Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Hari Kawin ?


__ADS_3

Makan malam telah disediakan dengan begitu rapi dengan berbagai hidangan..


Rian dan Iwan yang melihat hal itu sudah tidak dapat menahan diri untuk tidak meneteskan air liur mereka..


"Terima kasih karena telah menyelamatkan Melidia" Ucap raja yang ada di depan kami dengan begitu tulus.


Di sebelahnya adalah istri raja dan ibunya Melidia..


Dia memiliki penampilan yang begitu menyerupai Melidia namun memiliki warna matanya yang berbeda..


"Saya juga berterima kasih karena telah menyelamatkan satu-satunya putri saya" Sambung sang ratu dengan menundukkan kepalanya berterima kasih dengan kami..


"Yang mulia tidak perlu berlebihan.. kami menyelamatkannya karena itu hal yang benar untuk dilakukan" Balasku dengan tulus..


Melidia yang mendengarku berkata seperti itu hanya menyipitkan matanya kearahku.


Aku takut untuk menjawab hal yang sebenarnya..


Karena niat awal menyelamatkannya hanyalah untuk menjadi penunjuk jalan..


Jadi itu kondisi win-win..


Namun memberitahukan hal tersebut kepada mereka mungkin akan merusak citra kami..


Raja dan Ratu saling tersenyum kepada kami..


"Silahkan dinikmati hidangannya tidak perlu sungkan"


Rian dan Iwan telah menunggu kata - kata itu dan dengan lahap mengambil makanan.


Aku hanya mengambil makanan dengan santai tanpa terburu-buru seperti mereka berdua..


"Kalian berdua tidak bisakah bertindak sopan di depan raja"


Lily dengan kesal melihat kelakuan mereka berdua..


"Tidak perlu khawatirkan hal itu" Ucap yang mulia dengan ramah.


"Tapi yang mulia"


"Tidak perlu.. disini hanya ada kita jadi tidak perlu memikirkan formalitas"


Lily mendengar perkataan raja seperti itu tidak ingin mengungkitnya lagi..


Namun tetap saja dia masih kesal dengan sikap mereka berdua..


"Tuan Rei silahkan dinikmati"


"Ah tentu"


Aku terlalu memperhatikan mereka berdua hingga makananku masih belum aku makan.


Hah~


Kadang membawa mereka berdua ke acara orang banyak sepertinya akan sangat memalukan..


Aku makan dengan lahap menghabiskan hidangan yang ada dengan santai.


Waktu berlalu dan makanan di meja telah habis..


Rian dan Iwan memegangi perut mereka dengan kenyang..


"Terima kasih atas makanannya dan juga atas tempat tinggalnya"


Raja yang mendengarku tersenyum dengan ramah. "Tidak perlu sungkan.. kalian bisa tinggal disini sampai kapan pun kalian mau"


Aku mengangguk dengan pelan dan bangkit dari tempatku duduk.


Kami mengucapkan salam perpisahan dengan raja dan berjalan menuju tempat kami tidur. Karena kelelahan dari perjalanan panjang membuat badanku sakit..


Aku merebahkan diriku dengan nyaman di kasur yang begitu empuk..


Kenyamanan ini membuatku merasa sangat mengantuk dan mataku yang begitu berat tidak dapat menahan ngantuk yang datang..


...


...


...


...


Cahaya pagi masuk melalui jendela yang ada di kamarku..


Aku membuka mataku dengan berat dan cukup lama untuk bisa mengendalikan penglihatanku selepas tidur..


Aku mengucek mataku dan berjalan menuju jendela untuk menyambut cahaya pagi..


Hangatnya cahaya matahari memasuki pori-pori kulitku dengan begitu nyaman..


"Silau.. mataku.."

__ADS_1


"Kenapa kau malah membuka jendelanya ?"


Ah~


Aku lupa mereka juga tidur di sini..


Karena kelelahan membuatku tidur begitu lelap hingga melupakan mereka..


Aku tidak perlu berdebat kepada mereka seperti orang tua jadi aku hanya pergi meninggalkan mereka dan berjalan sekitar istana untuk mencari kamar mandi..


Saat persimpangan jalan aku bertemu dengan Melidia..


Aku bertanya dimana kamar mandi dan dia dengan senang hati mengantarkanku..


Sebelum masuk aku mengetuk pintu untuk memastikan tidak ada orang di dalam..


"Apa yang sedang kau lakukan ?"


Melidia dengan heran bertanya kepadaku..


"Aku hanya memastikan tidak ada orang di dalam"


"Aku yakin tidak ada orang di dalam karena ini kamar mandi khusus untuk tamu"


Aku tidak mau mengalami hal deja vu di kamar mandi ketika masih di ibukota Klienstar..


Sebenarnya apa yang terjadi itu apakah memang kehendak takdir ?


Note Author : Jika kalian masih ingat Rei pernah membuka kamar mandi yang dimana Liana masih sedang mandi walaupun itu bukan salahnya karena Liana yang lupa mengunci kamar mandi.. aku disini hanya mengingatkan. :)


...


...


...


Setelah selesai bersiap-siap dengan pakaian rapi dan sebagainya..


Aku bersiap berjalan keluar pintu kerajaan untuk membeli persediaan makanan untuk perjalanan kami nantinya.


"Kita akan berjalan-jalan sekarang kan ?" Tanya Rian dengan penuh semangat.


"Aku tidak sabar melihat daerah sekitar" Sambung Iwan dengan senang.


Rian dan Iwan begitu bersemangat dan tidak begitu sabaran hingga berlari seperti anak kecil..


"Ingat kita disini hanya membeli persediaan makanan untuk perjalanan kita"


"Saya akan mengantarkan kalian berkeliling daerah kerajaan.. takutnya kalian akan tersesat disini" Ucap Melidia kepadaku dengan pengertian.


