
Sebuah bar yang begitu suram dengan tempat yang jauh dari kata bersih..
Meja bundar yang terlihat begitu gelap dengan minuman alkohol yang ada di atasnya..
Bar yang begitu gelap dan suram ini sangat minim pelanggan namun masih ada yang datang..
Pintu bar berdecit dengan keras menampilkan seorang pria yang masuk dengan pakaian jubah hitam hingga menutup wajahnya..
"Aku pesan Bir satu" Ucap orang tersebut kepada bertender yang berjaga.
Bertender yang mendengar hal itu mengangguk dan dengan cepat melakukan perintah pelanggan yang datang..
Orang yang baru datang ini menarik kursi dengan santai untuk duduk bersama dua orang yang telah menunggunya..
"Maaf aku datang terlambat" Ucapnya dengan tersenyum sambil menggaruk kepalanya..
Orang yang menunggunya hanya diam dan menjentikkan jarinya di gelas yang ada di depannya..
"Apakah kau melihat tuan putri hari ini" Suara yang begitu berat datang dari orang yang berbadan besar dengan jubah hitam sedang memainkan pisau yang ada di tangannya..
"Aku telah melihatnya" Jawab orang yang memainkan gelas miliknya.. "Nikky, apakah kau tahu siapa yang bersamanya ?"
Dia melihat kearah orang yang baru datang itu dengan santai..
Orang yang bernama Nikky itu mengangkat bahunya dengan berat..
"Aku tidak tahu.. tapi sepertinya mereka belum lama kenal"
Bertender dengan santai meletakkan Bir di depan Nikky..
"Terima kasih"
Nikky memberikan ucapan terima kasihnya dengan mata sipitnya dan tersenyum..
Bertender mengangguk pelan dan kemudian kembali ke tempatnya..
Mereka bertiga tidak perlu khawatir jika bertender mendengar mereka berbicara karena tempat ini telah dipesan oleh mereka bertiga.
Bertender juga memahami dari konsekuensi jika dia memberitahukannya kepada orang lain maka lehernya akan terpisah dari tubuhnya.
Bar yang sunyi dan sepi tanpa adanya pelanggan yang datang menjadi tempat yang cocok untuk saling bertukar informasi..
"Apakah sebaiknya kita membunuh mereka bertiga ?" Tanya orang yang berbadan besar tersebut yang masih memainkan pisaunya sebelum menancapkannya di meja..
"Kita tidak bisa membunuh mereka begitu saja.. apakah otakmu hanya berisi otot, Kein" Ucap orang yang ada di sampingnya..
Orang berbadan besar ini adalah Kein..
Kein yang mendengar bahwa dia disebut otak otot tidaklah marah karena berpikir memang bukanlah keahliannya..
"Lalu apa yang akan kita lakukan"
"Aku mempunyai sedikit pemikiran.. jika kita membunuh tuan putri saat ini dan ketika itu langsung menyebarkan rumor bahwa manusia itu adalah yang membunuhnya apakah menurutmu orang-orang yang ada disini semakin membenci manusia" Ucapnya dengan seringai jahat di wajahnya..
"Itu pemikiran yang bagus Ben.. tapi tuan putri pasti akan di jaga ketat.. raja tidaklah bodoh membiarkan tuan putrinya mengalami hal sama.. apalagi setelah percobaan membunuhnya gagal" Ucap Nikky dengan suara tenang dan mengambil cangkir bir yang ada di depan.
Ben yang memberikan rencana itu seketika wajahnya berubah..
Waktu itu Ben lah yang mengejarnya dengan kepercayaan diri akan kecepatan kaki miliknya dalam berlari namun siapa sangka tuan putri ini begitu pintar dalam melarikan diri di hutan yang begitu banyak akar besar membuatnya kesulitan..
Ketika dia sudah dapat mengejarnya ternyata tuan putri tersebut telah ditangkap oleh bandit.
__ADS_1
Dia pikir bahwa nasib tuan putri telah tamat setelah bertemu dengan bandit di jalan..
Namun ternyata tidak..
Itu adalah kegagalan yang tidak bisa dia maafkan..
Melihat wajah Ben yang penuh dengan penyesalan. Nikky memberikan senyumnya.
"Ben, tenanglah aku punya rencana yang jauh lebih baik" Ucap Nikky dengan seringai lebih jahat..
Ketika dia berbicara seperti itu temannya merasakan takut. Karena matanya menyala merah dengan terang dari balik jubahnya.
...
...
...
"Terima kasih untuk tempat tinggalnya" Ucapku kepada Melidia karena telah mengizinkan kami untuk tidur di tempatnya karena penginapan daerah sini tidak mau menerima kami.
