Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Kemenangan ?


__ADS_3

Aku sangat lelah.


Semua hal yang aku lakukan selama ini hanyalah bergerak, menghindar dan menyerang.


Skill yang aku gunakan juga selalu menguras banyak energi hingga aku takut ketika sesuatu terjadi aku tidak bisa menggunakan skillku lagi.


Menghela napasku dan memegang erat kedua belatiku walaupun aku tahu belatiku tidak akan lari kemana-mana.


Namun melakukan hal ini membuat perasaanku sedikit tenang.


Iblis yang telah menjadi monster itu membuatku sangat khawatir.


Apakah aku bisa melawannya ?


Ketika aku berpikir seperti itu iblis monster tersebut mulai bergerak menuju kearahku dengan gerakan yang begitu cepat.


Menghindari pukulannya yang datang dari depan dengan melangkah ke samping dengan cepat.


Satu gerakan tangannya berhenti di udara dan langsung berbelok kearahku.


Aku memutar badanku sembari menyerangnya dengan belatiku.


Suara sayatan belati terdengar mengenai kulitnya. Namun kecepatan regenerasinya sangat tinggi hingga hal itu hanya menjadi sebuah serangan yang sia-sia.


Dia membalas seranganku menggunakan sebuah tendangan lurus dari kakinya.


Selagi aku berputar menghindari pukulannya tadi aku tidak memiliki pijakan yang kuat untuk mundur ke belakang.


Aku memanfaatkan kekuatan kabut untuk membuat tubuhku ringan dan itu membuatku dapat dengan cepat mundur.


"Rei! aku akan membantumu dengan seluruh kekuatanku" Matia berteriak dengan keras kepadaku.


Seketika kabut muncul menyelimuti area pertarunganku dengan iblis monster tersebut.


Semua kabut ini begitu tebal menyelimuti kami berdua.


Namun aku masih dapat melihat dengan jelas di dalam kabut ini.


Apakah ini merupakan kekuatan Matia yang dia berikan kepadaku.


Tanpa basa-basi aku memanfaatkan kekuatan ini.


Aku muncul di depan iblis tersebut dan merobek wajahnya dengan belatiku sembari belati kedua mengarah ke arah lehernya namun dia telah melindunginya dengan tangannya.


Karena area fatal dia lindungi membuatku agak frustasi dibuatnya.


Aku kembali melangkah mundur ke belakang memasuki kabut.


"BERUSAHA LAH WALAUPUN KAU TAHU KAU TIDAK AKAN BISA MENGALAHKANKU"


Aku yang mendengar itu menjadi sedikit kesal namun aku berusaha untuk sabar sembari mengulur waktu.


Kabut asap secara perlahan berubah yang awalnya berwarna putih menjadi warna merah pekat yang membuat area sekitar sedikit aneh.


[Anda mendapatkan buff dalam peningkatan serangan selama dalam kabut]


[Waktu kekuatan kabut diperpanjang menjadi 10 menit]


[Pasif tiga orang idiot aktif]


[Kekuatan, kecepatan, pertahanan menjadi tiga kali lipat bertambah]


[Aktif selama 3 menit]


Aku tersenyum.


Ini akan menjadi peluang untuk menang.

__ADS_1


Aku berlari mendekati kearah monster tersebut hingga beberapa dedaunan yang jatuh di tanah bertebaran akibat langkah kakiku.


Kekuatan kabut membuat jarak pandangnya semakin mengecil hingga dia tidak melihat aku muncul.


Aku mengerahkan seluruh seranganku kearah lehernya.


Ketika seranganku akan dekat dengannya tiba-tiba sebuah belati muncul menghalangi seranganku.


Ketika aku melihatnya itu adalah belati milikku yang aku tinggalkan di tubuhnya sebelumnya.


Dia menatap kearahku dengan tersenyum.


Bagaimana bisa dia tahu aku akan menyerangnya dari arah sini.


"AKU MEMANG TIDAK BISA MELIHAT TAPI INDERAKU YANG LAIN MASIHLAH TAJAM"


"Aku tidak menduga itu. Tapi apakah kau juga tahu apa yang akan terjadi setelah ini"


Kabut yang menyelimuti area sekitar tiba-tiba berubah dan memunculkan dua orang yang telah siap menyerang.


Rian dan Iwan.


Satu serangan yang Rian kerahkan datang menuju kepala monster tersebut.


Monster tersebut memiringkan kepalanya dengan rapi untuk menghindar namun sebuah panah yang Iwan kerahkan langsung menancap kearah matanya.


Satu matanya langsung menghilang dan dia menjadi panik mengangkat kedua tangannya untuk menyerang kearah Rian.


Terlambat.


Rian sudah menyalurkan kekuatan sihir dan auranya secara bersamaan di pedang hingga membuat itu menjadi serangan yang begitu cepat.


Kepalanya langsung hilang ditebas lurus oleh Rian.


Kepalanya menggelinding dengan rapi di tanah hingga mengetuk kakiku.


Ketika Rian ingin merayakan kemenangannya tubuh monster tersebut masih berdiri tegak.


