
Setelah selesai makan..
Yuina akhirnya menceritakan hal yang sama kepada Rian dan Iwan..
Tentang perang yang akan terjadi.. dan juga kondisi ayahnya..
Namun entah kenapa saat dia menceritakan hal tersebut Rian dan Iwan menjadi sedih terharu..
"Kau seumuran dengan kami namun kau sudah menanggung beban seberat itu" Ucap Rian sambil menghapus air matanya.
"Bahkan memikirkan rakyatnya dan tidak dirinya sendiri" Sambung Iwan sambil menghapus ingusnya.
"Ah mungkin jika aku jadi kau mungkin aku tidak sanggup" Ucap Rian dengan dramatis.
"Benar bahkan saat aku seumuran dirimu mungkin aku tidak mungkin kepikiran sampai sana" Sambung Iwan dengan dramatis juga.
Hua.. -_-
Mereka mengatakan hal seperti itu tanpa malu..
Yuina menatap mereka juga terharu dengan apa yang mereka katakan..
Apaan.. ini ?
Apakah aku harus ikut sedih juga..
Setelah beberapa menit terharu..
"Bolehkah saya meminjam kekuatan kalian" Ucap Yuina dengan menatap Rian dan Iwan.
"Boleh... Mungkin itu yang ingin aku katakan namun ini bukanlah hal yang dapat aku putuskan sendiri" Ucap Rian sambil menatap aku dan Iwan..
"Kalau aku sih setuju membantu.." Iwan menatapku lagi..
Sekarang dua idiot sedang menatapku..
Yuina mengingat hal apa yang aku katakan kepadanya juga sama seperti apa yang diucapkan Rian..
Jadi dia sedikit tertawa..
"Kalian begitu dekat satu sama lain"
"Aku bukan Gay"
Aku menghela napasku..
Sebenarnya aku tidak mempunyai alasan untuk tidak membantu.. Karena pada akhirnya perang yang akan terjadi pasti akan mengakibatkan semua orang terlibat..
Baik anak kecil hingga dewasa pasti akan terkena dampaknya..
Mungkin ini terdengar seperti seorang pahlawan.. namun ini bukan berarti aku ingin menjadi pahlawan..
Lagipula aku tidak ingin berakhir mati demi keadilan atau kehormatan yang tidak memberikan arti sebuah kebahagian...
"Aku akan membantu.. namun aku tidak akan sampai mempertaruhkan nyawaku.." Ucapku kepada Yuina.
"Syukurlah.. terima kasih.. bahkan jika kau tidak mempertaruhkan nyawamu bantuanmu pasti akan sangat hebat" Balas Yuina dengan begitu senang.
Aku mengharapkan sebuah kekecewaan namun reaksi yang aku dapat berbeda..
Rian dan Iwan juga mengangguk..
"Kalau begitu sudah di putuskan.. mungkin kami tidak terlalu banyak membantu namun kami akan berusaha" Jawab Rian dengan tampang keren.
"Aku juga" Sambung Iwan.
Aku pikir mereka akan memikirkan hal ini sangat lama karena ini adalah perang..
Namun mengingat bahwa mereka idiot.. Aku cuma bisa menyalahkan diriku karena berpikiran seperti itu..
"Kalau begitu kami akan pulang.. terima kasih atas makanannya" Ucapku sambil bangkit dari tempat duduk..
"Mau kemana kalian ?" Tanya Yuina.
"Pulang" Balasku singkat.
"Mulai sekarang tempat kalian tinggal adalah di istana ini"
"""Eh!??"""
Kami bertiga terkejut akan hal itu..
"Tidak tidak.. ini tidak baik" Ucap Rian dengan panik.
"Benar kami ini laki laki" Sambung Iwan.
"Apa yang kalian khawatirkan"
Saat Yuina berkata begitu mereka mengingat akan keganasan Kina dan Lisa.. Mereka mulai mengkhawatirkan diri mereka sendiri..
"Boleh minta waktunya sedikit" Ucap Rian dengan cepat.
Lalu Rian dan Iwan menyeretku kesamping..
"Rei katakan kita tidak bisa tinggal disini" Bisik Rian.
"Aku takut kita mungkin akan mati sebelum bisa membantu" Sambung Iwan.
Mereka berbicara secara bergantian dengan berbisik pelan..
Aku tidak tahu hal apa yang mereka alami hingga menjadi takut seperti itu.. Namun.. mengingat tinggal disini secara gratis juga tidak buruk.. dan mengingat paman pemilik penginapan.. ugh..
"Sebaiknya kita terima tawaran ini" Jawabku dengan pelan.
"Apa kau gila" Teriak Rian dengan pelan.
"Apa kalian mau bertemu dengan paman mesum di penginapan..?"
"..."
Mereka langsung diam..
Karena pilihan ini sangat sulit..
Untuk kali ini mereka terlihat serius memikirkannya..
