
Pagi hari yang begitu cerah terlihat burung berkicau dan terbang kesana kemari memperlihat indahnya pagi yang sempurna..
Hutan yang begitu rindang memperlihatkan pesona alam yang begitu indah..
Ketika pagi yang indah itupun terlihat seorang pemuda yang sedang latihan pull up disalah satu dahan pohon..
"677"
"678"
...
Rambut pemuda dihembuskan oleh angin dan memperlihatkan wajah yang begitu mempesona..
Badannya yang terlihat kekar membentuk sebuah kotak di bagian perutnya..
Pemuda ini adalah Drian..
Setiap pagi dia selalu melatih fisik miliknya hingga membuatnya menjadi rutinitas sehari-hari..
"899"
Terlihat dia begitu berusaha payah untuk menggapai angka terbanyak dalam latihannya..
"Sedikit lagi untuk memecahkan rekor"
Ketika dia ingin menarik badannya keatas untuk putaran terakhir tiba tiba sebuah ledakan terdengar..
Suara burung yang sebelumnya berkicau dengan riang seketika itu langsung berubah menjadi kepanikan..
"Apa yang terjadi ?"
Drian melepaskan dahan pohon yang dia pegang dan jatuh lurus ke bawah..
Drian menjadi panik dan mencari asal suara tersebut..
Ketika dia berjalan dan melihat keatas terlihat asap mengembul dengan besar dari kejauhan..
Drian panik dan menambah kecepatan larinya..
Dia terus berlari hingga dia keluar dari hutan dan melihat sebuah desa..
Drian terkejut karena selama ini dia tidak menyadari bahwa ada desa di dekat tempat dia berlatih.
Namun kini desa itu tidak dalam kondisi baik.
Suara kekacauan telah terdengar.. tangis, ketakutan, teriakan semua bercampur menjadi satu..
Rumah yang kebakar tidak ada orang yang berani memadamkannya jika sesuatu seperti ini terjadi..
Yaitu banyak monster telah berada di desa itu..
Seratus.. tidak..
Banyak sekali..
Jumlahnya mungkin hampir seribu..
Tanpa sadar Drian merasakan keringat dingin yang muncul dipunggungnya.
"Jangan panik semua orang silahkan lari selagi kami mengulur waktu"
Suara itu datang dari seorang perempuan yang menggunakan armor dan sebuah pedang dipinggangnya..
Selain dia ada orang lain yang ikut membantu untuk mengevakuasi warga desa..
Saat dia berbicara salah satu monster ingin menerkam anak kecil yang ada di dekatnya..
Reflek dia sangat cepat untuk menebas monster itu..
"Cepat lari"
Anak kecil yang ketakutan itu mengambil kesempatan ini dan melarikan diri dengan cepat.
"MA-N-USI-A BU-NU-H"
Monster tersebut berbicara dengan terputus putus dengan menampilkan wajah marah kepada dia..
Monster lain juga datang dari arah belakang dirinya dan sampingnya..
__ADS_1
Hingga perempuan itu terkepung..
Melihat hal itu Drian ingin mendekati untuk menolongnya namun ketika dia hendak melangkah maju.. perempuan tersebut mengeluarkan Aura yang begitu kuat dengan elemen kegelapan yang menyelubungi dirinya dan juga pedangnya..
Matanya langsung menyala dengan ngeri..
Monster tersebut bergerak maju dan ingin melangkah mendekatinya..
Kaki monster tiba tiba terputus..
Monster lain yang melihat itu kebingungan..
Perempuan tersebut menyeringai dan mengayunkan pedangnya dengan begitu cepat kepada monster yang mengepungnya..
Semua monster dikalahkan begitu mudah tanpa banyak usaha..
Perempuan itu mencipratkan darah yang ada dipedangnya lalu memasukkannya kembali ke sarungnya..
Perempuan tersebut menyadari tatapan terkejut Drian kepada dirinya..
"Apa yang kau lakukan, melongo di sana.. cepat bantu warga desa untuk melarikan diri" Ucapnya kepada Drian dengan tidak senang..
Drian langsung terkejut akan dirinya dan tanpa sadar dia menjawab.. "Baik.."
Drian yang niat awalnya untuk membantu perempuan itu namun sepertinya perempuan itu tidak membutuhkan bantuan..
Drian dengan sigap menolong semua warga dan mengevakuasi semua orang..
"Anakku masih ada di dalam sana, siapa saja tolong"
Seorang ibu berteriak meratapi rumah yang terbakar.
Orang tidak memperdulikan hal itu dan hanya mementingkan keselamatan diri mereka sendiri..
Drian tidak tahan melihat hal ini dan melangkah mendekati ibu tersebut dengan cepat..
"Tunggu di sini" Drian berkata dengan tangguh..
Sebelum masuk Drian menarik napas miliknya dalam dalam dan langsung menahan napas..
Drian masuk dengan cepat dan seketika dia mendengar suara menangis dari lantai atas..
