauh di dalam sampah.. namun rasa jijik datang menahannya.
"Hei sepertinya dia berlari kearah sini"
Suara orang lain menghentikannya. Dia langsung saja bergegas pergi setelah mendengar itu.
Setelah suara langkah kaki mulai hilang akhirnya anak tersebut keluar dari tumpukan sampah.
"Ha~Ha~"
Suara napasnya tersengal dengan mengerikan. Ketika dia memutuskan untuk masuk lebih dalam dia tidak mendapatkan banyak oksigen di dalam. Oleh karena itu dia bernapas begitu kesakitan.
Menghirup udara dengan perlahan akhirnya dia bisa kembali kesadaran miliknya.
"A-ku.. harus pergi"
Dia berjalan keluar dari bak sampah dan terhuyung ketika berjalan.
Rasa sakit masih dapat dia rasakan ketika dia berusaha kabur dari kejaran mereka.
Berjalan dengan tenang di gang sempit yang tidak tahu arah kemana tujuannya. Hanya ingin menjauh dari orang yang mengejarnya sudah cukup baginya.
Namun perlahan tatapannya mulai mengabur. Lapar, Haus, Kesakitan.. mulai membuat tubuhnya tidak dapat berjalan seperti biasanya.
Kakinya sudah tidak dapat menopang tubuhnya dan seketika itu dia langsung tersungkur ke tanah dalam keadaan pingsan.
...
...
Hidungnya mencium sesuatu yang harum. Dia terbangun dengan cepat ketika dia melihat daerah sekitarnya terlihat begitu asing.
Bukan gang kotor.
Bukan penjara kotor.
Bukan tempat jual budak.
Namun melainkan sebuah rumah dengan dekorasi yang sederhana tidak terlalu mewah namun tempatnya cukup bersih.
Dia bahkan merasakan tempat dia bangun begitu empuk. Ini pertama kalinya dia merasakan kasur dalam waktu yang lama.
"Akhirnya kau siuman" Suara anak kecil terdengar.
Dia melihat kearah pintu terlihat gadis kecil sepertinya seumuran dengan dirinya berjalan mendekati kearahnya. Tangan gadis kecil ini membawa sebuah nampan berisikan sup berisikan gandum dengan aroma yang harum. Segelas susu disampingnya terlihat begitu menyegarkan.
"Ini buatan ibuku jadi aku jamin ini akan enak.. silahkan dimakan" Ucapnya dengan tersenyum ramah memberikan makanan tersebut.
Anak tersebut kebingungan dengan apa yang terjadi namun sebelum dia sempat memikirkan hal tersebut perutnya telah meronta.
Bau makanan di depannya membuatnya tidak bisa menahan lebih lama rasa lapar yang dia rasakan.
Melahap makanan yang diberikan dengan begitu lahap hingga mulutnya begitu penuh dengan makanan.
__ADS_1
Gadis kecil yang melihatnya tersenyum melihat perilaku anak kecil ini..
Setelah selesai makan anak kecil ini menatap kepada gadis yang telah duduk di sampingnya cukup lama.
"Namaku Viale, Siapa namamu ?" Ucapnya dengan riang.
Viale mengangkat tangannya berusaha untuk memberikan jabat tangan perkenalan.
"Namaku Nikky"
Nikky menatap tangan yang telah mengarah kearahnya. Dia ragu-ragu untuk memberikan jabat tangan kepadanya.
Karena dia kotor..
Apakah boleh menjabat tangan kepadanya yang begitu bersih dan cantik ini.
Itulah yang ada dipikirannya.
Seperti memahami apa yang ada dipikiran Nikky, Viale dengan tanggap mengambil tangan Nikky dengan cepat.
"Senang berkenalan denganmu, Nikky" Ucapnya dengan tersenyum begitu manis..
...
...
...
...
...
...
Sudah dua bulan berlalu...
Selama itu Nikky telah membantu dengan baik di toko kue yang didirikan oleh keluarganya Viale.
Keluarga Viale sangat baik kepadanya dan bahkan membolehkan tinggal bersama mereka.
"Bibi, saya telah membelikan tepung seperti yang diperintahkan" Ucap Nikky dengan menggemaskan sambil membawa keranjang yang berisikan tepung yang dia beli.
"Terima kasih Nikky" Ucap bibi yang tersenyum kepadanya.
