
Kami saat ini sedang berdiri di tempat yang begitu tinggi jauh dari tanah.
Rian dan Iwan begitu takut hingga mereka memegangi baju bagian belakangku dengan gemetar.
"Ini sangat tinggi" Ucap Rian dengan takut.
"Apakah tempat kita berdiri aman ?" Sambung Iwan dengan reaksi yang sama.
Gadis Elf itu dengan santai berjalan menuju jembatan gantung yang ada di depan kami.
"Ayo kita harus cepat.. sebelum ketahuan"
"Kau bercanda ?"
"Apakah aku terlihat sedang bercanda ?"
Gadis ini sungguh pembaca situasi yang buruk.
Tidak bisakah dia melihat kami ketakutan ?..
"Apakah itu aman ?"
Aku bertanya kepadanya dengan senyum terpaksa.
Gadis itu membalasku dengan tersenyum.
"Ah jembatan ini ?.. ini cukup aman kau tahu tidak perlu khawatir"
Dia mengguncang jembatan itu dengan kuat hingga terlihat jembatan itu bergelombang akibat getarannya.
Itu terlihat tidak aman sekali bagiku..
"Apakah tidak ada jalan lain.." Tanyaku dengan ragu.
"Tidak ada"
Sialan.. situasi ini cukup buruk.
Mengingat tempat ini begitu tinggi dari permukaan tanah. Jika jatuh sudah dapat dipastikan nyawa akan melayang.
"Sepertinya tidak ada punya pilihan lain" Ucapku dengan pasrah.
Rian muncul dari balik bajuku dengan khawatir.
"Apakah ini baik-baik saja ?" Tanya Rian menatap kepada gadis Elf itu.
Gadis Elf itu memberikan senyuman percaya dirinya kembali dengan santai menjawab.
"Tenang saja.. kau tidak akan jatuh.. ah.. tapi aku sarankan untuk tidak melihat ke bawah terlalu sering"
"Itu tidak membuatku tenang sama sekali" Balas Rian dengan sedih.
Aku menghela napasku dan memulai berjalan menuju jembatan.
Aku mengambil langkah pertama kali untuk berdiri di jembatan gantung ini.
*Swosh
Semilir angin menerpa tubuhku dengan cukup keras hingga tanpa sadar langkah kakiku sedikit goyah.
Tanpa sadar aku melihat ke bawah dan menyadari bahwa ini memang sangat tinggi hingga membuat pemandangan di bawah terlihat begitu kecil.
"Tolong percepat langkahmu sebelum penjaga melihat kita"
"Aku sedang berusaha!"
Aku sangat kesal untuk didesak seperti ini walaupun perkataannya dia benar.
Aku melihat ke belakang dimana kedua temanku memandangi kearahku dengan kagum.
"Ayo kalian juga cepat" Ucapku kepada mereka.
Rian dan Iwan menelan ludah masing-masing dan melangkahkan kaki mereka dengan berani.
"Ini mengerikan.."
"Mama!"
Rian dan Iwan terlihat sangat ketakutan.
Itu reaksinya yang wajar.
Aku memberikan seringai senyuman kepada mereka dan berkata dengan santai.
"Kalian phobia ketinggian ?"
"Aku tidak phobia ketinggian.. cuman takut jatuh saja" Ucap Rian dengan wajah yang percaya diri.
"Bukankah itu sama saja" Balas Iwan yang ada dibelakangnya.
"Tenanglah tekanan gravitasi selalu menuju ke bawah jadi kalian tidak perlu khawatir untuk jatuh ke atas" Ucapku dengan tersenyum.
"Itu tidak membuatku tenang sama sekali!" Balas Rian dengan kesal.
Mereka berdua memaksakan diri mereka dengan langkah yang begitu berani.
Memegangi tali yang menjadi tempat satu-satunya untuk mengamankan keseimbangan diri untuk tidak jatuh.
Gadis Elf yang memimpin di depan berjalan menuju seberang dengan kecepatan yang begitu mengerikan.
__ADS_1
Dia dengan santai melambai kearah kami ketika dia sampai.
"Ayo cepatlah!"
Dia masih mendesak kami.. Sialan..
Dia kira kami monyet yang terbiasa hidup di pepohonan ?.
Kami akhirnya sampai menuju bagian seberang dengan penuh usaha dan keberanian yang tinggi.
"Oke sekarang kita akan ke sana"
"Hah !?"
Aku melihat kearah dimana dia menunjukkan sebuah tali yang mengarahkan kearah tanah yang dimana itu begitu jauh dari tempat kami.
Aku melihat masih ada beberapa jembatan gantung yang harus dilewati untuk menuju tempat yang dia tunjuk.
"Kau bercanda ?"
"Aku selalu serius"
"Berapa jembatan untuk menuju ke sana ?"
"Tiga jembatan"
"Serius"
"Aku selalu serius"
Kenapa tempat Elf tidak seindah yang aku bayangkan.
Bukankah di anime isekai tempat Elf tidak setinggi ini seharusnya kan..
Apaan ini coba..
Kenapa isekai yang aku pikirkan selalu berbeda..
"Mari cepat sebelum para penjaga menyadari kita"
Gadis Elf itu memimpin di depan kami dengan santai berjalan di jembatan gantung tanpa rasa takut sedikitpun.
Sedangkan kami harus merasakan takut setiap melangkah di sini.. penyiksaan baru apaan ini..
...
...
...
Akhirnya kami telah melawati semua jembatan gantung dengan usaha dan keberanian yang berada diambang batas.
