Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Keindahan Cafe


__ADS_3

Aku memasuki tempat dimana cafe yang direkomendasikan oleh Rachel..


Jujur tempat ini sangat nyaman dengan dekorasi yang sangat sederhana ini mengingatkanku tentang cafe yang berada di duniaku..


Kami duduk di meja yang panjang dimana kami semua dapat menempatinya..


Aku memesan kopi dan kue..


Sedangkan Iwan dan Rian.. mereka begitu bingung memesan apa jadinya mereka hanya memesan teh dan kue saja.


"Aku masih terkejut kalian ada di sini, Apakah ada sesuatu sedang terjadi" Tanya Rachel dengan penasaran.


"Kami hanya menemani raja ke sini.." Jawabku dengan santai.


"Raja !?"


Rachel menjadi terkejut akan pernyataan itu..


"Tidak perlu begitu terkejut juga, lagipula ini terjadi karena Yuina, maksudku tuan putri meminta bantuan kepada kami"


"Oh begitu rupanya.. tunggu tuan putri.. kau juga dekat dengan tuan putri"


"Hmm.. dekat tapi tidak terlalu dekat"


"Sialan aku jadi iri.. kau tidak tahu berapa banyak keluarga bangsawan ingin meminang dirinya sebagai istri karena kecantikannya itu"


Rachel menatapku dengan iri.. tapi sebenarnya aku tidak terlalu senang akan pernyataan itu.. lagipula kami dekat juga hanya karena dia meminta bantuan kepada kami..


Bukankah begitu ?..


"Hei Rachel.. berbicara tentang bantuan.. apakah kau bisa membantuku"


"Bantuan ?"


"Tentang orang yang ada di pinggir jalan"


"Kau juga menyadarinya"


Aku mengangguk..


"Selama perjalanan aku melihat mereka begitu banyak"


Rachel meminum tehnya lalu setelah itu dia menghela napasnya.. sebelum berbicara..


"Mereka semua berasal dari desa yang diserang oleh sekelompok monster.. setelah desa mereka di serang mereka melarikan diri ke ibukota untuk meminta bantuan.. namun sayangnya kondisi ini tidak bisa diajukan mengingat terlalu banyaknya jumlah mereka" Ucap Rachel sambil memegang kepalanya.


"Dan juga anehnya tiga desa yang diserang secara bersamaan dari wilayah yang berbeda.. apakah menurutmu ini terlalu aneh ?" Sambung Rachel dengan begitu bingung.


Aku mendengar perkataan Rachel dapat mengerti..


Jika jumlah orang yang terlalu banyak raja sendiri akan kesulitan mengurusi mereka..


"Oh pantas saja aku dikira salah satu dari mereka" Balas Iwan yang sedang mendengarkan.


"Kau terlihat mirip seperti itu.. wajah yang sangat merana itu" Sambung Rian dengan tertawa..


"Sialan.. wajah ini tidak ada hubungan dengan itu.." Balas Iwan yang tidak senang dengan komentar Rian..


"Maafkan aku.. karena tidak tahu" Ucap Charlotte dengan sedih meminta maaf.


"Tidak apa apa.. lagipula melihat gadis sepertimu yang baik kepada siapapun.. sungguh sangat langka aku pikir" Balas Iwan dengan tersenyum.


"Ah terima kasih.." Balas Charlotte dengan malu malu.


"Haha.. Charlotte memang seperti itu.. ketika dia melihat orang kesulitan dia pasti akan membantu.. sungguh beruntung aku memiliki adik sepertinya" Sambung Rachel dengan tersenyum.


"Moo.. Kakak juga ikutan" Balasnya dengan menggembungkan pipinya.


Kami semua tertawa kecil akan hal itu..


"Akan sangat susah namun.. apakah kau punya ide untuk menyelesaikan masalah ini" Tanya Rachel kepadaku.


"Ide.. mungkin satu.. apakah kau masih ingat dengan keripik singkong.."


"Oh yang pernah aku cicipi itu.. aku sudah menemukan itu namun namanya agak berbeda di sini.. itu disebut dengan akar putih.."


"Akar putih ?.. "


"Benar karena saat di kupas warnanya putih.. dan juga itu tidak cocok di makan oleh manusia.."


"Memang singkong sangat berbahaya jika di makan secara langsung namun berbeda jika itu dikelola dengan baik" Ucap Rian yang ada disampingku..

__ADS_1


Aku hanya tersenyum mendengar hal itu..


Karena untungnya Rian memiliki satu bakat yang sangat berguna selain Keidiotannya yaitu memasak..


"Jika ini bisa di jual mungkin akan bisa membantu para pengungsi yang membutuhkan pekerjaan.. mengingat bahan baku ini mudah di temukan dan tidak sulit untuk dikembang biakkan.." Ucapku kepada Rachel.


Rachel langsung memegang dagunya dan berpikir sejenak..


"Baiklah aku akan membantumu.."


Aku tersenyum mendengar hal itu..


"Terima kasih"


"Tidak.. aku yang harus berterima kasih.. karena kepedulianmu terhadap orang lain patut di puji"


"Aku tidak seperti yang kau pikirkan"


Benar aku tidaklah sesuci itu.. bahkan saat aku di duniaku dimana aku melihat pengemis ataupun orang yang tidak berkecukupan.. aku hanya dapat memalingkan wajahku..


Aku tidak bisa membantu apapun..


Tidak ada..


Setelah itu kami mengobrol dengan obrolan santai dan tidak terasa waktu telah berlalu..


