
Aku terkejut dengan adanya seorang gadis yang sedang tidur di sebelahku..
Mungkin ini teori yang disebut bangun dari mimpi di dalam mimpi..
Aku menenangkan diriku dan mencubit diriku..
...
Ini bukan mimpi..
Apa yang harus aku lakukan..
Apakah aku harus membangunkannya..
Tapi siapa yang mau dibangunkan oleh pria suram seperti diriku..
Mungkin dia akan berteriak dan mengira aku akan melakukan sesuatu yang buruk kepadanya..
Yosh..
Mungkin aku harus pergi dengan diam diam..
Aku bangkit dari tempat dudukku namun saat aku berdiri aku tidak sengaja menyenggol meja dan buku yang aku dirikan sebagai tameng tadi terjatuh..
Suara tersebut tidak terlalu keras..
Namun suara tersebut cukup untuk membuat dia bangun..
"hmm.."
Gadis tersebut bangun dan mengucek matanya dan merenggangkan tubuhnya..
Bajunya yang dikenakan adalah gaun berwarna kuning dengan hiasan yang berwarna putih yang sering di pakai oleh tuan putri pada abad pertengahan.. Karena pakaiannya seperti itu jadi lekukan tubuhnya sangat keliatan terutama gunung yang tersembunyi disana saat dia melakukan peregangan.
Sialan ini terlalu menstimulasi untuk mata suciku..
Jadi aku berpaling untuk tidak melihatnya dan berusaha berjalan secara perlahan untuk pergi.
"Hei kau mau kemana"
"Aku tidak melihat apapun dan aku juga tidak melakukan hal apa apapun terhadapmu jadi percayalah" Ucapku dengan panik..
Saat aku berpaling menghadapnya dan berkata begitu entah kenapa wajahnya terlihat menahan sesuatu..
Apa yang terjadi..
...
Yuina menahan dirinya untuk tidak tertawa karena sekarang ini wajah Rei sedang memiliki coretan di wajahnya jadi saat dia berbicara atau berkedip coretan tersebut ikut bergerak.
"Apakah ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman apakah kau sakit" Ucap Rei dengan khawatir..
"puuohhhhaaa..haha"
Yuina pecah karena tertawa..
Akhirnya dia tidak bisa menahan tawa yang selama ini dia tahan..
Rei hanya bingung dengan apa yang terjadi..
"Maafkan aku wajahmu benar benar sesuatu"
Mendengar hal itu Rei langsung menyentuh wajahnya dan di tangannya langsung ada noda spidol..
"Awas kalian" Ucap Rei dengan nada kemarahan.
Rei benar benar marah kali ini..
Karena dia sudah dipermalukan di depan gadis cantik ini..
Ugh..
Rei langsung mengambil sebuah sapu tangan di kantongnya dan membersihkannya..
Akhirnya wajahnya sudah terlihat normal..
Well walaupun tidak setampan oppa korea..
"Maaf karena mengganggu tidurmu" Ucap Rei dengan meminta maaf.
"Tidak itu bukan salahmu.. lagipula aku hampir lupa apa tujuanku datang kesini"
__ADS_1
Rei cuma memiringkan kepalanya karena bingung..
"Maaf aku lupa memperkenalkan diriku.. Namaku Yuina Kleinstar.. Tujuanku datang kesini adalah melihat seperti apa orang yang berasal dari dunia lain"
Rei langsung mengambil wajah waspada.. karena dia berpikir bahwa orang ini akan menangkapnya dan menjadikan dirinya seorang pahlawan yang harus mengalahkan raja iblis atau semacamnya..
Itu adalah daftar nomor satu yang tidak ingin dia lakukan..
Dan bagaimana dia bisa tahu bahwa dirinya adalah dari dunia lain..
"Tidak usah waspada seperti itu tujuanku kesini cuma melihat dan ternyata kalian tidak jauh berbeda dari kami"
"Apakah kau berpikir kami seperti monster"
"Tidak aku pikir kalian akan terlihat ganas dan memiliki otot yang lebih besar dari manusia pada umumnya"
"itu lebih parah dari apa yang aku pikirkan"
Otot hanya mimpi buruk..
"Aku ingin mengundang kalian makan malam di istana apakah boleh"
Rei diam tidak mengatakan apa apa..
Karena dia masih waspada akan apa yang terjadi..
Pada akhirnya dia sangat takut jika itu lebih buruk dari apa yang dia pikirkan..
"Aku tidak memaksa dirimu untuk datang.. cuma itu yang ingin aku katakan" Ucapnya sambil berdiri dari tempat dia duduk..
"Untuk sekarang aku lega.. karena kau memiliki pikiran akan keselamatan dirimu sendiri.. itu adalah hal yang manusiawi"
Setelah mengucap hal itu dia berjalan pergi dan disana sudah ada seorang Maid yang menunggunya di luar.
...
Beberapa menit kemudian..
Iwan akhirnya dapat kembali ke kantin dengan beberapa keberuntungan..
Karena tempat ini lumayan besar tentu dia tersasar beberapa kali..
"Hai Iwan" Ucap Rian yang melihat Iwan datang..
"Hei ada apa.. Apakah kau masih sakit perut" Tanya Rian dengan khawatir..
"..."
Iwan cuma diam dan tidak menjawab apa apa..
Drian dan Rian yang melihat itu menjadi bingung.. Karena entah kenapa saat dia kembali dia tidak seperti biasanya..
"Apakah kau percaya jatuh cinta pada pandangan pertama" Ucap Iwan memecahkan keheningan..
Iwan dan Drian menjadi terkejut...
