
Di sebuah ruangan yang begitu mewah dengan dihiasi oleh berbagai macam peralatan rumah tangga kelas elite..
Di ruangan itu juga terdapat kasur yang begitu empuk dengan hiasan yang sangat indah.
Seorang gadis cantik bertelinga kucing dan berambut hitam panjang..
Mulutnya meneteskan beberapa air suci yang mengalir lembut..
Wajah tidurnya begitu manis dengan erangan kenyamanan darinya..
(Lembut~)
Saat berpikiran seperti itu dia langsung tersadar bahwa kereta kuda tidak senyaman ini..
Dia langsung membuka matanya..
Penglihatannya masih kabur akibat bangun tidurnya.. hanya beberapa detik dia dapat melihat jelas area sekitar..
Melidia langsung memasang kuda-kuda bertarung takut jika orang yang mengejarnya menangkapnya..
Namun melihat sekitar dia kenal dengan ruangan ini..
"Melidia akhirnya kau sadar ?"
Seorang pria paruh baya dengan pakaian yang begitu mewah dan mahkota yang ada di kepalanya.. rambutnya berwarna hitam dengan telinga kucing..
"Ayah!"
Melidia memeluknya dengan erat dan begitu juga ayahnya..
"Syukurlah kau baik-baik saja" Ucapnya dengan bahagia.
"Ayah dimana orang yang mengantarku ?"
Melidia bertanya tentang tiga orang yang telah menyelamatkannya..
Karena tanpa mereka mungkin dia tidak akan ada di sini..
"Mereka bertiga sudah dimasukkan di penjara"
"Hah!? Kenapa!"
Melidia berteriak dengan keras hingga ayahnya terkejut untuk menutup telinganya..
"Kenapa kau berteriak begitu keras ?"
"Kenapa di penjara ?"
"Bukankah mereka menculikmu ?"
"Jika mereka menculikku kenapa juga mereka harus kembali ke sini ?"
"Kau benar tapi kau tahu beberapa orang begitu sensitif dengan ras manusia--"
"Aku akan segera membebaskan mereka"
"Tunggu dulu.. itu mungkin akan sulit.. hei Melidia!"
Ayahnya belum menyelesaikan perkataannya namun Melidia telah pergi dengan cepat..
"Hah~"
Ayahnya menghela napas dengan berat..
"Aku harap faksi pembenci ras manusia tidak semakin marah akan hal ini"
...
...
...
Aku melihat penjara ini dan berusaha untuk membuka dengan kekuatan namun itu percuma..
Penjara ini memiliki sihir yang begitu kuat untuk membuat penjahat kesulitan kabur..
__ADS_1
Namun sayangnya kita bukanlah penjahat..
"Nah neng cantik.. bolehkah kami keluar ? kami bukan penjahat" Suara Rian memelas dengan sedih kepada penjaga..
"Tidak ada orang yang mau mengaku mereka penjahat.. jika ada maka dunia ini akan menjadi indah" Ucapnya dengan suara dingin miliknya kepada Rian..
"Tapi dunia tidak terlalu bagus jika selalu jujur"
"Apa alasanmu berkata seperti itu ?"
"Celana dalam mu warna apa ?"
Penjaga itu yang merupakan gadis memiliki wajah yang memerah..
"Nah bukankah kejujuran itu tidak terlalu bagus ?" Ucap Rian dengan senang seolah dia pemenang..
"Biru.."
"Apa !?"
"Celana dalamku berwarna biru"
*krek~
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan wajah Melidia yang datang..
Dia terkejut dengan apa yang terjadi dan secara perlahan menutup kembali ruangan..
"Maaf sepertinya aku menganggu.. aku akan kembali lagi nanti" Ucap Melidia dengan panik.
Wajah penjaga langsung memerah padam dengan begitu malu..
Rian berusaha menahan tawa miliknya dengan begitu keras..
Orang idiot ini jika debat masalah hal sepele selalu saja menang.. aku tidak tahu apakah dia sebenarnya pintar atau idiot..
...
...
...
Gadis yang menjadi penjaga kami kembali dalam keadaan tenang seolah tidak ada yang terjadi.
"Kapten penjaga Lily, Bolehkah mereka bertiga dibebaskan.. mereka adalah penyelamatku"
Kapten ?
Penjaga kami adalah kapten dan dia juga seorang gadis.
Dia terlihat seumuran dengan kami namun memiliki gelar kapten di umurnya seperti itu.. aku sangat yakin dia memiliki kekuatan yang hebat.