"Kami akan pergi.. besok aku akan membawa bahannya nanti kita akan menunjukkannya kepada pengungsi tentang hal itu di balai kota"


"Baik"


"Tapi kau harus minta ijin dengan raja.. takutnya dia akan menuntutku"


"Haha.. tenang saja.. aku yakin raja akan setuju tentang hal ini"


Setelah itu kami berpisah dengan Rachel dan Charllotte..


"Aku ingin beli rempah - rempah tapi aku tidak memiliki banyak uang.. apakah kalian bisa meminjamiku sedikit uang" Ucap Rian dengan malu malu..


Aku mendengar hal itu baru ingat hal terpenting ini..


Keripik singkong tidak akan enak jika tidak ada bumbunya..


"Ide bagus Rian"


"Mari kita beli yang banyak"


Rian begitu senang dengan hal itu..


"Tapi uangku juga tinggal sedikit.. Iwan kau punya uang" Kataku sambil melihat kearah Iwan.


"Aku juga tinggal sedikit"


Aku, Rian dan Iwan hanya dapat menghela napas secara bersamaan..


Mengingat uang yang kami dapatkan ini adalah uang pertama kali yang kami dapat saat menjual rendang saat itu..


Dan penghasilan dari itu kami bagi tiga..


Namun mengingat bahwa uang itu lumayan banyak jadi kami tidak terlalu khawatir sampai saat ini..


Namun ternyata uang ini menjadi begitu penting di saat seperti ini..


"Mari kita pinjam uang dengan raja saja.. mungkin sedikit memalukan tapi mau bagaimana lagi"


Rian dan Iwan hanya mengangguk mengerti..


Kami pun memutuskan untuk pergi namun mengingat bahwa aku meninggalkan Liana sendirian di gereja dalam waktu lama..


Aku harap dia tidak marah karena ditinggal sendirian..


...


...


...


Saat kami sampai aku melihat penjaga gereja dan bertanya dimana Liana..


Ternyata Liana berada di kamar sedang menemani anak kecil tersebut..


Aku melihat Liana yang sedang tertidur di bangku bersama dua anak kecil tersebut yang terlelap tidur di kasur..

__ADS_1


Aku hanya tersenyum melihat pemandangan ini..


Mengingat waktu sudah hampir menjelang sore.. aku menggerakkan tubuh Liana secara perlahan dan dia langsung bangun..


Liana mengucek matanya dan melihat kearahku..


"Ah.. kenapa kau begitu lama" Ucap Liana sambil mencubit pinggangku..


"Aw.. maafkan aku.. sesuatu terjadi membuat kami tertahan"


Aku meringis kesakitan akibat cubitan tersebut..


Liana hanya memalingkan wajahnya dariku dengan marah..


Kenapa dengan dia tiba tiba mencubitku lalu marah - marah tidak jelas..


"Ara apakah kau khawatir dengan kami.. atau kau khawatir dengan Rei sendirian" Balas Rian dengan tersenyum licik..


"Hmmpph itu bukan seperti itu.. lagipula siapa yang mengkhawatirkan pria mesum seperti dia" Balas Liana dengan gaya seperti seorang tsundere.


Aku langsung teringat dengan hal itu..


Saat dimana aku masuk ke kamar mandi dan tanpa sengaja melihat pemandangan yang begitu indah saat itu..


Jujur itu kejadian yang tidak sengaja..


"Apakah sesuatu terjadi diantara kalian" Tanya Rian dengan bingung.


"Tidak ada hal seperti itu" Balasku.


Aku cepat menjawab.. karena hal ini akan membuat diriku malu.. apalagi jika mereka tahu mungkin mereka akan mentertawakanku hingga kotak tertawa mereka habis..


"Apakah paman yang menyelamatkan kami"


Paman ?


Aku menoleh kearah anak laki laki tersebut yang sudah sadar..


"Tolong panggil aku kakak.. setidaknya"


"Maafkan aku paman, maksudku kakak"


Aku sangat yakin dia sengaja melakukan itu..


Lalu gadis kecil tersebut langsung mendekati anak lelaki tersebut..


"Apakah kau merasa baik baik saja, apakah ada yang sakit ?" Tanya gadis kecil tersebut..


"Aku baik baik saja" Balas anak laki laki tersebut dengan tersenyum..


"Aku lupa menanyakan nama kalian.. Namaku Rei lalu--" Belum selesai aku berbicara Rian dan Iwan langsung memperkenalkan diri mereka sendiri.


"Aku Rian, kalian bisa panggil aku kakak tampan"


"Aku Iwan, kalian bisa panggil aku kakak ganteng"


-_-


Aku hanya bisa melihat mereka yang memperkenalkan diri mereka seperti itu tanpa malu..


"Nama saya Ryu"


"Nama saya Irna"


Mereka berdua secara bergantian memperkenalkan namanya.


"Nama yang sangat bagus" Balasku sambil tersenyum melihat mereka berdua.


"Kakak, terima kasih karena telah menolong saya.. saya tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kakak" Ucap Ryu dengan tulus.


"Tidak usah pikirkan itu" Balasku.


Setelah itu aku melihat mereka berdua yang awalnya senang tiba tiba memiliki wajah sedih.


"Apa yang terjadi ?" Tanyaku kepada mereka berdua.


"Kami hanya memikirkan nasib kami setelah ini" Jawab Irna dengan sedih.


"Bagaimana jika kalian menjadi adik angkatku" Ucap Liana dengan senang..


""Adik angkat ?""

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2