
Aku dan Melidia berjalan kembali menuju arena dimana Rian dan Iwan berada.
Ketika berjalan Melidia sesekali melirikku dari samping..
Dia mengira aku tidak menyadarinya namun sebenarnya itu terlihat sangat jelas. Apakah dia mengira aku tidak menyadari itu ?.
"Anu.. apakah ada sesuatu ?" Tanyaku dengan pelan.
"Ah.. bukan apa-apa"
Melidia menjawab dengan wajah memerah dan memalingkan wajahnya dariku.
Aku melihat kearah belakangku yang dimana hanya ada orang yang berlalu lalang. Sekilas tidak ada yang aneh namun aku menyadarinya.
Melidia juga pasti menyadarinya juga.. Oleh karena itu dia menatapku sesekali.. itu pasti kode yang dia berikan kepadaku.
"Ah bagaimana kita ke sana.. pasti ada jalan pintas di sana" Ucapku menunjuk kearah gang kecil disela bangunan.
"Tapi Rei di sana--"
"Pasti ada kan ?"
Melidia menjadi bingung dengan apa yang terjadi namun setelah itu dia menyadarinya..
(Rei.. ingin berduan denganku di sana.. bukankah itu terlalu cepat.. apalagi gang sempit itu bukankah tempat yang sering dilewati.. apa yang akan terjadi padaku ?) Dengan itu pikiran Melidia melayang dengan khayalan tak terbatas...
Aku dengan cepat berjalan menuju gang sempit itu yang dimana Melidia mengikutiku dengan gugup.
Gang yang begitu gelap dimana sinar matahari yang masuk sangatlah minim sehingga pencahayaan agak kurang. Namun aku masih dapat melihat daerah sekitar dengan jelas.
"Tuan ini pertama kalinya bagiku.. jadi.."
Aku melihat kearah Melidia dengan tersenyum dan mengangguk pelan.
Melidia menutup matanya dengan takut dan perlahan mendekati kearahku. Apa yang sedang dia lakukan ?.
Ah apa dia takut ?
"Tidak perlu khawatir.. aku pasti akan melindungimu"
"Melindungiku ?"
Aku menengok ke belakang yang dimana aku telah merasakan keberadaan mereka begitu jelas. Sejak aku memakai skill Assassin [Sense]
"Keluarlah.. aku tahu kalian disana" Teriakku dengan keras.
Ketika itu dua orang dengan jubah panjang hitam menutupi wajahnya muncul dari balik kegelapan.
Mereka mengeluarkan senyum milik mereka yang terlihat jelas di kegelapan ini.
"Aku tidak menyangka kau menyadarinya" Ucap salah satu orang yang berjubah itu.
Melidia melihatku dengan bingung.
"Rei ini--"
"Sepertinya mereka telah mengikuti kita sejak dari pasar" Jelasku kepadanya.
"Jadi ini alasanmu masuk ke dalam gang sempit ini"
"Itu benar.. emangnya apa yang kau pikirkan ?"
"Tidak ada"
Melidia menjawab dengan wajah memerah.
__ADS_1
Dua orang itu mendekatiku dengan pelan. Melihat hal itu aku langsung mengeluarkan dua belatiku untuk antisipasi penyerangan yang akan terjadi.
"Aku tidak tahu apa yang kalian inginkan tapi bisakah kita menyelesaikan dengan damai" Ucapku kepada mereka berdua.
Bukan karena tidak kepercayaan diriku untuk melawan mereka berdua. Hanya saja tempat ini adalah kerajaan ras setengah binatang.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika pandangan mereka pada manusia semakin memburuk karena pertarungan yang diakibatkan olehku.
"Hei kau takut ? tenang.. jika kau menyerahkan tuan putri yang ada di sana aku akan melepaskanmu"
Aku melihat kearah Melidia yang dimana dia berada di belakang punggungku dengan takut. Aku tersenyum kepadanya untuk menunjukkan untuk tidak perlu takut.
Aku kembali menatap dua orang yang ada di depanku.
Mereka berdua pasti adalah orang yang mengincar nyawanya sebelumnya. Ketika dimana dia harus melarikan diri dan terpaksa tertangkap oleh bandit untuk dijadikan budak.
Aku rasa Melidia cukup trauma dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Aku menyipitkan mataku dan mengangkat belatiku dengan tajam kearah mereka.
"Jika itu kau mau maka aku menolaknya"
Wajah senyum miliknya perlahan menghilang digantikan dengan wajah kecewa seperti ini :(
"Aku pikir kau bijaksana ternyata tidak"
Dia melepaskan jubahnya yang dimana dirinya terekspos dengan jelas di bawah kegelapan gang dengan mata merah menyala dengan sayap keluar dari punggungnya.
Mulutnya kini memunculkan taring yang begitu panjang seperti anjing laut. Yah itu bukan anjing laut tapi mereka berdua sepertinya dari ras kelelawar.
"Vampire!"
Melidia mengeluarkan komentarnya ketika melihat mereka.