Dia melihat sekitar namun tidak melihat Viale."Kemana Viale.. bukankah dia bersamamu ?"
"Dia pergi dengan temannya" Balas Nikky dengan tersenyum canggung.
"Ah anak itu.. selalu saja pergi tanpa ijin" Ucap kesal bibi.
Bibi memandang kearah Nikky dengan tersenyum ramah.
"Nikky kau boleh ikut bersama mereka"
"Tapi bibi--"
"Tidak ada tapi.. anak sepertimu memang seharusnya bermain" Ucap bibi dengan mendorong Nikky untuk berjalan keluar. "Bersenang-senanglah bersama temanmu.. karena ketika kau sudah dewasa semua itu tidak dapat kau rasakan lagi"
Nikky berjalan keluar ketika bibi telah memaksanya untuk bermain. Sebenarnya dia tidak terlalu ingin melakukan itu. Namun dia masih menuruti perkataannya.
Bibi terlalu baik kepadanya membuat dirinya tidak nyaman untuk tidak membalas perbuatannya. Jadi dia hanya memutuskan untuk pergi dan mengawasi Viale untuk mereka. Walaupun dia diperintahkan bermain namun dia tidak dapat melakukannya.
Karena perbedaan yang mencolok dengan dirinya dan orang lain.
[Belilah budak murah.. Vampire.. Mereka dapat membantu pekerjaan anda 24 jam.. Hanya memberikan mereka darah ternak untuk makan.. hemat energi.. hemat bahan makanan.. jangan khawatir mereka memakai kalung budak jadi tidak akan memberontak.. Vampire juga bukan dari ras setengah binatang melainkan monster yang meminum darah jadi aman untuk diperjual belikan.. Silahkan beli dengan kami.. Alamat : ..... ]
Selembaran iklan menempel di dinding bangunan. Nikky yang membaca itu hanya dapat tersenyum kecut.
"Monster.."
Itu cukup bodoh ketika manusia memperdagangkan budak hanya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk yang tidak terlihat seperti monster itu sendiri..
...
__ADS_1
Setelah sampai di lapangan bermain dia langsung diajak untuk bermain petak umpet bersama anak yang lain.
Viale dengan cara memaksa membuat Nikky untuk ikut. Nikky hanya bisa menghela napas sedih ketika dia diajak.
...
"Aku menemukanmu!"
Nikky yang bersembunyi di balik pohon dan tidak terlihat begitu antusias dengan permainan petak umpet.
Viale dengan tersenyum ketika dia menemukan Nikky.
"Nikky, sebaiknya kau lebih niat untuk bersembunyi" Ucapnya Viale dengan kecewa kepadanya.
"Jika aku melakukan itu bukankah kamu tidak mempunyai teman untuk mencari yang lain" Balas Nikky dengan datar.
Menyadari perkataan Nikky benar dia langsung merubah ekspresinya.
"Kau benar.. sebaiknya kau tidak perlu berniat bersembunyi" Ucap Viale dengan tegas kepadanya.
"Kau cepat sekali berubah pikiran"
"Lalu kita akan mencari yang lain" Ucapnya dengan ceria.
...
...
Begitulah hal yang terjadi..
Pemandangan yang begitu membahagiakan..
Namun.. hal ini pasti tidak akan terjadi selamanya..
...
...
...
Bersambung...
Ruang curhat pemain..
"Apaan ini thor"-Rian
"Apanya ?"-Author
"Udah lama gak update.. sekali update langsung cerita orang.. ini siapa lagi Nikky" -Rian
"Gak tau.. Nikky saha ?" -Iwan
"Tanya ke pembaca pasti mereka tahu"-Author
"Lama gak update mereka pasti lupa"-Rei
"Ugh!! bisakah jangan membahas update.. aku phobia dengan itu" -Author
"Ketika chapter mencapai 100 episode.. tapi authornya malah update cerita orang.. bukannya ketika 100 episode perlu hal yang menarik gitu kek.. atau ada sesuatu gitu"-Rian
"Gak ada.. apa kau.. tak suka ?"-Auhtor
>>>
100 episode udah yak.. gak kerasa banget ya.. nanti juga gak kerasa tiba-tiba langsung jadi 1000 episode nantinya..
"Kayaknya gak mungkin sampai segitu sih.."-Rian
"Yah sih" -Author
"Sanggah sedikit kek.."-Rian
Like oke.. :')
__ADS_1