__ADS_1
"Lebih baik mati ditangan perempuan"
"Kau benar.. Daripada kesucian diambil dari paman mesum"
Akhirnya mereka memutuskannya.. Aku berbalik kehadapan Yuina..
"Kami akan menerima tawaran milikmu" Ucapku dengan tersenyum.
"Baiklah.. kalau begitu aku akan mengantar kalian ke kamar masing masing"
"Eh kami tidak satu kamar" Seru Rian dengan kaget.
"Sudah aku duga kalian memiliki hubungan seperti itu" Balas Yuina dengan tersenyum canggung.
"Hei aku bukan gay" Jawabku dengan tidak senang.
"Tidak aku cuma khawatir jika saja.." Ucap Rian secara perlahan melirik Kina dengan takut.
Iwan juga ikut khawatir akan hal itu.. mengingat keganasan Lisa..
Kina dan Lisa menyadari tatapan mereka berdua.. mereka hanya bisa tersenyum manis..
""Hiiih"" Teriak mereka berdua..
"Kina Lisa kalian tidak boleh melakukan hal kejam terhadap mereka berdua" Kata Yuina dengan marah kepada mereka.
""Baik tuan putri"" Balas mereka berdua secara bersamaan.
Rian dan Iwan yang mendengar itu akhirnya menjadi tenang.
Setelah itu kami diantar ke kamar masing masing..
Aku terkejut melihat kamar yang diberikan Yuina..
Sungguh begitu mewah..
Tapi yang paling penting itu adalah kasurnya..
Saat aku membenamkan diriku di kasur.. sungguh ini adalah keempukan yang sangat enak..
Mungkin jika aku berebah disini mungkin aku tidak akan bangun lagi..
*Hoam..
Semua kelelahanku hari ini membuatku diriku merasa mengantuk..
Aku menutup mataku dan mulai terlelap tidur..
.....
...
..
Suara kicauan burung dan sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar membuatku bangun.. Namun entah kenapa lembutnya kasur membuatku merasa tidak ingin bangun..
"Rei"
Suara tersebut mencoba membangunkanku dan juga mengoyang goyang tubuhku namun itu tidak berguna..
"Silau..!!"
Aku berteriak sambil menutupi mataku yang kesakitan akibat gelombang kejut cahaya matahari..
"Apa yang kau lakukan.." Ucapku dengan marah.
Saat aku membuka mataku secara perlahan aku melihat Yuina dengan cemberut menatap wajahku..
"Ini sudah pagi dan kenapa kau tidak bangun"
Aku pikir yang datang dan mencoba membangunku adalah kedua orang idiot itu untuk membalas dendam namun ternyata itu adalah Yuina yang membangunkanku..
"Apakah kau ibuku" Ucapku sambil menggosok mataku yang masih mengantuk..
"Hmmph.. Apakah kau yakin tidak ingin di bangunkan oleh gadis cantik seperti diriku"
"Tidak ada gadis cantik yang mengakui dirinya cantik"
"Kau sebaiknya bangun atau kau akan terlambat"
Mengingat hal tersebut aku langsung menyalakan Hpku dan disana menunjukkan jam 06 : 30..
Karena aku tidak memiliki jam tangan karena aku tidak terlalu suka hal yang dapat memberatkan tanganku jadi setiap kali mau mengecek waktu aku harus menyalakan Hpku..
Melihat hal itu mata Yuina langsung menyala dengan penasaran..
"Apakah itu teknologi dari duniamu"
Aku mengangguk..
"Bolehkah aku pinjam"
"Tidak" Jawabku dengan singkat.
Yuina mengembungkan pipinya dengan marah..
"Dasar pelit"
Wah sungguh imut..
Aku menghela napasku lalu aku memberikan Hpku kepadanya.. dia melihat hal itu langsung mengambilnya tanpa ragu..
"Woah ini ajaib.. tanpa sihir ini tetap menyala dan apa kegunaan ini.. woah.. gambar muncul disini"
Yuina melihat itu sangat terkejut..
Aku cuma bisa tersenyum melihat tingkahnya seperti anak kecil..
Setelah melakukan peregangan kecil.. Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan keluar meninggalkan Yuina yang sepertinya sedang keasikan bereksperimen dengan Hpku..
Aku tidak terlalu khawatir akan kehabisan baterai di dunia lain ini karena seseorang ilmuwan telah membuat sebuah powerbank yang dapat diisi dengan tenaga matahari..
Aku berjalan keluar dari kamar dan seketika itu aku melihat Iwan dan Rian terlihat begitu kesakitan.. apa yang terjadi..?
...
__ADS_1
Lima menit sebelumnya di kamar Rian..
Rian tidur dengan gaya telentang ditemani selimut yang begitu hangat dan empuknya kasur menjadi kombinasi untuk membuat dia tidak bisa untuk menahan diri terlelap dari tidurnya.. Air liur pun juga tidak dapat menahan diri untuk tidak jatuh dari mulutnya..