""Muergghhhh""
Kedua temanku menyemburkan beberapa makanan dari perutnya dengan perasaan mual.
Aku hanya dapat menatap mereka dengan rasa kasihan.
Walaupun aku juga merasakan sedikit mual diperutku juga tapi aku masih bisa untuk menahannya.
"Entah kenapa aku baru kali ini melihat manusia selemah kalian ?" Ucap gadis Elf ini dengan kecewa.
"Kami tidak lemah tapi hanya-- Wuarggghhhh"
Rian menjawab dengan diiringi dengan muntahannya.
Bukankah muntahan itu sudah menjelaskan semuanya..
"Mari kita turun ke bawah sekarang"
"Turun ke bawah ?"
"Tentunya pakai tali ini dan menggunakan kayu untuk memudahkan meluncur ke bawah"
"Kau serius ?"
"Aku selalu serius"
Dia mengambil sebuah kayu yang telah diikat sebagai pegangan untuk meluncur ke bawah.
Ini memiliki fungsi seperti kereta gantung namun ini menggunakan sebuah kayu sebagai pegangan untuk turun ke bawah.
Ini bukanlah terlalu ekstrim hanya menggunakan kayu sebagai pegangan ?
"Tidak adakah alat pengaman ?"
"Alat pengaman ?"
"Itu alat yang menjamin keselamatan dengan mengikat tubuh agar tidak jatuh"
"Pegang dengan erat kayu ini dan kamu pasti aman"
"Serius"
"Entah kenapa aku mulai kesal ketika kau terus berkata serius.. serius.. serius.. setiap kali aku menjelaskan"
"Berarti itu bukan bercanda ?"
"Tentu saja bukan!" Balasnya dengan kesal.
__ADS_1
Aku memaksakan senyum milikku dengan mata yang ingin mengeluarkan air mata sedih melihat situasi ini.
Rian dan Iwan yang mendengar percakapanku dengan Gadis Elf ini hanya bisa terkejut dengan wajah yang penuh kengerian.
"Inikah akhir kita" Ucap Iwan dengan kesedihan.
"Rei jika kau selamat.. tolong kirimkan pesan kepada istriku.. katakan bahwa aku mencintainya" Ucap Rian dengan begitu dramatis dibalut air mata kecilnya.
"Aku pasti akan menjaga istrimu dengan baik" Balasku kepada Rian.
"Eh.. apakah kau memang punya istri ?" Tanya Iwan dengan kebingungan.
"Tentu saja tidak ada" Jawab Rian semakin sedih.
"Tentu saja tidak ada ya.. haha.." Balas Iwan tertawa tidak bersalahnya.
Gadis Elf itu melihat kami dengan bingung ketika kami melakukan drama yang menyedihkan ini.
Itu sedikit upaya untuk mengalihkan rasa takut kami sebenarnya.
Aku mengalihkan pandanganku kepada kayu yang mengikat tali gantungan.
Aku mencengkram tanganku dengan erat dan menelan ludahku dengan berat.
"Bisakah kau duluan" Ucapku kepada gadis Elf
"Tentu.. tapi kalian harus ikut juga"
"Ya pasti"
Ketika dia mengambil kayu tersebut dan bersiap meluncur. Aku menjadi teringat sesuatu.
"Tunggu!"
Gadis itu berhenti dan menatapku dengan pandangan terganggu.
"Kenapa ?"
"Aku belum tahu namamu"
Gadis itu baru ingat bahwa dia masih belum memberikan namanya.
"Aku Felisha Verina.. panggil aku dengan Felisha"
"Aku Rei"
"Aku Iwan"
"Aku Rian"
Kami memperkenalkan diri kami dengan singkat untuk mengalihkan sedikit ketakutan kami.
Jujur ini seakan seperti Flag kematian yang menantikan kami dan malah membuatku takut.
Tunggu kenapa aku malah jadi takut.
Gadis itu memegang kayu tersebut dan meluncur dengan tersenyum.
Aku menghela napasku dan mengikuti langkah yang dilakukannya.
"Aku duluan"
Aku meluncur dengan cepat menuju bawah dengan angin yang begitu deras seakan membuatku ingin jatuh.
Namun aku mengenggam erat kayu ini dengan penuh kekuatanku.
Aku melihat Felisha yang tidak jauh di depanku membuat aku merasa tenang dan pikiranku teralihkan dari rasa takut ketika melihat--...
Melihat rok bagian belakangnya yang terangkat menampilkan ****** ***** berwarna pink yang khas.
Dia melihat kearahku dengan tatapan yang mematikan.
Tentu saja dia menyadarinya..
Hah~
Sepertinya Flag kematian menungguku ketika sampai di bawah.
Bersambung..
Ruang curhat pemain.
"Kalian tahu kalimat yang aku banggakan di chapter ini" [Author]
"Jangan ada yang nanya.. tolong!" [Rei]
"Apa Thor ?" [Rian]
"Astaga dibilangin" [Rei]
"Tentu saja kalimat bersambung yang ditulis tebal disana.. ah.. sungguh kalimat yang menggema dihatiku.. bahkan teriakan kesal dari pembaca juga dapat aku dengar" [Author]
"Bolehkah kita pukul" [Rian]
"Silahkan.. kalian yang baca juga boleh mukul author kita" [Rei]
"Eitsh.. bulan ramadhan.. harus sabar" [Author]
Haha.. sungguh bulan ramadhan itu penuh barokah ya.. ;)
__ADS_1