Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain

Tiga Orang Idiot Pergi Ke Dunia Lain
Perjalanan Drian..


__ADS_3

Mari kita berpaling sebentar dari mereka bertiga..


...


...


...


Drian bangun dari tempatnya tidur dan merasakan tubuhnya begitu berat..


Drian mengucek matanya dan membuka selimut yang menutupi dirinya..


Ketika dia membuka selimut dua orang gadis cantik sedang tidur disampingnya..


Luna dan Giva sedang tidur dengan nyaman dengan wajah mereka tidur yang begitu cantik..


Rambut mereka terkulai dengan lembut di tubuh Drian.. tidak lupa juga pegunungan menempel dengan erat di sana..


Satu sisi hanya sebuah bukit dan di satu sisi pegunungan yang begitu tinggi..


Merasakan kehangatan tubuh Drian membuat mereka nyaman hingga tidur sangat lelap.


Ini sudah menjadi kebiasaan mereka berdua ketika tidur..


Apakah dia dapat bertahan jika ini akan terus terjadi di masa depan ?.


Drian menggelengkan kepalanya untuk menghilang pikiran yang begitu melenceng..


Drian menghela napasnya dan melepaskan genggaman mereka dari tubuhnya..


Drian akhirnya dapat bebas dan berjalan keluar dari tenda yang dia bangun.


Matahari sudah terbit dari ufuk timur dengan bersemangat..


Drian mengambil kayu bakar untuk menyiapkan sarapan pagi..


...


...


Bau harum masakan masuk ke dalam hidung Luna dan membuatnya terbangun..


Luna membuka matanya dengan pelan dan menyadari bahwa Drian sudah tidak ada..


Hanya Giva yang ada di sampingnya masih tidur dengan meneteskan sedikit liur dari mulutnya..


"Orang ini sungguh.."


Luna sudah terbiasa melihat pemandangan gadis ini tidur tapi entah bagaimana itu tidak membuatnya jijik..


Pemandangan itu malah membuatnya memiliki sisi keimutannya tersendiri..


Walaupun dia tidak ingin mengakuinya tapi orang ini sungguh cantik dan begitu dewasa namun disisi lain bisa begitu imut dan manis..


Apalagi bagian dada..


Luna dengan berat membandingkan punya dia dengan Giva..


Itu seperti dataran ingin mengalahkan pegunungan..


Bukan itu adalah bukit.. maafkan saya.. karena tidak melihat sedikit tonjolan di sana..


"Rivalku kenapa begitu berat"


Luna menghela napas dengan sedih..


Dia sendiri walaupun cantik tapi itu tidak cukup.. bahkan dia sendiri tidak bisa jujur akan perasaannya..


Rambutnya tidak terlalu cantik dan dadanya juga tidak terlihat besar..


"mmhh.."


Suara kecil dikeluarkan oleh Giva..


Dia membuka matanya dengan pelan dan mengucek dengan santai..


Dia bangkit dari tempatnya tidur dan menyadari bahwa Drian telah tidak ada..


Giva lalu melihat kearah Luna yang menatapnya..


"Kenapa kau menatapku dengan tajam ?"

__ADS_1


"Bukan apa-apa"


Luna merasakan kesal melihatnya bangun dengan anggun..


"Mulutmu seperti biasa meninggalkan bekas ?"


"Mulut ?"


Giva dengan cepat memegang mulutnya dan merasakan liurnya masih basah..


"Tidak.."


Giva dengan pelan mengelapnya dengan lengan bajunya..


"Apakah tuan Drian melihatnya"


"Aku yakin dia melihatnya"


"Tidak.."


Giva masih menggunakan tuan untuk menyebut Drian karena menyebutnya dengan nama langsung terlihat tidak pantas baginya..


Itulah yang ada dipikirannya..


Walaupun Drian telah menyuruh untuk berhenti..


Giva merapikan dirinya dengan panik untuk merapikan penampilannya..


Luna memutuskan untuk meninggalkan Giva yang sedang merapikan dirinya..


...


...


...


Melihat Luna keluar dari tenda. Drian langsung menyiapkan piring baginya yang dimana itu sudah berisi roti dengan isi daging yang telah diracik begitu halus dan dimasak dengan baik dengan telur dan bumbu rempah-rempah..


Sebuah mangkok sudah disiapkan juga dimana itu adalah sup dengan kuah yang bagus untuk disajikan bersama roti daging ini..


"Aku telah menyiapkan sarapan"


"Ah terima kasih"


Giva dengan terburu-buru keluar dari dalam tenda dan menatap Drian dengan wajah bersalah.


"Tuan Drian.. lagi - lagi saya bangun terlambat dan tidak menyiapkan sarapan"


Giva meminta maaf dengan cepat setelah dia keluar dari dalam tenda..


Dengan rambutnya yang masih terlihat sedikit berantakan namun terkulai dengan lembut di bahunya yang menampilkan warna rambut ungu yang begitu unik.