"Maaf tuan putri.. walaupun mereka adalah penyelamat tuan putri tapi melepaskan monyet tanpa berbulu seperti mereka disini.. entah apa yang akan terjadi"
"Hei kami bisa dengar sarkasmu!" Ucap Iwan dengan agak kesal.
"Yah, itu tidak salah sih karena ekor kita juga ada walaupun bukan di belakang" Balas Rian dengan santai seolah dia orang yang paling pintar..
"Aku yakin itu bukan ekor" Jawabku dengan tersenyum kecut..
"Tidak bisakah kalian diam!" Ucap penjaga itu dengan marah.
Penjaga itu memiliki wajah yang tenang walaupun kulit wajahnya memerah..
"Mengeluarkan mereka akan ada warga yang tidak suka.. mengingat perbudakan pernah dilakukan oleh manusia.. mungkin situasi sekarang berbeda dengan seratus tahun yang lalu tapi tetap saja hal itu masih membekas dihati para warga.. bahkan manusia masih ada yang melakukan perbudakan dengan cara terselubung"
"Kau benar tapi situasi kita saat ini dalam masa kritis.. wilayah kitalah yang paling dekat dengan perbatasan benua iblis.. jika kita tidak menghilangkan rasa permusuhan dengan manusia maka kita yang akan mati"
Melidia menekankan kata 'mati' dengan begitu keras sebelum menatap kearah penjaga itu dengan mata yang tajam..
"Lagipula tidak semua manusia jahat"
Penjaga itu juga memahami hal tersebut.. ras mereka juga tidak semuanya baik.. karena ada juga orang yang sering melakukan kejahatan..
"Baiklah aku akan melepaskan mereka"
__ADS_1
Kami yang dalam penjara ingin berteriak senang namun..
"Tetapi aku akan ikut mengawasi mereka selama ada di kota ini"
...
...
...
Kami akhirnya dapat berjalan bebas keluar dari penjara yang begitu pengap dan juga minimnya cahaya matahari yang masuk..
Hanya beberapa jam saja di penjara sudah membuat hatiku tidak tenang..
Melihat ke langit matahari telah menunjukkan warna orange yang menandakan hari mulai berganti menjadi malam..
"Sekarang dimana kita akan tidur ?" Tanya Iwan kepada kami..
"Aku masih agak trauma ketika tidur di penginapan" Balas Rian dengan memegang tubuhnya..
"Jangan diingat.. aku pun jadi ingat" Sambungku dengan memegang kepalaku..
Itu adalah salah satu ingatan yang ingin aku kubur..
Tapi idiot ini malah mengingatnya..
"Oke kita akan cari penginapan yang gak ada paman berotot" Ucap Iwan dengan semangat..
"Kenapa kalian tidak menginap di tempatku saja" Ucap Melidia dengan senang.
"Tidak.. itu akan merepotkanmu" Ucapku dengan terburu-buru.
"Tidak merepotkan sama sekali"
"Kalian bisa kembali ke penjara untuk tidur kau tahu di sana gratis" Ucap Lily dengan nada kesal.
Aku melihat dimana sang kapten Lily dengan santai mengikuti kami..
Karena dia yang menjadi pengawas kami jadi itu cukup menakutkan..
Apakah dia akan terus ikut bersama kami di kota ini selama 24 jam ?.
Bahkan di kamar mandi ?
"Hei.. Rei.. apakah kau lihat seluruh tatapan warga ke kita ?" Ucap Rian dengan suara gemetar..
Aku yang mendengar hal itu langsung melihat ke sekitar..
Semua orang memandangi kami dengan tatapan yang tidak ramah.. bahkan ada beberapa dari mereka yang terlihat sangat kesal dan marah..
"Tolong! Jangan pasang wajah jelek kalian.. mereka jadi marah kan" Ucapku kepada mereka berdua.
"Hei itu sarkasme baru ?" Tanya Iwan dengan urat kecil muncul di kepalanya..
"Wajah kami sudah seperti ini.. tolong kau juga bercermin" Balas Rian dengan kesal kepadaku..
Aku hanya bercanda tapi mereka beneran marah..
"Sepertinya itu bukan tentang wajah" Ucap Melidia dengan tersenyum kecut..
Bersambung...
..
...
..
Mari kita sambut karakter baru kita kapten Lily.. awaowkoakwok..
Jika kalian menganggapnya heroine terserah kalian juga sih..
Tapi tolong di ingat ya.. aku menambah banyak karakter baru buat menambah seru ceritanya aja..
Mungkin hanya akan menjadi karakter lewat aja dan langsung dilupakan sih..
__ADS_1
Saya juga gak bisa lihat masa depan jadi aku harap menambah karakter akan bagus.. :")
Jangan lupa like ya.. oke..