Drian memasuki rumah tersebut dengan hati hati..
Drian langsung mengambil anak kecil tersebut yang sedang menangis di bawah kasur..
"Nak aku datang untuk menolongmu"
Wajah anak itu langsung cerah dan merangkak keluar dari bawah kasur..
"Tolong tutup hidungmu"
Drian menggendongnya dan dia langsung dengan sigap melakukan apa yang diperintahkan Drian kepadanya..
Drian langsung menfokuskan dirinya dengan kakinya..
Ketika suara rumah yang terbakar mengeluarkan suara mau roboh..
Drian langsung bergegas mengeluarkan teknik langkah kilatnya lagi dan hanya hitungan detik dia sudah berada di luar..
Rumah langsung roboh dan seketika itu percikan api dan ledakan membuat sebuah penampilan epic ketika Drian keluar..
Drian langsung memberikan anak itu kepada ibunya..
Ibunya berkali kali mengucapkan ungkapan terima kasih kepadanya..
Ketika ibu dan anak itu pergi, Drian mendapatkan dirinya bersama dengan perempuan yang dia lihat sebelumnya.
Perempuan itu menatap kearahnya dari atas hingga ke bawah..
"Lumayan juga"
Perempuan itu tersenyum kepada Drian dengan manis..
"Sepertinya aku harus mengubah sudut pandangku kepadamu"
Drian tidak tahu membalas apa kepadanya dan hanya bisa tersenyum..
"Hei katakan sesuatu.. itu adalah pujian dari seorang petualang hebat kau tahu" Ucapnya dengan tidak senang melihat reaksi Drian..
__ADS_1
"Terima kasih ?" Ucap Drian dengan memiringkan kepalanya.
"Kenapa nada seolah bertanya" Protesnya.
Perempuan itu menjadi marah..
"Namaku Luna jadi ingat sampai akhir hayatmu bahwa aku adalah petualang perempuan terkuat nantinya"
Luna dengan bangga berkata itu dengan mebusungkan dadanya..
Terlihat tidak ada benjolan di sana dan Drian tidak meliriknya dengan minat dan sedikit merasa kasihan..
"Apaan dengan itu.. kenapa aku merasa dilecehkan"
Luna ingin mengomel kepada Drian namun sesuatu yang mengerikan terjadi..
"Kalian yang mengalahkan monster di sini"
Suara itu datang dari seorang berjubah hitam panjang menyelubungi tubuhnya..
Wajahnya begitu gelap yang ditutupi oleh tudung kepalanya..
Tidak tahu apa jenis kelaminnya apakah laki laki atau perempuan..
Bahkan Drian memperhatikan dadanya dan tidak nampak terlihat bahwa dia seorang wanita..
Lalu Drian tanpa sengaja membandingkannya dengan milik Luna..
Ah..
Sekarang Drian jadi bimbang apakah orang yang ada di depannya laki laki atau perempuan..
"Apakah kau sedang membandingkan dadanya denganku.. hei!!"
Drian memasang wajah tidak tahu apa apa ketika mendengar protes kecil Luna kepadanya..
"Sungguh manusia itu makhluk yang bodoh.. ketika disituasi seperti kalian masih saja santai" Ucap Orang berjubah hitam tersebut..
Orang berjubah hitam itu terlihat bergumam sesuatu yang begitu pelan hingga Drian dan Luna tidak dapat mendengar apa itu..
Namun setelah dia selesai lingkaran sihir besar muncul dibawah telapak kakinya..
"Dia merapal mantra sihir"
Drian tidak bisa membiarkan hal itu terjadi dan berlari dengan cepat untuk menghentikannya..
Orang berjubah itu menyeringai kecil..
"Muncullah"
Sesuatu keluar dari bawah tanah menampilkan wujud besarnya yang begitu kuat dan mengerikan..
Tangannya yang memegang sebuah palu besar dan rantai dilehernya membuat suara besi yang mengerikan..
Wajahnya terlihat mengerikan dengan wajah seperti Orc namun entah kenapa itu tidak menampilkan wajah Orc pada umumnya..
Terlihat seperti lebih mengerikan..
"Grraaaahhh"
Suara auman keluar dari mulut monster itu dan seketika itu..
Monster yang awalnya menyerang rumah dan orang tanpa beraturan berdiam dan langsung berkumpul mengelilingi kami..
Ratusan tidak..
Sepertinya Drian pikirkan..
Ribuan monster berkumpul di satu tempat mengelilingi Drian dan Luna..
Bersambung..
Mohon bersabar jika kalian lama menunggu update dan ketika update ternyata bukan Tiga Orang Idiot itu mohon maaf..
Karena ini cerita akan memasuki sebuah klimak nantinya.. jadi..
Sedikit saja saya bocorkan bagaimana ngerinya nanti klimaks yang akan terjadi yang akan saya gambarkan kepada Drian..
Semoga kalian terhibur dengan cerita Drian..
__ADS_1
Salam hangat author.. :'v
Like jgn lupa ya ^^