
"Jangan biarkan garis depan hancur"
Suara ricuh seseorang dalam pertarungan pecah seperti api yang dibakar dengan cepat.
Semua orang memanggil roh yang dikontrak untuk membantu mereka dalam pertarungan..
Pasukan yang memiliki roh tipe tanah langsung memerintahkan roh mereka untuk membuat barikade dengan dinding tanah.
Walaupun tidak kokoh namun untuk sementara ini dapat menahan monster yang datang.
Tetua Elf yang melihat dari rumah pohonnya yang tinggi mengerutkan keningnya dengan dalam.
Mereka mungkin masih bisa selamat karena pemukiman mereka semua berada di atas pohon.
Namun mereka tidak bisa membiarkan monster melewati daerah mereka karena jika itu terjadi kemungkinan besar pohon kecil akan mati akibat monster.
Dimana wajah mereka letakkan ketika Elf yang menyukai alam membiarkan pohon yang mereka rawat hancur.
"Pemanah jangan biarkan mereka lewat!"
Suara itu datang dari Elf yang memiliki wajah yang cukup kasar dengan bekas luka di pipinya.
Di lihat darimana pun orang ini memiliki pengalaman bertarung dengan monster tak terhitung jumlahnya.
"Kapten Zed.. dinding tanah area samping mulai hancur"
Kapten Zed mulai khawatir..
Dia sudah melewati banyak pertarungan namun tidak pernah dalam skala besar seperti ini.
"Perintahkan Roh angin untuk memberikan tekanan udara kepada monster untuk memukul mundur mereka"
"Tapi itu tidak akan bertahan lama.. karena Roh mulai kelelahan"
"Kerahkan semua apa yang kita punya"
"Siap kapten"
...
...
...
(Kenapa mereka semakin bertambah banyak)
Felisha dengan keringat di dahinya yang jatuh telah mengerahkan Roh tanahnya untuk membuat dinding yang kokoh bersama Elf yang lain.
Rambutnya yang pirang terurai menampilkan telinganya yang panjang seperti pada Elf umumnya.
Matanya yang berwarna biru sedang menatap tajam kearah depan melihat monster yang datang.
Wajahnya yang begitu cantik tidak bisa hilang walaupun keringat dan kotoran membanjiri wajahnya.
Sungguh kecantikannya yang mengerikan..
"Felisha.. jika keadaan memburuk tolong cepat mundur ke belakang"
"Ayah.. aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri"
__ADS_1
Felisha yang ditemani dengan ayahnya di sampingnya tersenyum.
"Ini bukan perintah tapi permintaan"
"Aku masih bisa--"
Ketika Felisha ingin berkata sesuatu dinding tanah mulai retak sedikit demi sedikit.
"Felisha cepatlah mundur"
Felisha mengindahkan peringatan ayahnya dan tetap bertahan di sampingnya.
"Ayah jangan bodoh.. jika harus mundur maka kita harus mundur bersama"
"Kau berani menyebut ayahmu bodoh"
Dinding tanah yang retak mulai kembali ketika energi mental Felisha dia kuras untuk membantu roh tanahnya membangun dinding.
Dia tidak bisa melakukan ini terus menerus karena energi mental seseorang pasti akan habis.
Layaknya mana jika Energi mental seseorang habis maka itu akan berakibat buruk kepada pikirannya..
Karena pikiran penggunanya dengan rohnya akan menjadi singkron dan ketika itu terjadi apa yang dirasakan roh akan dirasakan oleh penggunanya..
Felisha perlahan-lahan mulai kehabisan energi mentalnya dan roh yang dia kendalikan mulai kesakitan untuk mempertahankan lebih lama benteng pertahanan yang dibuat oleh tanah.
Ketika retakan tanah mulai melebar monster mulai tidak sabaran untuk masuk.. namun benteng tanah belum hancur sepenuhnya sehingga hanya separuh badan monster itu masuk..
Monster tersebut tidak sabar dan melemparkan senjata yang terbuat dari kayu besar yang dia pegang.
Monster tersebut adalah troll dengan badannya yang cukup besar dan tenaga yang cukup kuat dia melemparkan senjata itu tepat di depan Felisha.
"Felisha!"
Dia sudah pasti mati namun ini adalah tugas seorang ayah untuk melindungi anaknya..
Dia dengan santai menghalangi serangan tersebut dengan tubuhnya..
Namun ketika senjata itu hampir mengenai dirinya sebuah perisai udara muncul di depannya.
"Eh!"
Ayah Felisha kebingungan dengan apa yang sedang terjadi karena senjata itu berhenti tepat di depannya.
"Timing yang bagus, Iwan!"
Suara itu membuat ayah Felisha menoleh kearah sumber suara berasal..
Di sana terlihat tiga orang manusia yang datang langsung turun dari kereta kuda unicorn.
Jika diperhatikan kereta kuda itu milik ketua Elf mereka dan Ayah Felisha tahu siapa mereka ini.
"Rei, Rian, Iwan"
Felisha dengan senang dengan betapa tepat waktunya mereka datang.
Jika tidak dia mungkin kehilangan ayahnya sekarang.
"Rian urus monster yang ada di sekitar sini.. Iwan kau selamatkan mereka yang terluka"
__ADS_1
Rei dengan cepat menyuruh mereka berdua..
"Terus kau sendiri ?"
Rian bertanya dengan penasaran kepada Rei.
Rei hanya tersenyum..
"Aku akan mengurus sisanya!"
Rei sudah menghilang dengan cepat menggunakan Skill dari Class Assasinnya.
Rian dan Iwan hanya saling menatap sebelum mengangkat senjata mereka dengan benar.
...
...
...
Ketika perjalanan menuju desa Elf aku mengetahui bahwa banyak monster melarikan diri ketika terjadi pertarungan melawan iblis. Sehingga beberapa monster melarikan diri menuju desa Elf.
Hal ini tidak terpikirkan olehku dampak dari pertarungan sebelumnya. Seandainya saja aku tiba lebih cepat mungkin kekacauan ini tidak akan terjadi.
Aku menghela napas sebelum kembali fokus untuk mengalah monster yang ada di depanku.
"Apa yang terjadi!?"
Keterkejutan itu hal yang wajar karena sedari tadi aku menggunakan skill Stealth untuk berjalan.
Orang terlihat kebingungan dengan kemunculan diriku namun hal tersebut tidak bertahan lama karena monster terus bermunculan.
"Kalian yang masih sehat tolong bantu yang terluka mundur dan serahkan tempat ini padaku"
"Apa maksudmu ?"
"Mari kita serahkan area disini untuknya"
"Eh!?"
Sepertinya teman dia tahu tentang aku jadi dia membiarkanku disini tanpa bertanya apapun.
Yah aku cukup bersyukur tanpa harus menjelaskan apapun lagi.
Aku mengangkat belatiku dan mengaktifkan skill focus eye untuk melihat semua pergerakan monster.
Ini akan menjadi sebuah cemilan untuk..
...
...
...
Bersambung...
Maaf author jarang update karena baru baru ini author masuk kuliah sehingga kesibukan kuliah mulai datang.. jika ada yang penggemar setia masih menunggu update dari saya..
Saya sangat berterimakasih..
__ADS_1
Kok tiba-tiba aku pakai bahasa formal ya..
Intinya terimakasih..