
Suara kereta kuda yang begitu santai mulai memasuki pemukiman kota yang akan menjadi tempat persinggahan selanjutnya.
Pemukiman tempat mereka singgah cukup dekat dengan pelabuhan yang akan menjadi tujuan akhir mereka untuk menyeberangi lautan menuju benua Iblis.
Seorang pemuda berambut coklat dengan pakaian yang begitu rapi dengan jubah berwarna abu-abu dengan pedang berada tepat disampingnya. Dia memiliki tatapan yang sangat baik dengan wajah yang tampan hingga beberapa wanita pejalan kaki seringkali berhenti untuk melihat wajahnya.
Dia adalah Drian tokoh utama saat ini.
Drian dengan santai menghentikan keretanya tepat di depan pintu pusat perbelanjaan.
Menyebutnya pusat perbelanjaan namun tempat ini hanyalah kota kecil jadi Drian tidak berharap banyak menemukan hal bagus disini.
Namun mengingat persediaan makanan mereka yang mulai menipis maka dia memutuskan untuk berhenti sebentar di sini.
"Kita sudah sampai.. Eh dimana Giva ?" Tanya Drian ketika dia melihat ke dalam kereta kuda yang dia dapati hanya Luna di dalam.
"Gadis itu langsung pergi ketika kita masuk ke dalam kota.. Dia ingin mencari beberapa informasi ucapnya sebelum pergi"
Drian mengangguk.
Giva masih saja memaksakan dirinya untuk menjadi berguna baginya. Walaupun Drian selalu berkata bahwa dia tidak perlu memaksakan dirinya.
Namun tekadnya membuat Drian tidak bisa melakukan apa-apa.
"Mau bagaimana lagi.. mari kita berdua saja"
"Eh!?"
"Kau tidak mau ikut"
"Tidak aku ikut"
Luna tidak memperkirakan bahwa Drian mengajak dirinya.
Jadi dia tidak dapat bereaksi dengan baik akibat hal itu.
Luna turun dari kereta kuda dengan pakaian yang memiliki lapisan kulit yang berfungsi sebagai armornya. Rok yang pendek berwarna hitam dan memiliki pedang bergelantung di pinggangnya.
...
Drian berjalan dengan santai untuk melihat pedagang yang menjual bahan makanan.
Luna sesekali melirik tangan Drian berpikir untuk berpegangan tangan namun dia menggelengkan kepalanya.
Dia tidak memiliki keberanian untuk melakukan itu. Bahkan dia sendiri merasa aneh ketika memikirkan itu.
(Ini bukanlah kencan)
Luna menjadi semakin aneh ketika dia seringkali berdebat dengan Giva tentang siapa yang akan menjadi pertama kali mendapatkan cinta Drian.
Walaupun dia dan Giva seringkali menggoda Drian bersamaan namun ketika dia sedang sendirian bersama Drian saat ini. Dia tidak bisa melakukan itu.
"Seharusnya ini semua cukup untuk keperluan kita"
Drian telah berbelanja dalam waktu beberapa menit dan karena dia memiliki kantong penyimpanan jadi dia tidak perlu ribet membawa kantong belanjaannya.
Drian melirik kearah Luna yang hanya diam saja tanpa berbicara sepatah katapun.
__ADS_1
Drian merasa bersalah karena mengajak dirinya namun dia terlalu sibuk untuk membeli bahan makanan hingga lupa untuk berbicara dengannya.
Drian tiba-tiba melihat kearah aksesoris perempuan yang dijual oleh pedagang.
"Luna mari ikuti aku sebentar"
Drian menarik lengan Luna dengan tiba-tiba hingga jantung Luna ingin melompat.
(A-apa yang terjadi ?)
Ketika sedang bingung dia mendapatkan dirinya di depan penjual aksesoris.
"Luna apakah ada sesuatu yang kau ingin"
"Eh!?"
"Tenang saja aku yang akan membayar"
Luna melihat kearah Aksesoris yang dijual dan merasa bingung dengan apa yang dia inginkan.
Karena dia orang yang tidak terlalu terbiasa dengan hal feminim seperti ini dan terlalu banyak berlatih untuk menjadi seorang petualang.
Jadi dihadapkan dengan pilihan seperti ini membuat dia bingung.
"Bagaimana jika Drian yang memilihnya untukku"
"Eh ? kau yakin ?"
