
Cahaya orange bersinar begitu terang di ufuk barat. Perlahan namun pasti matahari mulai tenggelam menandakan sore hari akan menghilang.
Di jalan setapak yang penuh dengan orang-orang berlalu lalang terlihat dua orang anak sedang berjalan menuju rumah mereka.
Dalam perjalanan mereka melihat seorang budak yang jatuh ketika membawa barang bawaan yang terlihat begitu berat.
"Maafkan saya tuan"
Tuan yang dia sebutkan marah dan mendekatinya dengan sebuah cambuk melayang kearahnya.
"Berhati-hati.. ini barang lebih berharga darimu"
Dua orang anak tersebut melihatnya dengan tatapan sedih. Kedua anak ini adalah Nikky dan Viale.
"Itu sungguh kejam"
Menanggapi suara yang datang dari Viale. Nikky dengan cepat menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Mereka adalah budak.. memang sewajarnya mereka diperlakukan seperti itu"
"Nikky!"
Mendengar jawaban yang begitu dingin dari Nikky. Viale menatapnya dengan tajam.
"Dengar Nikky.. walaupun mereka adalah budak tidak sewajarnya diperlakukan seperti itu"
Nikky kembali menatap kearah dimana budak yang sedang tersiksa melakukan pekerjaan berat untuk membawa barang.
"Mereka juga manusia" Sambung Viale dengan suara yang begitu jelas.
Nikky melebarkan matanya dan menatap kearah Viale dengan heran.
"Mereka vampire bukan manusia"
"Darimana kau tahu ?"
"Kau bisa melihat mata mereka.. mata mereka merah dan jika kau melihat dengan jelas di sana juga ada sayap kecil yang mereka sembunyikan dibalik baju mereka" Jelas Nikky kepadanya.
"Tapi.. mereka punya pikiran.. mereka juga punya hati.. mereka punya perasaan.. mereka juga sama dengan kita"
Ketika kami berbicara tuan dari pemilik budak tersebut melihat kearah kami. Karena suara Viale cukup nyaring hingga dapat dia dengar.
"Nak dengarlah.. Mereka vampire bukan manusia.. mereka mirip dengan kita namun tidak akan pernah menjadi manusia.. kau lihat mereka tidak bisa makan apapun selain darah"
"Tapi--"
"Nak, jika kau menyamakan mereka dengan manusia kau pasti dalam masalah.. pasukan kerajaan tidak akan membiarkan kau pergi setelah tahu apa yang kau bicarakan"
Tuan tersebut terlihat marah kepada Viale. Nikky dengan cepat menyela apa yang dibicarakannya.
"Tuan kami hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa selain bermain.. jadi tuan tolong biarkan kami pergi"
Mendengar perkataan Nikky.. tuan ini kembali tenang dan mendengus dengan kesal. "Sebaiknya kalian pulang.. hari sudah mulai malam.. ingat jangan biarkan pikiranmu itu--"
"Kami mengerti tuan.. jadi kami akan pergi"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya Nikky telah memotongnya..
Jika mendengar keluhannya lagi Viale akan ketakutan dengan tatapannya. Bahkan saat ini Viale memegang erat baju belakang Nikky.
Nikky berjalan pergi dengan Viale yang masih memegangi bajunya.
Nikky mengelus kepalanya berharap agar perasaan takutnya hilang.
"Viale seperti perempuan yang lemah" Ucap Nikky dengan tersenyum.
__ADS_1
"Aku memang perempuan!" Balas Viale dengan kesal ketika mendengar perkataan Nikky.
Nikky melihat sekitar dan berkata "Dimana perempuan ?"
"Aku!"
Nikky tertawa melihat wajah kesal Viale yang begitu imut dan perlahan Viale juga ikut tertawa.
...
...
...
Suara tawa yang begitu indah mengisi seluruh ruang makan.
"Mengira monyet sebagai temanmu itu sungguh keterlaluan" Ucap Bibi dengan tertawa sembari meletakkan makanan di meja.
"Aku pikir itu Deril ternyata bukan" Bantah Viale dengan cepat.
"Kau sungguh jahat menyamakan Deril dengan monyet" Ucap Nikky dengan tersenyum mengingat momen dimana disaat bermain petak umpet seekor monyet muncul dari semak belukar.
Viale mengira itu Deril namun itu adalah monyet.
"Deril memang mirip seperti itu.. bahkan ayahnya juga mirip gorrila" Balas paman yaitu ayahnya Viale.
"Sayang, itu tidak baik mengatakan hal jahat seperti itu" Balas Bibi dengan pelan.
