
Aku berhasil melakukan pembalasan dendamku terhadap mereka..
Mereka menangis sedih dengan wajah mereka yang penuh coretan spidol..
Aku hanya tersenyum puas dengan ini..
Namun tanpa aku sadari semua orang di akademi sedang memperhatikan kami dan seketika mereka bertepuk tangan dengan hebat.
Aku menjadi malu akan hal itu..
Lalu setelah itu aku makan di kantin dengan cepat karena waktu pelajaran selanjutnya akan di mulai.
Setelah selesai aku langsung kembali ke kelas dan terlihat disana Rian dan Iwan mencoba menghapus coretan di wajahnya hingga terlihat memerah akibat gesekan yang mereka lakukan untuk menghilangkannya.
Aku merasa sedikit kasihan dan sadar bahwa perbuatanku begitu berlebihan.. namun mengingat keidiotan mereka.. pikiran tersebut langsung menghilang..
...
...
...
Waktu berjalan begitu cepat dan akhirnya waktu sudah menjelang sore kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Kami juga mengucapkan salam perpisahan dengan Drian setelah persimpangan jalan karena arah tempatnya tinggal berbeda dengan kami..
..
"Jahat bukankah ini lebih parah dari yang kami lakukan" Ucap Rian dengan sedih.
"Itulah pepatah jangan mengganggu singa yang sedang tidur" Balasku dengan tersenyum jahat.
"Aku tidak bisa lagi membanggakan wajah tampanku"
"tenang saja sejak awal wajahmu tidak tampan jadi tidak jauh berbeda"
"Jahat.."
Kami kembali ke tempat penginapan dan paman berotot pemilik penginapan sudah menunggu kami disana..
Ugh!! aku memiliki firasat buruk tentang ini.
"Ara.. kalian kembali.. eh kenapa dengan wajah kalian"
"Tidak usah khawatir paman ini bukan apa apa" Balas Rian saat dia mencoba untuk memegang wajahnya..
"Apa yang bukan apa apa.. jelas jelas ini sudah berlebihan" Jawabnya dengan marah.
Ugh!! Kenapa kau berkata seolah heroine yang khawatir dengan tokoh utama.. tolong hentikan itu..
"Ah paman ini urusan kami jadi tidak usah khawatir" Sambung Iwan mencoba untuk menyelamatkan Rian.
"Kalau ada masalah tolong katakan kepadaku.. karena aku juga khawatir kalau kalian kenapa - napa" Ucapnya sambil tersenyum.
Ughh.. kenapa ucapan itu harus keluar dari paman berotot seolah olah dia heroine..
Aku sangat yakin malam ini aku akan mimpi buruk..
Kami mengucapkan perpisahan dan kembali ke kamar kami dengan cepat...
"Ini bahaya.."
"Kesucian kita sepertinya akan hilang jika kita tinggal disini lebih lama.."
Aku cuma bisa menggangguk setuju..
Awalnya kami memilih penginapan disini karena tempat ini lebih murah dari yang lain.. karena itu kami memilih tidur disini namun.. siapa sangka paman penginapannya seperti itu..
"Mari kita pindah ke penginapan lain" Ucap Rian dengan takut.
Kami mengangguk setuju..
"Hei sebelum itu bagaimana jika pergi makan malam di tempat tuan putri" Ucap Rian memecahkan keheningan.
"Eh kalian diundangnya juga" Jawabku dengan kaget.
"Sepertinya kita semua diundang" Sambung Iwan.
"Apakah kalian ingin pergi ?" Tanyaku kepada mereka.
"Ya kau tahu Iwan sepertinya tertarik dengan maid yang bersama dengan tuan putri" Jawab Rian sambil melihat kearah Iwan.
Aku menatap kearah Iwan..
Iwan hanya berpaling malu malu..
Apakah kau seorang gadis ?
"Jika kalian ingin pergi silahkan aku tidak akan pergi karena aku memiliki perasaan yang tidak menyenangkan"
Rian dan Iwan saling menatap satu sama lain.
