
Setelah selesai membuatkan makanan untuk paman atau ayahnya Hiura..
Kami pamit untuk pergi..
Saat kami pergi si iwan lupa untuk membeli tameng jadi kami kembali membeli tameng..
Lalu tameng itu juga diberikan secara gratis oleh mereka..
Sungguh keluarganya Hiura sangatlah baik..
"Hei.."
Saat kami berjalan Rian berhenti untuk melihat toko yang dimana itu adalah toko aksesoris dan pakaian untuk perempuan..
"Hei.. bisakah kita singgah sebentar"
Rian bertanya kepada kami..
Aku dan Iwan langsung tersenyum licik..
"Pasti ini untuk orang yang di cintai"
"Huhu.. Rian kita sudah besar"
"Itu bukan seperti itu.. ini hanya sebagai hadiah permintaan maaf"
Rian menjawab dengan wajah serius miliknya dan terlihat sedikit dari matanya dimana dia telah menyesali apa yang telah dia lakukan..
Sepertinya..
Sepertinya ini adalah tempat yang bagus untuk membelikan hadiah sebagai permintaan maaf..
Aku juga tidak merasa enak menipu Yuina. mungkin akan sangat bagus jika menghibur suasana hatinya dengan hadiah..
Pada akhirnya kami setuju untuk singgah ke toko aksesoris tersebut..
Saat kami masuk ke dalam toko tersebut terlihat beberapa aksesoris wanita dari kalung, cincin, gelang dan lain sebagainya..
Kami yang masuk tersebut langsung di sambut ramah oleh pemilik toko tersebut..
Kami diajak berkeliling di dalam toko itu dan melihat banyak sekali aksesoris yang bagus..
Aku sendiri sampai bingung mau membeli apa ?..
Namun terlihat Rian telah memutuskan hadiah yang dia pilih..
Begitu juga Iwan..
Aku yang bingung masih melihat isi dalam toko tersebut tertuju pada satu hal yang mungkin akan sangat cocok dengan Yuina..
...
Saat setelah selesai kami langsung kembali menuju istana dengan membawa sebuah hadiah kecil..
Yah ini anggap saja sebuah permintaan maaf untuk telah membuat dirinya khawatir..
Aku harap Yuina tidak marah..
Saat kami sampai Yuina sedang berbincang bersama ayahnya di ruang tamu di istana kerajaan..
Menyadari kedatangan kami Sang Raja tersenyum..
"Kemarilah ada yang aku bicarakan dengan kalian"
Kami bertiga berjalan mendekati sang raja dan duduk di sofa yang sudah disediakan..
"Aku akan pergi ke ibukota untuk kunjungan dan aku ingin kalian bertiga ikut bersamaku"
Kami bertiga saling menatap satu sama lain..
"Apakah ada sesuatu yang harus kami lakukan" Tanyaku..
"Yah cuman hal kecil.. Aku hanya ingin memperkenalkan diri kalian kepada kakakku di sana" Ucap sang raja sambil tersenyum bahagia.. "Aku juga ingin mengejutkan dia dengan kesembuhan diriku"
"Saya tidak keberatan" Jawabku.
Aku melihat kearah Rian dan Iwan..
"Aku juga tidak keberatan.. lagipula ini kesempatan bagus untuk liburan" Balas Rian dengan senang.
Iwan yang mendengar hal tersebut langsung memegang kepalanya dan berkata. "Aku baru ingat kita pergi dari rumah sejak awal untuk liburan"
Rian juga ikut memegang kepalanya dan berkata. "Aku lupa akan hal itu"
"Baru sekarang kalian ingat tentang hal itu -_-"
Saat mendengar hal itu raja langsung menyadari sesuatu..
"Aku dengar kalian baru keluar dari gereja setelah memgalami perawatan akibat pertarungan melawan monster"
Aku langsung menyadari bahwa si idiot Rian ini memiliki settingan bahwa dia lupa ingatan..
Namun dari dia berbicara dengan kami dan arah obrolan ini akan menjadi hal yang sangat buruk..
Yuina bahkan sudah menatapku dengan tajam..
Rian melihat ke arahku dan juga Iwan yang lalu pada akhirnya tatapan tersebut jatuh kepada Raja..
"Ini sebenarnya salahku" Ucap Rian sambil menundukkan kepalanya..
Lalu setelah itu Rian menceritakan hal yang sebenarnya kepada sang raja..
"Ini semua adalah ideku untuk berpura pura terluka parah kepada Rei dan Iwan"
"Tidak aku juga salah seharusnya aku tidak menyarankan hal ini untuk mendapatkan ending harem"
Iwan yang mendengarkan apa yang dikatakan Rian menjadi tidak terima jika Rian menanggung beban sendirian..
