
Saat aku sedang mencari disekitar untuk menemukan Rian namun tidak lama wajah Iwan juga ikut menghilang..
Liana melihat diriku dengan panik menyadari bahwa Iwan juga telah hilang..
Aku hanya dapat memegang pelipis kepalaku lagi karena memikirkan tingkat IQ keidiotan mereka..
"Rei bagaimana ini!??"
Liana menjadi panik akan hal ini karena dia sepertinya takut bahwa sesuatu terjadi kepada mereka..
Namun aku hanya tersenyum akan hal itu..
"Liana kau tidak usah panik.. yang hilang ini adalah dua orang remaja bukan anak kecil jadi mereka pasti akan baik baik saja"
Liana akhirnya dapat berpikir tenang..
"Kau benar" Balasnya..
Aku berkata seperti itu untuk menghilangkan rasa khawatir Liana.. namun itu berlaku untuk orang normal yang hilang..
Yang kita bicarakan di sini adalah orang idiot..
Aku harap tidak ada hal buruk terjadi kepada mereka..
"Diskon setengah harga barang, ayo dibeli dibeli" Ucap seorang pedagang dengan keras.
Mendengar hal itu para pejalan kaki langsung menuju toko tersebut hingga aku hampir ikut terbawa arus..
Namun tanganku langsung di tarik oleh Liana dan membawaku ke tepi jalan..
"Untung kau tidak ikut terbawa arus" Ucap Liana dengan lega.
Aku melihat Liana yang memegang tanganku..
Liana masih memegangi tanganku langsung sadar apa yang sedang dia lakukan..
Dia langsung melepaskan tangannya dan wajahnya memerah langsung..
"Jangan salah paham ya.. bukan berarti aku memegang tanganmu karena aku mau ya"
Apaan itu..
Aku mendengar hal itu hanya tersenyum..
Akhirnya kata kata tsundere yang ingin aku dengar akhirnya tercapai..
"Apaan dengan senyum itu"
Liana memandangiku dengan marah..
"Haha.." Aku tertawa kecil..
Sesaat itu aku mendengar sesuatu di sebuah gang kecil yang tidak jauh dari tempat kami..
Liana mendengar hal itu juga..
Kami berdua saling mengangguk untuk mencari sumber suara tersebut..
Suara tersebut muncul dari sebuah gang kecil..
Kami memasuki sebuah gang kecil tersebut..
Suasana sangat mengerikan disetiap sudut banyak sekali sampah yang berserakan..
Kondisi dinding bangunan yang ada sangatlah kotor..
Cahaya matahari tidak dapat memasuki gang kecil ini namun bukan berarti kami tidak dapat melihat apa apa..
Karena cuacanya yang begitu cerah masih ada sedikit cahaya yang masuk dari sela sela kecil dinding bangunan..
Aku dan Liana berjalan secara perlahan dan suara rintihan tangisan sekarang dapat terdengar dengan jelas..
...
"Dasar pencuri"
Seorang pria menendang anak kecil yang sedang kesakitan..
__ADS_1
"Tuan tolong hentikan"
Seorang gadis kecil berusaha untuk melindungi anak yang sedang dipukul namun dia tidak dapat menghentikannya dan malah membuat dirinya juga ikut dipukuli hingga dia tersungkur ke tanah..
Liana menjadi marah melihat hal tersebut langsung berjalan mendekati orang yang memukul anak kecil tersebut..
"Apa yang kau lakukan" Ucap Liana dengan marah..
Orang tersebut melihat ke arah Liana..
"Apa yang aku lakukan itu bukan urusanmu" Balasnya dengan teriakan marah.
Karena kegelapan gang ini orang tersebut tidak melihat bahwa siapa yang sedang dia lawan..
Jika seandainya dia tahu bahwa itu adalah Liana yang seorang putri raja..
Apa yang akan terjadi ya ?
Liana yang mendengar itu menjadi marah dan sebuat urat marah muncul di kepalanya..
Liana berjalan mendekatinya dan langsung mengambil pedang yang dimana itu berasal dari kantong penyimpanan miliknya..
Melihat hal itu pria itu langsung ketakutan dan melarikan diri..
Karena dia tahu jika dia melawan pasti tidak akan menang karena dia tidak memiliki senjata apapun..
Liana tidak mengejar pria tersebut dan langsung mendekati anak kecil tersebut..
"Kalian berdua tidak apa apa"
Liana ingin membantunya bangkit namun..
Gadis kecil tersebut dengan kuat bangkit dari tempatnya tersungkur..
"Kami baik baik saja kak terima kasih karena telah menolong kami" Ucapnya dengan terburu buru..