Tentu alasannya karena kami adalah manusia jadi beberapa orang menatap kami dengan wajah ketidaksenangan dan menolak keras kami.
Melidia tersenyum bahagia kepadaku "Tidak perlu berterima kasih.. mari masuk"
Kami melangkah masuk ke dalam istana kerajaan..
Ini bukanlah pertama kali bagi kami untuk masuk ke dalam istana kerajaan jadi kami bersikap seperti biasa..
Melidia yang melihat kami tidak terkejut atau terpesona dengan istananya merasakan sedikit khawatir akan tempatnya.
"Apakah tempatku tidak bagus ?" Tanya Melidia kearahku.
"Ini bagus tapi entah kenapa kami telah terbiasa dengan pemandangan ini jadi kami tidak terlalu terkejut" Jawabku dengan cepat.
"Terbiasa ? jangan-jangan kalian adalah bangsawan kerajaan atau pangeran yang sedang menyamar ?"
Mendengar kata pangeran Rian dengan bangga membusungkan dadanya..
"Hoho.. aku tidak menyangka tuan putri menemukan identitas kami"
"Hah~ padahal kami ingin menyembunyikan lebih lama" Sambung Iwan yang ada disamping Rian..
"Ternyata benar begitu"
Melidia begitu cepat mempercayai mereka..
Apakah aku harus mengikuti arus atau meluruskan arus ?.
"Jika mereka adalah pangeran mungkin ras manusia telah lama hancur" Ucap Lily dengan tatapan sinis kearah kami.
"Oi.. sarkasme baru apalagi itu ?" Ucap Iwan dengan kesal.
Lily masih mengikuti kami karena dia memiliki tugas untuk mengawasi kami..
Jujur itu cukup membantuku dalam mengawasi dua orang idiot ini untuk tidak berpisah dan tersesat.
Mereka berdua Reikarnasi zoro jadi aku takut mereka akan tersesat jauh sampai ke alam lain..
"Selamat datang tuan putri"
Kami masuk disambut oleh seorang butler paruh baya yang dimana rambutnya dan wajahnya telah menunjuk tanda penuaan..
__ADS_1
Menyebutnya kakek mungkin itu lebih pas untuk menjelaskan penampilannya..
*Butler \= Kepala pelayan laki-laki
"Hans tolong siapkan makan malam untuk tamuku"
"Akan saya siapkan tuan putri"
Setelah itu butler pergi meninggalkan kami..
"Kalau begitu aku akan mengantarkan kalian dimana kalian tidur"
Melidia dengan senang hati mengantarkan kami dimana ruangan yang akan kami gunakan untuk tidur..
Masih banyak kamar yang kosong namun dua temanku ingin kami tidur bersama satu ruangan..
"Satu ruangan besar ini cukup untuk kami bertiga" Ucap Rian dengan santai melihat sekitar ruangan.
"Yap.. satu ruangan besar untuk diri sendiri entah terasa aneh.." Sambung Iwan dengan mengangguk setuju.
"Kau tidak tahu apa yang ada di pojok ruanganmu jika kau sendirian jadi hati-hati" Ucapku dengan tersenyum.
"Jangan menakuti kami seperti itu" Balas Rian dengan panik.
"Bukan berarti kami takut hantu ya.." Sambung Iwan dengan nada yang kurang menyakinkan.
"Kalian bertiga memiliki hubungan yang begitu dekat ya" Ucap Melidia dengan tertawa melihat tingkah kami.
"Tuan putri mereka itu memiliki hubungan istimewa sepertinya" Balas Lily yang ada di sampingnya.
"Hubungan istimewa ?"
"Kau tahu sesuatu seperti pria dengan pria"
"Oi.. kami tidak memiliki hubungan seperti itu" Ucap Rian dengan tidak senang.
"Entah kenapa kita selalu dikira seperti itu.. apakah dunia mulai rusak ?" Sambung Iwan dengan mata sedih.
...
...
Bersambung..
[Ruang Curhat Pemain]
"Sayang sekali kita tidak disambut disini" -Rian
"Apa boleh buat.. mereka membenci manusia"-Rei
"Mungkin mereka cuman benci wajah kalian"-Author
"Sepertinya ni author gk pernah dilempar orang gila pakai sendal shallow di mulutnya"-Rian
"Kayaknya gitu" -Rei
"Rei lempar sendalnya" -Rian
"Jadi aku yang gila ya -_-" -Rei
...
__ADS_1
Likenya bang/neng jangan lupa.. :')