Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Awal perjalanan baru dimulai


__ADS_3

Aku memegang erat tali yang digunakan untuk mengendalikan kuda yang membawa kami..


Sudah setengah jam perjalanan berlalu dan suasana luar dari kerajaan terlihat sepi..


Bahkan jalanan terlihat masih basah karena hujan yang turun membuatku sedikit khawatir untuk terpeleset.


Tapi untungnya kereta kuda memiliki ban terbaik jadi hal tersebut tidak perlu aku khawatirkan.


Suasana hutan disekitar begitu sepi..


Suara burung bahkan tidak ada sama sekali..


Hanya semilir angin sejuk yang menemaniku dan harumnya udara yang mengalir dari pepohonan..


"Sialan kau Iwan.. kau menghabiskan snack milikku"


"Aku cuman minta sedikit.."


"Sedikit saja tapi apa yang ada di tanganmu"


"Hehe"


Ketenangan yang tadi hanya sebentar saja dan perasaan kesal datang kepadaku karena keributan mereka di gerbong kereta kuda..


"Bisakah kalian tenang"


Aku menyuarakan kekesalanku..


"Rei apakah kita sudah sampai" Rian mengeluarkan kepalanya dari balik gerbong dan melihat ke depan.


"Kau pikir ini taxi yang bisa bergerak 200 km/jam" Jawabku dengan kesal.


"Aku mulai bosan sekarang.."


Mereka berdua sudah mengeluh dalam setengah jam perjalanan ?.


Apakah mereka anak tk ?.


"Ada desa tidak jauh dari tempat kita.. mungkin empat jam baru kita sampai"


"Empat jam"


"Apa yang harus aku lakukan selama empat jam"


"Kau bertanya denganku tapi dengan siapa aku bertanya" Ucapku dengan tersenyum bangga.


"Hei"


Rian kesal dengan kata-kata yang aku gunakan adalah miliknya.


"Aku akan tidur"


Rian kembali ke dalam gerbong dengan sedih.


Aku hanya kembali fokus untuk mengemudi..


...


...


...


Empat jam telah berlalu..


Desa yang aku yang sebut telah ada di depan mataku..


Tapi..


Aku lupa..


Benar-benar lupa..


Aku menghentikan kereta kuda dengan terkejut hingga suara kereta kuda berdecit dengan nyaring..


*Grubak..


Suara seseorang terbentur sesuatu di dalam gerbong kereta terdengar begitu nyaring...


"Kenapa kau berhenti tiba-tiba"


"Aw kepalaku sakit"


Ketika mereka bangun dan mengucek mata mereka untuk melihat sekitar dan mereka terkejut..


"Ini--"


Desa telah hancur..


Puing - puing bangunan desa telah habis dilalap oleh api yang dimana meninggalkan bekas abu hitam diseluruh tempat.

__ADS_1


"Apakah ini yang terjadi pada desa yang diserang monster ?" Tanya Rian dengan sedih.


"Ini menjelaskan bagaimana para pengungsi sangat putus asa dulu ketika datang" Sambung Iwan dengan kesal.


Rian dan Iwan melihat sekitar dengan wajah yang sedih dan juga kesal.


Ini memang kejadian yang sulit untuk dibayangkan kami yang merupakan orang dari dunia yang berbeda.


"Sepertinya kita tidak bisa menginap di sini"


Aku memecat tali untuk memerintahkan kuda untuk melanjutkan perjalanan..


Namun ketika beberapa langkah berjalan sesuatu menghentikan kereta kuda kami.


"Apa yang terjadi kali ini"


Beberapa kali aku memecat tali kuda mencoba untuk bergerak namun tetap saja kereta kuda tidak dapat bergerak sama sekali.


Aku turun dari kereta kuda dan melangkah untuk melihat ban kereta kuda yang sangkut di lubang yang dalam.


Aku menatap dengan sinis dengan apa yang terjadi..


"Kalian tolong bantu aku" Ucapku kepada mereka berdua.


"Oke aku akan dorong dari atas sini" Ucap Rian yang masih diatas gerbong kereta.


"Sama aku juga" Sambung Iwan.


"Itu sama saja dengan aku sendiri yang mendorong" Balasku dengan marah.


Jika mereka diatas gerbong apa yang mereka dorong ?


Tentu saja tidak ada..


"Cepatlah turun" Ucapku dengan kesal.


Rian dan Iwan begitu enggan berjalan keluar untuk membantuku mendorong..


"Oke dalam aba-abaku" Ucapku sambil menggulung lengan bajuku.


"Hei Rei itu apa ?" Tanya Rian dengan penasaran.


"Sekarang apalagi"


Aku berpaling melihat kearah Rian menunjukkan kearah retakan tanah yang tidak jauh dari tempatnya berpijak.


Rian bergerak perlahan untuk menyentuh retakan tanah itu..


"Tunggu jangan sentuh itu"


*Creak..


Terlambat..


Rian telah menekan retakan tanah tersebut dan tidak lama retakan itu semakin besar yang dimana membuat kami jatuh..


...


...


"Rian idiot!"


Aku bangkit dari tempatku jatuh..