"Kau.. kau tidak sakitkan.. apa yang terjadi.. Jatuh cinta.. oh my god... seperti musim semi sudah tiba" Ucap Rian dengan super super bahagia hingga pemilihan kata katanya menjadi aneh...
"Aku tidak menyangka secepat ini akan terjadi" Ucap Drian dengan tersenyum.. Karena dia bahagia rival dia berkurang satu.
"Aku tidak tahu tapi entah kenapa aku selalu penasaran akan dia"
"Oh seperti apa dia.. apakah dia cantik.. Apakah dia manis.. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu.." Rian bertanya dengan bertubi tubi kepada Iwan..
"Ah dia berpakaian Maid.. Rambutnya berwarna pirang dan dia memiliki pita berwarna merah yang dia ikat secara side pony tail.. lalu wajahnya sangat cantik dan auranya entah bagaimana memancarkan aura heroine.."
"Aku paham" Ucap Rian mengangguk dengan bangga..
Drian hanya tersenyum kecut melihat Rian yang seolah ahli percintaan.. dan juga apa itu heroine.. ? Drian cuma bisa bingung dengan kata kata yang dia katakan.
"Jangan khawatir jika memang jodoh pasti bertemu.. terus apa ada sesuatu yang dia katakan padamu"
"Ah dia mengundang kita makan malam di istana.."
Saat mendengar istana Rian dan Drian langsung menjadi mengerti.. Karena seorang maid juga berkata begitu jadi kemungkinan mereka utusan tuan putri.
"Jadi seperti itu.. undangan ini memang harus kita datangi" Balas Rian dengan bahagia.. "Mari kita datangi Rei dan memberitahunya"
"Tidak usah datang"
Rian dan Iwan langsung kaget dengan suara tersebut yang ada dibelakang mereka..
__ADS_1
Saat mereka menoleh mereka melihat Rei disana..
"Hei Rei kenapa kau tidak duduk dan makan bersama disini" Ucap Rian dengan bahagia.. "Kau pasti tidak percaya apa yang terjadi pada teman kita" Sambungnya sambil memegang bahu Iwan..
"Aku juga ingin tahu.."
Rei menatap mereka dengan tatapan dingin..
"Sungguh enak ya makan disini tanpa khawatir apa apa" Ucap Rei dengan nada marah.
"Rei kenapa kau terlihat marah.. apakah kau lapar ini masih banyak makanan yang aku pesan.. atau kau mau yang lain" Sambung Rian dengan menunjuk makanan yang di meja.
...
Drian hanya bisa panik melihat hal ini.. Drian menyadari alasan Rei marah namun kedua orang ini tidak terlihat bersalah sama sekali.. Apakah ini strategi mereka untuk mengecoh Rei ? Mungkin tidak.
Rei mengambil sebuah spidol dari sakunya..
Rian dan Iwan langsung teringat apa yang mereka lakukan..
"Rei kau tahu sesuatu seperti ini tidak akan merusak persahabatan kita kau tau" Ucap Rian dengan panik.
"Ah aku dengar hal seperti ini malah akan menambahkan eratnya persahabatan" Sambung Iwan mencoba menenangkan Rei.
"Benar itu.. kau tahu itu kan" Ucap Rian dengan setuju.
"Ah aku benar tahu itu"
Lalu tanganku langsung bergerak dan menggunakan spidol untuk mencoret wajah mereka namun reaksi mereka sangat cepat..
Mereka langsung bangkit dari tempat duduk dan mereka mulai berlari..
Rei tidak diam dan mengejar mereka..
"Tunggu Rei.. maafkan kami kau tahu.. lagipula itu bukan spidol permanen" Kata Rian berusaha menenangkan hati Rei.
"Tenang saja spidol ini permanen" Jawab Rei dengan tersenyum jahat.
"Tunggu darimana kau dapat itu ?" Tanya Rian dengan penasaran.
"Kau tidak perlu tau"
"Tunggu kita bicarakan ini baik - baik oke" Ucap Iwan dengan takut.
"Aku akan mentraktirmu makan bagaimana ?" Kata Rian dengan cepat.
"Aku lebih suka hal ini daripada makanan"
Lalu mereka bertiga berlari sekitar Akademi Petualang dan semua orang di Akademi yang melihat mereka berpikir itu sungguh seru karena yang satunya berusaha untuk mencoret wajah mereka dan dua lainnya berlari menghindar.. Dan hal ini menjadi sebuah inspirasi untuk permainan baru yang tercipta..
Tentunya ini masih jauh di masa depan..
Namun hal ini tentu tidak di ketahui oleh mereka..
Bersambung..
Ruang curhat pemain..
"Akhirnya Heroine kita datang" [Rian]
"Hei ada seseorang yang komen jika dia ingin gadis berotot sebagai heroine" [Iwan]
"Tunggu dulu bukan seperti itu komennya" [Rei]
"Kalau gadis berotot jujur aku akan serahkan kepada Rei" [Rian]
"Hei.. kau ngajak berantem" [Rei]
"Tunggu dulu.. Bukankah gadis berotot itu cantik bahkan ada animenya ya kan" [Iwan]
"Sepertinya iya tapi aku lupa nama animenya" [Rian]
"Jangan berharap gadisnya cantik karena author kita ini maniak otot" [Rei]
"Sungguh tidak sopan aku ini normal ya" [Author]
"..."
...
"Aku normal kan ?" [Author]
__ADS_1
Btw jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya.. karena apapun komen kalian pasti aku bales dan mungkin bisa dijadikan ide sebagai ruang curhat pemain disini :v
Sampai jumpa next episode