Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Pertarungan antar pemimpin


__ADS_3

Aku mengikuti Felisha yang memimpin di depan dengan perhatian penuh sembari menghalau serangan yang datang.


Meskipun serangan mereka kuat namun itu tidak cukup untuk menghentikan langkah kami yang dimana Rian dan Iwan yang memiliki kemampuan sihir dan perlindungan yang tidak hentinya menghalau serangan yang datang.


Ketika kami berjalan Felisha berhenti dengan tiba-tiba membuatku hampir menabrak belakangnya.


Aku bernapas lega untuk beberapa saat sebelum akhirnya Rian dan Iwan yang terlalu fokus untuk menghalau serangan yang datang dan tidak melihat ke depan menabrak diriku dengan keras.


Hingga membuat diriku tanpa sengaja menabrak Felisha..


"Hei tidak bisakah kau berhati-hati" Ucap Felisha dengan begitu kesal kearahku.


"Tidak itu buka--"


"Berhati-hati"


"Baik mam!"


Aku tidak bisa membela diriku sendiri ketika dihadapan perempuan ini..


Dia begitu galak hingga membuatku takut..


"Kenapa kita berhenti tiba-tiba" Tanyaku kepadanya.


"Tunggu.. di depan kita sudah dijaga banyak Elf.. namun sepertinya mereka sedang tidak menunggu kita"


Aku melihat melalui celah semak-semak dimana kami bersembunyi..


Aku melihat banyak Elf sedang memperhatikan seseorang yang datang di depan mereka..


Kedatangan itu adalah manusia..


"Apakah itu teman kalian ?" Felisha bertanya kepadaku.


Aku menggelengkan kepalaku.


"Aku tidak tahu mereka"


Mereka memiliki pasukan dengan armor yang begitu lengkap dengan pedang dan perisai..


Beberapa dari mereka juga memakai jubah dan tongkat yang dimana itu menyatakan bahwa class mereka adalah mage.


"Tetua!"


Felisha menyebutkan seorang Elf yang memiliki penampilan kakek tua berjalan menyambut manusia yang ada di depan mereka.


Mereka sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang dimana kami tidak dapat mendengarnya begitu jelas karena tempat kami bersembunyi lumayan jauh dari tempatnya.


Namun dari reaksi Elf yang lain sepertinya pembicaraan yang terjadi bukanlah sesuatu yang baik.


Manusia itu menjadi marah dan menarik pedangnya..


Aku yang melihat itu dengan reflek menggunakan skill [Blink]ku menuju kearahnya dan menangkis pedang yang dia arahkan kepada tetua dengan belatiku.


Dia begitu terkejut akan kehadiranku yang tiba-tiba.


"Kau manusia! kenapa berpihak kepada Elf!"

__ADS_1


Orang itu marah kepadaku ketika aku menolong Elf.


"Apa kau mengatakan bahwa aku harus membiarkanmu untuk membunuh Elf karena mereka bukan manusia ? apakah itu maksudmu" Balasku dengan menyipitkan mataku dengan marah.


Aku langsung mengerahkan tenagaku untuk membuat pedangnya mundur dari wajahku.


Dia menatapku dengan tatapan terkejut namun keterkejutannya hanya bertahan sebentar dan dia kembali menatapku dengan tersenyum.


Senyumannya tidak begitu menyenangkan hingga membuatku jengkel dengan perasaan marah.


"Kau tahu.. memihak dengan Elf tidak akan membuatmu mendapatkan keuntungan.. jika kau ikut bersama kami kau bisa mendapatkan gadis Elf yang cantik yang kau inginkan.. masih belum terlambat untuk berubah pikiran"


Dia berbicara dengan memainkan lidahnya membuatku ingin memotongnya dan setiap kata yang dia tujukan membuatku tahu orang seperti apa dia..


"Aku hanya ingin kalian pergi dari sini sebelum pertumpahan darah terjadi.. kau tahu selagi aku masih bisa menahan amarahku" Ucapku dengan tersenyum sembari menyipitkan mataku kearahnya.


Senyum miliknya perlahan menghilang dan menatapku dengan tatapan yang tidak begitu menyenangkan.


"Sungguh sangat disayangkan.. kau mengambil sisi yang salah"


Dia mengeluarkan satu pedangnya lagi dengan tangan kirinya dan mengarahkannya kepadaku.


"Aku akan serius membunuhmu!"


Dia mengayunkan kedua pedangnya bersamaan menuju kearahku dengan secara vertikal dan horizontal.


Aku dengan bermodalkan belati menangkisnya dengan cepat dan menghindari dengan seefisien mungkin.