Nasib masih memiliki kebaikan untuk membuat lubang yang tidak terlalu dalam untuk kami..


Walaupun tidak terlalu dalam tetap saja ini membuat pantatku sakit..


"Aw pinggangku sakit" Ucap Rian memegang bagian belakangnya.


"Ini semua salah Rian" Balas Iwan yang sama kesakitan juga.


"Hei kau juga penasaran sama itu juga bukan ?"


"Ya sih"


"Sanggah sedikit oi"


Aku melihat ke belakang tempatku berdiri dan terkejut melihat kereta kuda yang ikut jatuh sudah tergeletak di sana..


Aku baru sadar bahwa nyawaku akan ikut melayang jika terkena itu..


Aku menatap kearah mereka berdua yang masih kesakitan..


Aku mengabaikan mereka berdua dan berjalan ke depan kereta kuda dan melihat kuda telah mati tertimpa kereta bagian badannya..


Aku melihat itu tidak bisa melakukan apa-apa karena sepertinya sudah terlambat untuk diselamatkan..


Rian dan Iwan berjalan mendekatiku dan melihat kuda yang telah mati..

__ADS_1


"Kusuke" Teriak Rian dengan histeris..


"Sejak kapan kuda kita ada nama ?" Tanyaku dengan heran.


"Baru aja aku bikin" Balas Rian dengan santai.


Kenapa semua ini terjadi ?.


Kepalaku sakit untuk melihat hal ini..


Untuk sesaat aku berpikir meninggalkan mereka saat itu lebih baik..


"Rei lihat.. ada telur besar" Ucap Rian.


"Tunggu disana bukan hanya telur" Sambung Iwan.


Aku tersadar akan lamunanku dan melihat sekitar dimana Rian dan Iwan menunjukkannya..


Aku mengambil hp milikku dan menyalakan flashlight.


"Beberapa ada sisa pecahan cangkang telur dan juga.."


"Mayat"


Semua terlihat jelas sekarang dengan cahaya yang datang dari hpku..


Telur besar terlihat..


Ada beberapa yang sudah pecah dan ada juga yang belum..


Jumlahnya tidaklah sedikit..


Sepanjang mata memanjang seluruh tempat ini begitu luas mungkin 100x100 m².


Namun tidak hanya telur saja yang terlihat tapi ada juga mayat yang telah mati..


Namanya mayat pasti mati sih..


"Mereka semua perempuan" Ucap Rian dengan teliti.


Mayat itu menunjukkan rambut yang masih panjang dan terlihat sisa-sisa darah dibagian perut dan bagian intim mereka..


Wajah mereka menunjukkan kesakitan yang begitu luar biasa sebelum mereka mati..


"Monster br*ngsek!" Ucap Rian dengan marah sambil mencekram tangannya dengan marah.


Aku tahu apa yang terjadi pada mereka semua..


Perkembangbiakan paksa yang dilakukan oleh monster..


"Kita tidak bisa meninggalkan mereka seperti ini" Ucap Iwan dengan sedih.


"Yah.. aku setuju.. setidaknya kita harus melakukan penguburan yang layak untuk mereka.."


Rian dan Iwan mengangguk setuju dengan pendapatku..


Setelah itu kami mengeluarkan secepat yang kami bisa walaupun beberapa bagian dari mereka telah dalam keadaan yang begitu mengerikan namun Rian dan Iwan tetap berusaha untuk tidak muntah..


Penuh usaha yang ekstra untuk mengeluarkan mereka namun entah bagaimana ini mudah dilakukan setelah mayat pertama diangkat..


Kami juga membuat kuburan tidak jauh dari desa dan meninggalkan bebatuan diatasnya untuk menandakan bahwa ini adalah kuburan..


Lalu kami juga tidak lupa untuk menghancurkan semua telur yang belum menetas karena tahu bahwa ini adalah telur monster..


"Sepertinya setelah ini kita akan beristirahat di sini" Ucapku kepada mereka yang terlihat begitu kelelahan. "Hari udah sore jadi jadi kita akan bikin tenda" Sambungku dengan cepat.


"Eh.. aku udah capek.. kalian aja yang bikin tenda" Keluh Rian dengan alasan lelah.


"Aku juga capek" Sambung Iwan dengan cepat.


Aku ingin mengatakan sesuatu kepada mereka tiba-tiba seseorang dari atas lubang memanggil kami..


"Hei kalian baik - baik saja ?"


Seorang paman paruh baya dengan satu mata tertutup oleh kain melihat kearah kami


"Tidak cukup baik" Balasku kepadanya.


"Sungguh malang sekali nasib kalian.. apakah kalian punya tempat untuk tinggal ?"


"Kami tidak punya"


"Kalau begitu bagaimana untuk ikut denganku.. di sini ada desa tersembunyi yang kami buat"


"Sungguh.. kalau begitu dengan senang hati kami terima" Rian dengan penuh semangat menjawab..


Aku sangat yakin dia hanya malas untuk mendirikan tenda..


Bersambung..

__ADS_1


Ah mataku ngantuk.. jika ada salah komen ya.. soalnya aku nulisnya malam banget.. :')


__ADS_2