"Aku juga ikut salah dalam hal ini"
Aku pada akhirnya juga ikut akan hal ini..
Yah pada akhirnya ini memang hal yang tidak harus dilakukan..
__ADS_1
Karena menipu orang bahwa diri kita terluka parah itu memang tidak baik..
Apa yang akan terjadi jika orang itu tulus mengkhawatirkan kita namun ternyata itu hanyalah tipuan..
Raja lalu tersenyum mendengar hal itu dan pada akhirnya tertawa..
"Haha.. sungguh anak muda yang baik.. seharusnya kalian berpura pura sampai tiga hari"
"Kalau itu.. ada sedikit niat seperti itu" Jawab Rian dengan tertawa kecil..
"Kalian mengingatkanku pada masa mudaku.. saat itu aku berpura pura terluka saat masih muda dan istriku begitu mengkhawatirkanku namun saat dia tahu bahwa aku berpura pura dia langsung memukulku dengan sebuah panci di kepalaku" Kata Raja dengan bahagia.
"Yah itu adalah kenangan yang indah" Raja berbicara dengan pelan seakan bernostalgia akan hari itu..
"Mari lupakan tentang itu.. aku harus pergi karena urusan kerajaan masih belum selesai.. oh jangan lupa bahwa kita akan berangkat besok lusa"
Setelah itu raja pergi meninggalkan kami..
Yuina menatap kearah kami..
Ugh..
"Aduh perutku sakit" Ucap Rian yang langsung pergi dengan memegang perutnya..
"Ah maaf tiba tiba ada telpon" Sambung Iwan juga yang beranjak pergi..
Aku yang ingin pergi telah di tahan oleh Yuina..
"Hmm.."
Yuina menatapku dengan tajam..
"Itu seperti yang dikatakan itu hanya tipuan.. maafkan aku" Ucapku dengan menyesal..
"Bagus jika kau menyesal seharusnya kau tidak boleh berbohong jika kau sakit maka katakan sakit jika kau tak sakit bilang tidak sakit.. jadinya aku tidak akan terlalu khawatir.. aku seperti orang bodoh saja saat itu"
Yuina mengomel dengan panjang lebar..
Aku hanya bisa menahan diriku untuk tidak menangis..
Apaan ini.. kenapa aku merasa diriku sedang dimarahi ibuku..
"Aku punya sesuatu sebagai permintaan maafku" Ucapku sambil mengambil bungkisan kado kepada Yuina..
Yuina menatapku dengan terkejut..
"Kau tidak harus memberikanku hadiah"
"Bagaimana juga ini sebagai permintaan maafku.. tolong diterima"
"Jika kau berkata begitu"
Yuina mengambil bingkisan yang aku berikan kepadanya..
"Boleh aku buka"
"Silahkan"
Yuina membuka kado tersebut dan dia sungguh terkejut..
"Apakah kau tidak suka"
"Bukannya aku tidak suka cuman alasannya kenapa ?"
"Mungkin ini agak aneh karena ini masih belum musim salju tapi jujur aku terpikirkan oleh rambutmu yang perak mengingatku akan salju tanpa sadar aku membeli syal"
"Cuman itu"
"Yah.."
Yuina tertawa hingga air matanya keluar..
"Baru kali ini aku menerima hadiah dengan alasan itu.. 'walaupun ini bukan musim salju'..haha"
"Maaf jika aku tidak pandai memilih hadiah.." Balasku sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal..
Karena ini memang hal yang mustahil untuk diriku yang tidak pernah memiliki seorang pacar dan tiba tiba membelikan hadiah untuk seseorang gadis..
Itu seperti menaiki atap rumah tanpa tangga..
"Terima kasih aku akan menyimpan ini dengan baik" Balas Yuina dengan tersenyum..
Aku melihat senyum yang diberikan Yuina kepadaku akhirnya aku bersyukur telah membelikan sebuah hadiah permintaan maaf..
...
Rian Side..
Rian yang akhirnya dapat pergi dengan alasan sakit perut tiba tiba saat dipersimpangan koridor kerajaan hampir saja dia tertabrak dengan seseorang.. karena hal itu dia langsung mundur beberapa langkah..
"Maaf"
Saat Rian melihat orang tersebut mulutnya langsung terbuka..
"Hmm.. pura pura sakit ya"
"Kau mendengarnya ?"
Kina mengangguk..
"Maaf sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu"
Kina yang mendengar hal itu ingin marah..