Kina yang melihat itu langsung merasa jijik langsung membuka jendela dengan cepat dan cahaya matahari langsung menerpa wajah Rian..
Namun Rian sudah menyiapkan senjata ampuhnya untuk tidak jatuh kejebakan yang sama karena dia sudah berpengalaman saat Rei membangunkannya... oleh karena itu dia sudah menggunakan penutup mata yang memiliki gambar mata tertutup yang sangat Realistic..Kina tidak tahu akan hal itu..
Kina yang melihat Rian tidak bangun langsung merasa marah..
Dia langsung mengangkat kasur tersebut hingga si Rian terbalik jatuh ke bawah..
Karena kekuatan Kina dia dengan mudah melakukan hal itu..
*grubak
Rian terjatuh dari kasur.. dan badannya langsung terkejut akan hal itu membuat dia merasakan sakit diseluruh badannya..
"Aww... tubuhku kram" Teriak tangis si Rian..
"Hmpph siapa suruh untuk masih bermalasan saat sudah pagi"
"Apa yang kau lakukan" Ucap Rian sambil marah..
Dia membuka matanya yang masih tertutup dengan penutup mata..
Namun saat dia membuka penutup matanya dia langsung bersikap lembut..
"Ah kau benar.. aku yang salah hehe"
"Hmmph cepat bangun dan mandi sana" Ucap Kina dengan kasar..
Rian cuman bisa tersenyum kecut akan hal itu..
...
Lima menit sebelumnya di kamar Iwan..
Iwan tertidur begitu pulas hingga dia meringkuk dengan selimutnya..
Lisa yang membangunkannya cuma bisa tersenyum dengan gaya dia tidur..
"Bangun sekarang sudah pagi" Ucap Lisa dengan lembut..
Iwan mendengar suara tersebut namun dia semakin menutup dirinya dengan selimut..
"Atau kau lebih suka di bangunkan dengan kejam" Kata Lisa dengan tertawa kecil..
Tubuh Iwan langsung merinding dan bangun seketika itu juga.. Namun tubuhnya langsung merasa sakit karena terkejut.. karena jika seseorang bangun tidur tidak melakukan peregangan akan menjadi kram dan sakit...
...
Dan itulah alasan yang terjadi..
Rian dan Iwan melihat Rei yang begitu bugar saat keluar dari kamarnya.. entah kenapa mereka sangat iri dengan Rei..
"Rei mari kita tidur bersama malam ini"
"Aku juga ikut"
"Kalian... aku bukan gay.." Ucap Rei dengan takut..
Bersambung...
Ruang curhat pemain..
"Aku sangat bahagia sekarang" Author
"Apa yang terjadi dengan author" Rei
"Apakah seseorang telah melakukan sesuatu terhadap otaknya" Rian
"Atau pria berotot melakukan hal kasar terhadapnya" Iwan
"Entah kenapa semakin hari kalian semakin tidak sopan denganku" Author
"Terus kenapa author tersenyum seperti orang gila" Rian
"Ini karena kata K" Author
mereka semua kebingungan..
Maaf.. aku lupa bahwa mereka idiot jadi aku akan menceritakan hal ini kepada kalian..
Kau tahu tanda api yang ada disana sudah mencapai 1,5 K.. dan kau tahu artinya..
Ini berarti banyak..
Aku sangat bahagia bahkan jantungku terus berdegup kencang karena bahagia..
Mungkin jika di ujungnya berubah jadi M
Mungkin jantung ini akan terlepas..
Well mungkin ini sedikit berlebihan karena hanya ada tambahan kata K di ujungnya namun ini sangat berarti bagi saya pribadi..
Dan ini juga semacam motivasi untuk terus lanjut..
Mungkin bagi kalian ini cuman angka namun ini jujur mungkin langkah awal bagiku untuk menaklukan dunia haha...
Kata kata Rian yang suka di ucapkannya sekarang diucap olehku haha..
Bahkan saat ada yang bikin Fan art karakter tiga orang idiot ini.. jujur aku senang banget..
Aku ini orangnya suka pesimis jadi aku pikir orang tidak akan suka dengan cerita seperti ini.. jadi kadang2 perasaan takut untuk menulis sering muncul.. namun karena banyak teman dan orang yang datang baca dan komen... jujur aku senang..
ah maaf.. sudah hampir 500 kata hanya untuk menulis ini maaf kepanjangan..
btw tetap suport ya.. like, komen dan vote..
kalian bisa komen apa aja koq misalnya masalah penulisan dan hal yang tidak penting sekalipun.. atau hal yang membuat kalian tertawa di bagian mana..
Mungkin aku ingin mendengarnya dari kalian..
hehe..
__ADS_1
Kalau begitu sampai jumpa next episode..