"Apa boleh buat jika Rei tidak mau" Ucap Rian dengan sedih..
"Kalau begitu kita juga tidak akan pergi" Sambung Iwan..
"Benar karena kita teman.. kita tidak boleh meninggalkan satu sama lain" Kata Rian sambil mengangguk..
"Kau benar karena sekarang ini kita dikirim di dunia lain ini setidaknya kita masih memiliki satu sama lain.."
Mereka berkata begitu untuk membuatku menjadi tidak enak menolak ajakan mereka.. namun tidak..
Karena aku ingat sangat jelas kenapa alasan aku bisa berada disini..
__ADS_1
Aku cuma bisa memegang kepalaku hanya karena mengingat itu...
...
....
.....
"Hei disana ada semut"
"Ah kau benar"
Mereka bermain sesuatu di pojokan seperti anak kecil yang sedang sedih.
Ah.. sialan mereka ini..
Sungguh ini mengingatkanku saat mereka mengajakku ke taman bermain dan Saat itu aku langsung menolak niat mereka namun mereka tidak menyerah dan terus diam di teras rumah.. Hingga tetangga sekitar hampir memanggil polisi karena curiga dengan mereka..
Dan pada akhirnya aku harus menjelaskan kepada tetangga bahwa mereka bukan orang mencurigakan.. Dan sungguh itu membuatku repot..
Mungkin mereka bersikap begitu karena kebaikan hati mereka..
Aku tidak bisa bilang kalau aku membenci mereka..
Mungkin.. mereka adalah teman terbaik yang pernah aku dapat..
Walaupun diriku yang sering berkata kasar terhadap mereka..
Mereka tidak pernah mengambil hati akan hal itu..
Bahkan jika kami bertengkar.. pada akhirnya hal itu menjadi angin lalu buat mereka..
Mungkin karena mereka idiot salah satu alasannya kenapa bisa begitu..
..
"Apa boleh buat.. kita akan pergi.. tapi hanya makan dan setelah itu pulang"
"Bukankah kau punya firasat buruk tentang hal ini.. kenapa kau berubah pikiran" Balas Rian..
"Jika tidak mau ya sudah"
"Siapa bilang tidak mau"
Setelah aku berkata begitu mereka langsung sibuk dengan tas mereka untuk mencari baju yang cocok mereka pakai..
Aku hanya bisa tersenyum kecut karena melihat mereka begitu semangat dalam memilih baju..
Yah untukku.. paling paling memakai baju sekolah Akademi Petualang ini.. karena baju ini entah kenapa sungguh nyaman di pakai dan tidak bikin gerah sama sekali dan juga ini terlihat keren..
"Rei bagaimana dengan bajuku"
Aku melihat Rian dengan pakaian adat banjar.. dan Iwan memakai baju adat jawa..
Aku melihat pakaian mereka.. sungguh.
"Apakah ketampananku bertambah"
"Dari sekian banyaknya baju yang kalian pilih adalah itu"
"Pakaian adat itu keren.. kau tahu"
"Ini adalah bukti kita cinta budaya indonesia"
"Darimana kalian dapat baju seperti itu"
"Saat festival budaya sekolah kami meminjamnya"
"Kalian tidak mengembalikan itu.. aku sudah membayangkan bagaimana guru kita marah"
"Tehee~"
Aku berjalan menuju ke arah tas mereka..
"Tunggu Rei"
Mereka mencoba menghentikan tapi itu sudah terlambat.
Aku sudah sangat penasaran dengan isi tas mereka yang besar ini dari pertama perjalanan..
Saat aku membuka tas mereka.. semua hal yang tidak berguna terisi disana...
Aku menatap dingin ke arah mereka..
"Apakah perlu kalian membawa PS beserta tvnya.."
Mereka tidak menjawab namun bersiul dengan tidak berasalah..
...