Luna menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Drian melihat beberapa aksesoris dan menemukan sesuatu yang cocok dikenakan oleh Luna.
"Ini seharusnya cocok denganmu"
Drian memberikan langsung kepada Luna.
Luna yang menerima itu senang dengan penuh kebahagiaan.
Drian memberikan kalung berbentuk bulan karena nama Luna memiliki arti bulan.. Oleh karena itu Drian memilihnya.
Drian juga tidak lupa membelikan sesuatu untuk Giva karena dia tahu jika dia melihat Luna memakai kalung tersebut pasti akan ada kecemburuan dihatinya nanti.
Setelah mereka berdua selesai berbelanja seseorang telah menunggu di kereta kuda. Sosok itu adalah Giva.
Giva memiliki rambut berwarna ungu dan mata juga berwarna ungu. Memiliki wajah yang cantik dengan body yang sangat bagus hingga tidak heran jika banyak lelaki yang datang untuk menggodanya.
Ketika Giva melihat Drian dia dengan cepat berjalan menuju kearahnya.
"Sayang, mereka mengangguku"
Giva dengan suara yang sangat manja berkata begitu kepada Drian.
Drian menatap kearah lelaki yang datang menggoda Giva dengan wajah yang penuh intimidasi.
Lelaki yang datang melihat bahwa dirinya memiliki seseorang kekasih disisinya berbalik dengan kesal.
Giva menempelkan dadanya ketika sedang memeluk lengan Drian dengan wajah yang begitu senang.
__ADS_1
Dia sengaja mengambil kesempatan ini untuk merebut kebaikan Drian namun seseorang menyadari niat licik itu menatapnya dengan marah.
"Bisakah kau berhenti menempel dengan Drian"
"Apa yang aku harus aku lakukan jika seseorang datang menggodaku lagi.. Aku gadis cantik dan seksi ini sungguh ketakutan"
Urat kemarahan muncul di dahi Luna dan dengan kesal dia ikut memegang lengan Drian yang satunya.
'Astaga sudah dimulai'
Drian sudah tahu bahwa ini akan terjadi dan dia hanya bisa menghela napas dengan sedih.
Ini sudah menjadi pemandangan biasa yang dilakukan oleh dua orang ini.
...
...
...
Setelah cekcok mulut antara kedua.. Akhirnya perjalanan Drian dapat dimulai.
Karena bahan makanan yang dibeli cukup untuk waktu sebulan maka Drian akhirnya yakin untuk menyeberangi lautan menuju Benua Iblis.
Namun ini akan cukup sulit untuk menyewa kapal mengingat jalur perjalanan menuju Benua Iblis tidaklah mudah.
"Giva.. Apakah kamu telah mendapatkan informasi untuk menyewa kapal ?"
Drian menatap Giva yang memiliki wajah kesalnya ketika Drian bertanya.
Giva kemudian melihat kearah kalung yang dia berikan kepada Luna beberapa menit yang lalu dan sepertinya Drian tahu apa yang menjadi permasalahannya.
Drian menghela napasnya sembari mengambil sesuatu dari kantong penyimpanannya. Drian tahu bahwa ini akan terjadi.. jadi dia telah menyiapkan satu kalung untuknya.
"Aku juga punya kalung untukmu.. ini memiliki bentuk matahari"
Giva menerima kalung dengan bersemangat dan menyukai pemberian Drian.
Giva langsung memakainya dengan bahagia hingga wajahnya berubah begitu imut.
Menyadari tatapan Drian.. Giva langsung merubah wajahnya seperti biasa.
"Terimakasih Tuan.. saya pasti akan menjaganya"
Setelah Giva berterimakasih dia langsung memberikan informasi yang dia kumpulkan dari berbagai orang..
Informasi ini memiliki konten yang begitu sensitif hingga Giva sendiri sangat terkejut dan juga sekaligus marah setelah mendengarnya.
Namun karena dia seorang mata-mata jadi dia pandai menyembunyikan ekspresinya dipermukaan.
Drian yang mendengarkan informasi Giva langsung mengerutkan keningnya dengan dalam atas informasi yang Giva sampaikan.
...
Bersambung...
Informasi apa yang Drian dapatkan ?
__ADS_1
Mah ini cerita klise sih jadi sudah pasti ketebak oleh kalian..
jangan lupa likenya ya ;)