"Hei itu fakta.. dan juga kau tertawa akan hal itu"
"Aku tidak-" Ucap bibi dengan menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan tawanya bahkan badannya gemetaran karena menahan itu.
"Lupakan tentang itu mari kita makan" Ucap paman ketika meja sudah penuh dengan makanan.
Momen ini selalu hal yang disukai oleh Nikky.
...
...
...
Ding! Dong! Ding!
Suara lonceng terdengar begitu keras hingga semua orang mendengar hal itu.
Tiga lonceng dipukul memiliki arti untuk berkumpul di alun alun kota. Seluruh warga langsung bergegas pagi itu.
"Bu kenapa kita dipanggil ke sini" Ucap Viale dengan mata yang masih mengantuk.
Cahaya matahari baru saja muncul yang dimana banyak mayoritas orang baru bangun tidur dari kasur empuk mereka.
"Aku tidak tahu juga sayang" Balas bibi kepada Viale.
Nikky melihat dimana panggung yang biasa digunakan untuk menyampaikan pidato kini telah berisikan banyak orang.
Memiliki armor penuh ditubuh mereka dan tidak lupa juga pedang di pinggang mereka.
Mereka membawa seorang perempuan dengan tubuh yang penuh dengan luka lebam.
"Hari ini sesuatu telah terjadi di istana kerajaan"
Wajah ksatria itu menjadi tidak sedap untuk dipandang. Dia menatap kearah perempuan itu dengan marah.
"Raja telah mati"
__ADS_1
Suaranya begitu keras membuat seluruh penduduk membeku dan tidak dapat berkata apa-apa akan berita yang mengejutkan ini.
"Perempuan ini adalah pelayan kerajaan yang telah membunuh raja"
Penduduk masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dan menatap lurus kearah perempuan yang ditunjuk.
"Perempuan ini terkena skill mengerikan dari Vampire yang disebut dengan Charm (Pesona) yang dimana seseorang terhipnotis untuk melakukan apa yang diperintahkan kepadanya"
Perempuan itu hanya diam.
Apakah dia masih dalam skill tersebut atau dia sudah sadar ?.
Perempuan itu secara perlahan tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Kami ksatria kerajaan sekarang melarang Vampire untuk tetap hidup... Mereka adalah makhluk yang berbahaya"
Ketika dia berkata seperti itu seluruh budak vampire dibawa ke atas panggung dengan tangan yang terikat.
Ksatria kerajaan mendekati mereka dengan pedang yang telah dikeluarkan dari sarungnya.
"Ampuni nyawa kami"
"Tidak.."
"Aku masih ingin hidup"
Semua vampire ketakutan dan memohon ampun nyawa mereka bahkan ada juga yang berusaha untuk melarikan diri.
Ada juga yang berusaha untuk melawan namun karena di leher mereka ada kalung budak dan membuat mereka tidak bisa mengeluarkan kekuatan atau skill mereka.
Semua panggung menjadi lautan darah dengan mayat yang terbengkalai dimana-mana.
"Ibu!"
Viale mendekap kearah ibunya dengan takut karena pemandangan yang mengerikan dia lihat.
Seluruh warga tidak dapat melakukan apa-apa dan hanya diam dengan tubuh yang diselimuti keringat dingin.
"Sekarang sudah selesai.. mari kita lanjutkan tahap terakhir"
Para ksatria mengeluarkan sebuah batu merah dari saku mereka.
"Batu ini akan menyala ketika disentuh oleh vampire.. Jadi untuk mencari vampire yang menyamar diantara penduduk batu ini akan menjadi penunjuk.. jadi saya harap untuk tidak keluar dari alun-alun ko--"
Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya seseorang telah berlari keluar dari rombongan warga.
Seketika itu panah langsung menancap di kakinya. Orang yang berlari itu jatuh tersungkur dengan kesakitan.
Kepalanya juga terkena panah dengan cepat tanpa sempat orang itu berteriak kesakitan.
"Jika ada orang yang lari dari alun-alun kota maka dia akan dianggap vampire dan akan langsung dieksekusi di tempat"
Bersambung...
...
Mohon maaf jika cerita ini terbelit-belit. Karena aku ingin membuat chapter ini terlihat berkesan. Walaupun masih ada time skip yang ditandai dengan (...) tiga kali :v
Karena Nikky ini akan menjadi karakter yang mungkin diperlukan dimasa depan.. Mungkin.. :')
Selanjutnya masih cerita Nikky jadi maaf yang nungguin cerita utama tiga orang itu.
Jadi mohon bersabar..
Akankah Nikky jadi teman ataukah menjadi musuh ?
__ADS_1
Like jangan lupa.. ;)