Aku mengangguk setuju akan pernyataan itu.. tersesat di daerah baru itu wajar jika tidak mengenal daerah setempat.


Terutama untuk mereka berdua.


"Terima kasih atas perhatiannya" Ucapku dengan begitu tulus..


Melidia memberikan senyum ramah miliknya kepadaku..


"Tidak bisakah kalian berjalan dengan santai" Lily dengan cepat menarik kerah mereka berdua yang sedang berlari..


Ngek~


Suara kerongkongan leher mereka berdua berbunyi ketika Lily menarik mereka..


"Uhuk~ apa kau lakukan ?" Ucap Rian dengan kesal sembari mengeluarkan batuk kesakitan.


"Uhuk~ kau mencoba membunuh kami ?" Sambung Iwan dengan reaksi yang sama.


Mereka berdua memegang leher mereka dengan kesakitan.. aku hanya bisa khawatir dengan suara yang berbunyi tadi.. sepertinya itu sakit..


Namun aku masih bersyukur karena Lily bersama kami jadi ada yang mengawasi mereka.


Aku tidak tahu kemana mereka akan tersesat jika mengalihkan pandangan dari mereka satu detik saja..


...


Lalu kami berjalan dengan pelan di pinggir jalan utama yang begitu besar menghubungkan jalan istana kerajaan menuju daerah pasar yang akan kami tuju..


Setiap tatapan mata melihat kami dengan tidak begitu ramah dan bahkan beberapa memberikan tatapan seolah melihat kotoran di depan mereka..


Aku merasakan punggungku menjadi tidak nyaman jika dilihat seperti itu sepanjang perjalanan..


"Tatapan mereka.."


Rian dengan menggigil sebelum melanjutkan perkataannya..


Sudah aku duga dia pasti merasa tidak nyaman..


"Di tatap seperti ini tidak terlalu buruk.. apalagi oleh cewek cantik di sepanjang jalan" Ucap Rian dengan merinding kesenangan.


"Apakah kita membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya bangkit ?" Balas Iwan dengan sedikit takut.

__ADS_1


What ? sepertinya mereka menikmati ini..


"Badanku terasa panas" Ucap Rian memegang tubuhnya.


"Rian tenangkan dirimu.. walaupun aku tahu bagaimana rasanya" Balas Iwan dengan panik.


"Bisakah kalian untuk tidak menikmati ini, dasar mesum!" Ucap Lily dengan wajah marah dan tatapan mata yang begitu menjijikan kearah mereka berdua..


Mereka berdua bukannya takut malah semakin senang..


Ugh.. mereka sudah tidak bisa di tolong lagi..


...


...


Suara sorak sorai orang mengalihkan perhatianku. aku melihat semua orang berkerumun dengan begitu gembira melihat sesuatu yang ada di depan mereka..


"Apa terjadi sesuatu di sana" Tanyaku dengan penasaran.


Melidia yang ada disampingku menanggapinya dengan tersenyum.


"Aku lupa hari ini adalah musim kawin bagi beberapa ras yang telah dewasa"


"Musim kawin ?"


"Bagaimana menjelaskannya.. ya pada intinya sang lelaki saling adu kekuatan untuk mendapatkan gadis yang mereka sukai"


"Aku tidak tahu jika ada tradisi seperti itu"


"Mari kita lihat sebentar.. bolehkan ?" Rian bertanya kepadaku untuk meminta ijin..


Aku bukan orang tuanya yang harus meminta ijin setiap melakukan sesuatu..


Tapi aku juga sedikit penasaran jadi apa salahnya..


"Hanya sebentar"


Rian dan Iwan begitu senang langsung berjalan menuju kerumunan untuk mencari tempat yang nyaman untuk menonton..


Aku mengikuti mereka dari belakang dan membiarkan membuka jalan untuk ke depan.


Melidia dan Lily tidak terlalu tertarik dengan hal ini namun mereka masih mengikuti kami dengan senang hati..


Ketika kami telah dibagian paling depan aku melihat panggung yang terbuat dari batu yang begitu besar dengan potongan yang begitu rapi untuk menjadi arena.


Seseorang dengan kepala singa dengan bulu disekitarnya berdiri dengan gagah dengan otot-otot di tubuhnya.


Di depannya adalah ras singa juga namun dengan surai panjang di kepalanya yang berbeda dari singa yang ada di hadapannya.


Aku melihat daerah sekitar ada seorang gadis yang berdiri di pinggir arena tempat yang begitu khusus.


Hanya satu orang gadis yang begitu cantik dengan telinga singa dan rambut pirang yang begitu kasar seperti ras singa pada umum.. badannya begitu bagus seperti seorang model cantik di sana..


"Apakah mereka merebutkan gadis yang ada di sana ?"


"Ya.. itu adalah tempat calon gadis yang akan dinikahi.. jadi pertarungan ini untuk merebutkan siapa yang layak untuknya ?"


Jadi begitu rupanya..


...


...


...


Bersambung..


Ruang curhat pemain


"Sepertinya di tatap dengan tajam seperti kotoran itu tidak buruk"-Rian


"Apalagi itu gadis cantik rasanya entah kenapa itu membuat jantungku berdetak dengan cepat"-Iwan


"Kalian masih sehat ?"-Rei


"Apa ini yang disebut dengan M ?" -Rian


"Akhirnya aku tahu rasanya" -Iwan


"Rasanya tidak buruk bukan ?" -Rian


"Ya" -Iwan


"Apa yang kau lakukan kepada mereka berdua thor ?" -Rei


"Eh.. ini salahku ?"-Author


...


...

__ADS_1


__ADS_2