Tubuhnya tiba-tiba bergerak kearah Rian yang tidak sadar karena terlalu cepat untuk merayakan kemenangannya.


Iwan langsung datang melindungi Rian dengan tamengnya ketika sebuah pukulan datang dari monster tersebut.


"Rian bodoh, dia masih belum mati!"


"Apa yang terjadi! kenapa tubuhnya masih bisa bergerak ?" Rian bertanya dengan begitu kebingungan.


"Kau bertanya denganku tapi dengan siapa aku bertanya!" Ucap Iwan yang masih sempat untuk membalas perkataan Rian.


"Hei itu perkataanku!"


Aku mulai menyerang kepalanya yang jatuh di dekatku jika seandainya saja dia masih hidup namun ketika aku menusuk bagian kepalanya tubuhnya tidak berhenti untuk bergerak.


"Sepertinya kepalanya bukanlah kelemahannya. incar jantungnya!" Ucapku dengan keras kepada mereka berdua.


"Wow.. apakah ini yang akan terjadi jika kau terlalu bodoh hingga kepala bukan menjadi hal penting dari tubuh" Ucap Rian dengan kagum.


"Berhentilah bercanda dan cepat serang!"


"Akan aku usahakan!"


Rian dengan cepat meluncur menuju tubuhnya untuk menyerang kearah jantungnya.


Namun tangan dari monster tersebut dengan sigap menangkap pergelangan lengan Rian ketika pedangnya satu inci kearah jantungnya.


Iwan dengan sigap mengarahkan panahnya namun niatnya terhentikan ketika monster tersebut dengan pintar melindungi tubuhnya menggunakan Rian sebagai perisainya.


"Bagaimana bisa dia berpikir melakukan itu ketika kepalanya tidak ada" Ucap Iwan yang juga ikut kagum.

__ADS_1


"Bisakah kalian berhenti bercanda!"


Aku dengan sigap muncul di belakang monster tersebut dengan skill [Blink] ku dan menyerangnya dengan tusukan dari belatiku sekuat tenaga kearah jantungnya.


Seranganku berhasil menembus tubuhnya yang mengarah kearah jantungnya.


Namun dia masih bisa bergerak dan melemparkan Rian kearahku.


"Tunggu!"


Brak!


Suara keras dari tubuh kami berdua yang saling berbenturan membuatku mundur beberapa langkah dari sebelumnya.


"Aku tidak menyangka bahwa dia akan menggunakanku sekeji itu!" Ucap Rian sembari mengusap kepalanya.


"[Taunt]"


Iwan dengan cepat meneriaki skillnya Guardiannya untuk membuat monster tersebut datang kearahnya.


Dia mengangkat tamengnya dan menerima dengan keras pukulan yang datang mengarah kearahnya. Hingga terlihat pijakan kakinya semakin mendalam ke tanah.


Aku dan Rian yang melihat itu tidak tinggal diam dan langsung datang membantu.


Kami berdua berlari dengan bersama-sama hingga langkah kaki bersuara seirama.


Aku menundukkan tubuhku untuk menyerang kearah kakinya untuk melumpuhkan pergerakannya dengan belatiku.


Karena aku tahu belatiku tidak akan bisa menembus tumpukan daging yang besar menuju jantungnya.


Oleh karena itu aku memberikan tugas itu kepada orang yang tepat.


Rian langsung loncat menuju tubuh monster tersebut seraya memberikan sihir dan aura di pedangnya.


Tusukan manis kearah jantungnya hingga beberapa darah muncrat mengenai wajah Rian.


Tubuhnya perlahan jatuh dan tidak terlihat tanda-tanda untuk bangkit lagi.


Rian berdiri dengan senang di tubuh monster yang dia kalahkan seraya mengangkat pedangnya dengan tinggi.


Wajahnya yang terkena darah membuat kesan bahwa dirinya tokoh utama yang kuat.


Armor dan pedang yang dia pakai juga memiliki bercak darah yang banyak memberikan bukti bahwa dia mengalami pertarungan yang hebat.


Aku melihat kearah Iwan yang memiliki hal yang sama yaitu bercak darah di tamengnya dan armornya.


Secara perlahan kabut mulai memudar dan memperlihatkan Matia yang tersenyum kearahku.


Aku melihat area sekitar ketika kabut menghilang dan terlihat sangat jelas juga seluruh mayat dari iblis.


Semua iblis telah mati yang dimana sepertinya Rian dan Iwan telah berusaha sangat keras mengatasi mereka semua.


"Apakah ini sudah berakhir ?"


Ketika Rian mengajukan pertanyaan itu tiba-tiba seluruh mayat dari iblis tersebut termasuk monster yang kami kalah tiba-tiba menjadi memerah menyala.


"Tidak!"


Matia kembali menyelimuti Area sekitar di dekat kami dengan kabut yang dimana kini kabut tersebut begitu sangat pekat.


Lalu apa yang terjadi setelah itu..


Itu adalah sesuatu yang tidak aku antisipasi..


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya ya.

__ADS_1


__ADS_2