Gadis kecil tersebut membantu anak laki laki tersebut dengan meletakkan tangannya di bahunya dengan kesusahan..
Aku hanya menghela napas melihat bahwa anak ini berusaha tidak menerima niat baik kami.
Gadis kecil tersebut menatapku dengan panik..
"Tenang aku tidak melakukan hal buruk kepadanya"
Aku kembali menatap kearah Liana..
"Arah gereja dimana ?" Tanyaku kepada Liana..
Liana mengerti dengan apa yang aku lakukan jadi dia hanya mengangguk.. "Ikuti aku"
Gadis kecil tersebut juga ikut bersama kami yang dibawa oleh Liana dipunggungnya juga..
"Kakak kenapa menolong kami.. kami hanya anak miskin yang kotor, bahkan pakaian kakak juga ikut kotor karena aku"
Mendengar perkataan gadis kecil tersebut Liana hanya tersenyum..
"Anak kecil seperti kalian tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti itu" Ucap Liana memandanginya lalu Liana tersenyum. "dan juga bajuku kotor masih bisa di cuci kau tahu" Balas Liana disambung dengan tertawa kecil..
Gadis tersebut terkejut dengan apa yang Liana katakan..
Air mata perlahan keluar dari matanya..
"Tunggu apakah ada yang salah ? apakah kau terluka ? Ada yang sakit ?" Liana bertanya dengan bertubi tubi secara panik.
Gadis kecil tersebut menggelengkan kepalanya dan menyapu air matanya..
"Aku baik baik saja" Balasnya dengan tersenyum.
Sepertinya gadis kecil ini tidak pernah merasakan apa yang namanya itu kasih sayang..
Aku hanya bisa menatap langit dengan sedih..
Sepertinya dimana mana dunia memang tidak adil..
Ada yang jahat ada yang baik..
Ada yang miskin ada yang kaya..
__ADS_1
Bahkan banyak yang merasa seperti itu..
Kenapa aku tidak memiliki apa yang mereka punya padahal aku juga sama seperti mereka..
Mungkin banyak yang masih berpikir seperti itu..
Yah memang..
Semua tidak adil..
Itulah dunia..
Saat dalam lamunanku Liana memanggilku..
"Rei.. apa yang sedang kau lamunkan"
"Ya bukan apa apa" Balasku dengan tersenyum..
"Kita sudah sampai" Ucapnya..
Aku akhirnya sadar kalau aku sudah berdiri disebuah gereja yang dimana tempat ini begitu besar..
Aku mengikuti Liana untuk masuk ke dalam dan seorang priest telah melihat kami..
"Tuan putri apa yang bisa saya bantu"
"Tolong sembuhkan anak ini"
Liana menatap kearah gadis kecil yang ada di belakangnya dan juga bocah kecil yang aku bawa..
Priest dengan sigap mengantarkan kami ke ruangan penyembuhan..
Aku merebahkan bocah lelaki yang masih pingsan di kasur..
Aku melihat Priest membaca sebuah mantra dan cahaya muncul dan menyembuhkan luka memar yang ada di bocah lelaki tersebut..
"Dia sudah baik baik saja" Ucap Priest kepadaku..
"Terima kasih"
Priest tersebut mengangguk dan meninggalkan ruang tersebut..
Aku hanya bisa bernapas lega bahwa dia baik baik saja..
Saat aku seumuran dengannya aku hanya tahu bermain dan selalu manja dengan apa yang aku punya..
Namun setelah aku pikir..
Aku termasuk orang beruntung..
Karena masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa melakukan hal itu..
"Hei Rei.. Oi Rei"
Liana mencubit pinggangku dengan keras..
"Aaww sakit"
"Dari tadi apa yang sedang kau lamunkan"
"Aku hanya berpikir bahwa masih banyak anak anak yang mendapat perlakuan seperti ini"
Mendengar hal itu Liana menjadi terkejut..
Liana memberikan tatapan sedih kepadaku..
"Kau benar.. ayahku selalu berusaha agar semua rakyatnya bisa hidup sejahtera namun pada akhirnya raja sekalipun sangat sulit mengurus hal itu mengingat sedikitnya lowongan pekerjaan yang baik membuat banyak orang tidak mampu untuk mengisi perut mereka sendiri" Balasnya dengan suara dibalut dengan kesedihan.
Aku yang mendengar hal itu hanya bisa mengerutkan keningku dan rasa sakit datang ke dalam hatiku..
Selama kau hidup di dunia..
Kau akan selalu merasa berbeda..
...
Bersambung..
__ADS_1