Aku melihat seluruh isi dalam tas mereka.. sungguh semuanya kebanyakan hal yang tidak berguna..
"Hei aku tidak tahu bahwa dunia ini tidak ada listrik kau tahu... bukan aku yang salah" Jawab Rian dengan tidak bersalah.
"Dimana - mana jika kau dalam perjalanan jauh tidak perlu membawa hal seperti itu -_-"
"Eh!? bukankah kita bisa bermain dalam perjalanan jika bosan"
Aku memegang kepalaku yang sakit..
"Cepat ganti pakaian kalian dengan baju biasa"
"Eh!"
__ADS_1
"Atau aku buang--"
"Jangan.."
mereka menuruti perkataanku dan memakai baju yang bagus namun normal..
Setelah hal itu kami berangkat menuju ke istana dimana kami akan di undang makan..
"Apakah kalian berangkat lagi.."
"Iya paman.."
"Tolong berhati hati lah"
Ugh...... Kata kata seorang heroine yang paling populer sudah dikatakan oleh paman berotot.
Kami cuma bisa tersenyum kecut saat paman berotot tersebut mengantar kami keluar..
Lalu tantangannya yang selanjutnya adalah...
"Jalan menuju istana dimana ya" Ucap Rian dengan polos.
Aku cuma tersenyum mendengar itu..
Tentu akan menjadi sulit jika itu adalah diriku yang dulu namun tidak dengan diriku sekarang.
...
Tidak butuh waktu yang lama.. Karena ini cukup mudah untuk dilakukan jika sang ahlinya disini..
"Apakah kau tahu jalan menuju istana karena istananya besar" Tanya Rian dengan penasaran.
"Tolong jangan katakan itu dengan keras.."
"Oh maaf"
Setelah itu seorang penjaga datang mendekati kami..
"Apakah kalian Tiga orang yang di undang tuan putri"
"Ya itu adalah kami"
Penjaga tersebut langsung membukakan pintu gerbang dan menuntun kami masuk..
Sesampainnya disana kami sudah ditunggu oleh tuan putri..
Bersambung...
Ruang curhat pemain..
"Hei aku punya kabar gembira untuk kalian" [Author]
"Jangan bilang paman berototnya akan bertambah" [Rei]
"Atau itu lebih buruk dari ini" [Rian]
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada diriku" [Iwan]
"Kenapa kalian semua berpikiran seperti itu terhadapku -_-" [Author]
"Terus apa ?" [Rei]
"""APA!!"""
"Bagaimana hasil buatanku" [Author]
-_- -_- -_-
"Jangan menatapku seperti itu.. oke.. ini adalah fan art dari Febrian Dwi Saputra oke.." [Author]
"Orang yang komen ingin nambah wanita berotot" [Rian]
"Hei.. bukan seperti itu isi komennya.. -_-" [Author]
"Aku masih tidak menyangka ini terjadi" [Rian]
"Aku menangis karena bahagia" [Iwan]
"Sialan.. kenapa wajah Rei begitu tampan" [Rian]
"Tentu lah aku kan memang tampan" [Rei]
"Sialan.. " [Rian]
"Terima kasih telah membuatkan kami fan art" [Rei]
"Kami tidak menyangka hal ini terjadi" [Rian]
"Walaupun lawakan kami receh" [Iwan]
"Walaupun kebanyakan lawakannya yang receh cuma Rei" [Rian]
"Tunggu.. bukankah itu agak jahat" [Rei]
"Aku juga mengucapkan terimakasih.." [Author]
Btw.. tidak terasa waktu membuat novel ini sudah menginjak satu bulan dan hasilnya sungguh memuaskan..
Bahkan kalian membaca novel ini saja sungguh membuatku sangat senang..
Ugh!! walaupun ini cuma sebulan namun aku merasa ini sangat lama.
__ADS_1
Mungkin aku akan terus menulis mulai dari sekarang..
Kalau begitu sampai jumpa next episode..