"Namun aku menyesal akan hal itu karena membuatmu bersedih dan juga aku tersadar sesuatu.. saat kau berkata bahwa aku sangat berarti untukmu jujur aku senang.." Ucap Rian dengan malu malu..
Kina yang mendengar pernyataan itu wajahnya langsung memerah dan saat itu dia menutupi wajahnya dengan tangannya..
"Apa yang kau katakan.. apa kau pikir kata kata seperti itu akan membuat diriku memaafkanmu"
"Ini ada sebuah hadiah"
Kina menerima sebuah bingkisan kecil saat Kina membukanya di sana terlihat sepasang klip rambut yang berbentuk bunga Gerbera yang indah dengan warna putih yang menjadi ciri khasnya..
__ADS_1
Wajah Kina semakin memerah sampai ke telinga miliknya.. tangannya begitu gemetaran saat menerima itu..
(Apakah dia tidak senang ?)
Rian berpikiran seperti saat melihat reaksi Kina..
Namun Rian tidak mengetahui arti bunga yang dia berikan dan juga dengan arti warnanya..
Rian hanya memilih bunga jenis ini karena cantik dan juga karena cocok dengan rambut hitamnya dan pita putih yang dia pakai.. jadi dia memilih bunga warna putih ini karena cocok dengan pita yang dia kenakan..
Namun Kina tahu arti dari bunga ini karena jenis bunga ini sangat terkenal untuk pasangan kekasih..
Apalagi arti dari warna bunga gerbera putih yang dimana itu melambangkan cinta yang tulus..
"K-aauuu"
Kina berbicara dengan gemetaran dan juga gugup..
"Kalau kau tidak suka tidak dipakai juga tidak apa apa.. atau kau bua--"
"Tidak aku akan memakainya"
Rian yang mendengar hal tersebut tersenyum bahagia karena hadiah yang dia berikan tidak sia sia..
Namun Kina salah mengartikan dari senyuman milik Rian..
(Apakah kami sekarang sepasang kekasih ?)
Kina memikirkan hal itu langsung memerah dan membalik badannya..
"Aku akan ke dapur untuk menyiapkan makan malam"
Kina dengan cepat pergi..
Rian hanya bisa mengelus dadanya karena sepertinya dia tidak kena hajar atau kena marah oleh hal ini..
...
Iwan Side..
Iwan beranjak pergi karena dia bingung mau kemana pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya..
Saat di jalan perjalanan dia bertemu dengan Lisa..
Lisa terlihat sedang merawat bunga yang tumbuh di sisi dinding dekat jendela..
Melihat Lisa ada di sana dia datang untuk mendekatinya..
"Lisa"
"Kau sudah pulang"
"Aku rasa"
"Syukurlah.. untung saja tidak ada serigala di jalan"
"Tunggu.. apa kau berharap tentang itu"
Lisa tidak membalas itu dan menyambung kegiatannya..
"Hei aku punya hadiah sebagai permintaan maaf"
"Ara.. hadiah ?"
Lisa meletakkan penyiram air di meja dan mengambil hadiah yang diberikan Iwan..
Saat dia membuka hadiah tersebut matanya langsung menatap tajam kearah Iwan..
"Apa ini"
"Itu sarung pisau"
Seperti yang dikatakan Iwan itu adalah sarung pisau dimana itu memiliki warna biru kegelapan dengan corak bunga dan pernak pernik yang memperindahnya di sana..
"Kenapa ?"
Lisa bertanya dengan bingung..
"Sepertinya bagus untuk tempat pisau bukan"
"Kenapa"
"Yah aku tidak memikirkan apa apa karena tiba tiba pisau langsung ada di pikiranku"
"Kau segitu inginnya dengan pisauku"
"Tidak bukan itu"
Lisa mengeluarkan pisau miliknya dari lengan bajunya..
"Tunggu ini.."
Iwan menjadi ketakutan..
Namun hal yang dilakukan Lisa hanya meletakkan pisau tersebut ke sarung yang diberikan Iwan..
"Kenapa kau jadi takut"
Lisa menatapnya dengan heran..
"Maaf"
Iwan sepertinya membuat Lisa berada dalam suasana hati yang buruk..
"Kenapa ?"
"Maaf"
Bersambung...
Fun Fact : Memikirkan hadiah yang cocok untuk mereka semua membutuhkan waktu yang lama dan sempat dilema.. yah syukurlah mereka mendapatkan hadiahnya.. sungguh Arc ini membuatku sakit..
Yah selanjutnya nanti akan ada Arc baru..
__ADS_1
Gak tau juga sih.. apakah cocok disebut Arc baru.. :v
Nantikan saja oke :)