Ketika aku menahan pedang yang datang dari arah kanan satu pedang dia kerahkan dari kiri menuju pinggangku.


Aku mengeluarkan satu belatiku lagi dari kantong penyimpananku yang selama ini aku ikat di pinggangku.


Dia tidak dapat menghindari seranganku namun karena dia memakai armor lengkap jadi itu tidak berarti apa-apa untuknya.


"Kau cukup kaya juga untuk memiliki kantong penyimpanan"


Aku tidak menanggapi katanya dan fokus untuk menyiapkan rencana untuk menyerangnya.


Namun orang-orang yang ada di belakangnya melangkah maju untuk melakukan serangan.


"Kami akan membantu Rei!"


Kedua temanku datang untuk menghalau orang-orang yang datang dari sisi pria itu.


Namun para Elf juga tidak tinggal diam untuk membiarkan pertarungan menjadi satu sisi..


Aku membiarkan mereka saling bertarung dan aku akan fokus untuk melawan orang ini yang menjadi pemimpinnya.


Aku memegang kedua belatiku dengan perasaan yang begitu nyaman. Aku tidak mengerti kenapa perasaan ini muncul namun aku merasa sepertinya ini akan menjadi pertarungan yang mudah.


Aku menggunakan Skill [Stealth] begitu cepat untuk muncul di belakangnya.


Dia memiliki reaksinya cukup cepat untuk orang yang memegang dua pedang di tangannya.


Percikan api terlihat ketika belati milikku dan pedang miliknya saling beradu.


Mengangkat belati kearah atas dan langsung mengelak kearah samping untuk meminimalisir serangan pedangnya.

__ADS_1


Karena jangkauan serangan pedangnya cukup panjang dibandingkan belatiku milikku jadi aku harus mendekatinya dengan cepat.


Pedang di tangannya kirinya kembali menyerangku lagi namun kini dengan penekanan yang begitu kuat akibat tumpuan kaki kirinya yang dia tekuk sedemikan rupa agar berat pedangnya menjadi sulit untuk ditahan.


Aku telah memperhatikan hal tersebut tahu bahwa aku tidak akan bisa menahannya hanya dengan belatiku jadi..


[Change Class Guardian]


Aku dengan cepat berganti Class dengan guardian yang dimana defensifnya begitu tinggi untuk menahan sebuah serangan.


Dia begitu terkejut ketika aku bisa menahan pedangnya hanya dengan sebuah belati tanpa usaha yang begitu keras.


Aku tersenyum melihat reaksinya.


Inilah kelebihan dari banyaknya Job Class yang aku miliki.


Aku membuat diriku memiliki aura pertahanan yang tinggi dan menahan serangannya.


Tanpa basa-basi aku langsung berjalan maju dengan menekan diriku untuk mendekati kearahnya.


Aku mengayunkan belatiku dari arah kanan.


Dia berusaha untuk melindungi dirinya menggunakan pedang yang ada di tangan kanannya namun terlambat.


Karena penekanan kakinya yang masih berada di kiri membuat reaksi bagian kanannya melambat.


Aku menancapkan belatiku di bagian lehernya yang dimana itu tidak terlindungi oleh Armor.


"Furgh.. bagaimana.. kau.."


Perlahan darah mencuat dari lehernya dan aku menekan seranganku dan melintirkan belatiku di lehernya dengan kuat hingga matanya perlahan menghilang.


Dia terjatuh tanpa adanya perlawanan kembali.


Tanganku berlumuran dengan darah miliknya yang dimana membuatku sadar bahwa ini adalah pertama kalinya aku membunuh manusia.


Walaupun aku pernah membunuh manusia yang berubah jadi monster namun ini pertama kalinya aku membunuh manusia murni.


Aku cukup tenang untuk pembunuhan pertamaku..


Apakah karena ini dunia lain membuat pola pikirku menjadi berubah ?


Bersambung..


Bagaimana adegan perkelahiannya apakah sudah cukup bagus ?


Aku mulai terbiasa menulisnya sekarang.. apakah karena Rei semakin berkembang jadi aku menulisnya cukup nyaman ?


Aku tidak tahu..


Jadi bagaimana menurut kalian..


Adegan perkelahiannya udah bagus ?


Dulu nulis adegan ini malasnya minta ampun.. karena author gak punya pengalaman berkelahi jadi agak cukup kesusahan :v


Namun sekarang udah mulai nyaman.. karena telah berkelahi sama diri sendiri :v

__ADS_1


Oke gitu aja.. Likenya jangan lupa ya ;)


__ADS_2