"Ah tidak apa-apa.. lagipula kau telah berjaga tadi malam ketika aku tertidur jadi terima kasih"


"Tidak, itu sudah kewajiban saya untuk memastikan daerah sekitar aman"


"Hmph.. aku malahan bersyukur karena Drian yang memasak sarapan.. daripada seseorang yang tidak pandai dalam memasak" Ucap Luna dengan menyindir Giva secara terang-terangan.


Giva tidak memiliki keterampilan dalam memasak dan masih sangat payah.


Pernah Drian mencoba masakannya..


Setelah itu Drian mengalami sakit perut yang masih dapat diingat olehnya..


"Ugh.. aku akan belajar dengan cepat dan membuat makanan enak" Ucap Giva dengan mata penuh tekad.


Giva tidak pandai dalam memasak karena selama hidupnya dia dedikasikan untuk menjadi mata-mata hebat di desanya..


Tapi siapa sangka desanya sekarang telah hancur diserang oleh monster.


"Fufu~ mau aku ajarkan" Ucap Luna dengan bangga..


Karena Luna adalah seorang petualang dan untuk mencapai tujuannya menjadi seorang petualang hebat juga harus pandai hidup mandiri..


Oleh karena itu memasak adalah hal mudah baginya..


Giva menatapnya dengan tatapan kesal namun dia tidak bisa membalas perkataan Luna..


Melihat hal itu Luna menjadi bangga karena dia memiliki hal yang dapat dia banggakan..


Walaupun dia membusungkan dadanya namun tidak ada tonjolan sama sekali di sana.. jadi cukup disayangkan..

__ADS_1


"Cepatlah makan sebelum dingin" Ucap Drian dengan tidak sabaran..


...


...


...


Waktu berlalu dan setelah menyelesaikan sarapan mereka..


Akhirnya perjalanan mereka dapat dilanjutkan dengan kereta kuda..


"Apakah anda yakin untuk tidak menuju kerajaan ras binatang terlebih dahulu ?" Giva bertanya dengan penasaran..


Karena saat ini orang yang menemani Drian untuk mengendalikan kuda adalah Giva.


"Aku pikir itu tidak perlu.. lebih baik kita secepatnya menuju pelabuhan untuk menyeberang ke benua iblis"


"Saya yakin teman-teman anda ada di kerajaan ras binatang saat ini"


Giva mengacu kepada tiga orang itu..


Giva menyimpulkan hal tersebut ketika mereka pergi dan melihat mereka meninggalkan jejak kereta kuda ketika dalam perjalanan..


Walaupun jejak kuda itu menghilang sesampainya di desa yang telah hancur..


"Kami memiliki tujuan yang berbeda.. aku hanya ingin menuju benua iblis dan membantu masterku" Drian mengenggam erat tali kuda sebelum dia menghela napasnya.. "Aku masih belum membalas budi kepada masterku dengan benar"


Masternya pergi dengan terburu-buru menuju benua iblis maka dia menyimpulkan sesuatu akan terjadi..


Setelah memikirkan semua monster yang menyerang ibukota kerajaan Klienstar..


Mungkin sesuatu memiliki hubungannya..


Drian melihat kearah Giva yang dimana rambutnya yang begitu indah sedang berkibar diterpa oleh angin..


"Apakah kau menyesal telah mengikutiku ?"


Giva dengan panik mendengar perkataan Drian..


"Saya tidak menyesal.. saya malah bersyukur karena diperbolehkan untuk ikut" Ucap Giva dengan wajah memerah..


"Ah cukup.. biarkan aku yang duduk di depan"


Luna yang mendengar celotehan mereka berdua menjadi marah dan bergegas untuk duduk di depan..


Karena kereta kuda model ini memiliki pintu depan..


Jadi Luna dengan cepat membuka pintu dan duduk di sebelah kanan Drian..


Giva yang berada di sebelah kiri Drian menjadi kesal karena seorang penganggu masuk..


"Ini cukup sempit jadi tidak bisakah kalian berdua berada di dalam kereta saja" Ucap Drian dengan sedikit tersiksa dengan kondisinya saat ini.


Dia dijepit oleh dua orang perempuan yang dimana tempat duduk kusir ini tidak terlalu besar untuk dapat menampung tiga orang..


"Aku menyarankan Giva untuk ke dalam karena badannya yang besar"


"Hah ? apa kau menyebutku gendut ?"


"Aku tidak menyebut itu tapi jika kau merasa gendut maka tolong jangan tersinggung"


"Selalu makan banyak tapi tidak pernah menumbuhkan sesuatu di depannya jadi sebaiknya tidak perlu menyebut orang gendut karena iri" Ucap Giva dengan mengencangkan tubuhnya ke depan menampilkan pegunungan yang indah..


Luna yang melihat itu sangat kesal karena dia menyinggung sesuatu yang tidak seharusnya dia singgung..


Drian mulai menghela napasnya dan berusaha untuk menutup telinganya karena mendengar perdebatan mereka..


Namun karena tangannya sedang memegang tali kuda jadi dia semakin tersiksa disituasi ini..


...


...


...


Bersambung..


Berikan like untuk dapat menjadikan Drian MC..


:'v

__ADS_1


Tipikal karakter isekai seharusnya seperti ini ya.. :v


__ADS_2