Yah itu adalah vampire. Tunggu aku pikir mereka akan menyebutnya ras kelelawar disini ternyata tidak.
Ketika dia berkata begitu dia telah menghilang di balik kegelapan yang dimana dia telah muncul dari belakangku.
Salah satunya menyerangku dengan belati tajam berwarna merah terang dan yang satunya berusaha untuk menarik Melidia.
Aku telah berhati - hati sebelumnya untuk sergapan dari belakang namun aku tidak mengira akan secepat ini. Tanganku langsung menangkis serangan horizontal yang dia lancarkan dan melakukan serangan balasan menuju dirinya.
Namun serangan itu hanyalah sebuah tipuan ketika dimana kakiku telah melancarkan serangan menuju bagian kelemahannya.
Dia meringkuk dengan sedih ketika dia menyadari bahwa kakiku menyerang bagian sensitifnya.
"Kau brengsek!"
Dia memegang bagian selangkangannya dengan ngeri.
Aku hanya mengabaikan ekspresi buruknya dan menolong Melidia langsung ketika dia sedang berusaha untuk melepaskan diri.
Aku melemparkan belatiku dengan baik menuju pria itu dan dengan kecepatan yang aku punya aku langsung datang menyerangnya dari samping. Dia menghindari lemparan belatiku dengan baik.
Ketika aku melancarkan serangan belati menujunya dia dengan cepat menghindari seranganku ketika menghilang dengan perubahan cepatnya menjadi sosok kelelawar kecil menyebar di daerah sekitar.
Kelelawar kecil terbang menuju arah belakangku dan menyatu menjadi satu dan sekali lagi berubah menjadi pria itu.
[Stealth]
Menghilang dari pandangannya dan menuju cepat kearahnya.
Namun salah satu temannya telah bangkit dari kesakitannya dan berusaha bangkit.
Sial!..
__ADS_1
Jika aku menjauh dari Melidia maka dia akan tertangkap lagi..
Ini sulit..
"Tuan Rei tidak perlu khawatir.. Aku bisa melindungi diriku sendiri" Ucapnya dengan tersenyum.
Ketika dia berkata begitu tubuhnya perlahan berubah menjadi besar dan bulu berwarna hitam pekat muncul menyelimuti dirinya.
Cakar yang ada di tangannya tumbuh dengan besar dan perlahan dia berdiri dengan empat kaki di tanah.
Perubahannya cukup mengejutkan bagiku.
"Ini adalah kemampuan dari setengah binatang [Beast]" Ucapnya dengan tersenyum dengan wajah yang telah sepenuhnya berubah menjadi serigala dan giginya telah memunculkan taring yang tajam. "Jadi tidak perlu pedulikan diriku"
Aku yang melihat tidak dapat menahan diri untuk tidak terkejut. Namun sekaligus lega karena aku tidak perlu khawatir dengannya..
Aku kembali menatap orang yang ada di depanku dengan kuat.
Dia tersenyum kepadaku menikmati pertarungan yang terjadi sebelumnya.
"Bisakah kau menghiburku ?"
Aku tidak membalas perkataannya dan hanya tersenyum kecut. Seandainya saja Class Mageku masih ada mungkin pertarungan akan cepat terselesaikan. Namun sayang itu tidak dapat terjadi.
"Change Class Mage"
[Class Mage tidak dapat digunakan saat ini dikarenakan rusaknya inti mana]
[Perbaikan diperlukan!]
Aku menatap layar pemberitahuan yang muncul dengan sedih.
Bukan hanya Yuina yang hancur inti mananya..
Jika seandainya aku tidak memiliki Class lain kemungkinan aku juga bernasib sama sepertinya..
"Apa yang sedang kau lamunkan"
Suara itu membuatku terkejut ketika orang tersebut telah muncul tepat di depanku.
Aku mundur dengan cepat menggunakan skill [Blink]..
Perpindahan cepat dari skill Assassin..
[[Blink] bisa digunakan kembali 30 detik kemudian] [Stamina dikorbankan]
Class Assassin memainkan Cooldown seperti halnya Game RPG dan juga stamina yang akan menjadi bayarannya.
Oleh karena itu Class Assassin tidak cocok untuk pertarungan jangka panjang.
Ini akan menjadi pertarungan yang sulit..
Bersambung..
Maafkan author karena lama gak update..
Dikarenakan author sedang melakukan pelatihan tertutup untuk meningkatkan kultivasi saat ini..
"Bilang aja cari referensi.. gitu aja repot" -Rei
"Dia cuman malas.. kau tahu author kita gak bisa diharapkan" -Rian
"Aku setuju dengan Rian"-Iwan
"Diamlah kalian"-Author
__ADS_1
Nah jadi gitu.. Soalnya aku dapat bahan bacaan novel yang menarik dan lupa untuk update karena terlalu asik maraton bacanya. jadi yah gitu..
Maafkan aku.. tolong juga jangan lupa like ya.. biar tambah semangat juga updatenya :')